Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya, mungkin, karena saya terafiliasi sebagai “orang Muhammadiyah” sekaligus “pencinta kucing”.
KucingMU adalah komunitas warga Muhammadiyah pencinta kucing yang dideklarasikan oleh aktivis Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Yogyakarta, Minggu (5/7/2026). Deklarasi KucingMU langsung viral di media sosial. Banyak yang mengapresiasi. Tidak hanya membangun komunitas, kucing-kucing tersebut bisa tercatat sebagai “anggota” Muhammadiyah dengan kartu anggota pula.
Jujur, deklarasi ini sangat cerdas. PWM Yogyakarta mampu menangkap peluang meluaskan dakwah Persyarikatan kepada pencinta kucing yang jumlahnya jutaan di Indonesia. Para tokoh Persyarikatan yang hadir di deklarasi itu mengatakan—seperti yang saya terima di berbagai media sosial—bahwa dakwah Persyarikatan sebenarnya bukan hanya untuk menyelamatkan manusia dalam makna yang luas, melainkan untuk alam semesta ini, termasuk menyelamatkan dan mencintai binatang. Komunitas ini akan mengkampanyekan untuk mencintai binatang, khususnya kucing, sesuai ajaran Islam. Dan, tentu, mengajak para pencinta kucing (cat lovers) untuk mengenal dakwah Muhammadiyah secara lebih dalam.
Teman saya tadi, siap mengerahkan para cat lovers untuk masuk ke KucingMU jika komunitas ini hadir di Kota Solo. Intinya dia sangat berterima kasih kepada Muhammadiyah akhirnya masuk ke ranah komunitas pencinta kucing. Sesuatu yang tidak terduga, termasuk saya. Teman saya yang lain, juga menyampaikan apresiasi melalui WhatsApp ke saya perihal KucingMU ini. Teman saya ini menginformasikan bahwa Muhammadiyah di Sumatera Utara juga berencana mendirikan rumah sakit hewan. Benar, setelah saya googling, saya menemukan tautan berita bahwa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) yang berencana mendirikan rumah sakit hewan tersebut. “Keren. Muhammadiyah memang berkemajuan,” kata dia. Kebetulan teman saya ini cat lover berat. Setelah mempunyai sekitar 140 rumah sakit untuk manusia, Muhammadiyah menginisiasi rumah sakit untuk binatang.
Dakwah Santai
Sebagai salah satu cat lovers, saya juga berharap KucingMU juga segera hadir di Kota Solo. Saya siap mendaftarkan tiga kucing saya sebagai “warga” Persyarikatan he..he..he. Saya mengatakan deklarasi ini langkah cerdas. Mengapa? Sudah saatnya Muhammadiyah memperluaskan dakwahnya ke dalam komunitas kultural seperti ini. Jujur, para pencinta kucing, selain jumlahnya jutaan, mereka memiliki ikatan emosional yang kuat. Saya atau istri, ketika ketemu orang yang baru dikenal yang sama-sama pencinta kucing, pasti langsung akrab. Saling bercerita kondisi dan tingkah lucu kucing masing-masing. Layaknya ketemu saudara.
Dakwah santai melalui komunitas ini sebagai upaya memperluas nilai-nilai Muhammadiyah ke semua lapisan masyarakat. Selama ini, dakwah Muhammadiyah itu “terlalu serius”, cenderung formalistik, bahkan positivistik. Ini yang menyebabkan orang enggan sekadar mengaku dirinya orang Muhammadiyah. Saya punya banyak teman yang secara kultural punya “darah” Muhammadiyah, misalnya, orang tuanya aktif di Muhammadiyah atau ‘Aisyiyah. Tapi, saya jarang mendengar mereka menyebut dirinya sebagai Muhammadiyah. Apalagi menunjukkan identitas atau simbol-simbol sebagai simpatisan organisasi ini. Saya menduga, orang enggan menyebut dirinya sebagai Muhammadiyah karena organisasi besutan Kiai Ahmad Dahlan ini tidak memiliki simbol kultural. Bahkan, untuk disebut atau diakui sebagai “orang Muhammadiyah” pun tidak mudah. Harus aktif di struktur Persyarikatan—atau minimal bekerja di amal usahanya. Harus rajin pengajian. Harus aktif berinfak. Harus punya KTA dan membayar iuran. Harus paham manhaj Muhammadiyah, taat pada Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, ikut Baitul Arqam, dsb. Dan seabrek “pengorbanan” lainnya. Tentu berat untuk banyak orang. Sebagai kader dan penggerak Muhammadiyah, memang harus memenuhi kualifikasi seperti di atas. Namun, untuk masyarakat awam, tentu Muhammadiyah harus lebih luwes dalam berdakwah.
