
Madrasah Mambaul Ulum Keraton Solo Hadiningrat berdiri pada hari Ahad 23 Juli 1905 atau bertepatan dengan tanggal 20 Jumadil Awal tahun Alip 1835 (tahun Jawa). Madrasah Mambaul Ulum adalah sekolah agama yang dimiliki oleh Pemerintah Keraton Solo Hadiningrat. Berdirinya madrasah ini sebagai bukti nyata bahwa Keraton Solo Hadingrat menjadi pelopor pendidikan Islam modern yang progresif.
Madrasah ini berdiri atas inisiatif SISKS Paku Buwono X yang dibantu Patih Raden Ario Sosrodiningrat IV. PB X ingin mendirikan madrasah Mambaul Ulum di kompleks Masjid Agung Solo. Madrasah Mambaul Ulum baru mendapat izin dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 6 Maret 1906.
PB X merencanakan mengambil bentuk pendidikan formal yaitu memiliki kurikulum dan lulusan mendapat ijazah. Proses belajar mengajar menggunakan meja, kursi dan papan tulis. Karena Keraton Solo sudah berpengalaman mengelola sekolah formal yaitu Mardi Siwi, PB X ingin mengelola Mambaul Ulum sebagaimana pengelolaan Mardi Siwi.
Pendirian Mambaul Ulum memiliki beberapa faktor pendorong yaitu kebutuhan jangka panjang dan kebutuhan praktis jangka pendek. Kebutuhan jangka panjang itu terakit pembentukan kader ulama. Apabila ada ulama sudah meninggal maka akan sulit mencari pengganti. Kebutuhan praktis jangka pendek adalah mendidik calon pejabat keagamaan (modin, penghulu naib, penghulu agama kabupaten) yang ahli dan cakap di lingkungan Keraton Solo.
Madarasah Mambaul Ulum menjadi terasa unik di tengah maraknya pendidikan pesantren di saat itu. Personil yang ada di madrasah Mambaul Ulum (kiai, mualim, mudarris dan murid) itu sama dengan yang ada pesantren yaitu kalangan ahlus sunnah wal jamaah. Namun, metode pendidikan di Madrasah Mambaul Ulum berbeda dengan metode di pesantren yang masih memakai sistem sorogan, bandongan dan halaqoh/munadharah.
Madrasah Mambaul Ulum menjadi cikal bakal pendidikan Islam yang progresif di tengah-tengah pendidikan Islam yang tradisional di awal abad ke-20. Pendidikan Islam ala pesantren memakai teknik mengajar sorogan, bandongan dan munadharah. Teknik-teknik mengajar tersebut berpusat di guru (teacher centered learning) dan menjaga kemurnian ajaran Islam secara bersambung dari guru ke murid. Karena pendidikan pesantren bertujuan menjaga kemurnian dan bersesuaian dengan ajaran agama secara murni maka selaras dengan aliran filsafat esensialisme dan perenialisme.
Kurikulum Terstruktur
Pendidikan Islam di Madrasah Mambaul Ulum menggunakan kurikulum yang terstruktur, pembagian guru yang mengampu mata pelajaran tertentu menggunakan sistem kelas, guru menyiapkan bahan ajar dan akselerasi bagi murid yang mampu. Sistem pendidikan di Madrasah Mambaul Ulum itu berpusat ke murid (student centered learning). Semua itu adalah ciri-ciri pendidikan progresif.
Pendidikan progresif mempunyai grand theory dari teori pendidikan dari John Dewey. Beliau adalah tokoh filsafat dari Amerika Serikat yang juga seorang guru. Teori pendidikan progresif ala John Dewey termasuk golongan teori pendidikan modern. Prinsip pendidikan yang ditekankan dalam filsafat progresivisme yaitu (1). Proses pendidikan berawal dan berakhir pada anak (student centered), (2). Siswa belajar aktif. (3). Guru sebagai fasilitator. (4). Sekolah yang kooperatif dan demokratis. (5). Pembelajaran memfokuskan pemecahan masalah/problem solving. Pendidikan progresif adalah ruh dari pendidikan di Madrasah Mambaul Ulum. Pendidikan Islam yang disampaikan dengan cara yang berbeda yaitu dengan kurikulum yang terstruktur, demokratis dan melayani kebutuhan siswa. Pemerintahan Paku Buwono X telah melampaui zaman di bidang pendidikan Islam.
