Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Ulas Bahasa

Akademik atau Akademis?

Sholahuddin, Editor: Sholahuddin
Selasa, 28 Oktober 2025 09:14 WIB
Akademik atau Akademis?
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Sholahuddin (Dok.pribadi)

Hari ini, 28 Oktober, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pada momentum ini, kita peringati pula sebagai Bulan Bahasa. Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa sangat berkaitan. Saat Sumpah Pemuda dibacakan pada 28 Oktober 1928 silam, pada poin ketiga, berbunyi “Kami, putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”.

Ini artinya, 97 silam, bahasa Indonesia sudah dideklarasikan sebagai bahasa persatuan oleh para pemuda. Hampir satu abad. Setiap Oktober, tentu ada baiknya kita merefleksikan bersama, apakah kita sudah menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar? Seperti yang sering saya tulis di rubrik ini pula, berbahasa Indonesia yang baik adalah berbahasa yang sesuai dengan konteknya. Berbahasa yang benar adalah berbahasa sesuai kaidahnya. Kira-kira seperti itu tafsir sederhananya. Terdengarnya sudah menjadi klise pernyataan ini, tapi tetap harus terus kita gaungkan agar bahasa Indonesia benar-benar menjadi bahasa persatuan dalam makna yang sebenarnya, sebagaimana keinginan para pemuda saat Sumpah Pemuda.

Nah, pada momentum bersejarah ini, saya mengajak merenungkan penggunaan kata akademik dan akademis. Dalam praktiknya, dua kata ini sering dipakai secara bergantian. Ada yang menggunakan akademik, ada pula yang memakai akademis. Mana yang pas? Analisis saya sederhana: cukup menggunakan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai rujukan. Kalau Anda mengetik kata akademik di KBBI daring, maka yang muncul adalah kata akademis. KBBI tidak menjelaskan makna akademik. Namun, kalau Anda mengetik akademis, maka KBBI akan menjawab: ‘mengenai (berkaitan dengan) akademi: soal-soal –; bersifat ilmiah; bersifat ilmu pengetahuan; bersifat teori, tanpa arti praktis yang langsung’.

Lebih Tepat

Jadi, kita sudah bisa menentukan mana di antara dua kata ini yang paling tepat kita gunakan. Namun, pada praktiknya, banyak orang yang masih sering menggunakan akademik ketimbang akademis. Misalnya, kita sering mengatakan prestasi akademik; dunia akademik, ketimbang menggunakan prestasi akademis; dunia akademis. Dalam kasus pengunaan kata yang lain, ada yang lebih menyukai menggunakan sistemik, ketimbang sistemis. Padahal, secara leksikal, sistemis adalah lebih tepat kita gunakan. Maknanya adalah ‘berkenaan dengan suatu sistem atau susunan yang teratur; terdiri atas beberapa subsistem’.

Kata akademik ini masih sering digunakan di dunia akademis. Di kampus, di sekolah, yang seharusnya dua entitas ini menjadi motor penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Namun, uniknya, saat kita menyebut para sarjana, dosen, atau para ahli di kampus, kita sepakat memakai kata akademisi. Dalam KBBI, akademisi artinya adalah ‘orang yang berpendidikan tinggi; anggota akademi’.

Padahal, kalau kita konsisten menggunakan kata akademik, mestinya para sarjana itu kita sebut sebagai akademiki. Wagu bukan?

Berita Terbaru

Jangan Keliru, antara “Kaus” dan “Kaos”

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dua kata, kaus dan kaos itu sama-sama benar. Kalau sebuah kata sudah masuk ke KBBI, tentu itu sudah sah...

Bukan Sekadar Spasi dan Huruf Miring

Saya masih terngiang-ngiang terhadap keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas uji materi Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2024 tentang Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, beberapa waktu lalu. MK...

“Relawan” atau “Sukarelawan?”

Beberapa hari lalu, saya mengedit berita yang dikirim ke grup WhatsApp (WA) kontributor Muhammadiyahsolo.com, SoloMuNewsroom. Berita itu tentang penanaman pohon sebagai penutup acara Jambore Relawan...

Kata dengan Akhiran “-isasi”

Dalam keseharian, kita sering menggunakan kata dengan akhiran -isasi seperti dalam kata kaderisasi, hilirisasi, demokratisasi, dan sebagainya. Seolah kita merasa keren kalau menulis atau berbicara...

Jamaah dan Jemaah

Dalam ber-Muhammadiyah, kita sering menemui kata, terminologi, atau konsep tentang jamaah. Dalam bahasa Arab, jamaah, maknanya ‘berkumpul’.  Warga Persyarikatan adalah jamaah, atau orang-orang yang berkumpul...

Giat, Mohon Izin, dan Projek

Dalam sebuah forum yang digelar sebuah instansi pemerintah, saya mendapati seorang pejabat di sebuah OPD (organisasi perangkat daerah) memaparkan program tahun 2026 berikut anggaran yang...

Kepala Sekolah itu Tidak Membawahi Wakasek

Dalam pemberitaan media, saya sering menemukan penggunaan kata membawahi yang keliru. Misalnya, “Kepala Sekolah SMA X membawahi tiga wakil kepala sekolah (wakasek)….” Saya paham, maksud...

Kalimat “Meneladani Rasulullah” itu Terbalik

Saya sering mendengar orang berceramah atau menulis artikel menggunakan kalimat seperti ini, “Sebagai umat Islam, kita harus ‘meneladani’ Rasulullah.” Pada kesempatan lainnya, para penceramah agama...

Matinya Kepakaran: Perlawanan Terhadap Pengetahuan yang Telah Mapan dan Mudaratnya

Ketika kita mendengar ataupun membaca tentang “matinya kepakaran”, pasti akan timbul banyak pertanyaan tentangnya. Apakah kepakaran atau keahlian itu benar-benar mati? Atau benarkah itu terjadi...

Resensi Buku: Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia

Judul                           : Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia Penulis                         : Haidar Bagir Penerbit                       : PT Mizan Pustaka Tahun Terbit                : 2019 Jumlah Halaman         :...

Leave a comment