
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Orang tua kerap bersusah payah demi kebaikan hidup anaknya, rela bekerja keras pagi hingga malam demi menyiapkan kenyamanan hidup anak. Namun dalam kesibukan itu, kewajiban spiritual yang seharusnya menjadi fondasi kehidupan sering kali terlupakan.
Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Hakimuddin Salim, menawarkan solusi inspiratif melalui QS. Al-Kahfi ayat 82 sebagai motivasi para orang tua dalam menyiapkan kehidupan anak keturunannya.
وَاَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلٰمَيْنِ يَتِيْمَيْنِ فِى الْمَدِيْنَةِ وَكَانَ تَحْتَهٗ كَنْزٌ لَّهُمَا وَكَانَ اَبُوْهُمَا صَالِحًاۚ فَاَرَادَ رَبُّكَ اَنْ يَّبْلُغَآ اَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَۚ وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْۗ ذٰلِكَ تَأْوِيْلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًاۗࣖ ٨٢
Adapun dinding (rumah) itu adalah milik dua anak yatim di kota itu dan di bawahnya tersimpan harta milik mereka berdua, sedangkan ayah mereka adalah orang saleh. Maka, Tuhanmu menghendaki agar keduanya mencapai usia dewasa dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Aku tidak melakukannya berdasarkan kemauanku (sendiri). Itulah makna sesuatu yang engkau tidak mampu bersabar terhadapnya.
Hakimuddin menjelaskan tafsir ayat tersebut melalui lima poin tadabur. Pertama, keshalihan orang tua berefek positif kepada anak. Warisan keshalihan yang dimaksud mencakup dua hal, yakni qudwah (keteladanan) dan tarbiyah (pendidikan).
“Jika orang tua memberikan kebiasaan baik kepada anaknya, seperti membaca buku di depannya, kelak seorang anak akan menirunya. Begitu juga sebaliknya. Maka, orang tua harus membiasakan diri untuk memberikan teladan baik kepada anak-anaknya,” jelasnya, Rabu (22/4/2026).
Namun dalam ayat ini terdapat warisan yang lebih mulia, berupa penjagaan langsung dari Allah SWT. Mengutip penafsiran As-Sa’di, Hakimuddin menegaskan, “Kedua anak tersebut dijaga karena keshalihan orang tuanya.”
Kedua, keshalihan orang tua memberikan efek positif pada generasi-generasi selanjutnya. Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini menunjukkan Allah menjaga orang yang shalih beserta seluruh keturunannya, meskipun keturunan yang jauh. “Bahkan Allah akan menjaga keshalihan pada generasi ketujuh darinya,” kutip Hakimuddin.
Tidak Hanya Surga
Ketiga, penjagaan Allah kepada keturunan orang shalih bersumber dari dua faktor, yakni balasan atas keberkahan amalan orang tua, dan doa Ishlah Dzuriyah (perbaikan keturunan) yang dipanjatkan setiap saat. Hakimuddin menepis anggapan balasan Allah hanya berupa surga. “Balasan Allah itu bukan sekadar surga atau rezeki finansial, tapi Allah juga memberikan balasan berupa penjagaan, keamanan, ataupun kebahagiaan hidup,” tegasnya.
Keempat, ayat ini menjadi motivasi orang tua untuk lebih giat beramal shalih. Menurut Hakimuddin, efek dari kegigihan beramal tidak sekadar memberikan keberkahan pribadi, tetapi juga keberkahan kolektif bagi keluarga dan keturunan.
Kelima, amalan shalih orang tua menjadi tawasul atau stimulus syar’i agar Allah berkenan menjaga anak keturunannya. Hakimuddin mengisahkan Said bin Al-Musayyab, seorang tabi’in yang pernah melebihkan rakaat salat malamnya, lalu berkata kepada anaknya, “Sesungguhnya tadi aku telah menambah salatku, berharap agar Allah senantiasa menjagamu.”
