Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Ulas Bahasa

“Relawan” atau “Sukarelawan?”

Sholahuddin, Editor: Sholahuddin
Selasa, 8 Juli 2025 14:32 WIB
“Relawan” atau “Sukarelawan?”
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Sholahuddin (Dok.pribadi).

Beberapa hari lalu, saya mengedit berita yang dikirim ke grup WhatsApp (WA) kontributor Muhammadiyahsolo.com, SoloMuNewsroom. Berita itu tentang penanaman pohon sebagai penutup acara Jambore Relawan Muhammadiyah-‘Aisyiyah ke-3 di Tawangmangu, Karanganyar, beberapa hari lalu.

Sang kontributor menggunakan kata relawan, bukan sukarelawan dalam berita tersebut. Si penulis berita tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Lha wong acaranya memang menggunakan kata relawan. Namun, saat menyunting (mengedit), semua kata relawan saya ganti dengan sukarelawan. Setelah saya edit, nama kegiatan yang diunggah di Muhammadiyahsolo.com menjadi Jambore Sukarelawan Muhammadiyah-‘Aisyiyah ke-3 di Tawangmangu.

Sebenarnya, nama acara, saat dikutip dalam berita, harus ditulis apa adanya. Lha, problemnya, bagaimana kalau nama acara itu tidak menggunakan kaidah bahasa yang tepat? Nah, ini bisa diperdebatkan panjang lebar. Namun, saya punya misi untuk menyampaikan bahwa penggunaan kata relawan tersebut kurang tepat. Yang lebih tepat, sesuai kata baku, adalah sukarelawan. Makanya saya “berijtihad” mengubah nama kegiatan agar sesuai kaidah bahasa yang benar. Siapa tahu, ke depan, kalau ada acara jambore sejenis, tidak menggunakan lagi kata relawan, melainkan menggunakan sukarelawan.

Mengapa? Sebenarnya, sufiks (akhiran) -wan (juga -man) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta guna mengisi kekosongan konsep makna ‘orang yang me-…’ yang tidak dapat diganti dengan pe(N)-. Dalam bahasa Indonesia, tidak lazim digunakan kata pengilmu, pembudi, dan peseni (Saryono dan Soedjito, 2021). Dengan dirangkai akhiran -wan dan -man, kata-kata itu menjadi ilmuwan, budiman, dan seniman. Meskipun dalam beberapa kata, bisa menggunakan imbuhan dua-duanya: pe(N)- dan wan-, misalnya kata pewarta dan wartawan yang maknanya boleh dikatakan sama.

Penyelaras Bahasa Kompas, Amin Iskandar, melalui artikelnya di Kompas.id, “’Sukarelawan; Tidak Sama dengan ‘Relawan’”, menjelaskan bahwa imbuhan -wan selalu melekat pada kata benda. Selain itu, -wan juga bisa melekat pada kata sifat. Sementara, rela itu kata kerja, sehingga tidak tepat kalau dirangkai dengan imbuhan -wan menjadi relawan. Dengan demikian, akhiran -wan lebih pas dirangkai dengan kata sifat, yaitu sukarela, sehingga menjadi sukarelawan. Jelas to?

Saat saya memasukkan kata relawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, KBBI menyarankan menggunakan kata sukarelawan, yang artinya adalah ‘orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela (tidak karena diwajibkan atau dipaksakan)’. Di beberapa media massa yang memperhatikan kaidah penggunaan bahasa Indonesia, mereka memilih menggunakan kata sukarelawan ketimbang relawan. Misalnya, media Solopos.com pada 3 Juli 2025 lalu mengunggah berita berjudul “BNN Gandeng Sukarelawan Perangi Narkoba”.

