Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing

Sholahuddin, Editor: Sholahuddin
Sabtu, 11 Juli 2026 16:29 WIB
Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ilustrasi manusia dan kucing karya AI.

Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya, mungkin, karena saya terafiliasi sebagai “orang Muhammadiyah” sekaligus “pencinta kucing”.

KucingMU adalah komunitas warga Muhammadiyah pencinta kucing yang dideklarasikan oleh aktivis Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Yogyakarta, Minggu (5/7/2026).  Deklarasi KucingMU langsung viral di media sosial. Banyak yang mengapresiasi. Tidak hanya membangun komunitas, kucing-kucing tersebut bisa tercatat sebagai “anggota” Muhammadiyah dengan kartu anggota pula.

Jujur, deklarasi ini sangat cerdas. PWM Yogyakarta mampu menangkap peluang meluaskan dakwah Persyarikatan kepada pencinta kucing yang jumlahnya jutaan di Indonesia.  Para tokoh Persyarikatan yang hadir di deklarasi itu mengatakan—seperti yang saya terima di berbagai media sosial—bahwa dakwah Persyarikatan sebenarnya bukan hanya untuk menyelamatkan manusia dalam makna yang luas, melainkan untuk alam semesta ini, termasuk menyelamatkan dan mencintai binatang. Komunitas ini akan mengkampanyekan untuk mencintai binatang, khususnya kucing, sesuai ajaran Islam. Dan, tentu, mengajak para pencinta kucing (cat lovers) untuk mengenal dakwah Muhammadiyah secara lebih dalam.

Teman saya tadi, siap mengerahkan para cat lovers untuk masuk ke KucingMU jika komunitas ini hadir di Kota Solo. Intinya dia sangat berterima kasih kepada Muhammadiyah akhirnya masuk ke ranah komunitas pencinta kucing. Sesuatu yang tidak terduga, termasuk saya. Teman saya yang lain, juga menyampaikan apresiasi melalui WhatsApp ke saya perihal KucingMU ini. Teman saya ini menginformasikan bahwa Muhammadiyah di Sumatera Utara juga berencana mendirikan rumah sakit hewan. Benar, setelah saya googling, saya menemukan tautan berita bahwa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) yang berencana mendirikan rumah sakit hewan tersebut. “Keren. Muhammadiyah memang berkemajuan,” kata dia. Kebetulan teman saya ini cat lover berat.  Setelah mempunyai sekitar 140 rumah sakit untuk manusia, Muhammadiyah menginisiasi rumah sakit untuk binatang.

Dakwah Santai

Sebagai salah satu cat lovers, saya juga berharap KucingMU juga segera hadir di Kota Solo. Saya siap mendaftarkan tiga kucing saya sebagai “warga” Persyarikatan he..he..he. Saya mengatakan deklarasi ini langkah cerdas. Mengapa? Sudah saatnya Muhammadiyah memperluaskan dakwahnya ke dalam komunitas kultural seperti ini. Jujur, para pencinta kucing, selain jumlahnya jutaan, mereka memiliki ikatan emosional yang kuat. Saya atau istri, ketika ketemu orang yang baru dikenal yang sama-sama pencinta kucing, pasti langsung akrab. Saling bercerita kondisi dan tingkah lucu kucing masing-masing. Layaknya ketemu saudara.

Dakwah santai melalui komunitas ini sebagai upaya memperluas nilai-nilai Muhammadiyah ke semua lapisan masyarakat. Selama ini, dakwah Muhammadiyah itu “terlalu serius”, cenderung formalistik, bahkan positivistik. Ini yang menyebabkan orang enggan sekadar mengaku dirinya orang Muhammadiyah. Saya punya banyak teman yang secara kultural punya “darah” Muhammadiyah, misalnya, orang tuanya aktif di Muhammadiyah atau ‘Aisyiyah. Tapi, saya jarang mendengar mereka menyebut dirinya sebagai  Muhammadiyah. Apalagi menunjukkan identitas atau simbol-simbol sebagai simpatisan organisasi ini. Saya menduga, orang enggan menyebut dirinya sebagai Muhammadiyah karena organisasi besutan Kiai Ahmad Dahlan ini tidak memiliki simbol kultural. Bahkan, untuk disebut atau diakui sebagai “orang Muhammadiyah” pun tidak mudah. Harus aktif di struktur Persyarikatan—atau minimal bekerja di amal usahanya.  Harus rajin pengajian. Harus aktif berinfak. Harus punya KTA dan membayar iuran. Harus paham manhaj Muhammadiyah, taat pada Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, ikut Baitul Arqam, dsb. Dan seabrek “pengorbanan” lainnya. Tentu berat untuk banyak orang. Sebagai kader dan penggerak Muhammadiyah, memang harus memenuhi kualifikasi seperti di atas. Namun, untuk masyarakat awam, tentu Muhammadiyah harus lebih luwes dalam berdakwah.

