Kang Karto siuman. Ia bangun dari hibernasi yang panjang. Selama hibernasi, dia puasa bicara situasi politik di kampungnya. Kang Karto menyepi dari keramaian setelah melahap buku-buku filsafat stoikisme (filsafat teras). Ajaran bijak para filsuf teras yang ia genggam adalah, “Fokuslah pada hal-hal yang bisa kamu ubah, yang Anda punya kuasa untuk mengendalikannya”. Bagi wong cilik seperti Kang Karto, tembok politik itu terlalu angkuh untuk bisa diubah. Ia tak berkuasa.
Namun, setelah sekian tahun, Kang Karto menyadari, menyepi dari keriuhan bukan langkah bijak. Apalagi situasi kampung yang kian gaduh dari hiruk-pikuk. “Speak up, bro,” begitu kata generasi zaman now. Suara-suara kejujuran, harus terus digaungkan, meski hanya lewat saluran-saluran kecil yang dia punya, media sosial, misalnya. Ia menyadari, suara-suara kritis, betapapun kecilnya, akan bisa berdampak besar bagi perubahan di kampungnya. Paling tidak, suara itu menjadi perwujudan sikapnya dalam menghadapi kenyataan. Diam sama artinya menjadi pengecut.
Kegelisahan nyata Kang Karto adalah, setelah terpilih pada pemilihan langsung di kampung, Pak Kepala Kampung kian ngelantur saat berpidato. Kepala Kampung seolah hidup dalam alamnya sendiri. Apa yang dia sampaikan, tidak berkorelasi dengan realitas. Ia lebih sering mendengarkan orang-orang dekatnya ketimbang suara rakyatnya. Celakanya, para pembisik itu punya agenda masing-masing. Kepala Kampung menerima informasi yang terdistorsi.
Kepala Kampung tak memberi ruang terhadap suara yang berbeda, apalagi suara kritis. Padahal, suara rakyat adalah suara kebenaran di alam demokrasi. Namun, ia tak peduli. Begitu di depan mic, ia ngomel sekenanya. Tak jarang, saat jengkel, Kepala Kampung misuh-misuh tak jelas. Apalagi saat program-program populismenya dikritik. Dia akan mencak-mencak. Bagi rakyat kampung, program populis yang menyedot anggaran jumbo itu yang menjadi sumber krisis. Program dengan anggaran besar tanpa disertai perencanaan yang matang. “Perencanaan yang ngawur itu,” protes Kang Karto, sambil nyruput kopi pahit, di teras rumahnya yang asri. Duit rakyat kampung menjadi bancaan orang-orang di sekeliling Kepala Kampung. Dana iuran rakyat kampung pun sia-sia. Padahal rakyat kampung membayar iuran itu dengan susah payah.
Kepentingan Rakyat
“Hai, Kaur [Kepala Urusan] Pendidikan, boleh tidak saya misuh-misuh?” tanya Kepala Kampung, pada sebuah kesempatan pidato, yang disiarkan luas oleh akun-akun medsos resmi kampung.
Kaur Pendidikan gelagapan, cengar-cengir. Pak Kaur tidak menjawab. Ia hanya berdiri, menundukkan kepala, sembari menyatukan dua telapak tangannya di depan dadanya, seolah minta maaf. Entah apa yang berkecamuk dalam pikiran Pak Kaur Pendidikan. Mau bilang “tidak boleh” tapi takut dipecat, tapi kalau bilang “boleh” akan menimbulkan gempa dahsyat di dunia pendidikan. Reputasi Kaur Pendidikan bakal remuk redam.
Bagi Kang Karto, pidato Kepala Kampung mestinya menjadi sesuatu yang sakral. Isinya kebijakan yang berorientasi pada kepentingan rakyat. Mestinya juga bisa menjadi inspirasi rakyatnya untuk menatap kehidupan yang lebih baik. Rakyat menjadi optimis meski dalam situasi yang sulit. Tapi, alih-alih membangun optimisme, rakyat kampung makin muak mendengarkan pidatonya. Pidatonya seperti kaset yang diputar berulang-ulang. “Kepala Kampung-no–mic!” Begitu konten yang diunggah para mahasiswa di kampung. “Jauhkan Kepala Kampung dari mic,” begitu kira-kira pesan dari anak muda ini.
Sebagai rakyat kampung yang cuma lulusan SD, Kang Karto hanya bisa berpesan, teruslah kritis, wahai anak muda, wahai rakyat kampung. Anda adalah pemilik kampung yang sebenarnya. Bukan Kepala Kampung dan antek-anteknya itu. Mereka hanya kau beri mandat untuk mengurus republik kampung. “Sayangnya, mereka berkhianat!” Teriak Kang Karto.
Malam makin larut. Ah, ternyata sudah berganti hari. Dini hari. Lama juga Kang Karto berkontemplasi.
Disautnya gelas berisi kopi yang masih tersisa. Ah, ternyata sudah dingin.
Iya, sedingin otak dan perasaan para petinggi negeri ini.
Kang Karto pun terkekeh, sebelum terlelap dalam tidur….
Penulis adalah Pemimpin Redaksi Muhammadiyahsolo.com
Catatan: Tulisan pernah dimuat di akun pribadi penulis.
Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah yang Luwes dan Luas
Sentralisasi pendidikan Muhammadiyah di Solo sangat dinamis, luas dan luwes. Konsep sentralisasi pendidikan sebagai sistem pengaturan dan pengelolaan pendidikan secara terpusat di mana segala keputusan,...
Satu Arah, Banyak Sekolah: Refleksi atas Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo
“Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo”, judul artikel yang ditulis oleh Dr. Mohamad Ali, Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo pada laman...
Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo
Salah satu manifestasi gerakan Muhammadiyah yang paling mudah ditangkap dan dirasakan oleh publik adalah hadirnya lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang pra-sekolah, sekolah, sampai tingkat...
Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan
Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....
Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah
Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...
Peta Mutu Pendidikan Kota Solo
Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....
Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing
Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...
Politeisme Politik Indonesia
Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...
Renungan Tahun Baru 1448 Hijriah: Saatnya Pulang kepada Allah
Bismillahirrahmanirrahim. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Hari demi hari kita lewati dengan berbagai cerita. Ada tawa yang pernah menghiasi hidup,...
Belajar Bernapas di Tengah Sesak
Indonesia tidak sedang perang. Mal-mal masih ramai. Konser musik tetap dipenuhi lautan manusia. Kafe-kafe baru terus bermunculan. Linimasa media sosial dipenuhi video liburan, diskon besar-besaran,...
TKA dan Ancaman Marjinalisasi Ismuba
Kebijakan asesmen pendidikan Indonesia kembali memantik kegelisahan pada relung pembelajaran di Muhammadiyah, khususnya bagi pendidikan Ismuba (Al Islam, Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab). Tes Kemampuan Akademik...
Sang Pencari Makna
“Aku tahu kehidupan ini tiada arti, namun aku masih percaya bahwa ada suatu makna yang paling berarti, yakni aku (manusia).” Albert Camus – Krisis Kebebasan...







