
“Tuhan tidak melihat rupa dan harta melainkan hati; hati yang luas tak bertepi, cinta yang dalam tak terajuk”
Buku Pangeran yag Selalu Bahagia dan cerita-cerita lainnya merupakan sebuah seri klasik yang pertama kali terbit pada tahun 1888. Berisi kumpulan cerita pendek berupa dongeng yang pada mulanya dikarang oleh Oscar Wilde khusus untuk dua orang putranya sendiri. Sebelum kemudian menjadi cerita pengantar tidur populer anak-anak baik pada masanya bahkan sampai saat ini.
Satu di antara dongeng-dongeng tersebut mengisahkan tentang Pangeran yang selalu Bahagia. Tepat di pusat sebuah kota didirikan patung pangeran yang selalu bahagia yang seluruh tubuhnya dilapisi oleh emas dan dihiasi oleh batu-batu mulia yang sangat berharga. Patung ini sangat dikagumi oleh seluruh warga yang ada di kota tersebut.
Pada suatu malam, takdir mempertemukan ia dengan seekor burung layang-layang yang berteduh d iantara kedua kakinya, sebab terpisah dari kawanannya yang telah lebih dahulu bermigrasi. Baru saja burung tersebut menyelipkan kepalanya ke dalam sayap, tiba-tiba tetesan air jatuh berkali-kali hingga membasahinya meskipun malam itu langit tidak berawan dan bintang-bintang bersinar terang.
Tetesan ait tersebut ternyata adalah air mata kesedihan “Sang Pangerang yang selalu Bahagia” sehingga membuat burung layang-layang menjadi bingung “selalu bahagia tetapi menangis?” Pangeran yang selalu bahagia itu kemudian bercerita bahwa dahulu sebelum menjadi patung, ketika ia masih hidup, sejak lahir ia tinggal di istana dan setiap halaman ditutupi tembok yang tinggi.
Sehingga ia tak pernah melihat dan tahu apa itu kesedihan. Hingga setelah ia mati dan dijadikan patung yang menjulang tinggi, baru ia bisa melihat kejelekan dan kesengsaraan rakyanya sehingga ia tak bisa menahan air mata.
Sang Pangeran kemudian meminta bantuan burung layang-layang untuk melucuti semua barang-barang berharga yang menempel di tubuhnya. Satu per satu barang kemudian diberikan pada setiap warga yang ia lihat kemelaratannya hingga yang tersisa hanyalah semen dan timah yang tak berharga.
Malam-malam yang penuh cerita suka dan duka itu kemudian membuat burung layang-layang kelelahan hingga pada akhirnya mati di bawah kaki sang pangeran, bersamaan dengan hati dari timah sang pangeran yang terbelah menjadi dua.
Keesokan paginya para warga kota mendapati patung pangeran yang selalu bahagia tidak lagi berpenampilan sebagaimana yang mereka kagumi setiap hari, lalu mulai mencemooh patung tersebut dengan sebutan gembel, pengemis.
Mereka mengutuk burung yang mati di bawah kakinya hingga puncaknya membuang hati dari timah yang terbelah dua yang tak berguna menurut mereka. Bahkan mereka sepakat untuk meleburkan patung tersebut dan dibuatkan patung yang baru.
“Bawakan padaKu benda yang paling berharga di kota,” kata Tuhan kepada salah seorang MalaikatNya; lalu ia menyerahkan hati yang terbuat dari timah dan burung layang-layang yang mati. “Tepat sekali pilihanmu,” kata Tuhan. “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian” H.R. Muslim
Meskipun merupakan dongeng pengantar tidur anak, cerita pendek ini merupakan alegori nyata tentang bagaimana kacamata kehidupan sosial sejak dulu hingga saat ini begitu menitikberatkan pada penilaian terhadap kepemilikan akan sesuatu yang berharga pada seseorang.
Dia akan dianggap bernilai, layak didengarkan, dipuji, diikuti, disanjung, bahkan diagung-agungkan, ketika punya kepemilikan akan sesuatu yang dari kacamata kehidupan sosial sebagai sesuatu yang berharga. Sejak dulu hingga saat ini kacamata kehidupan sosial akan sesuatu yang berharga tersebut tak pernah berubah yakni perihal rupa dan harta. Seseorang akan bernilai ketika memiliki rupa yang elok dan atau harta yang berlimpah.
Dialog akhir dari cerita pendek ini secara radikal mencoba mengembalikan fitrah dari setiap insan yang sebagai makhluk ciptaan Tuhan bahwa Tuhan tidak mempedulikan pada hal yang nampak tetapi menekankan pada hakikat.
