Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Perguruan Tinggi

Mengabdi, Mengajar, dan Menebar Makna: Kisah Mahasiswa UMS di Daerah 3T Papua

Adi Humas, Editor: Alan Aliarcham
Rabu, 25 Maret 2026 15:07 WIB
Mengabdi, Mengajar, dan Menebar Makna: Kisah Mahasiswa UMS di Daerah 3T Papua
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Menjadi seorang guru yang mengabdi di wilayah terluar bukanlah perkara sederhana. Alfin Nur Ridwan merasakan betul bagaimana jarak, perbedaan budaya, hingga tantangan sosial menjadi bagian dari keseharian yang harus dihadapi.

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Menjadi seorang guru yang mengabdi di wilayah terluar bukanlah perkara sederhana. Alfin Nur Ridwan merasakan betul bagaimana jarak, perbedaan budaya, hingga tantangan sosial menjadi bagian dari keseharian yang harus dihadapi.

Ia  tidak sekadar datang ke Sentani, Jayapura, untuk menjalankan kewajiban pengabdian pasca studi di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Lebih dari itu, ia sedang belajar menjadi manusia yang lebih utuh melalui perjumpaan, keterasingan, dan tentu saja, tantangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Tanggal 30 Januari 2026 menjadi penanda awal langkah dia di tanah Papua. Ia menceritakan kesan pertamanya di tanah Papua yang tidak sepenuhnya romantis atau penuh kekaguman. Ada rasa was-was yang perlahan ikut tumbuh, terutama dari cerita-cerita yang ia dengar dari para pendatang yang sudah puluhan tahun tinggal di tempat tersebut.

“Beberapa dari mereka dengan nada serius mengingatkan saya untuk berhati-hati ketika bepergian. Mereka bercerita bahwa kasus pencurian, khususnya motor, masih cukup sering terjadi. Pemalakan di titik-titik tertentu juga bukan hal yang sepenuhnya asing. Ditambah lagi, perilaku “minum” yang masih cukup melekat dan menjadi kebiasaan di sebagian kelompok masyarakat, yang dalam beberapa situasi bisa memicu hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya, Rabu, (25/3/2026).

Ia tidak bisa memungkiri cerita-cerita itu membentuk semacam kewaspadaan dalam dirinya. Ada momen ketika ia harus berpikir dua kali sebelum pergi ke suatu tempat, atau memilih waktu yang lebih aman untuk beraktivitas. Sebagai pendatang, ia sadar betul bahwa ia bukan berada di wilayah yang sepenuhnya dia pahami.

Realitas di Papua tidak bisa ia lihat dari satu sisi saja. Di balik cerita-cerita yang membuat waspada itu, ia juga menemukan hal lain yang tidak kalah kuat, yakni nilai sosial masyarakat asli Papua yang justru hangat dan penuh penghormatan. Selama perantau atau da’i datang dengan niat baik, menghargai mereka, dan tidak bersikap merendahkan, mereka pun menunjukkan sikap yang sangat terbuka.

Alfin merasakan sendiri bagaimana mereka cukup peduli terhadap keberadaan pendatang. “Dalam beberapa kesempatan, mereka justru memperlakukan saya dengan baik, bahkan tidak jarang menunjukkan kepedulian yang sederhana. Ada semacam etika sosial yang tidak tertulis, bahwa saling menghormati adalah kunci untuk bisa hidup berdampingan di sini,” ungkapnya.

Dari situ Alfin belajar akan setiap tempat yang pasti memiliki dua wajah. Tugasnya bukan memilih untuk percaya pada salah satunya, melainkan belajar membaca keduanya dengan bijak. Jika ada satu hal yang benar-benar mengujinya di tanah Papua, maka itu adalah ruang kelas.

Sebagai lulusan Hukum Ekonomi Syariah, dengan latar belakang aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan Pers Mahasiswa, menjadi guru sekolah dasar bukanlah sesuatu yang pernah saya rencanakan secara serius. “Dunia saya sebelumnya dipenuhi dengan diskusi, tulisan, dan analisis. Sementara di sini, saya berhadapan dengan anak-anak yang dunia berpikirnya masih dalam proses perkembangan kognitif, namun justru di situlah letak kerumitannya,” katanya.

