Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Kajian Agama

Mendidik Anak dengan Kesabaran dalam Perspektif Al-Qur’an

Shofi Layliyatul Hamidah, Editor: Sholahuddin
Minggu, 12 April 2026 11:47 WIB
Mendidik Anak dengan Kesabaran dalam Perspektif Al-Qur’an

Pendidikan  kesabaran  (ṣabr)  sebagai  salah  satu  nilai  fundamental  dalam  Al-Qur’an  sangat penting   untuk   pengembangan   karakter   manusia,   terutama   dalam   konteks   pendidikan. Pendidikan  karakter  sebaiknya  diterapkan  sejak  usia  kanak-kanak  atau  yang  biasa  disebut  usia emas  (golden  age), karena  usia  ini  terbukti  sangat  menentukan  kemampuan  anak  dalam mengembangkan potensinya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50 persen variabilitas kecerdasan  orang  dewasa  sudah  terjadi  ketika  anak  berusia  4  tahun. Peningkatan  30  persen berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20 persen sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Sebaiknya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak.

Pentingnya keseimbangan antara pendidikan agama dan pendidikan akademis yang harus ditanamkan sejak dini merupakan tanggung jawab bersama dalam mengedepankan etika yang luhur dan berpengetahuan (M. I. Nurrohim dkk. 2025). Melatih anak untuk memiliki kepribadian atau karakter yang baik tidaklah mudah, tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Perlu proses, kesabaran, ketelitian, usaha dan tanggung jawab bersama antara sekolah dan keluarga dalam membangun karakter bangsa dengan menyeimbangkan pendidikan akademis dan pendidikan beragama. Upaya ini dimulai sejak usia dini agar anak menjadi manusia yang berilmu, bertakwa dan berakhlak mulia siap menghadapi perubahan zaman (Ahmad Nurrohim dkk. 2025). Dalam konteks ini, kesabaran menjadi kunci utama dalam proses pendidikan anak.  Sabar  merupakan  konsep  penting  dalam  keagamaan,  terutama  dalam  konteks  Islam.  Secara bahasa,  sabar  diambil  dari  kata  dasar  yang  berarti  menahan  atau  mengendalikan.  Dalam  berbagai literatur,  sabar  sering  kali  dipahami  sebagai  kemampuan  seseorang  untuk  menahan  diri  dari  segala bentuk guncangan atau cobaan yang dihadapi dalam kehidupannya.

Al-Qur’an memberikan perhatian besar terhadap nilai sabar sebagai fondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 153. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ    اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah[2]:153).

Ayat ini menunjukkan bahwa kesabaran merupakan kekuatan spiritual yang menghubungkan manusia dengan pertolongan Allah Swt. (Hayati 2025)

Dalam konteks qur’ani, sabar memiliki makna yang lebih dalam dan luas, sering kali dihubungkan dengan ketahanan mental dan spiritual, serta  kepatuhan  kepada  Allah  dalam  melaksanakan  perintah-Nya  dan menjauhi  larangan-Nya (A. Nurrohim 2016). Hal ini sejalan dengan definisi yang dijelaskan oleh Imam Ghazali yang menyatakan bahwa sabar adalah kekuatan hati dalam menghadapi godaan dan tantangan, serta tindakan yang dilakukan dalam rangka memenuhi tuntutan agama.

Dalam konteks pendidikan, dimensi pendidikan sabar dapat diidentifikasi melalui dimensi  memberikan  perspektif  unik  dalam  memahami  sabar  sebagai  suatu  karakter  yang penting dalam pendidikan. Sabar  juga  berperan sebagai  bagian  dari  pendidikan  moral  yang  berupaya  untuk  menjadikan  individu  lebih  baik  dalam menjaga  hubungan  interpersonal.

Dari  sudut  pandang  parenting,  dimensi  sabar  juga  dieksplorasi  dalam  penelitian  oleh  Sofyan yang  membahas  konsep   mindful  parenting.  Dalam  konteks  ini,  sabar  berfungsi  sebagai  pilar pengasuhan  yang  membentuk  komunikasi  efektif  antara  orang  tua  dan  anak,  yang  pada  gilirannya mendukung perkembangan karakter anak (Sofyan, 2019).

Melalui kesadaran penuh saat mendidik dan berinteraksi  dengan  anak,  orang  tua  dapat  menanamkan  sikap  sabar  sebagai  bagian  dari  proses pembelajaran. Akhirnya, dalam  konteks  yang  lebih  luas,  nilai-nilai  yang  tercantum  dalam  literatur  Islam menggarisbawahi  pentingnya  sabar  dalam  pendidikan. Pendidikan  karakter berbasis nilai-nilai Islam mencakup berbagai aspek akhlak terhadap Allah dan sesama, di mana sabar termasuk di dalamnya sebagai nilai kunci untuk membangun umat yang berkarakter (Hamim et al., 2021). Secara    keseluruhan, dimensi pendidikan sabar  mencakup hubungan dengan Tuhan, pengendalian diri,  serta interaksi sosial yang positif.

