Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Rivaldi Tamapedung, Editor: Alan Aliarcham
Senin, 26 Januari 2026 13:58 WIB
Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Komitmen Universitas Muhammadiyah Surakarta dalam memperkuat kualitas pendidikan terus diwujudkan melalui kolaborasi strategis dengan sekolah. Salah satunya melalui Program Studi Pendidikan Matematika FKIP, UMS kembali menghadirkan penguatan kapasitas guru matematika SMK Muhammadiyah se-Kabupaten Klaten melalui workshop pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). (Humas)

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan kurikulum, melainkan lelah batin yang lebih dalam: kecewa pada murid, marah pada sistem, dan diam-diam mempertanyakan makna pengabdian.

Di titik ini, mengajar tak lagi terasa sebagai ibadah, melainkan beban yang harus dituntaskan. Di tengah kelelahan itu, pesan KH. Maimoen Zubair terasa seperti tamparan lembut sekaligus pelukan hangat bagi para guru.

Beliau pernah berpesan bahwa menjadi guru tidak perlu berniat membuat orang pintar. Kalimat ini terdengar aneh di telinga modern, bahkan seperti bertentangan dengan tujuan pendidikan. Namun justru di sanalah kedalaman hikmahnya.

Menurut Mbah Moen, ketika niat guru adalah “membikin pintar”, maka kekecewaan akan mudah lahir. Murid yang lambat paham dianggap gagal. Murid yang membangkang dianggap tak tahu terima kasih. Dari sini muncul marah, kecewa, dan kelelahan hati. Pada saat itulah, ikhlas seorang guru perlahan menghilang dan tanpa ikhlas, ilmu kehilangan keberkahannya.

Dalam psikologi Islam, niat adalah pusat orientasi batin. Ia menentukan bagaimana seseorang memaknai lelah, gagal, dan berhasil. Ketika niat mengajar bergeser dari ibadah menjadi target hasil, maka guru tanpa sadar menaruh beban yang bukan bagiannya. Ia ingin mengendalikan sesuatu yang sejatinya berada di luar kuasanya.

Psikologi modern menyebut kondisi ini sebagai outcome dependency ketergantungan emosional pada hasil. Ketika hasil sesuai harapan, seseorang merasa puas. Namun ketika tidak, ia merasa gagal secara personal. Pada guru, ini menjelma menjadi kelelahan emosional berkepanjangan (burnout). Masalahnya bukan pada murid, melainkan pada ekspektasi yang salah tempat.

Mbah Moen mengajarkan kebalikannya. Guru tidak dituntut memastikan hasil, tetapi diminta menjaga proses. Mengajar sebaik mungkin, mendidik dengan akhlak, menyampaikan ilmu dengan jujur dan sabar. Adapun apakah murid menjadi pintar, saleh, atau berhasil itu urusan Allah. Guru adalah jalan, bukan penentu akhir.

Ikhlas: Bukan Pasrah, Tapi Tertib Batin

Ikhlas sering disalahpahami sebagai pasrah tanpa usaha. Padahal dalam tradisi ulama, ikhlas justru menuntut kesungguhan maksimal tanpa mengikatkan diri pada pujian dan hasil. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ikhlas adalah memurnikan amal dari selain Allah, termasuk dari keinginan dihargai, diakui, atau dilihat berhasil.

Seorang guru yang ikhlas tetap menyiapkan materi, menegur murid, dan memperbaiki metode. Namun hatinya tidak rusak ketika murid belum berubah. Ia tidak menjadikan respons murid sebagai tolok ukur nilai dirinya. Di sinilah ketenangan batin lahir.

Mbah Moen menegaskan bahwa ketika ikhlas hilang, berkah ilmu ikut menghilang. Ilmu mungkin sampai di kepala, tetapi tidak menembus hati. Murid mungkin hafal, tetapi tidak berubah. Karena dalam Islam, keberkahan bukan soal banyaknya pengetahuan, melainkan manfaat dan cahaya yang ditinggalkan ilmu itu.

Nasihat Mbah Moen sejalan dengan pandangan para ulama terdahulu. Imam Malik pernah berkata bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada hati yang gelap oleh kesombongan. Guru yang merasa dirinya penentu keberhasilan murid, tanpa sadar menempatkan diri di posisi yang bukan miliknya.

Dalam Al-Qur’an, bahkan para nabi tidak dibebani hasil. “Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki” (QS. Al-Qashash: 56). Jika nabi saja tidak diminta memastikan hasil, apalagi guru biasa.

Kesadaran ini justru membebaskan. Guru berhenti memikul beban ilahi. Ia fokus pada perannya sebagai perantara kebaikan. Dari sini, mengajar kembali menjadi ringan, meski tantangan tetap berat.

Psikologi Islam: Mengajar sebagai Ibadah Sunyi

Dalam psikologi Islam, kerja yang diniatkan ibadah memiliki daya tahan batin lebih panjang. Karena orientasinya bukan kepuasan instan, melainkan keridhaan Allah. Guru yang mengajar dengan niat ibadah tidak mudah hancur oleh kegagalan jangka pendek.

Ia memahami setiap huruf yang diajarkan, setiap kesabaran yang ditahan, setiap kelelahan yang tidak dibalas murid semuanya dicatat. Bahkan ketika murid tidak berubah hari ini, bisa jadi satu kalimatnya hidup bertahun-tahun kemudian. Dan ia tidak perlu menyaksikannya untuk merasa bernilai. Inilah makna ikhlas yang diajarkan para ulama: bekerja sepenuh hati, lalu menyerahkan buahnya kepada Allah.

Jika hari ini engkau merasa lelah mengajar, mungkin bukan karena muridmu terlalu sulit, tetapi karena niatmu terlalu berat. Engkau memikul sesuatu yang bukan bagianmu. Pesan Mbah Moen mengajak kita kembali ke titik awal: luruskan niat, ringankan hati, dan kembalikan hasil kepada Allah.

Guru tidak ditugaskan menciptakan manusia sempurna. Guru hanya diminta menjadi jalan kebaikan. Dan jalan yang dilalui dengan ikhlas adalah salah satu bentuk ibadah tertinggi. Di sanalah lelah berubah menjadi pahala. Di sanalah marah diganti sabar. Dan di sanalah mengajar kembali menemukan maknanya yang paling sunyi, tetapi paling mulia.

Berita Terbaru

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...

Self-Love dan Konsep Syukur dalam Islam: Mencintai Diri sebagai Amanah Ilahi

Di era media sosial yang serba kompetitif, istilah self-love sering kali disalahpahami sebagai bentuk narsisme atau pemanjaan diri yang berlebihan. Namun, jika kita menggali lebih...

Child Grooming: Kejahatan Tersembunyi di Era Digital dan Tantangan terhadap Perlindungan Anak

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, terutama dalam etika berkomunikasi (Nurrohim, 2024). Internet dan media sosial memungkinkan interaksi tanpa batas ruang...