Dalam sebuah forum yang digelar sebuah instansi pemerintah, saya mendapati seorang pejabat di sebuah OPD (organisasi perangkat daerah) memaparkan program tahun 2026 berikut anggaran yang dibutuhkan. Untuk mempermudah presentasi, dia membuat tabel. Saya tergelitik saat membaca tabel tersebut. Pada kolom volume, dia menulis 1 Giat. Pada kolom berikutnya berisi jumlah anggaran yang diperlukan.
Kata giat sering saya temui baik dalam bahasa percakapan maupun bahasa tulis. Saya pernah ditanya, “Kapan ada giat itu lagi?” tanya seorang teman saat mengomentari konten di akun media sosial saya. Sebenarnya tidak salah dengan kata giat selama itu dipergunakan pada konteks yang tepat. Tapi, kalau tidak tepat, ya maknanya jadi berbeda.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memaknai giat adalah ‘rajin, bergairah, dan bersemangat (tentang perbuatan, usaha, dan sebagainya); aktif, tangkas dan kuat’ yang masuk kategori kata keterangan. Jadi, kalau si pejabat itu menuliskan 1 Giat maknanya jadi ‘1 rajin; 1 bergairah; 1 bersemangat’. Atau kalau diletakkan pada pertanyaan teman saya tadi, kalimatnya jadi, “Kapan ada semangat itu lagi?” Lha maknanya jadi jauh dari konteks yang dimaksud si penutur bahasa. Saya paham, kata giat pada contoh kalimat/frasa di atas maksudnya adalah kegiatan. Dalam KBBI, kegiatan adalah ‘aktivitas; usaha; pekerjaan’ yang termasuk kata benda. Jadi, mestinya, kata kegiatan itu lebih pas untuk contoh dua kalimat/frasa di atas.
Entah karena malas bicara kata kegiatan yang panjang, sehingga disingkat dengan giat saja, atau karena ketidakmengertian atas makna kata itu, saya tidak tahu. Yang pasti, kata giat untuk menggantikan kata kegiatan, sering dipakai oleh teman-teman birokrat, pegawai instansi pemerintah, atau organ-organ negara lainnya. Mungkin ini yang dimaksud salah kaprah. Kesalahan yang sudah biasa.
Mohon Izin
Satu hal lagi yang seringkali saya dapati saat berada di forum pemerintah adalah berseliwerannya ungkapan mohon izin. Setiap mengawali pembicaraan, para birokrat itu sering mengawali dengan mohon izin. Entah berapa puluh kali ungkapan itu diucapkan peserta rapat, terutama para birokrat. Dalam bahasa percakapan, mohon izin adalah ungkapan untuk ‘meminta izin atau memohon izin’. Sebenarnya tidak salah saat seorang peserta rapat menyampaikan mohon izin sebelum dia menyampaikan pendapatnya. Tapi kalau diucapkan terlalu sering dan diulang-ulang, jadinya menyebalkan.
Meskipun tidak salah, bagi saya, itu kata-kata yang tidak perlu atau berlebihan. Dalam forum rapat, saat pimpinan rapat telah memberi izin Anda untuk berbicara, maka sebenarnya Anda tidak perlu lagi mohon izin karena jelas-jelas sudah diizinkan pimpinan rapat. Lha yang lucu, pimpinan rapat pun saat memulai berbicara juga bilang mohon izin. Lantas Anda ini meminta izin kepada siapa? Lha wong Anda pimpinan rapat, ya pasti Anda sudah diberi izin untuk berbicara dalam konteks memimpin rapat.
Ada lagi yang unik, yakni kata projek pada Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), program Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024, untuk para pelajar di Indonesia. Dulu, saya heran, mengapa menggunakan kata projek, bukan proyek sesuai KBBI? Saya memperoleh bocoran dari orang yang terlibat pada penyusunan KBBI edisi terakhir, bahwa kata projek pada P5 itu sesungguhnya tidak tepat. Namun, karena sudah menjadi keputusan Menteri, maka di KBBI kemudian dimunculkan lema projek, artinya ‘tugas-tugas belajar yang meliputi kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan, baik secara tertulis maupun lisan, dalam waktu tertentu’. Jadinya kata projek di P5 itu jadi benar, tidak keliru lagi. Sedangkan lema yang sudah eksis, proyek, artinya ‘rencana pekerjaan dengan sasaran khusus (pengairan, pembangkit tenaga listrik, dan sebagainya) dan dengan waktu penyelesaian yang tegas’.
Kalau urusan pembelajaran, memakai projek, kalau urusan rencana culas mengoplos Pertamax dan Pertalite? ya namanya proyek. Lebih tepatnya proyek yang jahat.
Ya begitulah enaknya jadi pejabat (penguasa). Kalau mereka keliru, akan dibuatkan aturan yang membenarkan kekeliruan itu. Jadinya tidak salah lagi. Bagaimana dengan kata giat? Apakah bernasib seperti kata projek? Enggak tahu aku….
Jangan Keliru, antara “Kaus” dan “Kaos”
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dua kata, kaus dan kaos itu sama-sama benar. Kalau sebuah kata sudah masuk ke KBBI, tentu itu sudah sah...
Akademik atau Akademis?
Hari ini, 28 Oktober, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pada momentum ini, kita peringati pula sebagai Bulan Bahasa. Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa sangat berkaitan....
Bukan Sekadar Spasi dan Huruf Miring
Saya masih terngiang-ngiang terhadap keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas uji materi Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2024 tentang Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, beberapa waktu lalu. MK...
“Relawan” atau “Sukarelawan?”
Beberapa hari lalu, saya mengedit berita yang dikirim ke grup WhatsApp (WA) kontributor Muhammadiyahsolo.com, SoloMuNewsroom. Berita itu tentang penanaman pohon sebagai penutup acara Jambore Relawan...
Kata dengan Akhiran “-isasi”
Dalam keseharian, kita sering menggunakan kata dengan akhiran -isasi seperti dalam kata kaderisasi, hilirisasi, demokratisasi, dan sebagainya. Seolah kita merasa keren kalau menulis atau berbicara...
Jamaah dan Jemaah
Dalam ber-Muhammadiyah, kita sering menemui kata, terminologi, atau konsep tentang jamaah. Dalam bahasa Arab, jamaah, maknanya ‘berkumpul’. Warga Persyarikatan adalah jamaah, atau orang-orang yang berkumpul...
Kepala Sekolah itu Tidak Membawahi Wakasek
Dalam pemberitaan media, saya sering menemukan penggunaan kata membawahi yang keliru. Misalnya, “Kepala Sekolah SMA X membawahi tiga wakil kepala sekolah (wakasek)….” Saya paham, maksud...
Kalimat “Meneladani Rasulullah” itu Terbalik
Saya sering mendengar orang berceramah atau menulis artikel menggunakan kalimat seperti ini, “Sebagai umat Islam, kita harus ‘meneladani’ Rasulullah.” Pada kesempatan lainnya, para penceramah agama...
Matinya Kepakaran: Perlawanan Terhadap Pengetahuan yang Telah Mapan dan Mudaratnya
Ketika kita mendengar ataupun membaca tentang “matinya kepakaran”, pasti akan timbul banyak pertanyaan tentangnya. Apakah kepakaran atau keahlian itu benar-benar mati? Atau benarkah itu terjadi...
Resensi Buku: Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia
Judul : Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia Penulis : Haidar Bagir Penerbit : PT Mizan Pustaka Tahun Terbit : 2019 Jumlah Halaman :...