Selama hampir dua bulan mengajar (mata pelajaran Kemuhammadiyahan), Alfin merasakan pendidikan tidak selalu soal transfer ilmu. Di banyak momen, pendidikan itu justru tentang membentuk sikap. Alfin melihat secara langsung bagaimana anak-anak di sekolah  tempatnya mengajar memiliki tantangan yang cukup berbeda dibandingkan dengan anak-anak di Pulau Jawa yang sejauh ini pernah ia jumpai. Bukan soal kecerdasan, melainkan soal fondasi karakter.

Bahasa kasar yang terlontar dengan ringan, emosi yang mudah meledak, hingga kurangnya penghormatan kepada yang lebih tua, semuanya menjadi pemandangan yang cukup sering ia jumpai.Di titik itulah, Alfin mulai bertanya pada diri sendiri, “apa arti pendidikan jika tidak mampu menyentuh sisi paling dasar dari manusia?”

Menurutnya, pendidikan karakter bukan sekadar jargon yang sering diulang dalam sebuah diskusi, seminar, atau kurikulum. Pendidikan karakter adalah kerja panjang yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan keteladanan. Ia menyadari perubahan tidak bisa terjadi dalam semalam. Bahkan mungkin, dalam satu tahun pengabdian ini, Alfin tidak akan melihat hasil yang signifikan.

“Namun, saya percaya pada satu hal kecil, bahwa setiap kata yang kita ucapkan, setiap sikap yang kita tunjukkan, akan meninggalkan jejak. Mungkin hari ini mereka belum mengerti, tetapi suatu saat nanti, bisa jadi mereka akan mengingat, bahwa pernah ada seseorang di ruang kelas yang mencoba memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda,” ungkap Alfin penuh harap.

Menjadi seorang guru yang mengabdi di wilayah terluar bukanlah perkara sederhana. Alfin Nur Ridwan merasakan betul bagaimana jarak, perbedaan budaya, hingga tantangan sosial menjadi bagian dari keseharian yang harus dihadapi.

Menjadi seorang guru yang mengabdi di wilayah terluar bukanlah perkara sederhana. Alfin Nur Ridwan merasakan betul bagaimana jarak, perbedaan budaya, hingga tantangan sosial menjadi bagian dari keseharian yang harus dihadapi.

Selain mengajar di sekolah, Alfin mengabdikan diri untuk mengajarkan ngaji kepada anak-anak di dekat tempat tinggalnya. Mayoritas dari mereka masih berusia sekolah dasar. Dalam konteks Papua, dengan mayoritas penduduknya bukan beragama Islam, baginya aktivitas ini memiliki makna yang jauh lebih dalam.

“Mengajarkan Al-Qur’an di sini bukan hanya soal membaca huruf demi huruf. Itu adalah upaya menjaga keberlanjutan identitas, sekaligus menanamkan nilai-nilai dasar kepada generasi muda Muslim yang hidup dalam lingkungan yang berbeda,” ujarnya.

Tantangannya tentu tidak kecil. Minat belajar yang naik turun, tempat yang seadanya, hingga lingkungan sosial yang tidak selalu mendukung menjadi bagian dari dinamika yang harus Alfin hadapi. Namun di balik itu semua, ada satu hal yang selalu membuatnya bertahan yaitu harapan.

Alfin melihat di mata anak-anak itu sebuah kemungkinan. Bahwa dengan pendekatan yang tepat, dengan kesabaran yang cukup, mereka bisa tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Mengaji, dalam konteks ini, bukan sekadar aktivitas religius. Karena ada proses membangun kedekatan antara manusia dengan Tuhannya, dan antara sesama manusia. Ia juga belajar bahwa mengajarkan Al-Qur’an tidak bisa hanya mengandalkan metode tetapi membutuhkan hati. “Dan mungkin, di sinilah letak esensi dari pengabdian itu sendiri. Diri saya tidak selalu diukur dari seberapa besar perubahan yang akan saya hasilkan, tetapi dari seberapa tulus diri ini menjalani prosesnya,” katanya.

