Dalam pemberitaan media, saya sering menemukan penggunaan kata membawahi yang keliru. Misalnya, “Kepala Sekolah SMA X membawahi tiga wakil kepala sekolah (wakasek)….”
Saya paham, maksud kalimat itu adalah kepala sekolah merupakan atasan dari tiga wakil kepala sekolah. Sayangnya, si pembuat kalimat keliru memilih kata. Saat saya membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), membawahi maknanya ‘ada di bawahnya; tunduk pada; diperintah’. Sehingga kalimat di atas maknanya menjadi terbalik; kepala sekolah itu berada di bawah tiga wakil kepala sekolah, atau tunduk kepada wakil kepala sekolah.
Dalam konteks manajemen organisasi, kepala sekolah adalah atasan, pihak yang berhak memerintah para wakilnya. Atau wakil kepala sekolah itu punya atasan namanya kepala sekolah. Di mana pun, namanya wakil, itu pasti otoritasnya lebih rendah daripada pejabat setelah kata wakil. Wakil direktur pasti lebih rendah daripada direktur. Wakil menteri pasti lebih rendah daripada menteri. Wakil pelatih pasti lebih rendah daripada pelatih.
Nah, agar lebih pas dengan maksudnya, pada kalimat di atas, kata membawahi diganti membawahkan. Kata membawahkan artinya ‘menempatkan (sesuatu) di bawah; memegang pimpinan; mengepalai’. Jadi kalimatnya jadi begini: “Kepala Sekolah SMA X membawahkan tiga wakil kepala sekolah (wakasek)….” Maknanya, kepala sekolah itu mengepalai atau memegang pimpinan para wakil kepala sekolah. Pas kan?
Berasa Aneh
Tapi kok berasa aneh kalimat itu ya? Betul. Bahasa memang soal rasa. Bahasa yang salah tapi diulang terus-menerus, terkadang terasa lebih enak ketimbang bahasa yang benar tapi jarang dipakai. Jadi, rasa itu soal kebiasaan, mudah sekali berubah. Dulu, kata unggah, unduh itu juga berasa aneh ketimbang kata asing upload dan download. Sekarang jadi biasa. Demikian pula kata mantan. Sekarang? kata mantan itu jadi kata pasaran. Banyak orang deg-degan kalau mendengar kata mantan. Agar jadi biasa, kuncinya ya dibiasakan. Lama-lama jadi kaprah (biasa)
Pesan moralnya, pergunakan kata yang tepat saat menyampaikan suatu maksud. Jangan sampai menyampaikan suatu maksud, tapi kita menggunakan kata yang maknanya berkebalikan dari yang kita maksud.
Seperti saya ulas di atas, wakil, dalam konteks struktur organisasi, mestinya tunduk kepada orang yang memberi mandat, atasannya. Apakah ada wakil yang sering mengkhianati atasannya? Ada kok. Namanya wakil rakyat! He-he-he…
Itu namanya anomali, sesuatu yang menyimpang. Enggak usah kita tiru.
Penulis adalah pemelajar bahasa
Catatan:
Pemelajar=orang yang belajar
Pembelajar=orang yang membelajarkan; pengajar
Jangan Keliru, antara “Kaus” dan “Kaos”
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dua kata, kaus dan kaos itu sama-sama benar. Kalau sebuah kata sudah masuk ke KBBI, tentu itu sudah sah...
Akademik atau Akademis?
Hari ini, 28 Oktober, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pada momentum ini, kita peringati pula sebagai Bulan Bahasa. Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa sangat berkaitan....
Bukan Sekadar Spasi dan Huruf Miring
Saya masih terngiang-ngiang terhadap keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas uji materi Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2024 tentang Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, beberapa waktu lalu. MK...
“Relawan” atau “Sukarelawan?”
Beberapa hari lalu, saya mengedit berita yang dikirim ke grup WhatsApp (WA) kontributor Muhammadiyahsolo.com, SoloMuNewsroom. Berita itu tentang penanaman pohon sebagai penutup acara Jambore Relawan...
Kata dengan Akhiran “-isasi”
Dalam keseharian, kita sering menggunakan kata dengan akhiran -isasi seperti dalam kata kaderisasi, hilirisasi, demokratisasi, dan sebagainya. Seolah kita merasa keren kalau menulis atau berbicara...
Jamaah dan Jemaah
Dalam ber-Muhammadiyah, kita sering menemui kata, terminologi, atau konsep tentang jamaah. Dalam bahasa Arab, jamaah, maknanya ‘berkumpul’. Warga Persyarikatan adalah jamaah, atau orang-orang yang berkumpul...
Giat, Mohon Izin, dan Projek
Dalam sebuah forum yang digelar sebuah instansi pemerintah, saya mendapati seorang pejabat di sebuah OPD (organisasi perangkat daerah) memaparkan program tahun 2026 berikut anggaran yang...
Kalimat “Meneladani Rasulullah” itu Terbalik
Saya sering mendengar orang berceramah atau menulis artikel menggunakan kalimat seperti ini, “Sebagai umat Islam, kita harus ‘meneladani’ Rasulullah.” Pada kesempatan lainnya, para penceramah agama...
Matinya Kepakaran: Perlawanan Terhadap Pengetahuan yang Telah Mapan dan Mudaratnya
Ketika kita mendengar ataupun membaca tentang “matinya kepakaran”, pasti akan timbul banyak pertanyaan tentangnya. Apakah kepakaran atau keahlian itu benar-benar mati? Atau benarkah itu terjadi...
Resensi Buku: Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia
Judul : Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia Penulis : Haidar Bagir Penerbit : PT Mizan Pustaka Tahun Terbit : 2019 Jumlah Halaman :...






