Di tengah sorotan tajam terhadap mutu pendidikan tinggi di Indonesia, kisah seorang dosen muda dari Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) ini menyuguhkan harapan yang cerah. Ia bukan hanya mengajar, tetapi memikirkan ulang cara mendidik generasi muda di era digital. Namanya Prima Trisna Aji, salah satu dosen program studi Spesialis Medikal Bedah dari Universitas Muhammadiyah Semarang. Dalam sebuah siniar (podcast) bertajuk #BincangUNIMUS, ia membagikan pengalamannya yang bukan hanya inspiratif, tapi juga relevan dengan tantangan pendidikan masa kini.
Sebagai dosen baru, Prima memilih jalan yang berbeda. Alih-alih terpaku pada pola mengajar konvensional, ia justru merancang pengalaman belajar yang aktif, menarik, dan berbasis teknologi. Ia memanfaatkan infografis, video pendek, hingga kuis digital realtime dalam proses mengajar. Semua itu dilakukan bukan sekadar untuk tampil modern, tetapi untuk membuat mahasiswa merasa bahwa belajar adalah aktivitas yang bermakna, bukan kewajiban semata.
Langkah kecil ini telah membawa dampak besar. Mahasiswa lebih aktif, suasana kelas lebih hidup, dan materi yang rumit menjadi mudah dicerna. Tak heran, pendekatan ini selaras dengan hasil riset terbaru dari Asian Journal of University Education (2025) yang menyatakan bahwa mahasiswa Gen Z lebih tertarik pada pembelajaran interaktif yang berbasis teknologi dan visual. Dosen yang mampu menyesuaikan metode pengajaran dengan gaya belajar digital terbukti meningkatkan motivasi dan capaian akademik mahasiswa secara signifikan.
Apresiasi untuk Anak Muda
Namun kisah Dr. Prima tak berhenti di ruang kelas. Ia juga menjadi peneliti aktif dalam pengembangan aplikasi mobile health untuk pasien hipertensi. Penelitiannya yang menggabungkan edukasi digital, pemantauan tekanan darah, dan pengingat konsumsi obat, berhasil menurunkan tekanan darah pasien secara signifikan dalam studi pilot yang dilakukannya di Karanganyar, Jawa Tengah. Inovasi ini kemudian membawanya meraih penghargaan sebagai Best Paper dalam konferensi ilmiah internasional di Malaysia. Selain mengharumkan nama kota kelahirannya, kampus asalnya, tetapi juga ia telah mengharumkan nama bangsa Indonesia dikancah internasional. Kita harus mengapresiasi untuk anak muda ini.
Apa yang dilakukan Dr. Prima menunjukkan satu hal penting: inovasi dalam pendidikan tinggi tidak harus dimulai dari kampus besar atau anggaran miliaran. Ia bisa dimulai dari satu dosen, satu ruang kelas, dan satu ide sederhana yang dilandasi kepedulian terhadap mahasiswa dan masyarakat. Sayangnya, kisah seperti ini masih menjadi pengecualian, bukan kebiasaan. Banyak dosen muda di berbagai daerah di luar sana yang sebenarnya punya semangat serupa, tapi terhalang oleh keterbatasan infrastruktur, beban administratif yang berat, serta kurangnya dukungan sistemik dari institusi. Padahal, jika ruang berinovasi dibuka lebar, pendidikan tinggi Indonesia akan melahirkan lebih banyak pendidik yang bukan hanya pintar mengajar, tapi juga mampu mengubah hidup orang lain.

Prima Trisna Aji (Dok. pribadi).
Sudah waktunya kampus-kampus di Indonesia tidak hanya menilai dosen dari angka kredit dan laporan triwulan. Dukungan nyata terhadap inovasi pembelajaran perlu diwujudkan. Mulai dari pelatihan teknologi pendidikan, penyediaan fasilitas digital yang layak, hingga kebijakan penghargaan bagi dosen yang berprestasi dan berdampak. Dosen seperti Dr. Prima tak boleh berjalan sendiri. Ia harus menjadi representasi gerakan baru dalam dunia pendidikan tinggi: gerakan dosen pembaharu, bukan hanya pengajar.
Dan, publik juga harus punya peran di dalamnya. Masyarakat berhak tahu bahwa di tengah sorotan negatif terhadap pendidikan negara ini, masih ada cahaya terang yang menyala dari ruang-ruang kelas kecil, dari kampus-kampus yang mungkin tidak masuk peringkat dunia, tetapi melahirkan karya besar untuk kehidupan nyata. Siniar #BincangUNIMUS mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun, narasi yang dibawanya layak didengar secara lebih luas. Dari sana, kita belajar bahwa menjadi dosen hari ini bukan hanya soal menyampaikan materi. Tapi, tentang menghadirkan harapan kepada siapapun untuk terus bermanfaat bagi semua orang. Menjadi agent of change pembaharu untuk memajukan dunia pendidikan di Indonesia. Dengan memulai dari hal yang terkecil yang dilakukan terus menerus, maka akan membuat perubahan yang besar bagi dunia.
Penulis adalah dosen prodi PGSD Unisri Surakarta
TKA Bukan Momok
Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...
Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan
Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam
Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...
Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA
Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...
Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan
Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...
Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali
Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...
Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser
Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...
Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial
Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...
Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia
Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...
Indonesia Darurat Kesehatan Mental
Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...
Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan
Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...






