Judul : Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia
Penulis : Haidar Bagir
Penerbit : PT Mizan Pustaka
Tahun Terbit : 2019
Jumlah Halaman : 224 halaman
ISBN : 978-602-502-159-5
Berbicara dunia pendidikan tidak pernah habis, selama sekolah-sekolah dan manusia masih ada dimuka bumi maka disana akan terus ada pendidikan. Setiap periodesasi zaman mengalami perubahan paradigma pendidikan tetapi masih dalam satu tujuan yang sama, yaitu mencerdaskan manusia.
Dalam buku ini saya membaca ada tiga pembagian pemabahasan yatu tentang Falsafah Pendidikan, Konsep dan metode pendidikan dan yang terakhir falsafah pendidikan islam. Buku ini menarik perhatian saya sebagai pembaca mulai dari cover yang sangat menarik karena menunjukan siluet kepala manusia dengan bentuk sebuah pohon yang gersang dan tandus.
Tetapi di sisi lainya ada suapan embun yang memancar sehingga sebagaian pohon tersebut ada yang masih hijau. Saya punya pandangan bahwa dari cover ini saja menggambarkan masih ada harapan tentang dunia pendidikan kita untuk di perbaiki menjadi lebih baik lagi.
Buku ini mengangkat tema besar tentang pentingnya memulihkan sistem pendidikan di Indonesia agar lebih manusiawi dan berorientasi pada pengembangan karakter. Haidar Bagir berusaha menggugah kesadaran pembaca tentang kondisi pendidikan yang ada saat ini, yang sering kali terjebak dalam rutinitas dan mekanisme yang tidak efektif.
Di bagian pendahuluan, Haidar Bagir mengemukakan latar belakang permasalahan pendidikan di Indonesia. Ia menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi, seperti kurangnya perhatian terhadap pendidikan karakter, serta dominasi sistem yang lebih menekankan pada hasil akademis daripada proses pembelajaran itu sendiri.
Melalui buku ini Haidar Bagir membuka halaman dengan menggambarkan bagaimana manusia hari ini berseteru dengan manusia buatan (Artificial Intelligence). Bahwa selalu ada perbandingan manusia harus seslalu lebih cerdas dari pada manusia buatan ini.
Ia pun membuat dua kata menarik yaitu “Saya Bermimpi” bahwa setiap manusia hidup tentram dan damai, setiap aktivitas di dasari pada kesenangan serta penuh suka cita, bahkan kata penulis dalam buku tersebut “saya bermimpi hidup di kota-kota kecil,tempat semua manusia adalah keluarga manusia yang lain. Dimana kehijauan dan kelestarian alam mendapatkan tempat sebanyak-banyaknya.”
Dengan memberikan gambaran ini,penulis dalam buku tersebut mempunyai imajinasi yang kuat tentang gambaran surgawi dengan konstruksi kedamaian, keindahan serta peradaban manusia yang sangat didambakan. Dirinya memiliki mimpi bahwa suatu saat nanti orang melihat kehidupan bukan sebagai gelanggang pertarungan memojokkan dan menyingkirkan orang lain demi menguasai semua sarana pemuas syahwat untuk diri sendiri.
Entah itu syahwat harta, syahwat kekuasaan, syahwat politik dan syahwat-syahwat lainnya. Ia juga memimpikan suatu saat orang percaya bahwa kebahagiaan terletak dalam hidup sebagai manusia biasa, yang lahir keluarbiasaannya justru karena dia hidup sebagai manusia biasa.
Catatan itu begitu kuat, menohok bagi mereka yang di dalam masa hidupnya hingga sekarang masih terjebak dengan syahwat duniawi yang disebutkan sebelumnya.
Itu menjadi dasar bagaimana Haidar Bagir bersama istrinya menciptakan sekolah yang mampu memunculkan manusia-manusia yang kreativitasnya mencuat ke mana-mana karena rehatnya pikiran, jiwa dan sukmanya.
Falsafah Pendidikan
Pada bab pertama, penulis membahas falsafah pendidikan yang seharusnya menjadi dasar dalam sistem pendidikan. Ia mengkritik pendekatan pendidikan yang hanya berorientasi pada pencapaian akademis dan menjelaskan bahwa pendidikan seharusnya bertujuan untuk memanusiakan manusia. Bagir mengajak pembaca untuk merenungkan kembali makna dari pendidikan itu sendiri.
Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences)
Bagir memperkenalkan teori Multiple Intelligences yang dikemukakan oleh Howard Gardner. Ia menjelaskan bahwa setiap individu memiliki berbagai jenis kecerdasan, seperti kecerdasan linguistik, logis-matematis, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis.
Dalam konteks ini, Bagir mengkritik kurikulum pendidikan di Indonesia yang cenderung mengabaikan kecerdasan non-akademis. Ia menekankan pentingnya pengembangan semua jenis kecerdasan agar siswa dapat menemukan dan mengembangkan potensi terbaik mereka.
