Friday, 25 June 2021
HOTLINE: (0271) 653 025 / 081234 567 890
  • Home
  • Ortom
  • Pendidikan Progresif Berpendekatan Profetik di Sekolah Muhammadiyah
Pendidikan Progresif Berpendekatan Profetik di Sekolah Muhammadiyah

Pendidikan Progresif Berpendekatan Profetik di Sekolah Muhammadiyah

Oleh : Hendro Susilo*)

 

MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Kottabarat bekerjasama dengan SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat mengadakan diskusi hasil riset bertemakan pendidikan progresif dan profetik, Kamis (08/04/2021). Dalam acara yang bertajuk “Bincang Bangun Muhammadiyah” (BBM) ini menghadirkan peneliti langsung yakni Zaki Setiawan,M.Pd  dan Ganda Setya Gunawan,S.Sos sebagai salah satu guru di SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat. Diskusi ini memang dirancang sebagai bagian dari menghidupkan tradisi intelektual di kalangan pemuda Muhammadiyah.

Dalam tulisan ini, saya akan mencuplik sebagian tulisan dari riset yang dilakukan Zaki Setiawan mulai dari latar belakang sampai pada kesimpulan yang didapatkan. Cuplikan yang saya ambil sebagai berikut :

 

 

“ Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua yang memiliki ciri khas tersendiri. Lembaga pesantren ini sebagai lembaga Islam tertua dalam sejarah Indonesia yang memiliki peran besar dalam proses keberlanjutan pendidikan nasional. (Usman, 2013). Pesantren masih eksis sampai hari ini. Dhofier (1982) menyatakan bahwa elemen dasar pesantren adalah sebuah pondok. Pondok itu adalah sebuah asrama. Santri tinggal di asrama dan kyai tinggal di ndalem. Santri hidup bersama dengan bimbingan seorang atau lebih guru yang lebih dikenal dengan sebutan kyai. (Dahlan, 2018).

 

Karena pesantren ditekan oleh penjajah Belanda, pesantren menjadi marginal. Pesantren terdesak ke pedalaman/pedesaan. Efek selanjutnya adalah pesantren menjadi otonom dan independen. Mereka menjadi anti bangsa Eropa. Segala sesuatu yang berasal dari ras kulit putih dianggap sebagai budaya kafir yang dihukumi haram meskipun ada yang bersifat kemajuan. Belanda mendirikan sekolah bagi anak pribumi awal 1900-an. Ini adalah salah satu keputusan dari politik etis. Anak pribumi yang ningrat belajar di sekolah Belanda tanpa dibekali pendidikan agama Islam. Karena tidak mungkin memasukkan materi pelajaran agama Islam di Sekolah Belanda (HIS, MULO, HBS, dsb). Ini yang membuat gusar KH. Ahmad Dahlan.

 

Anak-anak pribumi yang tidak ningrat semakin tersingkir. Karena mereka tidak pernah tersentuh modernitas/kemajuan. Mereka tetap dalam keadaan jumud/keterbelakangan. KH. Ahmad Dahlan ingin memadukan antara ilmu agama dan ilmu sekuler dalam sebuah institusi pendidikan. Kyai Dahlan mulai melakukan langkah nyata dengan mendirikan madrasah. Perpaduan antara Ilmu agama dan Ilmu sekuler dalam sebuah institusi sekolah adalah bagian dari “Islam Berkemajuan”. KH. Ahmad Dahlan berpesan, “dadiyo kyai sing kemajuan, lan aja kesel-kesel anggonmu nyambut gawe kanggo Muhammadiyah”.(Ali, 2016) Kata kuncinya adalah berkemajuan.

 

“Islam Berkemajuan” ditafsirkan dalam praksis pendidikan menjadi sekolah modern. Jika elemen dasar pesantren adalah sebuah pondok maka elemen dasar pendidikan “Islam Berkemajuan” adalah sekolah. Sekolah yang bercirikan modern. Sekolah modern adalah memakai ruang kelas dan kurikulum yang modern, progresif dan profetik. Sekolah tersebut harus memuat ilmu Islam dan ilmu umum. Ilmu Islam menjadi penting dan pembeda dengan sekolah Belanda / umum di masa itu. Ilmu Islam khas Muhammadiyah berkembang menjadi Al Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (ISMUBA) di masa kini. ISMUBA adalah jembatan antara modernitas dan Islam. Ilmu keislaman ini adalah ciri khas sekolah Muhammadiyah.

