Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

KKN dan Literasi Kesehatan Digital: Saat Mahasiswa Jadi Jembatan Desa dan Teknologi

Prima Trisna Aji, Editor: Sholahuddin
Minggu, 20 Juli 2025 10:38 WIB
KKN dan Literasi Kesehatan Digital: Saat Mahasiswa Jadi Jembatan Desa dan Teknologi
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Prima Trisna Aji (Dok. pribadi).

Di berbagai desa di Indonesia, akses terhadap layanan kesehatan yang layak masih menjadi tantangan besar hingga kini. Para lansia harus berjalan jauh ke Posyandu hanya untuk mengecek tekanan darah. Ibu hamil kebingungan memahami cara klaim BPJS. Warga umumnya belum paham,  bahwa hanya dengan ponsel pintar, mereka bisa mengakses informasi kesehatan hingga mengecek status kepesertaan BPJS lewat aplikasi Mobile JKN.

Aplikasi yang dikembangkan oleh BPJS Kesehatan ini sesungguhnya menawarkan kemudahan besar seperti: mengecek iuran, mengubah faskes, mengunduh antrean online, bahkan mencari fasilitas terdekat. Sayangnya, keberadaan aplikasi ini belum sepenuhnya menyentuh masyarakat di wilayah perdesaan.

Sebuah studi pada Maret 2024 di Samarinda,  menunjukkan bahwa sebanyak 72 persen masyarakat desa belum pernah menggunakan Mobile JKN, meski sebagian besar dari mereka (sekitar 66 persen) sebenarnya sudah memiliki ponsel dan tahu nama aplikasinya. Hal ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara pengetahuan dasar dan kemampuan penggunaannya. Faktor penghambatnya pun beragam, mulai dari kurangnya literasi digital, terbatasnya pendampingan penggunaan aplikasi, hingga minimnya sosialisasi yang benar-benar menyentuh kebutuhan warga.

Namun, di balik situasi tersebut, muncul cerita-cerita kecil yang menunjukkan harapan. Salah satunya berasal dari kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) Tematik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Desa Sukapura, Jawa Barat yang dipublikasikan oleh Regina Ayu, salah satu mahasiswi KKN UPI. Dalam program tersebut, mahasiswa tidak hanya turun ke lapangan dengan membawa teori, tetapi juga langsung mempraktikkan pendampingan warga dalam menggunakan aplikasi Mobile JKN. Mereka mendatangi Posyandu, menggelar pelatihan sederhana, dan mendampingi ibu-ibu lansia mengunduh aplikasi, mendaftarkan diri, dan memahami fitur-fiturnya. Hasilnya mengejutkan. Para lansia yang semula canggung, bahkan menolak, justru menunjukkan antusiasme dan rasa percaya diri yang tinggi setelah memahami bahwa mereka bisa mengakses layanan kesehatan dari rumah.

Membantu Mempercepat Akses

Cerita serupa ditemukan di beberapa wilayah lain seperti pada Mahasiswa KKN dari Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), misalnya, juga menggelar penyuluhan pemanfaatan layanan digital di wilayah perdesaan binaan di Boyolali, Jawa Tengah. Di sana, mahasiswa tidak hanya menyasar warga, tetapi juga membekali kader Posyandu agar menjadi agen literasi digital kesehatan yang berkelanjutan.

Penelitian terbaru dari Nazka Amaliah dkk tahun 2024 dari Universitas Sumatera Utara dengan judul “Efektivitas Aplikasi JKN Mobile Dalam Mendukung Akses Layanan Bagi Peserta BPJS di Klinik Pratama Rawat Inap Santi Meliala” menemukan bahwa pentingnya peran literasi digital dalam mengoptimalkan penggunaan aplikasi Mobile JKN. Dalam studi tersebut, ditemukan bahwa aplikasi ini memang terbukti membantu mempercepat akses layanan, mengurangi antrean, dan meningkatkan kepuasan pasien. Namun, hambatan terbesar tetaplah kurangnya pemahaman masyarakat, terutama di desa-desa yang belum terjangkau pelatihan atau program edukasi. Studi lain dari Sistematic Literatur Review: Analisis Manfaat Digital Mobile JKN dalam Pembiayaan Kesehatan” tahun 2024 menunjukkan bahwa keberhasilan penggunaan aplikasi sangat dipengaruhi oleh adanya pendampingan awal dan inilah celah yang bisa diisi oleh kegiatan pengabdian mahasiswa seperti KKN.