Kondisi ini berbeda dengan pengikut organisasi “sebelah”. Cukup pakai peci dan bersarung di ruang publik, ikut tahlilan, sambil udud pula, sudah teridentifikasi sebagai kelompok tersebut. Lha orang Muhammadiyah, apa identitas? Orang yang berkemajuan? Terlalu abstrak untuk diidentifikasi. Risikonya, orang yang mengaku sebagai “pengikut Muhammadiyah” tidak banyak. Dalam berbagai survei, orang yang mengaku sebagai “orang Muhammadiyah” kurang dari 10% dari umat Islam di Indonesia. Jauh lebih sedikit ketimbang citra dan kiprah besar Muhammadiyah dalam melakukan gerakan dakwahnya, di Indonesia maupun di luar negeri.
Melihat kondisi seperti ini, memperluas ruang-ruang kultural untuk dakwah Persyarikatan menjadi penting. Muhammadiyah sebagai identitas kultural agar bisa menjangkau masyarakat lebih banyak. KucingMU menjadi ruang baru agar dakwah Muhammadiyah yang mengusung Islam Berkemajuan ini bisa meluas, khususnya kepada pencinta kucing. Ingat, kucing adalah salah satu binatang kesayangan Rasulullah Saw.
Ini kucingku, mana kucingmu?
Penulis adalah simpatisan Muhammadiyah, pencinta kucing
Jangan Remehkan Satu Menit Orang Lain
Dalam hidup, kita sering diajarkan menghitung tahun, mengejar target bulanan, dan menyusun rencana lima tahunan. Namun, jarang ada yang menyadari bahwa perubahan terbesar justru sering...
Dingin…
Kang Karto siuman. Ia bangun dari hibernasi yang panjang. Selama hibernasi, dia puasa bicara situasi politik di kampungnya. Kang Karto menyepi dari keramaian setelah melahap...
Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah yang Luwes dan Luas
Sentralisasi pendidikan Muhammadiyah di Solo sangat dinamis, luas dan luwes. Konsep sentralisasi pendidikan sebagai sistem pengaturan dan pengelolaan pendidikan secara terpusat di mana segala keputusan,...
Satu Arah, Banyak Sekolah: Refleksi atas Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo
“Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo”, judul artikel yang ditulis oleh Dr. Mohamad Ali, Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo pada laman...
Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo
Salah satu manifestasi gerakan Muhammadiyah yang paling mudah ditangkap dan dirasakan oleh publik adalah hadirnya lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang pra-sekolah, sekolah, sampai tingkat...
Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan
Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....
Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah
Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...
Peta Mutu Pendidikan Kota Solo
Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....
Politeisme Politik Indonesia
Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...
Renungan Tahun Baru 1448 Hijriah: Saatnya Pulang kepada Allah
Bismillahirrahmanirrahim. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Hari demi hari kita lewati dengan berbagai cerita. Ada tawa yang pernah menghiasi hidup,...
Belajar Bernapas di Tengah Sesak
Indonesia tidak sedang perang. Mal-mal masih ramai. Konser musik tetap dipenuhi lautan manusia. Kafe-kafe baru terus bermunculan. Linimasa media sosial dipenuhi video liburan, diskon besar-besaran,...
TKA dan Ancaman Marjinalisasi Ismuba
Kebijakan asesmen pendidikan Indonesia kembali memantik kegelisahan pada relung pembelajaran di Muhammadiyah, khususnya bagi pendidikan Ismuba (Al Islam, Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab). Tes Kemampuan Akademik...







