Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tajuk

Sektarianisme

Yusuf R. Yanuri, Editor: Sholahuddin
Minggu, 25 Agustus 2024 05:57 WIB
Sektarianisme
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Muhammadiyah.

Sejak kecil, kita sudah diajarkan oleh orang tua kita untuk membela adik kita sendiri. Orang tua memiliki kecintaan naluriah kepada anaknya, lebih daripada cintanya kepada orang lain. Dari lingkup keluarga, kita diajarkan bahwa mengutamakan “orang dekat” itu termasuk salah satu sifat dasar manusia. Naluriah.

Waktu sekolah di SD, Anda bertanding bola melawan kelas sebelah. Ikatan kelas menjadi penegas identitas yang penting. Kita mengenal istilah “kelasku” dan “kelas mereka”. Anda senang kalau tim kelas Anda menang. Pun sebaliknya: sedih ketika kelas sebelah yang menang.

Pada saat yang sama, tetangga-tetangga Anda mengajarkan kalau warga kampung Anda tidak boleh menikah dengan warga kampung sebelah. Konon, dulu sempat ada bentrok antarkampung. Nenek moyang Anda melarang anak cucunya menikah dengan anak cucu musuh bebuyutan mereka. Ikatan satu kampung menjadi penegas identitas yang penting.

Seiring tumbuh dewasa, sifat itu meluas. Anda mulai mengenal ikatan yang lebih luas. “Anak SMA 1”, demikian Anda bangga sekali dengan sebutan itu karena membedakan Anda dari “Anak SMA 2”, “Anak SMA 3”, dan seterusnya. Sepulang sekolah, Anda selalu nongkrong dengan teman satu sekolah. Sesekali Anda menarik gas motor dengan kencang ketika lewat di depan SMA lainnya. Ngglayer-ngglayer, kata orang Jawa.

Ketika kuliah, jalinan identitas semakin rumit dan kompleks. Anda mulai mengenal istilah-istilah merah, hijau, biru, hijau hitam, kuning, dan seterusnya. Sifat dasar untuk melindungi adik sewaktu kecil tadi masih tetap sama, hanya berubah nama. Anda kemudian mati-matian melindungi “junior”, bukan lagi adik sedarah. Pun Anda juga senang menggantungkan diri pada “senior” –bukan lagi kakak sedarah.

Jalinan itu terus terajut hingga lulus kuliah. Masuk ke kantor-kantor instansi, hingga ke lembaga pemerintahan. Para cerdik cendekia kemudian mencoba memberi nama fenomena itu. Ada yang menyebutnya sektarianisme. Para agamawan menyebutnya dengan ta’ashub, atau ashobiyah. Sebagian memilih istilah yang mudah dan lebih merakyat: fanatik. Ada yang menyebut dengan agak kasar walaupun punya konotasi yang sedikit berbeda: intoleran!

Banyak yang mengecam perilaku ini. Namun ada pula yang-karena sifatnya naluriah, menyebut hal itu sebagai sifat alami untuk bertahan hidup. Konon, dulu, ketika kata “peradaban” belum ditemukan, ketika nenek moyang kita masih berburu dan meramu, setiap individu harus hidup mengelompok. Karena jika hidup sendiri, ia akan dihabisi oleh suku lainnya, atau dihabisi oleh singa di hutan. Naluri untuk hidup berkelompok itu ternyata langgeng. Umurnya sepanjang umur kehidupan manusia itu sendiri.

Kini, hanya karena sektarianisme itu, ribuan mahasiswa turun ke jalan. Melakukan perlawanan terhadap kongkalikong elit politik jahat yang hanya peduli pada “kelompoknya” sendiri, serta mengabaikan hak-hak politik setiap warga negara. Mereka membangun sistem kartel politik supaya pencalonan pemimpin hanya bisa dilakukan melalui bisik-bisik elit di gedung-gedung tertutup yang CCTV-nya lebih sering mati.

Keluarga Kecil di Solo

Sektarianisme itu juga mengubah sebuah keluarga kecil di Solo menjadi dinasti politik yang begitu menggurita, dan tengah terus berusaha supaya semakin menggurita. Ini fenomena-fenomena yang bisa kita lihat dengan mata telanjang. Di luar itu, sektarianisme sejatinya juga telah menggerogoti instansi-instansi pemerintahan yang selama ini nampak suci dan baik. Para menteri membagi-bagikan anggaran negara yang berasal dari rakyat hanya untuk, lagi-lagi, “kelompoknya” sendiri. Mereka tak sudi, bahkan satu rupiahpun, jatuh ke orang lain yang tidak memiliki identitas sosial yang sama dengan dirinya. Bukan bagian dari kelompoknya. Laisa minna.

Tentu kita tidak bisa berharap banyak pada orang lain. Dalam hal ini, Muhammadiyah harus menunjukkan kebesaran hatinya. Mengajarkan kader-kadernya untuk memiliki hati yang luas. Memiliki rasa cinta terhadap kemanusiaan secara tulus. Tidak pilih-pilih dalam memberi. Sebagai organisasi modernis, Muhammadiyah telah memiliki DNA meritokrasi. Nalar meritokrasi ini perlu terus dirawat dan diajarkan agar aktivis Muhammadiyah tak jatuh pada nafsu sektarianisme yang telah begitu luas tersebar.

Komitmen pada meritokrasi adalah komitmen pada kemajuan itu sendiri. Tidak ada bangsa yang maju tanpa meritokrasi. Koncoisme, sektarianisme, dinasti, orang dalam, apapun itu harus dimusnahkan, dibuang jauh-jauh dari watak organisasi. Sektarianisme membuat bangsa ini terus terseok-seok menjadi negara pariah, kendati memiliki jumlah penduduk dan luas wilayah yang besar. Muhammadiyah telah dan harus selalu menjadi teladan sejak dalam pikiran.

Berita Terbaru

Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah

Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...

Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi

Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...

Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot

Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia  (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...

Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan

Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...

Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif

Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...

Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul

Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...

Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia

Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...

Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…

Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...

Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah

Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...

Muhammadiyah, Anak Muda, dan Manusia yang tak Lagi Bicara

Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di...

Inovasi atau Mati

Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi...

Teori Vygotsky, Live in Society dan Pendidikan Islam

SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, baru saja selesai menjalankan program Live in Society, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025), bagi siswa kelas X. Program Live in...

Leave a comment