 

Kiprah yang lama dan panjang dari warisan KH. Ahmad Dahlan yaitu madrasah atau sekolah Muhammadiyah. Madrasah atau sekolah Muhammadiyah tetap bertahan sampai saat ini karena ada “sesuatu” yang membuat tetap bertahan. “Sesuatu” itu adalah konsep yang telah dipikirkan dan dijalankan oleh KH. Ahmad Dahlan. Konsep yang bertahan lama disebut dengan konsep visioner-antisipatoris.(Ali, 2016). Konsep visioner-antisipatoris yang membuat Muhammadiyah menjadi progresif. Progresif ternyata tidak cukup bagi pendidikan Muhammadiyah. Pendidikan Muhammadiyah harus progresif dan profetik. Karena Muhammadiyah adalah lembaga dakwah Islam, Amar Makruf Nahi Munkar.

 

Pendidikan profetik bertujuan untuk meng-humanisasi-kan manusia dengan menjalani perintah Allah SWT dilanjutkan dengan membebaskan manusia (liberasi) dengan mencegah kerusakan di muka bumi, yang pada akhirnya adalah membuat transenden dengan Allah SWT berupa keimanan. Secara normatif-konseptual, paradigma pendidikan profetik Kuntowijoyo (2005) didasarkan pada Surah Ali-Imran ayat 110 yang artinya: “Engkau adalah ummat terbaik yang diturunkan/dilahirkan di tengah-tengah manusia untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran dan beriman kepada Allah”. Berdasarkan ayat tersebut, terdapat tiga pilar utama yang mendasari munculnya pendidikan profetik yaitu; amar ma’ruf (humanisasi) yang mengandung pengertian memanusiakan manusia, kemudian nahi munkar (liberasi) mengandung pengertian pembebasan, dan tu’minunu billah (transendensi), dimensi keimanan manusia. (Masduki, 2017).”

 

Penelitian yang dilakukan berjenis kualitatif, dengan meneliti objek yang alami dan tanpa ada perlakuan. Pengumpulan data berdasarkan pandangan dari sumber data. Penelitian yang dilakukan Zaki Setiawan ini menggunakan analisa snowball sampling yang dilakukan di SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta dengan observasi dan wawancara dengan sumber data.

Dari hasil diskusi dengan peneliti, dapat disampaikan kesimpulan dari hasil pembahasan dan  penelitian  yang dapat saya tulis bahwasannya, pembelajaran di SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta secara umum sudah bersesuaian dengan filsafat progresivisme dan filsafat profetik berdasarkan analisa dari fakta di lapangan. Filosofi pembelajaran di SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat adalah holistik dan integral. Filosofi ini sudah bersesuaian dengan filsafat progresivisme dan filsafat profetik. SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat menjalankan progresivisme sehingga masih “menghunjam ke bumi”, sekolah yang dapat menjadi solusi/ problem solving bagi lingkungan sekitar. Sekaligus, SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat mempunyai hubungan transeden dengan Allah SWT sehingga “menuju ke langit”.

Di sisi lain, Ganda Setya Gunawan sebagai guru sekaligus pembicara diskusi BBM,menceritakan pengalamannya selama bercengkerama dan membersamai siswa SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat. Ganda menceritakan bahwa ketika dalam mengajar, sering memberikan contoh-contoh permasalahan  riil yang terjadi dalam masyarakat sebagai bahan pembelajaran dan mengaktifkan siswa dalam berfikir serta mencari solusi alternatif yang bisa ditawarkan  sebagai penyelesaian. Dalam pembelajarannya, Ganda lebih menyukai metode diskusi bersama siswa untuk melatih daya kreatifitas berfikir siswa.

Selain metode diskusi, project sosial siswa penting untuk diberikan. Tujuannya untuk memberikan pengalaman lapangan kepada siswa dan menumbuhkan cara berfikir kreatif dan produktif siswa. Dalam kesempatan diskusi di BBM, Ganda memberikan contoh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dalam mata pelajaran Sosiologi yakni mengajak siswa berkunjung ke kampung batik laweyan di Solo. Di tempat itu berbagai eksplorasi pengetahuan berbagai bidang dapat dilakukan dimulai bidang sejarah, seni batik, arsitektur rumah, hubungan sistem sosial masyarakat dan lain sebagainya.

