Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Kajian Agama

Kajian Tafsir UMS Bahas Sifat Bani Israil dalam Al-Qur’an

Affiq, Editor: Alan Aliarcham
Senin, 12 Januari 2026 14:01 WIB
Kajian Tafsir UMS Bahas Sifat Bani Israil dalam Al-Qur’an
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ilustrasi tafsir Al-Qur'an.

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Menyadari pentingnya memahami kandungan ayat-ayat suci Al-Qur’an untuk meningkatkan kadar spiritualitas hamba. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) hadir dengan menggelar Kajian Tafsir, mengundang pakar dalam bidang tafsir, Ainur Rha’in, untuk mengkaji Surat Al-Baqarah ayat 97-105.

Rha’in mengawali pembahasan dengan menguraikan asbabun nuzul turunnya ayat 97 melalui perspektif Ibn Jarir Ath-Thobari. Menurut Ibn Jarir Ath-Thobari ayat ini turun untuk membantah sikap sebagian kaum yahudi yang menyatakan permusuhan terhadap malaikat jibril. Mereka mengklaim Jibril membawa wahyu yang berisi peperangan dan hukuman.

“Bani Israil membenci Malaikat Jibril, karena Jibril memberikan wahyu kepada Nabi Muhammad, bukan orang dari sukunya. Hal ini juga diadopsi oleh sebagian orang syiah bahwa Jibril seharusnya memberikan wahyu kepada Ali bin Abi Thalib bukan ke Nabi Muhammad”, paparnya Minggu, (11/1/2026).

Ayat ini juga menjelaskan peranan Al-Qur’an untuk legitimasi historis kitab-kitab sebelumnya, Al-Qur’an menolak sifat-sifat Bani Israil yang telah mempermainkan kitab-kitab sebelumnya. Al-Qur’an turun sebagai kabar gembira (jaminan masuk surga) bagi kaum muslim karena Al-Qur’an sebagai petunjuk mereka.

Rha’in sedikit menyinggung Muhammadiyah memiliki istilah hasil dari penafsiran surat Al-Baqarah ayat 97. “Tak layak jika umat mukmin hidup tanpa kebahagiaan, maka Muhammadiyah mempunyai istilah bergembiralah di muhammadiyah yang merupakan manifestasi ayat tersebut”, tambahnya.

Dalam ayat 98 Allah menunjukkan sikap permusuhan terhadap orang yang memusuhi utusan-utusan Allah. Rhain mengatakan ayat ini mengajarkan manusia untuk tidak serta merta menyalahkan Allah Swt., menyalahkan takdir, ataupun menyalahkan malaikat dikala mengalami kesusahan atau ujian.

Ia juga menambahkan umat Muslim harus teguh pendirian untuk memperjuangkan kebenaran. “Kita harus berani membela kebenaran yang haqiqi, ditengah arus deras fitnah melanda kaum muslim saat ini”, tambahnya.

Pada ayat 99 Menjelaskan turunnya Al-Qur’an terdapat banyak sisi kejelasan, beragam bentuk bukti yang menunjukkan kejelasan Al-Qur’an bersifat komprehensif. menurut Rha’in Al-Qur’an merupakan kebenaran yang haqiqi, jika ada orang yang menolaknya merupakan kesalahan moral, buka kesalahan intelektual.

Mudah Ingkar

Lebih lanjut, ayat 100 menunjukkan sifat keburukan Bani Israil yang selalu melekat pada dirinya. Sifat Bani Israil yaitu mudah berjanji dan mudah mengingkari, sifat tersebut merupakan ciri dari orang fasik. Rhain mengatakan fenomena seperti itu sering terjadi ketika kampanye pemilihan pemimpin baru. “Ironis sekali, sifat fasik itu sering terlihat ketika kampanye calon pemimpin baru, mereka sering mengaungkan janji-janjinya, tapi realita kepemimpinannya tidak merealisasikan janji-janji tersebut”, tegasnya.

Di pengujung ayat 100 menunjukkan akar masalah tersebut. Ketiadaan iman yang hakiki menjadi faktor utama. Karena ketiadaan iman menjadikan hamba mudah untuk meninggalkan syariat Allah. Ayat 101 menerangkan tentang penolakan orang-orang yahudi terhadap datangnya nabi Muhammad yang diutus sebagai penyempurna ajaran-ajaran nabi sebelumnya.

“Ironis sekali mereka, padahal mereka telah mengetahui sedari sebelum kedatangan Rasulullah, tapi menolak keras ajaran yang dibawa Rasul.” Menurut Rha’in ayat ini juga memperlihatkan penyebab kehancuran Bani Israil karena meninggalkan kitab suci yang seharusnya dijadikan sebagai rujukan dalam menjalani kehidupan.

Kemudian ayat 102 menceritakan kisah malaikat Harut dan Marut, dua malaikat yang membawa ilmu pengetahuan sebagai ujian (fitnah). hal ini dipertegas dengan pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa harut dan marut merupakan malaikat bukan manusia ataupun setan.

Ayat ini juga membicarakan tentang sihir. Rha’in mendefinisikan sihir yang merupakan sebuah halusinasi manusia yang dibarengi dengan bisikan setan. sihir juga banyak variasi, lantas manusia harus mewaspadai akan hal itu. Menurutnya, sihir yang paling populer di Indonesia yaitu aktivitas meminta sesuatu kepada dukun, yang dipercaya sebagai pemberi segala sesuatu.