Kondisi ini berbeda dengan pengikut organisasi “sebelah”. Cukup pakai peci dan bersarung di ruang publik, ikut tahlilan, sambil udud pula, sudah teridentifikasi sebagai kelompok tersebut.  Lha orang Muhammadiyah, apa identitas? Orang yang berkemajuan? Terlalu abstrak untuk diidentifikasi. Risikonya, orang yang mengaku sebagai “pengikut Muhammadiyah” tidak banyak. Dalam berbagai survei,  orang yang mengaku sebagai “orang Muhammadiyah”  kurang dari 10% dari umat Islam di Indonesia. Jauh lebih sedikit ketimbang citra dan kiprah besar Muhammadiyah dalam melakukan gerakan dakwahnya, di Indonesia maupun di luar negeri.

Melihat kondisi seperti ini, memperluas ruang-ruang kultural untuk dakwah Persyarikatan menjadi penting. Muhammadiyah sebagai identitas kultural agar bisa menjangkau masyarakat lebih banyak. KucingMU menjadi ruang baru agar dakwah Muhammadiyah yang mengusung Islam Berkemajuan ini bisa meluas, khususnya kepada pencinta kucing. Ingat, kucing adalah salah satu binatang kesayangan Rasulullah Saw.

Ini kucingku, mana kucingmu?

Penulis adalah simpatisan Muhammadiyah, pencinta kucing

Berita Terbaru

Politeisme Politik Indonesia

Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...

Renungan Tahun Baru 1448 Hijriah: Saatnya Pulang kepada Allah

Bismillahirrahmanirrahim. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Hari demi hari kita lewati dengan berbagai cerita. Ada tawa yang pernah menghiasi hidup,...

Belajar Bernapas di Tengah Sesak

Indonesia tidak sedang perang. Mal-mal masih ramai. Konser musik tetap dipenuhi lautan manusia. Kafe-kafe baru terus bermunculan. Linimasa media sosial dipenuhi video liburan, diskon besar-besaran,...

TKA dan Ancaman Marjinalisasi Ismuba

Kebijakan asesmen pendidikan Indonesia kembali memantik kegelisahan pada relung pembelajaran di Muhammadiyah, khususnya bagi pendidikan Ismuba (Al Islam, Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab). Tes Kemampuan Akademik...

Sang Pencari Makna

“Aku tahu kehidupan ini tiada arti, namun aku masih percaya bahwa ada suatu makna yang paling berarti, yakni aku (manusia).” Albert Camus – Krisis Kebebasan...

Menolak Politeisme Politik

Salah satu persoalan dakwah Islam di Indonesia saat ini adalah kecenderungannya yang lebih banyak berkonsentrasi pada pembangunan kesalehan individu. Mimbar-mimbar dakwah dipenuhi pembahasan tentang ibadah...

Krisis Peran Perempuan: Refleksi Ketiadaan IMMawati dalam Calon Formatur Musycab XLIV IMM Surakarta

Muhammadiyah dalam sejarahnya sukses melahirkan tokoh-tokoh bangsa dengan berbagai pengaruhnya, termasuk tokoh perempuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya organisasi otonom (ortom) khusus perempuan yakni ‘Aisyiah...

Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku

“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...

Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental

Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh kabar yang menyayat hati. Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Tidak ada yang tahu persis...

Antara Gula, Darah, dan Doa: Memaknai Penyakit dalam Pelukan Kasih Allah

Pernahkah kita tertegun melihat hasil laboratorium yang menunjukkan angka gula darah melonjak, atau tensi yang menembus batas normal? Di titik itu, sering kali muncul pertanyaan...

Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia

Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, kehadiran AI mulai mengubah cara belajar,...

Seni Menjaga Kekhusyukan di Balik Notifikasi Smartphone

Bayangkan kamu sedang membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, suara lembut ayat-ayat suci mengalir pelan dari bibirmu—lalu tiba-tiba, ding! Notifikasi masuk ke HP mu. Sebuah meme lucu...