Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Kajian Agama

Tafsir atau Tafsir-Tafsir-an? Bahaya Belajar Agama Tanpa Guru di Era Digital

Tanjung Alicia Khadijah, Editor: Sholahuddin
Jumat, 8 Mei 2026 13:50 WIB
Tafsir atau Tafsir-Tafsir-an? Bahaya Belajar Agama Tanpa Guru di Era Digital
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ilustrasi Tafsir Al-Qur'an [https://chatgpt.com]

Ada satu perubahan yang pelan-pelan terjadi dalam cara manusia memahami agama—dan sering kali luput disadari.

Hari ini, belajar agama terasa semakin mudah. Cukup membuka TikTok, menggulir layar beberapa detik, lalu satu ayat terasa sudah dipahami. Beralih ke Instagram, menemukan potongan hadis yang menyentuh, lalu disimpan dan diyakini. Di YouTube, ceramah singkat ditonton, dan entah mengapa terasa sudah cukup.

Di titik ini, muncul satu pertanyaan penting: apakah yang dipahami benar-benar ilmu, atau sekadar sesuatu yang terasa benar?

Dulu, belajar agama bukan sesuatu yang instan. Ada proses yang dijalani dengan perlahan—datang, duduk, mendengar, lalu merenungkan. Ada bimbingan, ada sanad, ada arah yang dijaga. Ilmu tidak hanya diterima, tetapi juga dituntun.

Kini, segalanya menjadi cepat—terlalu cepat. Dan yang serba cepat itu sering kali tidak memberi ruang bagi kedalaman.

Media sosial memang membuka akses yang luas. Namun, sebagaimana dijelaskan oleh Ahmad Nurrohim, kemudahan ini juga membawa risiko besar berupa distorsi makna agama akibat pemahaman yang parsial (Nurrohim, 2025). Ayat dipotong, makna dipadatkan, dan kesimpulan dilompatkan.

Padahal Al-Qur’an sendiri telah memberi peringatan yang sangat tegas:
“Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain?” (QS. Al-Baqarah: 85).

Ayat ini seperti cermin yang memantulkan realitas hari ini—ketika sebagian ayat diambil karena terasa cocok, sementara bagian lain diabaikan. Di sinilah bahaya itu bermula.

Pemahaman yang dibangun dari potongan tidak pernah benar-benar utuh. Dan sesuatu yang tidak utuh sangat mudah disalahartikan.

Dalam kajian lain, Ahmad Nurrohim juga menegaskan bahwa literasi keagamaan di era digital masih lemah, sehingga banyak orang menerima informasi tanpa verifikasi yang cukup (Nurrohim, 2024). Apa yang terlihat meyakinkan sering kali langsung dianggap benar.

Di era ini, siapa saja bisa berbicara dan menafsirkan. Namun, tidak semua memiliki dasar yang cukup. Padahal Al-Qur’an telah memberi arah yang jelas:
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl: 43).

Ini bukan sekadar anjuran, melainkan prinsip. Bahwa dalam memahami agama, ada otoritas keilmuan yang harus dijaga.

Sayangnya, yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Banyak orang merasa cukup belajar dari apa yang muncul di layar. Seolah-olah algoritma bisa menggantikan bimbingan.

Padahal, menurut Ahmad Nurrohim, tafsir tidak bisa dilepaskan dari metodologi dan otoritas keilmuan. Tanpa itu, makna bisa bergeser jauh dari maksud aslinya (Nurrohim, 2019).

Al-Qur’an kembali mengingatkan: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui ilmunya…” (QS. Al-Isra: 36).

Ayat ini menjadi garis batas—bahwa tidak semua yang viral layak diikuti. Karena pada akhirnya, agama bukan tentang apa yang terasa benar, tetapi tentang apa yang memang benar.

Fenomena ini juga membawa dampak yang lebih luas. Kesalahan pemahaman tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi bisa menyebar ke banyak orang. Ahmad Nurrohim dalam salah satu kajiannya menunjukkan bagaimana penyebaran makna jihad yang keliru di media sosial dapat membentuk pemahaman yang menyimpang (Nurrohim, 2023).

Al-Qur’an menggambarkan hal ini dengan sangat serius:  “…dan mereka memikul dosa-dosa orang yang mereka sesatkan…” (QS. An-Nahl: 25).

Di titik ini, persoalannya tidak lagi sederhana. Ini bukan hanya tentang salah paham, tetapi tentang tanggung jawab.  Namun demikian, media sosial bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan. Ia tetap bisa menjadi jalan menuju kebaikan. Bahkan, Ahmad Nurrohim juga menegaskan bahwa digitalisasi membuka peluang besar dalam pengembangan studi Islam, selama diiringi dengan pemahaman yang benar (Nurrohim, 2025).