Rhain juga memberikan alternatif ruqyah untuk membendung maraknya sihir. Secara etimologis ruqyah berarti bacaan/doa perlindungan. Ruqyah merupakan metode pengobatan yang tidak bertentangan dengan ilmu kedokteran modern, justru kedua ilmu itu kompatibel.

Memasuki ayat 103, mengumpamakan seandainya bani israil beriman dengan penuh keyakinan, maka Allah akan memberikan ganjaran pahala yang melimpah. Namun, mereka acuh akan hal itu. Pada ayat 104 terdapat kesalahan pelafalan Bani Israil dalam raa’ina yang berarti “bodoh sekali”, kesalahan yang disengaja Bani Israil tanpa rasa takut.

Senada dengan itu, Allah memerintahkan orang-orang beriman kala itu untuk menghindari pelafadzan “raa’ina” ketika berbicara dengan nabi. Karena orang-orang yahudi sering memplesetkan kata tersebut. Kata Rha’in ayat ini mengajarkan adab dalam berbicara yang bijak. “Allah mengajarkan kita retorika berbicara melalui ayat tersebut, karena dakwah islam dibangun dengan akhlak dan tutur kata yang baik.”

Mengakhiri kajian, melalui ayat 105 dijelaskan bahwa orang-orang kafir, kaum musyrikin, dan Ahlul Kitab mempunyai rasa iri jika kaum mukmin diberi sebuah kenikmatan. Rasa iri itu tumbuh atas kedengkian dan penolakan batin terhadap kaum mukmin yang relatif lebih disayang Allah.

Berita Terbaru

Membaca Tafsir Al-Qur’an di Era Teknologi: Adaptasi dan Relevansi

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam cara memahami ajaran agama. Salah satu perubahan yang paling signifikan terlihat...

Ketentuan Fidyah dan Qadha Puasa dalam Islam

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Ibadah puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Namun, dalam kondisi tertentu seperti sakit, perjalanan jauh, atau usia lanjut, Islam...

Orang Bertakwa Pasti Meyakini Kebenaran Al-Qur’an

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Puasa Ramadan target utamanya adalah membentuk insan bertakwa. Hal itu disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko...

Mengapa Aku Berpuasa: Refeleksi Ramadan 1447 H

Puasa merupakan salah satu praktik spiritual paling tua dalam sejarah peradaban manusia. Hampir semua tradisi agama mengenal bentuk pengendalian diri melalui pembatasan makan, minum, atau...

Tablig Akbar UMS Soroti Peran Masjid dalam Membangun Kehidupan Warga

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar tablig akbar di Masjid Sudalmiyah Rais, Senin (9/3/2026) sebagai rangkaian dari Gema Kampus Ramadan 1447 H. Kegiatan tersebut menghadirkan...

Masjid Baiturrahman Nusukan Gelar Peringatan Nuzulul Qur’an

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Memasuki pertengahan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Masjid Baiturrahman, Cangakan, Nusukan Banjarsari, menggelar Pengajian Nuzulul Qur’an pada Sabtu (7/3/2026). Kegiatan Nuzulul Quran...

Belajar Metode Pendidikan Islam Ala Luqman Al-Hakim dalam Surat Luqman Ayat 13

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Dalam sejarah Islam terdapat sosok pendidik karakter inspiratif. Luqman Al-Hakim namanya, ceritanya dijelaskan secara komprehensif dalam Al-Qur’an pada surat Luqman. Dosen Ilmu Qur’an dan...

Puasa : Regulasi Diri dan Etika Digital

Puasa Ramadan merupakan ibadah wajib bagi umat Islam yang tidak hanya berdimensi ritual, tetapi juga memiliki makna psikologis dan sosial yang mendalam. Di sisi lain,...

Di Meja Berbuka, Kita Menyulam Cinta dan Takwa

Ramadan di Indonesia selalu menghadirkan wajah yang khas. Ia bukan hanya bulan ibadah individual seperti puasa, tarawih, dan tilawah, tetapi juga ruang sosial yang hidup....

Meneropong Sejarah Perubahan Kiblat dan Konsep Umat Wasathan

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Sejarah perubahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah dijelaskan dalam QS Al-Baqarah. Dosen Ilmu Quran dan Tafsir (IQT) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah...

Ramadan Berdaya, Kuliah Subuh Desa Demangan Bangkitkan Spirit Kepedulian

BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Suasana Subuh di Masjid Desa Demangan Sambi Boyolali terasa lebih hidup dan khidmat. Ratusan jamaah memadati saf untuk mengikuti Kuliah Subuh bertema “Ramadhan Berdaya,...

Tarhib Ramadan Masjid Al-Jannah Tegalgiri, Wayang Golek Pitutur Kupas Keutamaan Bulan Suci

BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Masjid Al-Jannah Dukuh Kajar, Tegalgiri, Nogosari menggelar kegiatan Tarhib Ramadan yang dikemas melalui pagelaran Wayang Golek Pitutur, Sabtu (14/2/2026) malam. Kegiatan dalam rangka menyambut...