Sebagai Pencipta, Tuhan tidak mempermasalahkan rupa, sebagai Pemberi, Tuhan tidak mempermasahkan akan barang yang bernilai tinggi, tetapi sebagai Pengasih, Tuhan melihat hati. Sebagaimana salah satu hadis nabi yang mahsyur “sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian”
Hati yang bersih dan suci seharusnya menjadi kekayaan yang paling tinggi yang dimiliki oleh setiap insan-insan di muka bumi sebab ia adalah mata air utama yang mengairi kebun-kebun perilaku sebagai sesuatu yang nampak dalam berkehidupan, ketika ia tidak lagi bersih dan jernih maka yang tumbuh adalah segala kata sifat buruk yang ada dalam kamus umat manusia.
Hati harusnya menjadi kekayaan yang tak ternilai, sebagaimana penggalan akhir salah satu puisi Buya Hamka;”Kekayaanku hanya satu dik, Hati. Hati yang luas tak bertepi, cinta yang dalam tak terajuk. Sebagai kisah pengantar tidur, cerita-cerita pendek di dalam buku ini sangat bagus dibaca untuk menanamkan konsep moral kepada anak sejak dini. Dapat juga dibaca untuk mengarjakan orang dewasa tentang konsep moral yang hakiki.
Identitas Buku
Judul : Pangeran yang selalu Bagahia dan cerita-cerita lainnya
Penulis : Oscar Wilde
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tahun terbit : 2003
Jumlah halaman : 206 halaman
Genre : Fiksi
Pulang yang Tidak Pernah Benar-Benar Sampai
Ada rindu yang tak pernah menemukan alamatnya sendiri Ia kemudian tumbuh, menua, dan tetap tertahan oleh sejarah Apalah kemudian arti dari kata pulang, jika sebuah...
Resensi Buku Negara Paripurna, Membedah Lunturnya Nilai Pancasila
Daftar IsiIsi dan Pokok Pemikiran BukuHistorisitas PancasilaRasionalitas PancasilaAktualitas PancasilaKeunggulan BukuKelemahan BukuPenilaian dan RelevansiBuku ini merupakan karya monumental Yudi Latif yang membedah Pancasila secara komprehensif, baik...
Resensi Buku Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Menceritakan sebuah keluarga miskin yang hidup tanpa punggung keluarga sejak Tania (sekitaran 8 tahun) dan Dede (umur 3 tahun) masih kecil, mereka hidup dalam...
Resensi Buku: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Setiap orang pasti pernah merasa lelah dengan kehidupan: soal mimpi yang tak sampai, cinta yang kandas, atau hidup yang terasa biasa-biasa saja. Namun, pernahkah kita...
Resensi Buku Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut
Daftar IsiSinopsis SingkatEkofeminisme dalam Konteks NusantaraKelebihan NovelKekurangan NovelPesan MoralRekomendasi & PenutupResensi BukuSOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Penulisan novel ini terinspirasi langsung dari realitas pahit di Pulau Sangihe, sebuah wilayah...
Rsesensi Buku 9 dari Nadira: Cermin Keberanian Leila S. Chudori
Leila S. Chudori (lahir 12 Desember 1962) adalah wartawan dan penulis produktif Indonesia. Sejak masa remaja, karya-karyanya dimuat di majalah anak-anak, dan ia juga bekerja...
Makna Cinta: Menjadi Autentik dengan Mencintai Tanpa Syarat Ala Søren Kierkegaard
Apa yang sebenarnya kita maksud ketika berkata, “Aku mencintaimu”? Apakah cinta hanyalah perasaan manis yang membuat jantung berdebar? Atau sekadar ketertarikan yang menyala dan padam...
Muhammadiyah, Best Practise Kewirausahaan Sosial di Indonesia
Judul Buku : Bangkitnya Kewirausahaan Sosial Indonesia: Kisah Muhammadiyah Penulis : M. Arsjad Rasjid P.M. Penerbit : Pustaka KSP Kreatif dan Kadin Indonesia Edisi :...
Merekam Jejak Pemikiran Pakar Pendidikan Muslim Modernis
Judul : Diskursus Pedagogi Kritis Kaum Muslim Modernis Penulis : Dr. Mohamad Ali Halaman: 152 halaman ISBN: 978-602-361-638-1 Cetakan: 1, Mei 2024 Penerbit: Muhammadiyah University...
Kemiskinan Tak Menghalangi Gapai Masa Depan
Judul buku : Dompet Ayah Sepatu Ibu Penulis : J.S. Khairen Penerbit : Grasindo Genre : Fiksi Tahun : Cetakan keenam, Januari 2024 Baca Juga...
Seruan Sang Muazin Bangsa
Judul : Islam Berkemajuan untuk Generasi Milenial Penulis : Hasnan Bachtiar Tahun terbit : 2023 Ketebalan : xlvi + 386 Ukuran : 14 x 21 cm Penerbit : Xpresi Books,...





