Dalam ber-Muhammadiyah, kita sering menemui kata, terminologi, atau konsep tentang jamaah. Dalam bahasa Arab, jamaah, maknanya ‘berkumpul’. Warga Persyarikatan adalah jamaah, atau orang-orang yang berkumpul dalam wadah organisasi (jam’iyah) bernama Muhammadiyah yang punya tujuan untuk menciptakan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya sesuai AD/ART organisasi.
Kita perlu menekankan bahwa saat ber-Muhammadiyah, kita perlu bekerja secara ber-jamaah. Saya memaknai, kerja ber-jamaah adalah bekerja dalam konteks sistem. Muhammadiyah adalah sistem besar yang di dalamnya terdiri dari sub-subsistem yang setiap sub-sistem itu bekerja sesuai tugasnya masing-masing. Namun, antar-subsistem itu mesti saling ber-jamaah, ada kesadaran bersama, berserikat, saling bekerja sama, berkolaborasi untuk mencapai tujuan besar organisasi. Nah, sub-sistem dalam Muhammadiyah bisa berupa unsur pimpinan dari Pimpinan Pusat hingga Pimpinan Ranting, majelis/lembaga, organisasi otonom, Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), Badan Usaha Milik Muhammadiyah (BUMM), warga Persyarikatan, dan subsistem lainnya yang tidak bisa saya sebut satu persatu. Muhammadiyah bisa besar hingga pada usia ke-112 tahun ini juga produk dari kerja ber-jamaah warga Persyarikatan. Meski pada kasus-kasus tertentu, pada sub-sistem tertentu masih ada keluhan bahwa kerja ber-jamaah itu masih ada kendala. Kalau kita bicara dalam konteks sistem, ketika ada subsistem yang disfungsional atau fungsinya terganggu, maka subsistem lainnya bisa membantu sehingga subsistem itu bisa fungsional kembali. Ini baru kerja ber-jamaah.
Misalnya masih ada keluhan Ranting tertentu yang kesulitan finansial untuk menjalankan program, sementara di sisi lain, ada Ranting atau AUM yang secara finansial mampu. Di sebagian kecil Ranting/Cabang masih merasa bahwa AUM besar belum memberikan “tetesan ke bawah” untuk menguatkan program di Cabang maupun Ranting. Setidaknya hal itu mengemuka pada forum Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Redaksi Majalah Langkah Baru, belum lama ini. FGD ini mengundang 10 PRM dan 7 PCM di Kota Solo. Nah, keluhan ini yang perlu menjadi pekerjaan rumah bersama. Dalam FGD itu muncul agar bisa menjadikan Lazismu sebagai jembatan antar-subsistem antara yang mampu dan yang kurang mampu. Semoga…
Huruf Miring
Dalam lema resmi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata bakunya adalah jemaah, bukan jamaah. Dalam bahasa percakapan, sebagian di antara kita lebih nyaman dengan jamaah daripada jemaah, sholat daripada salat, dsb. Kalau terpaksa kita menggunakan kata tidak baku, ya kita wajib menulisnya dengan huruf miring. Nah, jemaah, dalam KBBI maknanya, ‘kumpulan atau rombongan orang beribadah; orang banyak; publik’. Jadinya maknanya tidak jauh berbeda dengan makna aslinya dalam bahasa Arab. Karena maknanya adalah ‘kumpulan atau rombongan’, maka kata jemaah mesti kita pakai untuk menunjuk pada fenomena sesuai fungsi kata itu. Misalnya jemaah salat Jumat, jemaah haji, jemaah pengajian. Jemaah salat Jumat berarti kumpulan orang untuk melaksanakan salat Jumat. Jemaah pengajian artinya kumpulan orang yang mengikuti pengajian.
Nah, kita perlu berhati-hati menyematkan angka di depan kata jemaah, karena bisa jadi maknanya berubah. Misalnya, “Satu orang jemaah masjid”. Tentu kalimat ini kurang tepat. Yang tepat adalah “Satu orang anggota jemaah masjid”. Kata anggota untuk menunjukkan bahwa satu orang itu menjadi bagian dari jemaah (kumpulan) masjid. Kalau kita mengatakan “ada dua jemaah masjid”, itu maknanya ada dua kelompok jemaah di masjid tersebut. Bisa jadi ada jemaah putri dan jemaah putra. Kita tidak bisa memaknai kalimat itu dengan “ada dua orang anggota jemaah masjid” karena maknanya kalimat itu adalah adalah “dua kelompok” di masjid tersebut. Nah, kalau kita ingin menunjukkan jumlah anggota dalam satu jemaah, maka akan lebih tepat kita menyebut, misalnya, “Jemaah pengajian yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Keprabon itu diikuti oleh 500 orang”. Bukan “diikuti 500 jemaah” karena maknanya jadi “diikuti 500 kelompok”.
Jadi, intinya, ketika kita bicara jamaah atau jemaah, konteksnya adalah kumpulan, tidak dalam konteks orang per orang.
Jelas kan?
Jangan Keliru, antara “Kaus” dan “Kaos”
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dua kata, kaus dan kaos itu sama-sama benar. Kalau sebuah kata sudah masuk ke KBBI, tentu itu sudah sah...
Akademik atau Akademis?
Hari ini, 28 Oktober, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pada momentum ini, kita peringati pula sebagai Bulan Bahasa. Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa sangat berkaitan....
Bukan Sekadar Spasi dan Huruf Miring
Saya masih terngiang-ngiang terhadap keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas uji materi Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2024 tentang Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, beberapa waktu lalu. MK...
“Relawan” atau “Sukarelawan?”
Beberapa hari lalu, saya mengedit berita yang dikirim ke grup WhatsApp (WA) kontributor Muhammadiyahsolo.com, SoloMuNewsroom. Berita itu tentang penanaman pohon sebagai penutup acara Jambore Relawan...
Kata dengan Akhiran “-isasi”
Dalam keseharian, kita sering menggunakan kata dengan akhiran -isasi seperti dalam kata kaderisasi, hilirisasi, demokratisasi, dan sebagainya. Seolah kita merasa keren kalau menulis atau berbicara...
Giat, Mohon Izin, dan Projek
Dalam sebuah forum yang digelar sebuah instansi pemerintah, saya mendapati seorang pejabat di sebuah OPD (organisasi perangkat daerah) memaparkan program tahun 2026 berikut anggaran yang...
Kepala Sekolah itu Tidak Membawahi Wakasek
Dalam pemberitaan media, saya sering menemukan penggunaan kata membawahi yang keliru. Misalnya, “Kepala Sekolah SMA X membawahi tiga wakil kepala sekolah (wakasek)….” Saya paham, maksud...
Kalimat “Meneladani Rasulullah” itu Terbalik
Saya sering mendengar orang berceramah atau menulis artikel menggunakan kalimat seperti ini, “Sebagai umat Islam, kita harus ‘meneladani’ Rasulullah.” Pada kesempatan lainnya, para penceramah agama...
Matinya Kepakaran: Perlawanan Terhadap Pengetahuan yang Telah Mapan dan Mudaratnya
Ketika kita mendengar ataupun membaca tentang “matinya kepakaran”, pasti akan timbul banyak pertanyaan tentangnya. Apakah kepakaran atau keahlian itu benar-benar mati? Atau benarkah itu terjadi...
Resensi Buku: Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia
Judul : Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia Penulis : Haidar Bagir Penerbit : PT Mizan Pustaka Tahun Terbit : 2019 Jumlah Halaman :...






