Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Korupsi Pendidikan Menggerus Kesehatan Mental Generasi Emas

Prima Trisna Aji, Editor: Sholahuddin
Jumat, 12 September 2025 10:24 WIB
Korupsi Pendidikan Menggerus Kesehatan Mental Generasi Emas
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Prima Trisna Aji (Dok. pribadi).

Kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook senilai Rp9,9 triliun yang menyeret mantan Mendikbudristek, Nadiem Makarim, bukan hanya soal hukum dan angka rupiah yang dikorupsi. Namun,  skandal ini adalah potret suram bagaimana kebijakan pendidikan yang gagal dapat meruntuhkan semangat belajar sekaligus merusak kesehatan mental jutaan siswa. Jika dibiarkan, kita bukan hanya kehilangan uang negara saja, tetapi juga masa depan generasi emas yang sedang kita persiapkan untuk tahun 2045.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa korupsi di sektor pendidikan jauh lebih berbahaya daripada di sektor lain. Yang hilang bukan hanya dana, tetapi kesempatan anak-anak untuk belajar dengan layak. Laptop yang rusak, koneksi internet yang tak ada, dan guru yang tidak mendapat pelatihan memadai,  menambah beban psikologis semua pihak di sekolah.

Guru tertekan karena target pembelajaran tidak tercapai. Siswa frustrasi karena tidak bisa belajar dengan baik. Orang tua ikut cemas karena biaya dan waktu yang mereka investasikan terasa sia-sia. Semua ini menciptakan lingkaran stres yang merusak kesehatan mental.

Data Riskesdas tahun 2023 mencatat hampir 10 persen remaja Indonesia mengalami gangguan mental emosional. Korupsi yang menghambat efektivitas program pendidikan digital hanya memperburuk situasi ini. Siswa kehilangan motivasi, merasa ditinggalkan, dan mulai apatis terhadap proses belajar.

Kesehatan mental merupakan prasyarat bagi kreativitas dan prestasi akademik. Generasi emas tidak akan tercipta jika mereka harus tumbuh dalam lingkungan sekolah yang penuh kekecewaan dan ketidakpastian akibat kebijakan yang gagal.

Pendidikan seharusnya menjadi ruang yang aman dan menumbuhkan. Sekolah yang sehat serta bebas dari praktik korupsi akan melahirkan generasi yang lebih percaya diri, resilien, dan siap menghadapi tantangan di masa depan. Sebaliknya, korupsi di sektor pendidikan merusak kepercayaan siswa terhadap negara, yang pada akhirnya dapat menumbuhkan generasi yang apatis dan kehilangan harapan untuk menyongsong masa depan.

Solusi: Audit, Konselor, dan Transparansi

Pemerintah Presiden Prabowo Subianto harus menjadikan kasus ini momentum untuk memperbaiki tata kelola pendidikan. Audit menyeluruh perlu dilakukan pada proyek-proyek pengadaan agar setiap rupiah benar-benar bermanfaat bagi siswa di sekolahan. Program kesehatan mental sekolah harus diperkuat, termasuk penyediaan konselor, pelatihan guru dalam mendeteksi dini stres pada siswa, serta kurikulum yang mendukung kesehatan jiwa pada anak.

Masyarakat dan media juga sangat berperan penting. Orang tua dapat menjadi pengawas aktif penggunaan anggaran sekolah, sementara media menjaga sorotan publik agar kasus serupa tidak berulang kembali. Faktor jera bagi pelaku korupsi harus digalakkan supaya seluruh keluarga terpidana korupsi merasa malu dan tidak akan mengulang lagi perbuatan tersebut. Tak lupa juga segera direalisasikann RUU Perampasan aset bagi para koruptor yang akan mendatang.

Generasi Emas tahun 2045 hanya akan terwujud jika pendidikan kita bersih, transparan, dan berpihak pada kesejahteraan siswa. Korupsi bukan sekadar kejahatan keuangan semata, melainkan juga kejahatan terhadap masa depan bangsa Indonesia. Saatnya kita pastikan pendidikan menjadi ruang yang sehat, aman, dan membangun mental anak-anak kita bukan meruntuhkannya. Semoga kasus korupsi yang menimpa mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim merupakan kasus yang terakhir dan tidak akan terulang kembali.

Penulis adalah dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...