Ketika kita mendengar ataupun membaca tentang “matinya kepakaran”, pasti akan timbul banyak pertanyaan tentangnya. Apakah kepakaran atau keahlian itu benar-benar mati? Atau benarkah itu terjadi pada masa kini? Tom Nichols dalam bukunya yang berjudul “The Death of Expertise” akan mengajak kita mendalami tentang tema yang disebutkan di awal.
Dalam buku dengan tebal 320 halaman tersebut, kita disajikan dengan berbagai masalah kematian kepakaran yang mungkin relevan di masa kini. Buku “The Death of Expertise” karya Tom Nichols menyajikan beberapa bab yang sangat menarik, yang akan selalu berkaitan dengan matinya kepakaran yang sudah sejak dulu adanya hingga masa kini.
Dimulai dari bab pertama yang membahas tentang Pakar dan Warga Negara sampai bab keenam atau terakhir yang bertemakan kepakaran yang dipersalahkan. Memaknai kata perkata, kalimat perkalimat dari buku tersebut memanglah butuh kefokusan untuk membacanya.
Ini karena di dalamnya akan selalu ada kata yang asing didengar dan memantik untuk menemukan makna dari kata tersebut. Itulah menariknya buku ini, selain dengan pembahasan ilmiah yang dikemas apik oleh Tom Nichols.
Negeri Orang-orang Sok Tahu
Tom Nichols dalam bab pertamanya Pakar dan Warga Negara, memulai dengan kalimat “Negeri orang-orang sok tahu”. Kita pernah bertemu dengan mereka. Mereka bisa jadi adalah rekan kerja, teman, atau anggota keluarga kita. Mereka ada yang muda ataupun tua, kaya ataupun miskin, beberapa berpendidikan, yang lain hanya bersenjatakan laptop atau kartu perpustakaan.
Terlepas dari perbedaannya, ada satu kesamaan diantara mereka: mereka orang biasa yang merasa dirinya adalah timbunan pengetahuan. Mereka merasa yakin dirinya tahu lebih banyak dibandingkan dengan para ahli, berpengetahuan lebih luas dibandingkan dengan para dosen, dan lebih berwawasan daripada massa yang menurutnya mudah dibohongi.
Mereka adalah para pemberi penjelasan yang sangat senang memberikan pencerahan mengenai apa saja kepada kita, mulai dari sejarah imperialisme sampai bahaya vaksin. Matinya kepakaran dimulai dari orang-orang yang sok tahu tentang suatu hal yang baru saja ia ketahui dari satu jurnal yang dibaca atau mungkin sekelebat informasi yang baru saja ia terima.
Era post truth banyak menjadikan orang-orang yang baru saja terjun di suatu bidang keilmuan menjadi seperti pakar atau ahli–dalam tanda kutip “kelihatannya”. Dari era post truth inilah semua informasi tentang segala pengetahuan yang entah dari mana datangnya mengalir deras begitu saja bagi para pembacanya.
Sehingga menjadikan pakar atau ahli yang benar-benar mengusai satu bidang tertentu kalah atas orang-orang sok tahu tersebut. Seakan-akan warga yang sok tahu itulah yang mengusai seluruh bidang keilmuan dibanding para pakar yang telah lama berproses di dalam pembelajarannya dan juga banyak menerbitkan karya-karya fenomenal dalam bidang keilmuan yang ia kuasai.
Dunning-Kruger Effect
Istilah Dunning-Kruger Effect pertama kali diperkenalkan oleh David Dunning dan Justin Kruger, psikolog dari Universitas Cornell, pada tahun 1999. Istilah ini banyak sekali digunakan dalam buku “The Death of Expertise” oleh Nichols.
Dunning-Kruger Effect adalah bias kognitif yang terjadi ketika seseorang dengan pengetahuan terbatas melebih-lebihkan kemampuan atau pengetahuan mereka sendiri. Fenomena ini juga dikenal sebagai perilaku overconfident. Mudahnya untuk memahami Dunning-Kruger Effect adalah seperti pada grafik berikut:
Grafik di atas menunujukkan bagaimana seseorang ketika baru saja mempelajari suatu ilmu maka tingkat kepercayaan dirinya akan meningkat begitu drastis, sehingga menafikan semua orang yang mengetahui ilmu tersebut kecuali dia.
Lama kelamaan setelah banyak mempelajari ilmu tersebut ia akan menyadari bahwa apa yang dikuasai adalah secuil dari luasnya ilmu tersebut dan kepercayaan diri akan menurun drastis pula. Semakin dia mempelajarinya, ia akan merasa dirinya tidak tahu menahu tentang ilmu tersebut sehinga terus memantikya untuk belajar tentang ilmu tersebut semakin jauh lagi, yang akhirnya selama proses pemnelajaran itulah mejadikannya benar-benar ahli dalam bidang tersebut.