Pendidikan Karakter
Dalam bab ini, penulis menekankan pentingnya pendidikan karakter sebagai bagian integral dari proses belajar. Ia berargumen bahwa pendidikan tidak hanya harus fokus pada aspek kognitif tetapi juga pada pengembangan nilai-nilai moral dan etika. Bagir memberikan contoh nyata tentang bagaimana sekolah-sekolah dapat menerapkan pendidikan karakter melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan program-program berbasis komunitas.
Solusi Melalui Falsafah Pendidikan Islam
Haidar Bagir menawarkan solusi melalui pendekatan falsafah pendidikan Islam. Ia menjelaskan bahwa pendidikan dalam Islam memiliki tujuan untuk membentuk manusia yang seimbang antara intelektual, emosional, dan spiritual. Dalam konteks ini, ia menyoroti pentingnya integrasi antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai agama dalam proses pembelajaran.
Implementasi dalam Praktik Pendidikan
Bagir memberikan beberapa rekomendasi praktis untuk para pendidik dan pengambil kebijakan dalam menerapkan prinsip-prinsip yang telah dibahas sebelumnya. Ia mendorong adanya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Selain itu, ia juga menekankan perlunya pelatihan bagi guru untuk memahami pendekatan baru dalam pendidikan.
Buku ini sangat relevan dengan kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Haidar Bagir berhasil menyampaikan kritik yang tajam terhadap sistem pendidikan yang ada tanpa kehilangan harapan untuk perbaikan. Pendekatannya yang berbasis pada pemikiran kritis dan reflektif memberikan perspektif baru tentang bagaimana seharusnya pendidikan dipahami dan diterapkan.
Salah satu kekuatan buku ini adalah kemampuannya untuk menyajikan teori-teori kompleks dengan cara yang mudah dipahami oleh pembaca umum. Selain itu, penggunaan contoh-contoh konkret dari praktik pendidikan di lapangan membuat argumen yang disampaikan menjadi lebih kuat dan relatable.
Buku “Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia” adalah sebuah karya penting bagi siapa saja yang peduli dengan masa depan pendidikan di Indonesia. Haidar Bagir berhasil menunjukkan bahwa perubahan dalam sistem pendidikan bukan hanya mungkin tetapi juga sangat diperlukan untuk menciptakan generasi masa depan yang berkualitas. Buku ini tidak hanya menjadi bacaan wajib bagi para pendidik tetapi juga bagi orang tua dan pengambil keputusan di bidang pendidikan.
Penulis adalah mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pondok Shabran UMS.
Jangan Keliru, antara “Kaus” dan “Kaos”
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dua kata, kaus dan kaos itu sama-sama benar. Kalau sebuah kata sudah masuk ke KBBI, tentu itu sudah sah...
Akademik atau Akademis?
Hari ini, 28 Oktober, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pada momentum ini, kita peringati pula sebagai Bulan Bahasa. Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa sangat berkaitan....
Bukan Sekadar Spasi dan Huruf Miring
Saya masih terngiang-ngiang terhadap keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas uji materi Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2024 tentang Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, beberapa waktu lalu. MK...
“Relawan” atau “Sukarelawan?”
Beberapa hari lalu, saya mengedit berita yang dikirim ke grup WhatsApp (WA) kontributor Muhammadiyahsolo.com, SoloMuNewsroom. Berita itu tentang penanaman pohon sebagai penutup acara Jambore Relawan...
Kata dengan Akhiran “-isasi”
Dalam keseharian, kita sering menggunakan kata dengan akhiran -isasi seperti dalam kata kaderisasi, hilirisasi, demokratisasi, dan sebagainya. Seolah kita merasa keren kalau menulis atau berbicara...
Jamaah dan Jemaah
Dalam ber-Muhammadiyah, kita sering menemui kata, terminologi, atau konsep tentang jamaah. Dalam bahasa Arab, jamaah, maknanya ‘berkumpul’. Warga Persyarikatan adalah jamaah, atau orang-orang yang berkumpul...
Giat, Mohon Izin, dan Projek
Dalam sebuah forum yang digelar sebuah instansi pemerintah, saya mendapati seorang pejabat di sebuah OPD (organisasi perangkat daerah) memaparkan program tahun 2026 berikut anggaran yang...
Kepala Sekolah itu Tidak Membawahi Wakasek
Dalam pemberitaan media, saya sering menemukan penggunaan kata membawahi yang keliru. Misalnya, “Kepala Sekolah SMA X membawahi tiga wakil kepala sekolah (wakasek)….” Saya paham, maksud...
Kalimat “Meneladani Rasulullah” itu Terbalik
Saya sering mendengar orang berceramah atau menulis artikel menggunakan kalimat seperti ini, “Sebagai umat Islam, kita harus ‘meneladani’ Rasulullah.” Pada kesempatan lainnya, para penceramah agama...
Matinya Kepakaran: Perlawanan Terhadap Pengetahuan yang Telah Mapan dan Mudaratnya
Ketika kita mendengar ataupun membaca tentang “matinya kepakaran”, pasti akan timbul banyak pertanyaan tentangnya. Apakah kepakaran atau keahlian itu benar-benar mati? Atau benarkah itu terjadi...






