
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Ilmu menjadi dasar utama dalam membangun iman, karakter, dan peradaban. Tanpa ilmu, manusia tidak akan mengenal siapa Tuhannya, dan tidak akan mampu membedakan kebenaran dari kebatilan.
Penegasan itu disampaikan Ainur Rha’in dalam Kajian Tafsir Surat Al-Qalam ayat 17–28. Menurutnya, ilmu harus mengantarkan manusia pada pengakuan terhadap kekuasaan Allah dan menjauhkan dari kesombongan serta kezaliman.
Dalam pemaparannya, dosen Program Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir (IQT), Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengangkat kisah pemilik kebun dalam surat tersebut sebagai cerminan nyata dari manusia yang kufur nikmat.
Mereka merencanakan untuk memanen hasil kebun di pagi buta, tanpa memberikan hak kaum fakir miskin dan lupa menyebut “Insya Allah”. Akibatnya, kebun yang semula penuh hasil itu hangus terbakar hingga tidak tersisa sedikit pun untuk dipanen. “Ini bentuk ujian dan teguran dari Allah kepada orang-orang yang enggan bersyukur,” jelasnya saat ditemui pada Jumat (20/6/2025).
Bersikap Angkuh
Kisah ini, menurut Ainur, sekaligus menjadi permisalan bagi kaum Quraisy. Meskipun telah mendapatkan nikmat besar berupa diutusnya Nabi Muhammad SAW dari kalangan mereka sendiri, namun mereka justru menolak dan bersikap angkuh. Padahal, jika mereka menerima risalah kenabian, hal itu menjadi kemuliaan bagi bangsa dan bahasa mereka.
Lebih jauh, ia menjelaskan harta yang tidak dibersihkan melalui zakat atau sedekah akan mendatangkan kesempitan. Sementara orang-orang yang bersyukur dan gemar berbagi, hartanya akan diberkahi oleh Allah.
Ia juga mengingatkan kejahatan kolektif, meskipun sistemik dan masif, akan hancur jika berhadapan dengan kebenaran dan keadilan. “Orang yang menghalangi rezeki orang lain, sebenarnya sedang menutup jalan rezekinya sendiri,” katanya.

Ainur Rha’in.
Kajian ini merupakan bagian dari program rutin Kajian Tarjih yang diselenggarakan oleh Biro Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), yang telah terlaksana pada Kamis (19/6), secara daring melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan ini diikuti oleh Dosen, Tenaga Kependidikan, serta sivitas akademika UMS.
Dalam kesempatan itu, Ainur menegaskan pentingnya mengucapkan “Insya Allah” dan “Alhamdulillah” bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk adab dan pengakuan akan kehendak Allah. “Insya Allah adalah bentuk izin kita kepada Allah atas segala rencana. Tanpa izin-Nya, tak ada satu pun hal yang bisa kita wujudkan,” jelasnya.
Ia juga menyinggung pentingnya peran ulama dalam pembangunan peradaban. Tokoh-tokoh besar Islam seperti Harun Ar-Rasyid, Nuruddin Zanki, dan Shalahuddin Al-Ayyubi mampu membangun peradaban karena dekat dengan ulama dan menjadikan ilmu sebagai dasar kebijakan. “Pemimpin besar lahir dari pemahaman agama dan bimbingan ulama,” ungkapnya.
Melalui kajian ini, peserta diajak merenungi pentingnya kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan. Harta hanyalah titipan, dan sebaik-baik hamba adalah mereka yang memelihara amanah itu dengan cara yang diridhai Allah.
Pengajian di Masjid Darul Hayat Solo, Mubaligh Muhammadiyah: Bersyukur Itu Ibadah 24 Jam
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Cabang Solo Utara, Dwi Jatmiko, menyampaikan pengajian bertema “Charging Power Ketakwaan” di Masjid Darul Hayat Banyuanyar RT...
Bukan Sekadar Harta, Ini Warisan Terbaik Orang Tua Menurut Tafsir Al-Kahfi Ayat 82
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Orang tua kerap bersusah payah demi kebaikan hidup anaknya, rela bekerja keras pagi hingga malam demi menyiapkan kenyamanan hidup anak. Namun dalam...
Mendidik Anak dengan Kesabaran dalam Perspektif Al-Qur’an
Pendidikan kesabaran (ṣabr) sebagai salah satu nilai fundamental dalam Al-Qur’an sangat penting untuk pengembangan karakter manusia, terutama dalam konteks pendidikan. Pendidikan karakter sebaiknya diterapkan sejak ...
Berkomunikasi di Era Digital: Masihkah Kita Menjaga Etika Al-Qur’an?
Kondisi masyarakat Indonesia yang semakin modern menyebabkan berkembangnya pula teknologi digital. Bersamaan dengan itu teknologi kini bukan hanya menghasilkan sebuah kecanggihan informasi namun menjadi sarana...
Relevansi Tafsir Al-Qur’an dalam Menjawab Krisis Moral Generasi Z
Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, khususnya bagi Generasi Z yang lahir dan tumbuh di tengah kemajuan tersebut....
Ketika Masalah Datang Bertubi-Tubi: Belajar Sabar dari Al-Qur’an
Setiap orang pasti pernah berada pada titik di mana masalah datang silih berganti. Terkadang satu masalah saja sudah cukup membuat seseorang merasa lelah, apalagi jika...
Memahami Al-Qur’an di Era Modern: Pentingnya Pendekatan Kontekstual dalam Kehidupan Kontemporer
Al-Qur’an merupakan hidup bagi umat Islam sepanjang zaman. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak mengatur hubungan manusia dengan tuhan-Nya, tetapi juga mengatur hubungan manusia dalam...
Mengupas Bahasa Langit Secara Membumi: Sebuah Artikel tentang Ilmu Tafsir Al-Qur’an
Daftar IsiApa Itu Ilmu Tafsir?Sejarah Singkat: Dari Lisan Nabi hingga Era DigitalRagam Pendekatan TafsirTafsir di Era Kita: Relevansi di Tengah Laju ZamanTafsir sebagai Perjalanan SpiritualDaftar...
Relevansi Tafsir Kontemporer dalam Isu Kesetaraan Gender
Perkembangan wacana keislaman di era modern menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk memahami Al-Qur’an secara lebih kontekstual. Hal ini terutama terlihat dalam pembahasan isu gender dan...
Membaca Tafsir Al-Qur’an di Era Teknologi: Adaptasi dan Relevansi
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam cara memahami ajaran agama. Salah satu perubahan yang paling signifikan terlihat...
Ketentuan Fidyah dan Qadha Puasa dalam Islam
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Ibadah puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Namun, dalam kondisi tertentu seperti sakit, perjalanan jauh, atau usia lanjut, Islam...
Orang Bertakwa Pasti Meyakini Kebenaran Al-Qur’an
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Puasa Ramadan target utamanya adalah membentuk insan bertakwa. Hal itu disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko...





