Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tajuk

Posisi Politik Muhammadiyah Pasca-Pemilu…

Sholahuddin, Editor: Sholahuddin
Jumat, 3 Mei 2024 12:08 WIB
Posisi Politik Muhammadiyah Pasca-Pemilu…
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - sumber: pwmu.co

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, kembali mengingatkan posisi politik Muhammadiyah pasca pemilihan umum (pemilu) 2024, khususnya setelah Mahkamah Konstitusi memutuskan gugatan terkait sengketa pemilihan presiden. Haedar mengingatkan, persyarikatan bukan oposisi, bukan pula benalu yang menempel pada kekuasaan.

Sikap persyarikatan, jelasnya, adalah moderat, berada di posisi tengah. Tidak berada di kutub ekstrem, antipemerintah atau antistuktur, bukan pula menempel pada pemerintah. Pilihan politik persyarikatan ini, merupakan pilihan politik terbaik untuk menjaga martabat organisasi. Sekaligus menjaga kemandirian organisasi yang berdiri sejak 1912. Pernyataan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini dikemukakan saat konferensi pers di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (2/5/2024).

Sesungguhnya apa yang disampaikan Haedar Nashir terkait relasi Muhammadiyah dan kekuasaan ini bukan sesuatu yang baru. Hal ini telah menjadi sikap resmi Muhammadiyah sejak lama. Namun, PP Muhammadiyah perlu mengingatkan kembali posisinya pascapemilu kali ini. Kita menyadari, setiap kali pemilu, selalu saja ada dinamika internal di persyarikatan, baik di jajaran pengurus maupun warga Muhammadiyah. Tentu dinamika ini menjadi hal wajar karena Muhammadiyah dihuni oleh jutaan orang, dengan beragam preferensi politiknya. Selama ini Muhammadiyah tidak dalam posisi mendukung calon tertentu karena organisasi ini bukan partai politik.

Muhammadiyah memberi kebebasan kepada warganya untuk menyalurkan aspirasi politiknya sesuai pilihan masing-masing. Muhammadiyah bahkan mendorong kepada kadernya yang memiliki kompetensi untuk aktif terlibat dalam politik praktis. Tentu dengan syarat, mereka wajib membawa misi Muhammadiyah untuk membangun politik Indonesia yang berkemajuan. Konsekuensi dari kebebasan inilah, warga Muhammadiyah begitu berwarna dalam preferensi politik, khususnya setiap pemilu. Inilah titik krusial Haedar Nashir mengingatkan kembali posisi persyarikatan.

Pilihan untuk moderat dalam konstelasi politik menjadi pilihan yang sangat cerdas. Hal itu sesuai dengan prinsip dalam Risalah Islam Berkemajuan. Salah satu basisnya adalah, mengembangkan wasathiyah (tanmiyat al-wasathiyah). Islam adalah agama yang mengembangkan sikap wasathiyah atau tengahan yang menolak sikap ekstremisme dalam beragama dan sikap sosial serta menghindari sikap berlebihan dalam segala hal. Sikap tengahan atau moderat tidak hanya pada posisi keagamaan, melainkan perlu diimplementasikan dalam relasi Muhammadiyah dengan dunia politik.

Tidak Mungkin

Muhammadiyah tidak mungkin mengambil sikap oposisi apalagi antipemerintah. Selain karena Muhammadiyah bukan partai politik, organisasi ini hidup dalam sebuah negara yang dipimpin oleh pemerintahan. Kita tidak bisa menyangkal amal usaha yang dibangun K.H. Ahmad Dahlan dan generasi penerusnya adalah sumbangsih Muhammadiyah tak ternilai bagi bangsa dan negara ini untuk mencapai cita-citanya. Bahkan Muhammadiyah sudah membangun sekolah, rumah sakit sebelum Indonesia Merdeka. Muhammadiyah membutuhkan pemerintah sebagai mitra agar amal usaha tersebut bisa berjalan dengan baik.

Muhammadiyah juga tidak dalam posisi yang terkesan “menjilat” kepada kekuasaan. Misalkan karena ingin mendapatkan posisi strategis di struktur kekuasaan, atau ingin mendapatkan bagian proyek pemerintah. Sekali lagi, tidak! Jiwa kemandirian Muhammadiyah sudah dibangun dan diwariskan sang pendiri, K.H. Ahmad Dahlan sejak 111 tahun silam. Jiwa dan martabat organisasi ini akan terus dibawa hingga kini. Kalau pun ada kader Muhammadiyah yang masuk ke dalam struktur kekuasaan, justru kader itu mendapatkan amanah yang berat untuk mengimplementasikan nilai-nilai Islam berkemajuan dalam ranah kebangsaan. Kalau pun ada bantuan negara yang disalurkan ke Muhammadiyah, seperti kata Haedar Nashir, persyarikatan hanya dalam posisi sebagai “talang” untuk menyalurkan bantuan itu demi tercapainya cita-cita memajukan kualitas kehidupan bangsa ini. Jadi bukan untuk kepentingan Muhammadiyah sendiri.

Muhammadiyah sebagai kekuatan masyarakat sipil perlu terus hadir sebagai pengontrol kekuasaan manakala ada praktik kekuasaan yang menyimpang dari prinsip-prinsip kenegaraan. Muhammadiyah akan tetap memerankan posisi sebagai mitra kritis terhadap kekuasaan, siapapun nanti yang akan memerintah negara ini. Muhammadiyah harus terus menyampaikan sikap-sikap kritis itu sebagai implementasi ideologi Muhammadiyah yang berbasis pada Islam berkemajuan.  Itulah dignity, harga diri Muhammadiyah yang perlu terus kita rawat bersama…

Berita Terbaru

Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah

Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...

Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi

Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...

Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot

Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia  (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...

Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan

Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...

Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif

Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...

Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul

Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...

Muhammadiyah, Jalan Pembebasan dan Pemuliaan Manusia

Di tengah himpitan kolonialisme awal abad ke-20, ketika bangsa ini terlelap dalam kebodohan dan kemiskinan, sebuah cahaya pembaruan menyala dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Muhammadiyah lahir...

Persepsi Positif tentang Muhammadiyah itu Juga Amanah…

Dalam beberapa hari ini, Muhammadiyah memperoleh apresiasi positif di dunia maya. Aksi kemanusiaan Persyarikatan untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh dan Sumatra...

Artificial Intelligence di Tengah Pusaran Jurnalisme Dakwah Muhammadiyah

Hampir seluruh sendi kehidupan telah memanfaatkan AI (Artificial Intelligence). AI merupakan evolusi dari teknologi komputer yang dikembangkan pertama kali oleh Alan Turing. AI mengalami kemandegan...

Muhammadiyah, Anak Muda, dan Manusia yang tak Lagi Bicara

Di indekos yang eksklusif tak jauh dari pusat Kota Solo, seorang kawan bercerita. Ia tak kenal satu pun tetangganya. Padahal sudah dua bulan tinggal di...

Inovasi atau Mati

Hampir tiap tahun kita mendengar berita ada sekolah yang ditutup atau dimerger dikarenakan tidak mendapatkan murid. Kalaupun ada murid sangat minimalis untuk mengatakan tidak memenuhi...

Teori Vygotsky, Live in Society dan Pendidikan Islam

SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo, baru saja selesai menjalankan program Live in Society, Jumat- Sabtu (7-8/11/2025), bagi siswa kelas X. Program Live in...

Leave a comment