Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Peran Kelas Menengah Muslim di Dunia Pendidikan

Hendro Susilo dan Zaki Setiawan, aktivis Komunitas Tajdid Pendidikan, Editor: Sholahuddin
Rabu, 25 Oktober 2023 15:05 WIB
Peran Kelas Menengah Muslim di Dunia Pendidikan
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Screenshot Buletin Tajdid Pendidikan edisi 3 Tahun 2023

Perbincangan berlanjut, siang itu, diskusi kami dari Komunitas Tajdid Pendidikan mengangkat tema perbincangan pendidikan di era reformasi. Tema ini kami angkat, karena era reformasi membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Sebelum reformasi dunia pendidikan begitu sentralistik. Usai reformasi, sebaliknya, pendidikan bergerak ke arah desentralisasi.

Pada era reformasi pula aspek peran serta masyarakat dalam pendidikan tumbuh bak jamur di musim hujan. Bagaimana latar belakang dan peran sosial dari masyarakat dalam pendidikan serta strategi apa yang digunakan untuk mewujudkan eksistensi keberlanjutan dakwah pendidikan, menjadi obrolan kami di siang itu. Berikut kami rangkum perbincangannya di komunitas.

Mengawali perbincangan, kami mengupas latar belakang. Bahwasannya kelas menengah muslim atau middle class moslem muncul sejak Orde Baru (1990-an). Mereka kelompok masyarakat baru. Kelompok masyarakat ini muncul  difasilitasi oleh keberhasilan pembangunan ekonomi dan pendidikan dari modernisasi Orde Baru. Sejak era 1980-an, Indonesia memiliki sejumlah besar tenaga ahli (skilled man-power) yang terdiri
dari manajer, profesional terlatih, teknisi, guru dan dosen, dan berbagai sumber daya manusia yang berkualitas.

Kelompok Penting

Berdasarkan profesi maupun pekerjaan, kelas menengah ini kemudian menjadi kelompok penting di birokrasi pemerintah maupun sektor swasta. Beberapa pengamat seperti Robert Hefner, Kuntowijoyo, Arief Budiman, Ramage berkesimpulan bahwa kelas sosial ekonomi baru telah muncul secara fenomenal di Indonesia. Mereka muncul sebagai sebuah kelas menengah yang terdiri dari para akademisi, cendekiawan, reformis, intelektual, pengusaha muda, pengacara, politisi, aktivis kebudayaan, teknokrat, aktifis LSM, da’i, publik figur, presenter, maupun pengamat.

Kemunculan kelas menengah ini diikuti pula oleh peningkatan semangat pada kehidupan agama. Fenomena ini terjadi era 1980-1990 ketika kaum menengah Islam bangkit untuk ke semangat keagamaan di wilayah perkotaan yang tersentuh oleh pembangunan ekonomi dan perubahan sosial secara intens. Fenomena memiliki efek domino pada peningkatan ketaatan beragama.

Kelas menengah muslim ini muncul dari proses urbanisasi yang terjadi sejak tahun 1960-an. Industrialisasi dan pembangunan yang sentralistik telah mendorong urbanisasi kaum santri dari desa ke kota. Mereka dihadapkan dilema antara tuntutan menjadi manusia modern yang berpotensi teralienasi dan dislokasi, dengan bagaimana mempertahankan akar budaya
santri dengan resiko “kehilangan” modernitas.

Hal ini menjadi dilema bagi kaum santri urban. Mereka merasa sakit untuk sepenuhnya modern dan meninggalkan tradisionalitas. Jika meminjam terminologi Samuel Huntington, mereka menghadapi situasi yaitu “Islamist symbols, commitment, and beliefs meet these
psychological needs.”
.

Maka terdapat lima fenomena yang terjadi kelas menengah muslim era 1990-an. Fenomena ini muncul sebagai presentasi kultural kelas menengah muslim yaitu :

  1. Jilbab sebagai peneguhan identitas Islam
  2. Bemunculan lagu-lagu islami (lagu karya Bimbo, musik jenis nasyid dan kasidah) yang sesuai selera kelasmenengah,
  3. Berdiri Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI).
  4. Penerbitan media Islam
  5. Kajian Islam di lokasi prestisius seperti di rumah pribadi danhotel berbintang.

Kelima fenomena dilihat tidak hanya sekadar bukti telah meningkatnya ekspresi keagamaan dan gejala kebangkitan Islam. Fenomena lebih dari itu yang disebut Pierre Bourdieu sebagai “reproduksi kultural” (cultural reproduction) yaitu investasi sosial yang secara generatif (terus-menerus) dilakukan dan secara perlahan kemudian meneguhkan terbentuknya sebuah identitas kelas baru yaitu kelas menengah muslim.

Muhammadiyah sebenarnya telah mengalami yang dinamakan “reproduksi sosial”. Muhammadiyah telah menjadi Islam modern yang membentuk identitas baru yaitu Islam Berkemajuan. Akan tetapi, kaum menengah muslim yang dimotori oleh generasi muda Islam mereka bergerak dengan sangat cepat termasuk di bidang pendidikan. Sebagai bukti, awal 2.000-an, Sekolah Islam bak cendawan di musim hujan. Pendidikan Islam yang dahulu didominasi oleh Muhammadiyah dan NU, kemudian muncul sekolah-sekolah Islam yang baru di bawah naungan berbagai yayasan dan aliran. Kita melakukan pendataan di Kota Solo, maka telah muncul berbagai sekolah Islam, antara lain :

  1. Yayasan Al-Islam
  2. Yayasan Batik
  3. Muhammadiyah
    1. Sekolah Muhammadiyah Program Khusus
    2. SD Muhammadiyah 1 Ketelan
    3. SD Muhammadiyah Alam Surya Mentari
  4. Al-Abidin
  5. Ta’mirul Islam
  6. Nur Hidayah
  7. Al-Azhar
  8. Al-Azhar Syifa Budi
  9. Insan Mulia
  10. Al-Khoir dsb

Di akhir perbincangan, kami menyimpulkan, melihat situasi seperti saat ini, sekolah Muhammadiyah harus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Apabila tidak mampu beradaptasi maka bersiap menghadapi kehancuran. Sekolah Muhammadiyah yang berhasil beradaptasi, maka akan berlanjut keberlangsungan hidup dan manfaat kepada umat. Strategi yang dapat dilakukan adalah membangun jejaring, merumuskan segmentasi sehingga ada program unggulan yang menjamin kontinuitas dan tentu saja kreatif, inovatif dengan visi yang kuat sangat di butuhkan bagi sebuah lembaga pendidikan untuk eksis dan memberikan manfaat bagi umat.

Sumber : Buletin Tajdid Pendidikan MPI PDM Kota Solo, edisi 3 Tahun 2023

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...