Mengutip dari kalimat di buku tersebut, “Salah satu alasan mendasar mengapa para pakar dan orang awam saling menyusahkan adalah mereka semua manusia”. Dunning-Kruger Effect adalah inti pembahasan di buku ini, karena dengannya sulit untuk membedakan antara pakar yang benar-benar ahli dan orang awam yang sok tahu. Masalah ini adalah masalah yang serius dalam tema matinya kepakaran.
Pemberontakan Para Pakar
Dalam bab terakhirnya, Tom Nichols menjelaskan masalah-masalah tentang ketidaksengajaan pakar dalam melakukan kesalahan. Seperti halnya manusia, pakar adalah seseorang yang bisa saja salah dalam teorinya. Dalam hal ini orang awam tidak mau tahu dengan hal tersebut, sehingga mereka menjadikan pakar adalah rujukan atas segala hal.
Ketika salah dalam praktiknya, pakar benar-benar disalahkan yang berujuang pada ketidakpercayaan pada pakar itu sendiri. Pada akhir pembahasan dalam bab Ketika Pakar Salah, Tom Nichols memaparkan tentang pemberontakan para pakar. Tom Nichols tidak bermaksud mengakhiri buku ini dengan penuh rasa pesimistis, tetapi dia tidak yakin memiliki pilihan lain.
Sebagian besar penyebab ketidaktahuan dapat diatasi jika masyarakat bersedia belajar. Namun, tidak ada yang dapat mengatasi perpaduan keangkuhan, narsisisme, dan sinisme yang warga Amerika pakai layaknya baju zirah untuk melawan pakar.
Buku ini sangat penting rasanya untuk dibaca karena di dalamnya memuat apa yang belum terpikirkan di kepala kita, dan Tom Nichols memantik dengan bukunya ini. Terutama oleh para akademisi yang berkutat pada kepakaran, sehingga matinya kepakaran dapat teratasi meskipun kapan itu terjadi belum bisa dijawab secara konkret.
Jangan Keliru, antara “Kaus” dan “Kaos”
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dua kata, kaus dan kaos itu sama-sama benar. Kalau sebuah kata sudah masuk ke KBBI, tentu itu sudah sah...
Akademik atau Akademis?
Hari ini, 28 Oktober, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pada momentum ini, kita peringati pula sebagai Bulan Bahasa. Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa sangat berkaitan....
Bukan Sekadar Spasi dan Huruf Miring
Saya masih terngiang-ngiang terhadap keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas uji materi Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2024 tentang Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, beberapa waktu lalu. MK...
“Relawan” atau “Sukarelawan?”
Beberapa hari lalu, saya mengedit berita yang dikirim ke grup WhatsApp (WA) kontributor Muhammadiyahsolo.com, SoloMuNewsroom. Berita itu tentang penanaman pohon sebagai penutup acara Jambore Relawan...
Kata dengan Akhiran “-isasi”
Dalam keseharian, kita sering menggunakan kata dengan akhiran -isasi seperti dalam kata kaderisasi, hilirisasi, demokratisasi, dan sebagainya. Seolah kita merasa keren kalau menulis atau berbicara...
Jamaah dan Jemaah
Dalam ber-Muhammadiyah, kita sering menemui kata, terminologi, atau konsep tentang jamaah. Dalam bahasa Arab, jamaah, maknanya ‘berkumpul’. Warga Persyarikatan adalah jamaah, atau orang-orang yang berkumpul...
Giat, Mohon Izin, dan Projek
Dalam sebuah forum yang digelar sebuah instansi pemerintah, saya mendapati seorang pejabat di sebuah OPD (organisasi perangkat daerah) memaparkan program tahun 2026 berikut anggaran yang...
Kepala Sekolah itu Tidak Membawahi Wakasek
Dalam pemberitaan media, saya sering menemukan penggunaan kata membawahi yang keliru. Misalnya, “Kepala Sekolah SMA X membawahi tiga wakil kepala sekolah (wakasek)….” Saya paham, maksud...
Kalimat “Meneladani Rasulullah” itu Terbalik
Saya sering mendengar orang berceramah atau menulis artikel menggunakan kalimat seperti ini, “Sebagai umat Islam, kita harus ‘meneladani’ Rasulullah.” Pada kesempatan lainnya, para penceramah agama...
Resensi Buku: Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia
Judul : Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia Penulis : Haidar Bagir Penerbit : PT Mizan Pustaka Tahun Terbit : 2019 Jumlah Halaman :...