Terkait internalisasi nilai-nilai keagamaan di mata pelajaran Sosiologi, Ganda pun mengungkapkan bahwa itu sangat penting. Maka dari itu, dalam pembelajaran jangan sampai kering dari nilai ruh agama. Menyisipkan ayat Al-Qur’an ataupun Hadist di setiap pembelajaran harus dilakukan. Dengan kata lain, kita harus me-Relevansi-kan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan, pungkasnya.

Kini, tantangan bidang pendidikan kian kompleks. Kita telah berada di era milenial, dimana era ini perubahan terjadi dengan begitu cepat. Digital technology mengiringi segala aktivitas manusia, pada era milenial saat ini manusia lebih disibukkan dengan teknologi seperti penggunaan sosial media. Kepemimpinan Islam yang berpegang pada prinsip-prinsip Islam tentu akan menjadikan pendidikan Islam mampu mangatasi tantangan dan perubahan yang terjadi begitu cepat. Dampak negatif yang diakibatkan oleh era milenial menjadi persoalan yang harus segera mendapatkan solusi yang tepat. Dampak negatif tersebut yakni kebanyakan manusia lebih merespon untuk mengutamakan akal, empirik, hedonis dan hal-hal yang bersifat materialistik, sekularistik, hedonistik, pragmatis, dan transaksional. Selanjutnya, konsekuensi dari dampak negatif tersebut kehidupan manusia cenderung akan terkikis spriritualitasnya.

Generasi milenial yang identik dengan pribadi yang malas, tidak mendalam, tidak membumi, lemah dalam kepedulian sosial, cenderung bebas, kebarat-baratan yang tidak memperhatikan etik dan aturan formal, adat istiadat serta tata krama. Hal ini sebagai akibat dari ketergantungan yang sangat tinggi dengan media sosial. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi Pendidikan Islam, khususnya Sekolah Muhammadiyah untuk melakukan terobosan-terobosan dalam sistem pendidikannya agar mampu menghasilkan generasi unggul berkemajuan. Terobosan-terobosan apa saja yang diperlukan sekolah muhammadiyah agar mampu melaksanakan sistem pendidikan progresif dan profetik? Sebuah proses yang belum selesai…….

*)Sekretaris MPI PDM Surakarta

Ditulis oleh :

INFORMASI TERKAIT

All
/ 7 Mei 2021

Pendidikan Al-Ashr : Platform Pendidikan Berkemajuan

  Oleh : Hendro Susilo*)     MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Setiap bulan Mei tiba, kita temukan banyak flyer pendidikan di grup Sosmed, berita yang memuat pendapat pakar pendidikan , ataupun muncul tulisan-tulisan refleksi...
/ 16 Februari 2021

Diskursus Sekolah Premium dan (Sekolah Penggerak) Muhammadiyah

Oleh : Hendro Susilo Aktivis Pemuda Muhammadiyah Daerah & Cabang Kottabarat Surakarta     Menarik bagi saya untuk membuka kembali diskursus di tahun 2016 terkait pengembangan sekolah “Premium” di persyarikatan...
/ 27 Januari 2021

Adaptasi Eskalasi Kurikulum (Tantangan Bagi Sekolah Muhammadiyah)

Oleh : Hendro Susilo (Pendidik di Perguruan Muhammadiyah Kottabarat)   Menarik bagi saya membaca ulasan artikel berjudul “Membangun Birokrasi yang Lincah” di harian Kompas,edisi Selasa (19/1/21) yang di tulis oleh...
/ 3 Oktober 2020

MELALUI GERAKAN JUMAT SERIBU, LAZISMU SALURKAN BANTUAN PENDIDIKAN BAGI SEKOLAH MUHAMMADIYAH

Solo- Lazismu Solo menyalurkan beasiswa mentari bagi siswa-siswi Muhammadiyah dari tingkat SD hingga SMA di wilayah Solo. Penyaluran beasiswa ini dilaksanakan langsung dengan berkunjung ke sekolah yang siswanya mendapatkan beasiswa....

Diskusi

Galeri Video

GALERI FOTO

TERPOPULER