Ia juga menjelaskan tawasul syar’i yang dibenarkan, seperti berdoa dengan membaca asmaul husna dan meminta doa kepada orang-orang alim yang masih hidup. “Orang tua sering tidak pernah capek untuk banting tulang demi menghidupi anak-anaknya. Namun, yang lebih penting, mari kita siapkan investasi akhirat untuk kehidupan anak-anak dengan memperbanyak amalan shalih, yang semoga menjadi keberkahan untuk anak-anak kita kelak,” tutupnya.
Mendidik Anak dengan Kesabaran dalam Perspektif Al-Qur’an
Pendidikan kesabaran (ṣabr) sebagai salah satu nilai fundamental dalam Al-Qur’an sangat penting untuk pengembangan karakter manusia, terutama dalam konteks pendidikan. Pendidikan karakter sebaiknya diterapkan sejak ...
Berkomunikasi di Era Digital: Masihkah Kita Menjaga Etika Al-Qur’an?
Kondisi masyarakat Indonesia yang semakin modern menyebabkan berkembangnya pula teknologi digital. Bersamaan dengan itu teknologi kini bukan hanya menghasilkan sebuah kecanggihan informasi namun menjadi sarana...
Relevansi Tafsir Al-Qur’an dalam Menjawab Krisis Moral Generasi Z
Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, khususnya bagi Generasi Z yang lahir dan tumbuh di tengah kemajuan tersebut....
Ketika Masalah Datang Bertubi-Tubi: Belajar Sabar dari Al-Qur’an
Setiap orang pasti pernah berada pada titik di mana masalah datang silih berganti. Terkadang satu masalah saja sudah cukup membuat seseorang merasa lelah, apalagi jika...
Memahami Al-Qur’an di Era Modern: Pentingnya Pendekatan Kontekstual dalam Kehidupan Kontemporer
Al-Qur’an merupakan hidup bagi umat Islam sepanjang zaman. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak mengatur hubungan manusia dengan tuhan-Nya, tetapi juga mengatur hubungan manusia dalam...
Mengupas Bahasa Langit Secara Membumi: Sebuah Artikel tentang Ilmu Tafsir Al-Qur’an
Daftar IsiApa Itu Ilmu Tafsir?Sejarah Singkat: Dari Lisan Nabi hingga Era DigitalRagam Pendekatan TafsirTafsir di Era Kita: Relevansi di Tengah Laju ZamanTafsir sebagai Perjalanan SpiritualDaftar...
Relevansi Tafsir Kontemporer dalam Isu Kesetaraan Gender
Perkembangan wacana keislaman di era modern menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk memahami Al-Qur’an secara lebih kontekstual. Hal ini terutama terlihat dalam pembahasan isu gender dan...
Membaca Tafsir Al-Qur’an di Era Teknologi: Adaptasi dan Relevansi
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam cara memahami ajaran agama. Salah satu perubahan yang paling signifikan terlihat...
Ketentuan Fidyah dan Qadha Puasa dalam Islam
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Ibadah puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Namun, dalam kondisi tertentu seperti sakit, perjalanan jauh, atau usia lanjut, Islam...
Orang Bertakwa Pasti Meyakini Kebenaran Al-Qur’an
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Puasa Ramadan target utamanya adalah membentuk insan bertakwa. Hal itu disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko...
Mengapa Aku Berpuasa: Refeleksi Ramadan 1447 H
Puasa merupakan salah satu praktik spiritual paling tua dalam sejarah peradaban manusia. Hampir semua tradisi agama mengenal bentuk pengendalian diri melalui pembatasan makan, minum, atau...
Tablig Akbar UMS Soroti Peran Masjid dalam Membangun Kehidupan Warga
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar tablig akbar di Masjid Sudalmiyah Rais, Senin (9/3/2026) sebagai rangkaian dari Gema Kampus Ramadan 1447 H. Kegiatan tersebut menghadirkan...





