Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Perspektif

Saatnya Indonesia Mengirim Tenaga Kesehatan “Go International” dengan Martabat Global

Prima Trisna Aji, Editor: Sholahuddin
Senin, 8 Desember 2025 22:33 WIB
Saatnya Indonesia Mengirim Tenaga Kesehatan “Go International” dengan Martabat Global
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Prima Trisna Aji (Dok. pribadi).

Ketika pintu kerja sama internasional terbuka, sebuah bangsa diuji: apakah ia siap melangkah masuk, atau hanya berdiri terpukau melihat peluang lewat begitu saja? Penandatanganan MoU antara Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) dan Suenoba Cooperative Association dari Prefektur Fukuoka, Jepang, beberapa waktu lalu adalah salah satu momen yang tak boleh sekadar lewat. Ini bukan sekadar seremoni bertukar dokumen, melainkan wujud perjalanan panjang perguruan tinggi Indonesia untuk mengangkat derajat profesi perawat di panggung global.

Di ruang pertemuan Fakultas Ilmu Kesehatan dan Keperawatan (Fikkes) Unimus Semarang yang sederhana namun penuh harapan, saya melihat sesuatu yang lebih besar daripada kata internasionalisasi. Ada wajah-wajah muda yang menunggu wawancara, tangan mereka bergetar tapi mata mereka berbinar. Mereka bukan hanya menunggu kesempatan ke Jepang,  mereka menunggu validasi bahwa mimpi anak bangsa juga berhak terbang jauh. Dan bagi saya, inilah inti dari seluruh cerita.

Internasionalisasi Pendidikan Kesehatan

Wakil Rektor 4 Unimus Semarang, Muhammad Yusuf, dengan tepat menyebut kerja sama ini sebagai langkah nyata internasionalisasi kampus. Pernyataan itu bukan jargon. Jepang saat ini menghadapi super-aging society yang menuntut jutaan tenaga kesehatan tambahan dalam dua dekade ke depan. Sementara, Indonesia, ironisnya, memiliki surplus lulusan keperawatan yang sering kali terhambat kualitas, bahasa, dan kurangnya eksposur standar global.

MoU Unimus dan Suenoba Jepang adalah jawaban dari dua kebutuhan besar ini dari dua negara yang sama-sama mencari jalan keluar yang saling melengkapi. Namun lebih dari itu, ia menjawab kegelisahan lama: Kapankah institusi pendidikan kesehatan Indonesia benar-benar menyelaraskan diri dengan standar dunia?

Keberanian Institusi: Dari Teori Global ke Praktik Global

Selama ini banyak perguruan tinggi berbicara tentang “global mindset” sebagai slogan, bukan implementasi. Unimus Semarang memilih jalur berbeda. Lima jenjang Pendidikan D3, S1, Profesi Ners, S2, hingga Spesialis KMB dibangun bukan hanya demi akreditasi, melainkan untuk menciptakan ekosistem keilmuan yang sanggup berdiri setara dengan lembaga internasional.

Ketika Kaprodi S1 Ilmu Keperawatan, Machmudah, menyebut bahwa banyak lulusan Unimus telah bekerja di luar negeri, saya melihat itu bukan sebagai klaim, tetapi sebagai indikator bahwa institusi ini punya tradisi melahirkan perawat yang siap bertarung secara global.

Lalu hadir Kaprodi Profesi Ners, Mariyam, yang menegaskan bahwa tahap wawancara oleh Suenoba adalah gerbang awal menuju standar layanan kesehatan Jepang—salah satu yang terbaik di dunia. Ini pengakuan bahwa mahasiswa tidak diperlakukan sebagai penonton, tetapi sebagai calon aktor utama dalam sistem kesehatan internasional.

Opini ini tidak lengkap tanpa menyinggung kenyataan pahit: tenaga kesehatan Indonesia sering kali direduksi sebagai “pekerja murah” di luar negeri. Stigma itu bukan hanya tidak adil itu salah besar. Perawat kita tangguh, adaptif, dan secara budaya memiliki empati tinggi, sesuatu yang sangat dihargai di Jepang. Namun, selama ini mereka kurang mendapat dukungan institusional untuk menembus standar global.

Program internship (magang) Unimus Semarang dan Suenoba Jepang memberikan sesuatu yang selama ini hilang: pengakuan internasional terhadap kompetensi anak bangsa sebelum mereka “dilempar” ke dunia kerja global. Dan itu adalah bentuk martabat yang sesungguhnya. Kita tetap harus jujur: internship ke Jepang bukan tiket emas. Ada tantangan besar bahasa, adaptasi budaya kerja, jam kerja panjang, hingga kedisiplinan super ketat. Tetapi justru di sinilah perguruan tinggi berperan memastikan mahasiswa tidak menghadapinya sendirian.

Kerja sama seperti ini harus menjadi role model bagi kampus kesehatan lainnya: internasionalisasi bukan hanya mengundang narasumber dari luar negeri, tetapi membangun ekosistem mobilitas yang terstruktur, aman, dan berkelanjutan.

