Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Kajian Agama

UMS Gelar Kajian Tafsir Al-Baqarah Ayat 60-66, Kekufuran Bani Israil jadi Renungan

Affiq, Editor: Alan Aliarcham
Kamis, 11 Desember 2025 14:42 WIB
UMS Gelar Kajian Tafsir Al-Baqarah Ayat 60-66, Kekufuran Bani Israil jadi Renungan
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Kajian Tafsir Al-Qur’an, bersama Ainur Rha’in Bakrun sebagai narasumber. Kali ini, pembahasan merefleksikan sejarah Bani Israil untuk dijadikan sebagai pelajaran dalam menjalani kehidupan. (Humas)

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Kajian Tafsir Al-Qur’an, bersama Ainur Rha’in Bakrun sebagai narasumber. Kali ini, pembahasan merefleksikan sejarah Bani Israil untuk dijadikan sebagai pelajaran dalam menjalani kehidupan.

Rhain-begitu sapaan akrabnya, memaparkan tafsir surat Al-Baqarah ayat 60-66, yang secara garis besar membahas tentang nikmat-nikmat yang didurhakai oleh Bani Israil, serta balasan atas perbuatan mereka.

Mengawali pemaparan maternya, ia menjelaskan bahwa dalam ayat 60-66 terdapat beberapa  pengulangan kata yang sama dengan menunjukkan makna yang sama. “Pada ayat 60-66 terdapat pengulangan kata “واذ” yang menunjukan pengingat Allah kepada bani israil atas perbuatannya selama di muka bumi ini,” jelasnya, Selasa (9/12/2025).

Ayat 60 berisi tentang kekufuran Bani Israil terhadap nikmat mata air yang diberikan oleh Allah SWT. Bani Israil tidak ada cukupnya ketika diberikan sumber mata air satu saja, mereka meminta sumber mata air yang jumlah lebih banyak dari pada itu.

Ia juga menegaskan pada ayat 60 terdapat karakteristik seorang pemimpin yang benar, seperti Nabi Musa yang tidak pernah memikirkan untuk mensejahterakan dirinya sendiri. Nabi Musa selalu memohon kepada Allah SWT untuk mensejahterakan kehidupan umatnya yaitu Bani Israil. “Pemimpin yang bener tidak pernah menjadikan posisinya untuk mengambil manfaat bagi kepentingan dirinya sendiri, layaknya Nabi Musa AS, ” tegasnya dalam menafsirkan ayat itu.

Ayat 61 menjelaskan bahwa Bani Israil tidak pernah bersyukur atas nikmat berupa makanan yang diberikan oleh Allah SWT. Padahal, Allah telah memberikan makanan yang berkhasiat, namun, mereka justru meminta makanan yang biasa saja. Hal itu menunjukkan ketamakan Bani Israil terhadap pemberian Allah SWT.

Kunci Bahagia

Rhain juga menambahkan terdapat kunci hidup bahagia dengan merefleksikan ayat 61, di sisi lain juga menunjukan tidak pernah bahagianya Bani Israil pada saat itu. “Kunci hidup bahagia itu dengan selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah,” tambahnya.

Kemudian, pada ayat 62 terdapat definisi orang yang beriman, yaitu mempercayai dan mengikuti ajaran nabi yang datang pada zaman itu, misalnya Yahudi mengikuti ajaran Nabi Musa, Nasrani mengikuti ajaran Nabi Isa, dan Islam mengikuti ajaran Nabi Muhammad Saw.

Selanjutnya, ayat 63-64 menjelaskan adanya perjanjian antara Bani Israil dengan Allah SWT, serta tipu daya yang mereka perbuat. Perjanjian yang mereka sepakati dengan Allah yaitu, mereka harus beriman kepada Allah Swt., atas nikmat yang mereka rasakan selama ini.

Namun, perjanjian itu mereka abaikan mentah-mentah. Mereka meninggalkan, bahkan menyelisihi kitab Taurat yang seharusnya mereka jadikan pedoman kehidupan. Hal itu menunjukkan sifat oportunis yang melekat pada diri mereka.

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِيْنَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِى السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خٰسِـِٕيْنَ ۝٦٥

Allah mengutuk Bani Israil dengan menjadikan mereka kera yang hina. Dalam artian bukan hanya perubahan fisik, tetapi mencakup kehinaan sosial dan spiritual. Mereka hina karena perbuatannya. Laknat seperti ini, sesuai dengan penjelasan pada ayat 65, serta diperkuat dengan hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari.

