Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Ulas Bahasa

Jangan Keliru, antara “Kaus” dan “Kaos”

Sholahuddin, Editor: Sholahuddin
Sabtu, 8 November 2025 14:03 WIB
Jangan Keliru, antara “Kaus” dan “Kaos”
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Sholahuddin (Dok.pribadi)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dua kata, kaus dan kaos itu sama-sama benar. Kalau sebuah kata sudah masuk ke KBBI, tentu itu sudah sah menjadi bahasa Indonesia yang benar. Namun, dua kata itu sesungguhnya mempunyai makna yang jauh berbeda.

Dalam keseharian, di antara kita, masih sering menggunakan kata-kata itu dalam konteks yang tidak tepat. Misalnya, ada yang membuat kalimat “Sebagai hadiah ulang tahun, saya memberi kado kaos buat istri tercinta”. Saya yakin, banyak pembaca yang menduga bahwa hadiah kaos yang diberikan kepada sang istri itu adalah jenis pakaian. Apakah benar ini? Mari kita buka KBBI untuk mengonfirmasinya. Ternyata, kaos maknanya adalah ‘keadaan kacau balau’. Tidak ada sangkut pautnya dengan jenis pakaian.  Jelas bahwa penggunaan lema kaos dalam kalimat di atas tidak tepat. Bahkan, menyesatkan. Hadiah ulang tahun pastinya sesuatu yang menyenangkan. Lha ini, malah menghadiahi kekacauan.

Kaos adalah kata serapan dari bahasa Inggris, chaos. Dalam laman https://www.oxfordlearnersdictionaries.com/definition/english/chaos?q=chaos, artinya ‘a complete lack of order’ atau ‘ketiadaan tatanan yang lengkap’.  Sehingga, kata kaos lebih tepat digunakan dalam kalimat, misalnya, “Demonstrasi pengemudi ojek online (ojol) pada pada Agustus lalu berakhir kaos”. Artinya demonstrasi itu berakhir kacau balau karena terjadi pembakaran dan penjarahan di beberapa tempat.

Nah, untuk menunjuk jenis pakaian, maka lebih tepat digunakan kata kaus. Di KBBI, maknanya beragam, tapi kesemuanya masih menunjukkan kategori jenis pakaian. Misalnya, salah satu maknanya, adalah ‘kain tipis yang jarang-jarang tenunannya terbuat dari katun atau nilon, digunakan untuk bahan pakaian’. Sehingga, dalam kalimat yang saya contohkan di atas, lebih tepat kalimatnya adalah “Sebagai hadiah ulang tahun, saya memberi kado kaus buat istri tercinta”. Jelas bukan?

Jadi, jangan sesekali berpikiran memberi hadiah ulang buat suami atau istri dengan kado kaos ya, karena dijamin keluarga Anda akan chaos he..he..he…

Berita Terbaru

Akademik atau Akademis?

Hari ini, 28 Oktober, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pada momentum ini, kita peringati pula sebagai Bulan Bahasa. Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa sangat berkaitan....

Bukan Sekadar Spasi dan Huruf Miring

Saya masih terngiang-ngiang terhadap keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas uji materi Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2024 tentang Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, beberapa waktu lalu. MK...

“Relawan” atau “Sukarelawan?”

Beberapa hari lalu, saya mengedit berita yang dikirim ke grup WhatsApp (WA) kontributor Muhammadiyahsolo.com, SoloMuNewsroom. Berita itu tentang penanaman pohon sebagai penutup acara Jambore Relawan...

Kata dengan Akhiran “-isasi”

Dalam keseharian, kita sering menggunakan kata dengan akhiran -isasi seperti dalam kata kaderisasi, hilirisasi, demokratisasi, dan sebagainya. Seolah kita merasa keren kalau menulis atau berbicara...

Jamaah dan Jemaah

Dalam ber-Muhammadiyah, kita sering menemui kata, terminologi, atau konsep tentang jamaah. Dalam bahasa Arab, jamaah, maknanya ‘berkumpul’.  Warga Persyarikatan adalah jamaah, atau orang-orang yang berkumpul...

Giat, Mohon Izin, dan Projek

Dalam sebuah forum yang digelar sebuah instansi pemerintah, saya mendapati seorang pejabat di sebuah OPD (organisasi perangkat daerah) memaparkan program tahun 2026 berikut anggaran yang...

Kepala Sekolah itu Tidak Membawahi Wakasek

Dalam pemberitaan media, saya sering menemukan penggunaan kata membawahi yang keliru. Misalnya, “Kepala Sekolah SMA X membawahi tiga wakil kepala sekolah (wakasek)….” Saya paham, maksud...

Kalimat “Meneladani Rasulullah” itu Terbalik

Saya sering mendengar orang berceramah atau menulis artikel menggunakan kalimat seperti ini, “Sebagai umat Islam, kita harus ‘meneladani’ Rasulullah.” Pada kesempatan lainnya, para penceramah agama...

Matinya Kepakaran: Perlawanan Terhadap Pengetahuan yang Telah Mapan dan Mudaratnya

Ketika kita mendengar ataupun membaca tentang “matinya kepakaran”, pasti akan timbul banyak pertanyaan tentangnya. Apakah kepakaran atau keahlian itu benar-benar mati? Atau benarkah itu terjadi...

Resensi Buku: Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia

Judul                           : Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia Penulis                         : Haidar Bagir Penerbit                       : PT Mizan Pustaka Tahun Terbit                : 2019 Jumlah Halaman         :...

Leave a comment