
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Menjadi seorang guru yang mengabdi di wilayah terluar bukanlah perkara sederhana. Alfin Nur Ridwan merasakan betul bagaimana jarak, perbedaan budaya, hingga tantangan sosial menjadi bagian dari keseharian yang harus dihadapi.
Ia tidak sekadar datang ke Sentani, Jayapura, untuk menjalankan kewajiban pengabdian pasca studi di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Lebih dari itu, ia sedang belajar menjadi manusia yang lebih utuh melalui perjumpaan, keterasingan, dan tentu saja, tantangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Tanggal 30 Januari 2026 menjadi penanda awal langkah dia di tanah Papua. Ia menceritakan kesan pertamanya di tanah Papua yang tidak sepenuhnya romantis atau penuh kekaguman. Ada rasa was-was yang perlahan ikut tumbuh, terutama dari cerita-cerita yang ia dengar dari para pendatang yang sudah puluhan tahun tinggal di tempat tersebut.
“Beberapa dari mereka dengan nada serius mengingatkan saya untuk berhati-hati ketika bepergian. Mereka bercerita bahwa kasus pencurian, khususnya motor, masih cukup sering terjadi. Pemalakan di titik-titik tertentu juga bukan hal yang sepenuhnya asing. Ditambah lagi, perilaku “minum” yang masih cukup melekat dan menjadi kebiasaan di sebagian kelompok masyarakat, yang dalam beberapa situasi bisa memicu hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya, Rabu, (25/3/2026).
Ia tidak bisa memungkiri cerita-cerita itu membentuk semacam kewaspadaan dalam dirinya. Ada momen ketika ia harus berpikir dua kali sebelum pergi ke suatu tempat, atau memilih waktu yang lebih aman untuk beraktivitas. Sebagai pendatang, ia sadar betul bahwa ia bukan berada di wilayah yang sepenuhnya dia pahami.
Realitas di Papua tidak bisa ia lihat dari satu sisi saja. Di balik cerita-cerita yang membuat waspada itu, ia juga menemukan hal lain yang tidak kalah kuat, yakni nilai sosial masyarakat asli Papua yang justru hangat dan penuh penghormatan. Selama perantau atau da’i datang dengan niat baik, menghargai mereka, dan tidak bersikap merendahkan, mereka pun menunjukkan sikap yang sangat terbuka.
Alfin merasakan sendiri bagaimana mereka cukup peduli terhadap keberadaan pendatang. “Dalam beberapa kesempatan, mereka justru memperlakukan saya dengan baik, bahkan tidak jarang menunjukkan kepedulian yang sederhana. Ada semacam etika sosial yang tidak tertulis, bahwa saling menghormati adalah kunci untuk bisa hidup berdampingan di sini,” ungkapnya.
Dari situ Alfin belajar akan setiap tempat yang pasti memiliki dua wajah. Tugasnya bukan memilih untuk percaya pada salah satunya, melainkan belajar membaca keduanya dengan bijak. Jika ada satu hal yang benar-benar mengujinya di tanah Papua, maka itu adalah ruang kelas.
Sebagai lulusan Hukum Ekonomi Syariah, dengan latar belakang aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan Pers Mahasiswa, menjadi guru sekolah dasar bukanlah sesuatu yang pernah saya rencanakan secara serius. “Dunia saya sebelumnya dipenuhi dengan diskusi, tulisan, dan analisis. Sementara di sini, saya berhadapan dengan anak-anak yang dunia berpikirnya masih dalam proses perkembangan kognitif, namun justru di situlah letak kerumitannya,” katanya.
Selama hampir dua bulan mengajar (mata pelajaran Kemuhammadiyahan), Alfin merasakan pendidikan tidak selalu soal transfer ilmu. Di banyak momen, pendidikan itu justru tentang membentuk sikap. Alfin melihat secara langsung bagaimana anak-anak di sekolah tempatnya mengajar memiliki tantangan yang cukup berbeda dibandingkan dengan anak-anak di Pulau Jawa yang sejauh ini pernah ia jumpai. Bukan soal kecerdasan, melainkan soal fondasi karakter.
Bahasa kasar yang terlontar dengan ringan, emosi yang mudah meledak, hingga kurangnya penghormatan kepada yang lebih tua, semuanya menjadi pemandangan yang cukup sering ia jumpai.Di titik itulah, Alfin mulai bertanya pada diri sendiri, “apa arti pendidikan jika tidak mampu menyentuh sisi paling dasar dari manusia?”
Menurutnya, pendidikan karakter bukan sekadar jargon yang sering diulang dalam sebuah diskusi, seminar, atau kurikulum. Pendidikan karakter adalah kerja panjang yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan keteladanan. Ia menyadari perubahan tidak bisa terjadi dalam semalam. Bahkan mungkin, dalam satu tahun pengabdian ini, Alfin tidak akan melihat hasil yang signifikan.
“Namun, saya percaya pada satu hal kecil, bahwa setiap kata yang kita ucapkan, setiap sikap yang kita tunjukkan, akan meninggalkan jejak. Mungkin hari ini mereka belum mengerti, tetapi suatu saat nanti, bisa jadi mereka akan mengingat, bahwa pernah ada seseorang di ruang kelas yang mencoba memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda,” ungkap Alfin penuh harap.

Menjadi seorang guru yang mengabdi di wilayah terluar bukanlah perkara sederhana. Alfin Nur Ridwan merasakan betul bagaimana jarak, perbedaan budaya, hingga tantangan sosial menjadi bagian dari keseharian yang harus dihadapi.