Masalahnya bukan pada akses, melainkan pada kedalaman. Sering kali, proses belajar berhenti di permukaan. Padahal Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan pemahaman yang instan: “Agar mereka men-tadabburi ayat-ayatnya…” (QS. Shad: 29).

Masuk Lebih Dalam

Tadabbur berarti masuk lebih dalam—tidak berhenti di arti, tetapi mencari makna.  Di sinilah letak perbedaannya: antara sekadar tahu dan benar-benar paham.  Belajar agama tanpa bimbingan bukan hanya berisiko kehilangan arah. Yang lebih berbahaya, arah yang salah sering kali tidak disadari—karena terasa benar, terasa cukup, dan terasa meyakinkan.  Padahal belum tentu.

Karena itu, mungkin yang dibutuhkan hari ini bukan lebih banyak konten, tetapi lebih banyak kesadaran: kesadaran untuk tidak langsung percaya, untuk mencari sumber yang jelas, dan untuk mengakui bahwa memahami agama adalah proses panjang.

Pada akhirnya, setiap orang memang sedang belajar.

Namun pertanyaannya tetap sama: yang dipahami hari ini—benar-benar tafsir, atau hanya tafsir-tafsir-an?

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta

Berita Terbaru

Pengajian Aisyiyah Kampung Sewu, Jatmiko Ingatkan Ketakwaan sebagai Solusi Langit

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Dwi Jatmiko, menyampaikan pesan mendalam tentang ketakwaan sebagai solusi atas setiap persoalan hidup dalam...

Pengajian di Masjid Darul Hayat Solo, Mubaligh Muhammadiyah: Bersyukur Itu Ibadah 24 Jam

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Cabang Solo Utara, Dwi Jatmiko, menyampaikan pengajian bertema “Charging Power Ketakwaan” di Masjid Darul Hayat Banyuanyar RT...

Bukan Sekadar Harta, Ini Warisan Terbaik Orang Tua Menurut Tafsir Al-Kahfi Ayat 82

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Orang tua kerap bersusah payah demi kebaikan hidup anaknya, rela bekerja keras pagi hingga malam demi menyiapkan kenyamanan hidup anak. Namun dalam...

Mendidik Anak dengan Kesabaran dalam Perspektif Al-Qur’an

Pendidikan  kesabaran  (ṣabr)  sebagai  salah  satu  nilai  fundamental  dalam  Al-Qur’an  sangat penting   untuk   pengembangan   karakter   manusia,   terutama   dalam   konteks   pendidikan. Pendidikan  karakter  sebaiknya  diterapkan  sejak ...

Berkomunikasi di Era Digital: Masihkah Kita Menjaga Etika Al-Qur’an?

Kondisi masyarakat Indonesia yang semakin modern menyebabkan berkembangnya pula teknologi digital. Bersamaan dengan itu teknologi kini bukan hanya menghasilkan sebuah kecanggihan informasi namun menjadi sarana...

Relevansi Tafsir Al-Qur’an dalam Menjawab Krisis Moral Generasi Z

Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, khususnya bagi Generasi Z yang lahir dan tumbuh di tengah kemajuan tersebut....

Ketika Masalah Datang Bertubi-Tubi: Belajar Sabar dari Al-Qur’an

Setiap orang pasti pernah berada pada titik di mana masalah datang silih berganti. Terkadang satu masalah saja sudah cukup membuat seseorang merasa lelah, apalagi jika...

Memahami Al-Qur’an di Era Modern: Pentingnya Pendekatan Kontekstual dalam Kehidupan Kontemporer

Al-Qur’an merupakan hidup bagi umat Islam sepanjang zaman. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak mengatur hubungan manusia dengan tuhan-Nya, tetapi juga mengatur hubungan manusia dalam...

Mengupas Bahasa Langit Secara Membumi: Sebuah Artikel tentang Ilmu Tafsir Al-Qur’an

Daftar IsiApa Itu Ilmu Tafsir?Sejarah Singkat: Dari Lisan Nabi hingga Era DigitalRagam Pendekatan TafsirTafsir di Era Kita: Relevansi di Tengah Laju ZamanTafsir sebagai Perjalanan SpiritualDaftar...

Relevansi Tafsir Kontemporer dalam Isu Kesetaraan Gender

Perkembangan wacana keislaman di era modern menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk memahami Al-Qur’an secara lebih kontekstual. Hal ini terutama terlihat dalam pembahasan isu gender dan...

Membaca Tafsir Al-Qur’an di Era Teknologi: Adaptasi dan Relevansi

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam cara memahami ajaran agama. Salah satu perubahan yang paling signifikan terlihat...

Ketentuan Fidyah dan Qadha Puasa dalam Islam

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Ibadah puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Namun, dalam kondisi tertentu seperti sakit, perjalanan jauh, atau usia lanjut, Islam...