Meskipun, harus kita akui, banyak pula yang tetap menggunakan kata relawan. Mungkin karena kadung terbiasa menggunakan kata itu, mungkin karena ketidaktahuan, mungkin  karena kata relawan lebih simpel ketimbang sukarelawan yang kurang begitu familier di telinga publik. Mungkin pula karena gaya selingkung di media tersebut. Entahlah…

Bekerja Ikhlas

Relawan, eh, sukarelawan biasanya dipergunakan untuk menunjuk pada orang yang bekerja secara suka rela, ikhlas, tidak mengharapkan imbalan. Tidak pula karena dipaksa. Di Muhammadiyah, relawan [sukarelawan] lebih sering digunakan untuk menunjuk aktivis yang bergerak di bidang kemanusiaan, sosial, dan penyelamatan lingkungan. Seperti relawan [sukarelawan] Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), relawan [sukarelawan] Lazismu, dsb. Sebenarnya, predikat sukarelawan itu bisa disematkan kepada siapa saja di Persyarikatan yang bekerja secara sukarela. Misalnya, di Majelis Pustaka dan Informasi (MPI), mereka yang bekerja mengurus media, baik media sosial maupun media daring/cetak, termasuk para kontributornya yang rajin mengirim berita tanpa berharap imbalan, kecuali imbalan dari Allah Swt., mereka sesungguhnya juga sukarelawan Muhammadiyah.

Apakah ada relawan [sukarelawan] tapi berharap imbalan? Oh, banyak. Lha itu para relawan [sukarelawan] di sekitar tokoh-tokoh politik. Mereka menyebut diri sebagai relawan [sukarelawan], bahkan mengorganisasikan diri dalam wadah organisasi para relawan [sukarelawan], tapi banyak yang kebelet jadi menteri, wakil menteri. Atau, kalau kepepet, ya berharap jadi komisaris BUMN. Kepepet lagi ya jadi komisaris BUMD. Kepepetnya lagi, ya jadi anggota staf ahli.

Apakah mereka pantas disebut para relawan [sukarelawan]?

Wallahualam….

 Blulukan, 8 Juli 2025

Penulis adalah Pemimpin Redaksi Muhammadiyahsolo.com

Berita Terbaru

Jangan Keliru, antara “Kaus” dan “Kaos”

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dua kata, kaus dan kaos itu sama-sama benar. Kalau sebuah kata sudah masuk ke KBBI, tentu itu sudah sah...

Akademik atau Akademis?

Hari ini, 28 Oktober, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pada momentum ini, kita peringati pula sebagai Bulan Bahasa. Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa sangat berkaitan....

Bukan Sekadar Spasi dan Huruf Miring

Saya masih terngiang-ngiang terhadap keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas uji materi Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2024 tentang Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, beberapa waktu lalu. MK...

Kata dengan Akhiran “-isasi”

Dalam keseharian, kita sering menggunakan kata dengan akhiran -isasi seperti dalam kata kaderisasi, hilirisasi, demokratisasi, dan sebagainya. Seolah kita merasa keren kalau menulis atau berbicara...

Jamaah dan Jemaah

Dalam ber-Muhammadiyah, kita sering menemui kata, terminologi, atau konsep tentang jamaah. Dalam bahasa Arab, jamaah, maknanya ‘berkumpul’.  Warga Persyarikatan adalah jamaah, atau orang-orang yang berkumpul...

Giat, Mohon Izin, dan Projek

Dalam sebuah forum yang digelar sebuah instansi pemerintah, saya mendapati seorang pejabat di sebuah OPD (organisasi perangkat daerah) memaparkan program tahun 2026 berikut anggaran yang...

Kepala Sekolah itu Tidak Membawahi Wakasek

Dalam pemberitaan media, saya sering menemukan penggunaan kata membawahi yang keliru. Misalnya, “Kepala Sekolah SMA X membawahi tiga wakil kepala sekolah (wakasek)….” Saya paham, maksud...

Kalimat “Meneladani Rasulullah” itu Terbalik

Saya sering mendengar orang berceramah atau menulis artikel menggunakan kalimat seperti ini, “Sebagai umat Islam, kita harus ‘meneladani’ Rasulullah.” Pada kesempatan lainnya, para penceramah agama...

Matinya Kepakaran: Perlawanan Terhadap Pengetahuan yang Telah Mapan dan Mudaratnya

Ketika kita mendengar ataupun membaca tentang “matinya kepakaran”, pasti akan timbul banyak pertanyaan tentangnya. Apakah kepakaran atau keahlian itu benar-benar mati? Atau benarkah itu terjadi...

Resensi Buku: Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia

Judul                           : Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia Penulis                         : Haidar Bagir Penerbit                       : PT Mizan Pustaka Tahun Terbit                : 2019 Jumlah Halaman         :...

Leave a comment