Selain mengajar di sekolah, Alfin mengabdikan diri untuk mengajarkan ngaji kepada anak-anak di dekat tempat tinggalnya. Mayoritas dari mereka masih berusia sekolah dasar. Dalam konteks Papua, dengan mayoritas penduduknya bukan beragama Islam, baginya aktivitas ini memiliki makna yang jauh lebih dalam.
“Mengajarkan Al-Qur’an di sini bukan hanya soal membaca huruf demi huruf. Itu adalah upaya menjaga keberlanjutan identitas, sekaligus menanamkan nilai-nilai dasar kepada generasi muda Muslim yang hidup dalam lingkungan yang berbeda,” ujarnya.
Tantangannya tentu tidak kecil. Minat belajar yang naik turun, tempat yang seadanya, hingga lingkungan sosial yang tidak selalu mendukung menjadi bagian dari dinamika yang harus Alfin hadapi. Namun di balik itu semua, ada satu hal yang selalu membuatnya bertahan yaitu harapan.
Alfin melihat di mata anak-anak itu sebuah kemungkinan. Bahwa dengan pendekatan yang tepat, dengan kesabaran yang cukup, mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Mengaji, dalam konteks ini, bukan sekadar aktivitas religius. Karena ada proses membangun kedekatan antara manusia dengan Tuhannya, dan antara sesama manusia. Ia juga belajar bahwa mengajarkan Al-Qur’an tidak bisa hanya mengandalkan metode tetapi membutuhkan hati. “Dan mungkin, di sinilah letak esensi dari pengabdian itu sendiri. Diri saya tidak selalu diukur dari seberapa besar perubahan yang akan saya hasilkan, tetapi dari seberapa tulus diri ini menjalani prosesnya,” katanya.
Dua bulan mungkin masih terlalu singkat untuk menarik kesimpulan besar. Akan tetapi, bagi Alfin telah cukup untuk memahami bahwa perjalanan ini bukan tentang mengubah Papua, melainkan tentang mengubah diri pribadi Alfin. “Di tanah yang jauh dari rumah ini, saya belajar menjadi manusia, yang berarti siap untuk terus belajar tentang perbedaan, tentang kewaspadaan, dan tentang makna dari sebuah pengabdian,” ujarnya.
AMIKOM Yogyakarta Pelajari Strategi Konten Digital UMS
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menerima kunjungan studi banding Universitas AMIKOM Yogyakarta untuk berbagi pengalaman mengenai pengelolaan kehumasan, pemasaran, dan komunikasi digital perguruan tinggi....
Mahasiswa Asing UMS Ajak Siswa MIM Trangsan Belajar Bahasa Inggris
SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengenalkan pembelajaran bahasa Inggris yang menyenangkan kepada siswa MI Muhammadiyah (MIM) Trangsan, Gatak, Sukoharjo, melalui program Fun English Learning....
Mahasiswa UMS Jadi Pemuda Pelopor Karanganyar Berkat Gerakan Mengajar Desa
KARANGANYAR, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Mahasiswa Program Studi Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Hian Risnandar, meraih Juara I Pemuda Pelopor Kabupaten Karanganyar 2026 bidang Pendidikan dan Sosial Masyarakat....
BEM FHIP UMS Perkuat Kesadaran Hukum dan Demokrasi Warga Alas Tuwo
KARANGANYAR, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (BEM FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar program DESA CERDAS di Desa Alas Tuwo, Kecamatan...
UMS Beri Penghargaan bagi Penggerak Muhammadiyah se-Solo Raya
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memberikan penghargaan kepada pimpinan daerah, cabang, ranting, serta dosen dan tenaga kependidikan yang berkontribusi dalam pengembangan Persyarikatan Muhammadiyah. Apresiasi...
Tablig Akbar Hari Jadi ke-68 UMS, Das’ad Latif Ajak Jaga Akidah dan Amalkan Nilai Islam dalam Kehidupan
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Penguatan akidah, pendidikan agama dalam keluarga, dan pengamalan nilai-nilai Islam menjadi pesan utama Ustaz Das’ad Latif, dalam Tablig Akbar Hari Jadi ke-68 Universitas Muhammadiyah...
PESMA UMS Latih Mahasantri Public Speaking dan Personal Branding
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Pesantren Mahasiswa (PESMA) Internasional KH Mas Mansur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) membekali mahasantri dengan keterampilan berbicara di depan umum (public speaking) dan membangun...
HMP PBSI FKIP UMS Selenggarakan Latihan Kepemimpinan Mahasiswa
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (HMP PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), menyelenggarakan kegiatan Latihan...
HMP PTI UMS Lolos Anugerah Abdidaya Ormawa 2026 Melalui Inovasi Smart Farming
BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Informatika (HMP PTI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berhasil lolos sebagai peserta Anugerah Abdidaya Ormawa 2026 melalui program PPK...
FKIP UMS Perkuat Peran Ormawa Melalui Diskusi Kelembagaan
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Menggelar kegiatan bertajuk Diskusi Kelembagaan dan Penguatan Peran Oramawa FKIP UMS dengan Tema “FKIP...
UMS Dampingi PCA Gatak Bikin Minyak Jelantah Bernilai Ekonomi
SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mendampingi anggota Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Gatak, Sukoharjo, mengolah minyak jelantah menjadi sabun cair pencuci piring. Program pengabdian masyarakat...
Tiga Mahasiswa UMS Raih Penghargaan di Putra-Putri Lawu 2026
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) meraih penghargaan dalam ajang Putra-Putri Lawu 2026, pemilihan duta wisata Kabupaten Karanganyar. Penghargaan tersebut diumumkan dalam malam...