لَمَّا مُسِخَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ ، جُعِلَ الرِّجَالُ قِرَدَةً وَالنِّسَاءُ خَنَازِيرَ

“Ketika sebagian Bani Israil itu diubah (oleh Allah), maka laki-laki dijadikan kera, dan perempuan dijadikan babi.” HR. al-Bukhari

Ayat 66, sebagai penutup kajian, ia menekankan bahwa pada ayat ini menjadi pengingat bagi hamba pada saat itu dan hamba yang akan datang. “Melalui ayat 66 terdapat pengingat kepada kita, agar tidak mengulangi kembali kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh Bani Israil,” tuturnya.

Berita Terbaru

Pengajian di Masjid Darul Hayat Solo, Mubaligh Muhammadiyah: Bersyukur Itu Ibadah 24 Jam

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Cabang Solo Utara, Dwi Jatmiko, menyampaikan pengajian bertema “Charging Power Ketakwaan” di Masjid Darul Hayat Banyuanyar RT...

Bukan Sekadar Harta, Ini Warisan Terbaik Orang Tua Menurut Tafsir Al-Kahfi Ayat 82

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Orang tua kerap bersusah payah demi kebaikan hidup anaknya, rela bekerja keras pagi hingga malam demi menyiapkan kenyamanan hidup anak. Namun dalam...

Mendidik Anak dengan Kesabaran dalam Perspektif Al-Qur’an

Pendidikan  kesabaran  (ṣabr)  sebagai  salah  satu  nilai  fundamental  dalam  Al-Qur’an  sangat penting   untuk   pengembangan   karakter   manusia,   terutama   dalam   konteks   pendidikan. Pendidikan  karakter  sebaiknya  diterapkan  sejak ...

Berkomunikasi di Era Digital: Masihkah Kita Menjaga Etika Al-Qur’an?

Kondisi masyarakat Indonesia yang semakin modern menyebabkan berkembangnya pula teknologi digital. Bersamaan dengan itu teknologi kini bukan hanya menghasilkan sebuah kecanggihan informasi namun menjadi sarana...

Relevansi Tafsir Al-Qur’an dalam Menjawab Krisis Moral Generasi Z

Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, khususnya bagi Generasi Z yang lahir dan tumbuh di tengah kemajuan tersebut....

Ketika Masalah Datang Bertubi-Tubi: Belajar Sabar dari Al-Qur’an

Setiap orang pasti pernah berada pada titik di mana masalah datang silih berganti. Terkadang satu masalah saja sudah cukup membuat seseorang merasa lelah, apalagi jika...

Memahami Al-Qur’an di Era Modern: Pentingnya Pendekatan Kontekstual dalam Kehidupan Kontemporer

Al-Qur’an merupakan hidup bagi umat Islam sepanjang zaman. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak mengatur hubungan manusia dengan tuhan-Nya, tetapi juga mengatur hubungan manusia dalam...

Mengupas Bahasa Langit Secara Membumi: Sebuah Artikel tentang Ilmu Tafsir Al-Qur’an

Daftar IsiApa Itu Ilmu Tafsir?Sejarah Singkat: Dari Lisan Nabi hingga Era DigitalRagam Pendekatan TafsirTafsir di Era Kita: Relevansi di Tengah Laju ZamanTafsir sebagai Perjalanan SpiritualDaftar...

Relevansi Tafsir Kontemporer dalam Isu Kesetaraan Gender

Perkembangan wacana keislaman di era modern menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk memahami Al-Qur’an secara lebih kontekstual. Hal ini terutama terlihat dalam pembahasan isu gender dan...

Membaca Tafsir Al-Qur’an di Era Teknologi: Adaptasi dan Relevansi

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam cara memahami ajaran agama. Salah satu perubahan yang paling signifikan terlihat...

Ketentuan Fidyah dan Qadha Puasa dalam Islam

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Ibadah puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Namun, dalam kondisi tertentu seperti sakit, perjalanan jauh, atau usia lanjut, Islam...

Orang Bertakwa Pasti Meyakini Kebenaran Al-Qur’an

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Puasa Ramadan target utamanya adalah membentuk insan bertakwa. Hal itu disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko...