Sentralisasi pendidikan Muhammadiyah di Solo sangat dinamis, luas dan luwes. Konsep sentralisasi pendidikan sebagai sistem pengaturan dan pengelolaan pendidikan secara terpusat di mana segala keputusan, kewenanganan, dan kebijakan berkaitan dengan sarana prasarana, pendidik dan tenaga kependidikan sampai pendanaan dikendalikan secara penuh oleh pusat tidak dikenal dalam sentralisasi pendidikan Muhammadiyah di Solo.
Esai Rio Estetika, seorang guru di SD Muhammadiyah 14, di website ini berjudul “Satu Arah, Banyak Sekolah: Refleksi atas Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo” yang merupakan refleksi dan tanggapan atas artikel saya “Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah di Solo” . Tulisan Rio Estetika ini menarik untuk diperbincangkan lebih dalam. Pertama-tama, perlu disampaikan bahwa SD Muhammadiyah 14, tempat di mana ia mendidik tergolong bukan sekolah yang disentral (baca: desentralisasi pendidikan) karena dikelola secara penuh oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Danukusuman, Kecamatan Serengan.
Konteks dan latar belakang penulis perlu ditampilkan karena dari sudut pandang sosiologi ilmu pengetahuan, latar belakang penulis sedikit banyak mencerminkan kesadaran dan pandangan seseorang. Di sebelah lainnya, saat ini saya sebagai Ketua Majelis Pendidikan PDM Solo berada di pusaran sentralisasi. Dengan demikian, bila dipandang dari sudut sosiologi ilmu pengetahuan, mestinya pandangan tentang pengembangan sekolah Muhammadiyah di Solo akan saling berhadap-hadapan.
Namun, bila membaca secara seksama dan mencermati gagasan yang tertuang dalam dua esai terdahulu, hampir-hampir tidak ditemukan perbedaan mendasar tentang bagaimana strategi dan orientasi pengembangan sekolah Muhammadiyah di Solo. Kalaupun ada sedikit perbedaan sudut pandang; Rio Estetika melihat sentralisasi pendidikan secara normatif, yaitu bagaimana manajemen sentralisasi pendidikan tetap membuka ruang yang luas bagi inovasi yang dilakukan sekolah. Di sebelah lainnya, esai yang saya tulis melihat secara empiris karena menggunakan pendekatan historis.
Terlepas dari itu, kami menyambut gembira tanggapan dan refleksi seorang guru. Hal ini menunjukkan bahwa budaya literasi di sekolah Muhammadiyah berjalan dengan baik karena di beri contoh oleh guru-guru yang mencurahkan waktu dan tenaganya bukan hanya untuk mengajar dan mendidik murid, tetapi pada saat bersamaan juga digunakan untuk belajar dan mendidik diri agar terus tumbuh dan berkembang. Menulis merupakan salah satu cara melakukan transendensi diri agar ruang-ruang inovasi dan tajdid terus dirawat dengan baik.
Tiap-Tiap Sekolah
Penerapan sentralisasi pendidikan Muhammadiyah di Solo sangat dinamis, luas dan luwes. Dari sudut pandang kepegawaian, seluruh sekolah Muhammadiyah di Solo bersifat sentral, karena semua SK guru/pendidik berasal dari Majelis Pendidikan PDM Kota Solo. Perbedaannya kalau yang dikelola oleh PRM atau PCM (baca: desentralisasi) prosesnya diusulkan oleh Ranting ataupun Majelis Dikdasmen Cabang setempat kemudian SK diterbitkan oleh Majelis Pendidikan PDM. Sedangkan sekolah sentral, kepala sekolah langsung mengusulkan ke Majelis Pendidikan baru kemudian dilakukan proses seleksi. Proses ini juga berlaku dalam proses pengusulan calon Kepala Sekolah yang semua SK dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah.
Sentralisasi pendidikan Muhammmadiyah di Solo yang paling tampak pada sisi pendanaan dan pembiayaan. Namun demikian tidak semua dana sekolah disentral ke Majelis Pendidikan, hanya infak pendidikan (SPP) dan uang pengembangan, selebihnya diserahkan kepada tiap-tiap sekolah. Pada saat bersamaan, sekolah Muhammadiyah yang masih membutuhkan subsidi dari Majelis Pendidikan, juga terus didorong dan didampingi secara intensif agar segera menjadi sekolah yang mandiri.
Ketentuan tentang sentralisasi keuangan belakangan ini diatur sedemikian rupa agar operasional sekolah lebih leluasa yang pada urutannya dapat meningkatkan kesejahteraan guru. Pada ujungnya guru mampu melayani murid secara optimal sehingga semua murid dapat berkembang secara utuh dengan pelayanan prima dari guru-guru berdedikasi dan ekosistem sekolah yang ramah.
Dengan demikian, sentralisasi pendidikan Muhammadiyah di Solo memberikan ruang yang luas bagi seluruh sekolah untuk tumbuh sesuai potensi dan dinamika yang ada pada diri sekolah dan lingkungannya. Secara kasat mata, dalam dua dekade terakhir ini, diferensiasi dan distingsi inovasi sekolah Muhammadiyah semakin tampak, yaitu dengan muncul brand baru, seperti: Program Khusus (PK), Sekolah Alam, Sekolah Kreatif, dan yang paling akhir Program Khusus Boarding School (PKBS).
Munculnya diferensiasi sekolah Muhammadiyah mencerminkan kesadaran baru para pelaku pendidikan Muhammadiyah bahwa eksistensi sekolah sangat bergantung pada kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Kala kebutuhan dan aspirasi pendidikan masyarakat berubah, maka tata kelola dan orientasi pengembangan sekolah juga harus mampu beradaptasi dan memberi arah terhadap perubahan. Dengan jalan demikian, sekolah Muhammadiyah akan mampu eksis dan tumbuh dalam lingkungan masyarakat yang berubah secara sangat cepat.
Penulis adalah Ketua Majelis Pendidikan PDM Kota Solo
Satu Arah, Banyak Sekolah: Refleksi atas Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo
“Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo”, judul artikel yang ditulis oleh Dr. Mohamad Ali, Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo pada laman...
Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo
Salah satu manifestasi gerakan Muhammadiyah yang paling mudah ditangkap dan dirasakan oleh publik adalah hadirnya lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang pra-sekolah, sekolah, sampai tingkat...
Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan
Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....
Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah
Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...
Peta Mutu Pendidikan Kota Solo
Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....
Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing
Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...
Politeisme Politik Indonesia
Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...
Renungan Tahun Baru 1448 Hijriah: Saatnya Pulang kepada Allah
Bismillahirrahmanirrahim. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Hari demi hari kita lewati dengan berbagai cerita. Ada tawa yang pernah menghiasi hidup,...
Belajar Bernapas di Tengah Sesak
Indonesia tidak sedang perang. Mal-mal masih ramai. Konser musik tetap dipenuhi lautan manusia. Kafe-kafe baru terus bermunculan. Linimasa media sosial dipenuhi video liburan, diskon besar-besaran,...
TKA dan Ancaman Marjinalisasi Ismuba
Kebijakan asesmen pendidikan Indonesia kembali memantik kegelisahan pada relung pembelajaran di Muhammadiyah, khususnya bagi pendidikan Ismuba (Al Islam, Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab). Tes Kemampuan Akademik...
Sang Pencari Makna
“Aku tahu kehidupan ini tiada arti, namun aku masih percaya bahwa ada suatu makna yang paling berarti, yakni aku (manusia).” Albert Camus – Krisis Kebebasan...
Menolak Politeisme Politik
Salah satu persoalan dakwah Islam di Indonesia saat ini adalah kecenderungannya yang lebih banyak berkonsentrasi pada pembangunan kesalehan individu. Mimbar-mimbar dakwah dipenuhi pembahasan tentang ibadah...