Hal ini selaras dengan hadis Nabi Muhammad Saw. yang menekankan pentingnya pengasuhan yang mendidik anak sesuai dengan perkembangan zamannya karena anak dilahirkan adalah fitrah,  “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (M. Bukhari, 2001). Dalam kaitannya dengan dunia digital, orang tua dituntut untuk mengembangkan strategi pengasuhan yang adaptif terhadap teknologi, namun tetap berpijak pada nilai-nilai Islam yang kokoh sehingga fitrah anak tetap terjaga.

Keseimbangan pola komunikasi antara ayah dan ibu memainkan peran besar dalam pembentukan karakter anak (M. I. Nurrohim dkk. 2025). Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, pendidikan karakter islami menjadi sangat penting untuk membentengi anak dari pengaruh negatif. Kesabaran bukan hanya menjadi metode dalam mendidik, tetapi juga tujuan yang ingin dicapai. Anak yang tumbuh dengan nilai kesabaran akan lebih mampu mengendalikan diri, tidak mudah putus asa, dan memiliki ketahanan mental yang kuat.

Terutama di era globalisasi yang semakin berkembang pesat seperti sekarang ini, membentuk budi pekerti luhur untuk generasi muda Muslim bukanlah hal yang mudah. Nilai-nilai agama yang suci seringkali tergerus oleh pengaruh budaya asing dan gaya hidup yang tidak sejalan dengan ajaran agama Islam. Oleh karena itu, menanamkan karakter Islami pada anak-anak sejak kecil menjadi sangat krusial (Ahmad Nurrohim dkk. 2025).

Dengan demikian, mendidik anak dengan kesabaran dalam perspektif Al-Qur’an merupakan upaya strategis dalam membentuk generasi yang berkarakter Islami. Nilai-nilai yang diajarkan Al-Qur’an terbukti tetap relevan sepanjang zaman, termasuk dalam menghadapi tantangan era digital saat ini. Kesabaran bukan hanya kunci keberhasilan dalam pendidikan, tetapi juga fondasi utama dalam membangun kehidupan yang harmonis dan penuh keberkahan.

Penulis adalah mahasiswaa Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta

Berita Terbaru

Berkomunikasi di Era Digital: Masihkah Kita Menjaga Etika Al-Qur’an?

Kondisi masyarakat Indonesia yang semakin modern menyebabkan berkembangnya pula teknologi digital. Bersamaan dengan itu teknologi kini bukan hanya menghasilkan sebuah kecanggihan informasi namun menjadi sarana...

Relevansi Tafsir Al-Qur’an dalam Menjawab Krisis Moral Generasi Z

Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, khususnya bagi Generasi Z yang lahir dan tumbuh di tengah kemajuan tersebut....

Ketika Masalah Datang Bertubi-Tubi: Belajar Sabar dari Al-Qur’an

Setiap orang pasti pernah berada pada titik di mana masalah datang silih berganti. Terkadang satu masalah saja sudah cukup membuat seseorang merasa lelah, apalagi jika...

Memahami Al-Qur’an di Era Modern: Pentingnya Pendekatan Kontekstual dalam Kehidupan Kontemporer

Al-Qur’an merupakan hidup bagi umat Islam sepanjang zaman. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak mengatur hubungan manusia dengan tuhan-Nya, tetapi juga mengatur hubungan manusia dalam...

Mengupas Bahasa Langit Secara Membumi: Sebuah Artikel tentang Ilmu Tafsir Al-Qur’an

Daftar IsiApa Itu Ilmu Tafsir?Sejarah Singkat: Dari Lisan Nabi hingga Era DigitalRagam Pendekatan TafsirTafsir di Era Kita: Relevansi di Tengah Laju ZamanTafsir sebagai Perjalanan SpiritualDaftar...

Relevansi Tafsir Kontemporer dalam Isu Kesetaraan Gender

Perkembangan wacana keislaman di era modern menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk memahami Al-Qur’an secara lebih kontekstual. Hal ini terutama terlihat dalam pembahasan isu gender dan...

Membaca Tafsir Al-Qur’an di Era Teknologi: Adaptasi dan Relevansi

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam cara memahami ajaran agama. Salah satu perubahan yang paling signifikan terlihat...

Ketentuan Fidyah dan Qadha Puasa dalam Islam

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Ibadah puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Namun, dalam kondisi tertentu seperti sakit, perjalanan jauh, atau usia lanjut, Islam...

Orang Bertakwa Pasti Meyakini Kebenaran Al-Qur’an

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Puasa Ramadan target utamanya adalah membentuk insan bertakwa. Hal itu disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko...

Mengapa Aku Berpuasa: Refeleksi Ramadan 1447 H

Puasa merupakan salah satu praktik spiritual paling tua dalam sejarah peradaban manusia. Hampir semua tradisi agama mengenal bentuk pengendalian diri melalui pembatasan makan, minum, atau...

Tablig Akbar UMS Soroti Peran Masjid dalam Membangun Kehidupan Warga

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar tablig akbar di Masjid Sudalmiyah Rais, Senin (9/3/2026) sebagai rangkaian dari Gema Kampus Ramadan 1447 H. Kegiatan tersebut menghadirkan...

Masjid Baiturrahman Nusukan Gelar Peringatan Nuzulul Qur’an

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Memasuki pertengahan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Masjid Baiturrahman, Cangakan, Nusukan Banjarsari, menggelar Pengajian Nuzulul Qur’an pada Sabtu (7/3/2026). Kegiatan Nuzulul Quran...