Harapan untuk Generasi Perawat Indonesia

Ketika saya melihat para mahasiswa Unimus Semarang duduk menunggu giliran wawancara, saya sadar: inilah representasi masa depan tenaga kesehatan Indonesia. Tidak lagi berkutat pada narasi “tenaga kerja asing”, tetapi narasi “kompetensi global”.  Indonesia memiliki lebih dari cukup potensi untuk menjadi eksportir tenaga kesehatan profesional terbesar di Asia. Tapi itu hanya dapat terjadi bila perguruan tinggi berani memulai langkah-langkah konkret seperti yang dilakukan Unimus.

MoU ini mungkin terlihat seperti berita kampus biasa, tetapi sesungguhnya ia adalah fondasi masa depan: masa depan di mana perawat Indonesia bukan hanya bekerja di luar negeri, tetapi dihormati dan diakui sebagai bagian penting dari sistem kesehatan dunia. Dan di hari penandatanganan itulah, saya melihat pintu yang selama ini tertutup kini mulai terbuka. Tidak dengan gegap gempita, melainkan dengan keyakinan pelan namun pasti:
anak-anak muda Indonesia siap mengharumkan nama bangsanya di negeri Sakura dengan kepala tegak, kompetensi kuat, dan martabat global.

Penulis adalah Dosen Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang

Berita Terbaru

TKA, Wajah Asli Pendidikan Kita Yang Tak Rupawan

Tes Kemampuan Akademik (TKA) kembali menjadi bahan refleksi penting dalam diskursus pendidikan nasional. Di tengah euforia reformasi kurikulum dan perubahan sistem evaluasi, TKA hadir bukan...

Mengenang Ustaz Muhammad Jazir: Pimpinan Ranting Berkelas Pusat

Ustaz Muhammad Jazir, tokoh  Masjid Jogokariyan, adalah sosok inspiratif yang menunjukkan aksi dan peran nyata dalam dakwah dan gerakan umat. Beliau memberi pelajaran penting bahwa...

Ironi di Penghujung November: Perayaan Ekologis Namun Membiarkan Bencana

Penghujung November seharusnya menjadi momentum ekologis penting bagi umat manusia. Dua peringatan besar—Hari Pohon Sedunia pada 21 November dan Hari Menanam Pohon Indonesia pada 28...

Teknologi Bisa Mengajar, tapi Hanya Guru yang Bisa Menyentuh Hati

Di tengah derasnya gelombang digitalisasi, kita semakin akrab dengan kelas daring, robot tutor, kecerdasan buatan, hingga platform belajar yang menyediakan ribuan video pembelajaran. Banyak yang...

Cocoklogi Agama: Antara Lucu, Laku, dan Salah Kaprah

Fenomena “gus-gusan” dalam dakwah digital semakin ramai dibicarakan. Baru-baru ini, jagat maya dihebohkan oleh potongan video seorang “Gus” yang mengaitkan rokok merek Sampoerna dengan konsep...

Jangan Korbankan Lawu untuk Keserampangan Energi Hijau

Rencana pemanfaatan panas bumi di Jenawi, lereng Gunung Lawu, bukan sekadar urusan teknis energi. Ia adalah soal keselamatan ekologis, keberlanjutan ekonomi warga, dan kewarasan negara...

Menemukan Tenang di Tengah Badai: Spiritualitas sebagai Kunci Ketahanan Mental

Dalam menjalani kehidupan pasti manusia akan merasakan berbagai macam tekanan pada setiap aspek yang dia jalani. Misalnya, tekanan pada pekerjaan, seperti deadline yang ketat, tuntutan...

Latte Papa: Ayah, Kopi, dan Revolusi Sunyi

Fenomena Latte Papa atau Latte Dad di Swedia sering dianggap sepele: sekumpulan ayah muda yang terlihat mendorong stroller sambil menyesap segelas caffe latte di kafe-kafe...

Gerakan Pelajar Profetik: Menanam Akhlak di Tanah Perbatasan

Di ujung utara Indonesia, tepatnya di Kepulauan Sangihe, berdiri sebuah madrasah kecil yang menyimpan harapan besar: Madrasah Aliyah Muhammadiyah Petta. Meski letaknya jauh dari pusat-pusat...

Negeri yang Dijajah Tanpa Senapan

Daftar IsiGelar Tak Lagi SaktiKetika Data Menjadi Emas BaruSekolah untuk Dunia yang Sudah MatiTeknologi: Pembebasan atau Panggung Pencitraan?Budaya Terlupa, Akar DicabutSaatnya Sadar, Bangun, dan MelawanDi...

The Power of Al-Ma’tsurat: Penghancur Jin dalam Tubuh dan Tameng Spiritual yang Terlupakan

Bayangkan seseorang yang hidupnya terasa berat tanpa sebab yang jelas. Ia bangun pagi dengan tubuh lesu, pikirannya kacau, sering mimpi buruk, mudah marah, gelisah tanpa...

Mengungkap Dua Al-Masih: Isa sang Penyelamat, Dajjal sang Pendusta

Salah satu istilah yang menarik perhatian dalam diskursus keislaman adalah penggunaan kata “al-Masih” yang disematkan pada dua sosok yang sangat bertolak belakang: al-Masih Isa putra...

Leave a comment