Kegiatan KKN yang selama ini sering kali dianggap formalitas atau rutinitas tahunan kampus, ternyata punya potensi besar sebagai jembatan transformasi digital dalam bidang kesehatan. Ketika mahasiswa hadir tidak hanya untuk mengajar atau menyusun laporan, tetapi menjadi fasilitator teknologi dan pemberdaya masyarakat, maka perubahan nyata bisa dirasakan langsung. Tidak hanya bagi warga, tetapi juga bagi mahasiswa itu sendiri karena mereka mengalami langsung makna Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Kisah-kisah KKN yang membawa dampak seperti ini seharusnya tidak menjadi pengecualian, melainkan menjadi fokus utama sebagai program nasional pemerintah secara serentak. Pemerintah melalui Kemdiktisaintek dan BPJS Kesehatan sebaiknya menetapkan literasi aplikasi kesehatan sebagai tema prioritas dalam program KKN Tematik. Pendampingan penggunaan Mobile JKN, integrasi mahasiswa dengan program Puskesmas, serta kolaborasi dengan kader Posyandu, bisa dijadikan model nasional untuk memperkuat layanan kesehatan berbasis digital di tingkat pedesaan.

Tentu, tantangan infrastruktur seperti jaringan internet dan keterbatasan gawai masih ada. Namun, keterlibatan mahasiswa yang memahami teknologi dan memiliki semangat pengabdian kepada masyarakat bisa menjadi penentu keberhasilan di lapangan. Ini adalah potensi yang tidak dimiliki oleh kampanye formal dari pemerintah sekalipun.

Agar gerakan ini berkelanjutan dan tidak berhenti pada kegiatan KKN semata, maka diperlukan solusi konkret. Pertama, diperlukan pelatihan pra-KKN yang terfokus pada literasi digital dan pemanfaatan aplikasi layanan publik seperti Mobile JKN. Kedua, pemerintah daerah dan perguruan tinggi dapat membentuk program Digital Health Champions, sebuah tim kecil mahasiswa dan kader lokal yang terus mendampingi warga meskipun masa KKN telah berakhir. Ketiga, BPJS Kesehatan harus menyederhanakan tampilan aplikasi dan menyediakan versi yang lebih ramah bagi pengguna lansia dan masyarakat perdesaan. Keempat, penguatan sinergi antara kampus, desa, dan Puskesmas melalui nota kesepahaman dapat menjadi jalan pembuka untuk program kesehatan berbasis teknologi yang berkelanjutan.

KKN bukanlah hanya tentang mencatat kehadiran atau membuat laporan akhir. Ia adalah titik temu antara ilmu pengetahuan dan realitas sosial. Ketika mahasiswa turun langsung ke perdesaan, membantu seorang nenek membuka aplikasi BPJS di ponselnya untuk pertama kali, atau mendampingi seorang ibu muda mendaftarkan anaknya ke faskes melalui gawai, di situlah makna keberlanjutan pembangunan kesehatan benar-benar hidup.  Dari Posyandu yang dulu identik dengan kertas dan alat timbang manual, kini perlahan bergerak menuju era digital berkat tangan-tangan muda dari kampus. Dan itulah wajah baru KKN hari ini: menjadi gerakan kecil namun berarti, yang membumikan teknologi, dan memperjuangkan keadilan layanan kesehatan bagi semua warga, dari kota hingga desa. Kini saatnya pemerintah dan perguruan tinggi menjadikan literasi digital kesehatan sebagai program prioritas nasional, bukan hanya inisiatif lokal.

Penulis adalah dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...