Dua bulan mungkin masih terlalu singkat untuk menarik kesimpulan besar. Akan tetapi, bagi Alfin telah cukup untuk memahami bahwa perjalanan ini bukan tentang mengubah Papua, melainkan tentang mengubah diri pribadi Alfin. “Di tanah yang jauh dari rumah ini, saya belajar menjadi manusia, yang berarti siap untuk terus belajar tentang perbedaan, tentang kewaspadaan, dan tentang makna dari sebuah pengabdian,” ujarnya.

Berita Terbaru

44 Ners Baru UMS Diambil Sumpah, IPK Rata-rata 3,79 dan Peluang Karier hingga Jepang

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengukuhkan 44 tenaga perawat profesional melalui Upacara Sumpah Profesi Ners Program Pendidikan Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK)...

Inovasi Karpet RABA UMS Raih Dua Penghargaan di JISF 2026, Bantu Stimulasi Fokus Anak ADHD

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) meraih dua penghargaan internasional dalam Jakarta International Science Fair (JISF) 2026, yakni Gold Medal Awards dan...

PMB 2026, Pendaftar UMS dari Kalimantan dan Sulawesi Meningkat

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Pendaftar calon mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dari luar Pulau Jawa mulai menunjukkan peningkatan pada Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) 2026. Hingga...

UMS Jajaki Kerja Sama dengan 4 Kampus di Uzbekistan, Fokus Kembangkan Fakultas Kedokteran

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperluas jejaring internasional melalui serangkaian kunjungan ke sejumlah perguruan tinggi di Uzbekistan. Fokus utama kolaborasi diarahkan pada bidang...

Tawarkan Konsep RME, Erham Budi Wiranto Raih Gelar Doktor ke-66 PAI UMS dengan IPK 3,93

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Erham Budi Wiranto berhasil meraih gelar doktor ke-66 dari Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah...

Perkuat Sinergi Madrasah-Kampus, UMS Kirim Mahasiswa PKL Kemuhammadiyahan ke MTs Muhammadiyah Surakarta

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — MTs Muhammadiyah Surakarta secara resmi menerima mahasiswa Praktik Kuliah Lapangan (PKL) Kemuhammadiyahan dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dalam acara serah terima yang...

Hukum, Demokrasi, dan HAM di Era Algoritma, UMS Kumpulkan Pakar Dunia dalam Short Course Internasional

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan International Short Course 2026 bertema “Law, Politics, and Governance in the...

IYSA Sambut Tawaran UMS, Siap Jadi Jembatan Mahasiswa ke Ajang Ilmiah Internasional

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjajaki kerja sama dengan Indonesia Young Scientist Association (IYSA) sebagai langkah memperkuat rekognisi institusi di tingkat global dan...

Dukung Kampus Hijau, FT UMS Resmikan Water Station di Tiga Titik Strategis

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi meluncurkan fasilitas Water Station, Senin (27/4/2026), di Hall Gedung H. Inisiatif ini menjadi langkah konkret...

Inovasi Green Cosmetic UMS, Sampo Antiketombe Jeruk Nipis Raih Titel di JISF 2026

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) meraih Silver Medal dalam Jakarta International Science Fair (JISF) 2026 yang digelar pada 24–27 April 2026...

Hardiknas 2026, Rektor UMS Dorong Budaya Belajar Sepanjang Hayat

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Halaman Gedung Induk Siti Walidah, Sabtu (2/5/2026). Upacara berlangsung khidmat...

Bahan Ajar IPAS Pesona Jepara, Inovasi Disertasi Doktor UMS Padukan Budaya Lokal dan STEAM

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Erna Zumrotun, mahasiswa program Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), mengembangkan bahan ajar Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) yang terintegrasi dengan...