Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Ulas Bahasa

Kata dengan Akhiran “-isasi”

Sholahuddin, Editor: Sholahuddin
Jumat, 13 Juni 2025 15:35 WIB
Kata dengan Akhiran “-isasi”
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Sholahuddin (Dok.pribadi).

Dalam keseharian, kita sering menggunakan kata dengan akhiran -isasi seperti dalam kata kaderisasi, hilirisasi, demokratisasi, dan sebagainya. Seolah kita merasa keren kalau menulis atau berbicara menggunakan kata-kata tersebut. Pada waktu debat antar-kandidat pada pemilihan presiden (pilpres) 2024, kata hilirisasi (di dunia industri) seringkali diucapkan oleh salah satu pasangan kontestan pilpres. Hilirisasi diklaim sebagai salah satu program unggulannya.

Saya tidak akan membahas apakah hilirisasi di dunia industri benar-benar membuat maju Indonesia atau tidak. Itu bukan urusan saya. Saya hanya mengulas pada penggunaan bahasa. Kata yang berakhiran -isasi merupakan kata serapan dari bahasa asing, (-ization, Inggris). Menurut Prof. Djoko Saryono dan Prof. Soedjito (2020), akhiran -isasi atau -ization mula-mula lazim dipergunakan pada kata asing. Dalam perkembangannya, akhiran tersebut produktif diterapkan pada kata asal bahasa Indonesia. Jadilah kata-kata seperti yang saya sebut di atas.

Namun, Prof. Djoko Saryono dan Prof. Soedjito, mengatakan, selama akhiran asing itu memang bermanfaat dan tidak ada kata padanan dalam bahasa Indonesia, kata dengan akhiran -isasi itu bisa dipakai. Namun kalau sudah ada padanan dalam bahasa Indonesia, akhiran asing itu tidak perlu kita serap. Dalam hal ini akhiran -isasi berpadanan dengan konfiks pe(N)-an.

Baiklah, kita akan buka satu persatu kata kaderisasi, demokratisasi, dan hilirisasi di atas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Saat saya mengetikkan kata kaderisasi di KBBI daring, kamus itu memaknai kaderisasi dengan ‘pengaderan’. KBBI tidak menjelaskan langsung makna kaderisasi. Sedangkan pengaderan adalah ‘proses, cara, perbuatan mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader’. Demikian pula kalau Anda memasukkan kata demokratisasi di KBBI, yang muncul adalah pendemokrasian yang artinya adalah ‘proses, cara, perbuatan mendemokrasikan’.

Sedangkan saat Anda mengetik kata hilirisasi, KBBI memaknainya sebagai penghiliran. Artinya ‘proses, cara, perbuatan menghilirkan; proses, cara, perbuatan untuk melakukan pengolahan bahan baku menjadi barang siap pakai’. Gaya KBBI ini mengisyaratkan kaderisasi, demokratisasi dan hilirisasi yang merupakan kata serapan asing sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia, yaitu pengaderan, pendemokrasian, dan penghiliran.

Jadi jelas, kata mana yang harus kita pilih kalau kita ingin berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Tiga kata kaderisasi, demokratisasi, hilirisasi, di tulisan ini, saya sebagai sampel saja. Masih banyak kata lain yang sejenis. Misalnya, indonesianisasi (pengindonesiaan); neonisasi (peneonan), listrikisasi (pelistrikan); kuningisasi (penguningan); legalisasi (pelegalan), dan sebagainya.

Nah, sebagai orang Indonesia yang baik, yuk kita pergunakan bahasa asli Indonesia yang merupakan kekayaan budaya kita. Meskipun banyak bos republik ini yang masih suka menggunakan terminologi asing seperti hilirisasi ketimbang penghiliran, artificial intelligence (AI) ketimbang menggunakan kecerdasan artifisial (KA). Mereka sering menarasikan anti-asing, bahkan mengkritik para pengkritiknya sebagai antek asing, tapi dalam berbahasa, mereka adalah “antek asing”. Hmmm…

Penulis adalah pencinta bahasa

Pencinta= ‘orang yang sangat suka akan…’

Pecinta= ‘orang yang bercinta’

Berita Terbaru

Jangan Keliru, antara “Kaus” dan “Kaos”

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dua kata, kaus dan kaos itu sama-sama benar. Kalau sebuah kata sudah masuk ke KBBI, tentu itu sudah sah...

Akademik atau Akademis?

Hari ini, 28 Oktober, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pada momentum ini, kita peringati pula sebagai Bulan Bahasa. Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa sangat berkaitan....

Bukan Sekadar Spasi dan Huruf Miring

Saya masih terngiang-ngiang terhadap keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas uji materi Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2024 tentang Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, beberapa waktu lalu. MK...

“Relawan” atau “Sukarelawan?”

Beberapa hari lalu, saya mengedit berita yang dikirim ke grup WhatsApp (WA) kontributor Muhammadiyahsolo.com, SoloMuNewsroom. Berita itu tentang penanaman pohon sebagai penutup acara Jambore Relawan...

Jamaah dan Jemaah

Dalam ber-Muhammadiyah, kita sering menemui kata, terminologi, atau konsep tentang jamaah. Dalam bahasa Arab, jamaah, maknanya ‘berkumpul’.  Warga Persyarikatan adalah jamaah, atau orang-orang yang berkumpul...

Giat, Mohon Izin, dan Projek

Dalam sebuah forum yang digelar sebuah instansi pemerintah, saya mendapati seorang pejabat di sebuah OPD (organisasi perangkat daerah) memaparkan program tahun 2026 berikut anggaran yang...

Kepala Sekolah itu Tidak Membawahi Wakasek

Dalam pemberitaan media, saya sering menemukan penggunaan kata membawahi yang keliru. Misalnya, “Kepala Sekolah SMA X membawahi tiga wakil kepala sekolah (wakasek)….” Saya paham, maksud...

Kalimat “Meneladani Rasulullah” itu Terbalik

Saya sering mendengar orang berceramah atau menulis artikel menggunakan kalimat seperti ini, “Sebagai umat Islam, kita harus ‘meneladani’ Rasulullah.” Pada kesempatan lainnya, para penceramah agama...

Matinya Kepakaran: Perlawanan Terhadap Pengetahuan yang Telah Mapan dan Mudaratnya

Ketika kita mendengar ataupun membaca tentang “matinya kepakaran”, pasti akan timbul banyak pertanyaan tentangnya. Apakah kepakaran atau keahlian itu benar-benar mati? Atau benarkah itu terjadi...

Resensi Buku: Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia

Judul                           : Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia Penulis                         : Haidar Bagir Penerbit                       : PT Mizan Pustaka Tahun Terbit                : 2019 Jumlah Halaman         :...

Leave a comment