Madrasah Mambaul Ulum dikelola sebuah komisi yang disebut Mufattisiy di masa awal pendirian. Komisi ini ditetapkan oleh pemerintah Keraton Kasunanan Solo Hadiningrat. Komisi ini dipimpin oleh Kepala Madrasah atau Mufattisy Akbar yaitu K.R.T. Adipati Ario Sosrodiningrat IV dan Pelaksana harian atau Mufattisy Kabir yaitu K.R. Penghulu Tafsir Anom. Sekretaris diisi Mufattisy R Rekso Projo dan dewan guru dipimpin Kiai Bagus Arfah. Tokoh sentral dari progresivitas pendidikan di Keraton Solo adalah K.R.T. Ario Sosrodiningrat IV.
K.R.T. Ario Adipati Sosrodiningrat IV ternyata pernah menuntut ilmu di Universitas Leiden Belanda. Pengelolaan Madrasah Mambaul Ulum dilakukan secara modern dan progresif. Madrasah ini menggunakan kurikulum yang terstruktur dengan struktur organisasi yang rapi dan menggunakan sistem kelas. Pembelajaran progresif harus meliputi pembaharuan sistem pendidikan, pembaharuan tujuan pendidikan, pembaharuan teknik penyelenggaraan pendidikan, dan proses pembelajaran dalam pendidikan Madrasah Mambaul Ulum adalah madrasah yang modern pertama kali di wilayah Jawa. Madrasah Mambaul Ulum menjadi tonggak awal dari pendidikan progresif di nusantara.
Sistem ini mengadopsi sistem pendidikan di Belanda. Ini tidak mengherankan karena K.R.T. Ario Sosrodiningrat adalah lulusan dari Universitas Leiden. Sebagaimana konstitusi Belanda mengenai “kebebasan pendidikan” yaitu organisasi keagamaan dan organisasi nonkeagamaan diberi kebebasan untuk mendirikan institusi pendidikan dengan supervisi dari pemerintah. Patih Sosrodiningrat mengadopsi sistem Belanda yaitu memfasilitasi pendidikan berbasis keagamaan yang layak kepada rakyat. Sehingga terwujud cita-cita pemerintah Keraton Solo menghendaki kehidupan keduniaan yang berkecukupan, kebahagiaan di akhirat dan bisa kerjasama yang baik antara ulama dan umara.
Kiai Bagus Arfah diangkat sebagai pimpinan Madrasah Mambaul Ulum pertama kali. Beliau adalah kiai yang berpengaruh, lincah, kreatif, dan dinamis. Kiai yang mampu mengorganisasi, membina dan mengembangkan Madrasah Mambaul Ulum. Kiai Bagus Arfah bukan kiai yang dianggap kiai besar. Tahap selanjutnya membutuhkan kiai yang benar-benar mumpuni dalam bidang agama. Pimpinan Madrasah Mambaul Ulum diserahkan kepada Kiai Idris Jamsaren. Pendidikan progresif harus terbuka dengan kenyataan sosial dengan bersikap luwes sesuai dengan realita sosial sehingga pengetahuan semakin kompleks dan lengkap. Pergantian kepala madrasah adalah bagian dari kebutuhan organisasi. Karena madrasah mambaul ulum membutuhkan kepala madrasah yang mumpuni. (Bersambung)
Sumber: Buletin Tajdid Pendidikan MPI PDM Kota Solo, edisi 4 Tahun 2023
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...
Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?
Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...
Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?
Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...





