Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Kajian Agama

Kupas Tafsir Surat An-Naba: Bukti Keagungan Allah dan Relevansinya dengan Sains Modern

Yusuf, Editor: Alan Aliarcham
Jumat, 16 Mei 2025 13:48 WIB
Kupas Tafsir Surat An-Naba: Bukti Keagungan Allah dan Relevansinya dengan Sains Modern
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Ainur Rha’in. (Humas)

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Surat An-Naba mengandung pesan penting yang membahas tiga inti pokok, yakni konsekuensi bagi orang kafir yang mengingkari hari kiamat, kehebatan penciptaan alam semesta, serta gambaran kengerian neraka dan kenikmatan surga.

Ketiga inti tersebut disampaikan oleh Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Ainur Rha’in. “Surat ini juga dikenal dengan beberapa nama lain seperti Surat ‘Amma, At-Tasaul, dan Al-Mukhsirat,” kata Ainur dalam mengawali pembahasan, Jumat, (16/5/2025).

Ainur menyampaikan turunnya surat ini dilatarbelakangi oleh perdebatan dan pertanyaan kaum kafir Quraisy tentang kebenaran hari kiamat. Mereka berselisih dan mempertanyakan kebangkitan setelah kematian karena tidak mempercayai risalah Nabi Muhammad dan wahyu yang dibawanya.

Dalam hal ini, Al-Qur’an menegaskan bahwa perdebatan tanpa dasar ilmu hanya akan menimbulkan kebencian. Ia mengutip pendapat beberapa ulama tafsir, seperti Imam Mujahid yang menyebut bahwa “An-Naba’ Al-‘Adzim” (berita besar) adalah Al-Qur’an itu sendiri.

Sementara menurut Qatadah, yang dimaksud adalah hari kiamat. Maka, Allah menegur orang-orang kafir dengan ungkapan “Kalla saya’lamun”, artinya mereka kelak akan mengetahui kebenaran itu dengan mata kepala mereka sendiri.

Analogi Ilmiah

Masuk ke ayat-ayat selanjutnya, Ainur mengulas bagaimana Allah memberikan analogi ilmiah untuk menyadarkan kaum kafir. “Coba perhatikan bumi. Bukankah Aku telah menjadikannya hamparan?” Ayat ini menggunakan kata kerja “naja‘ala” yang menunjukkan proses bertahap menjadikan bumi layak dihuni selama miliaran tahun, bukan sekadar menciptakan secara instan.

Lebih lanjut, ia mengupas makna kata ‘mihada’, yang berarti tempat tidur atau tempat tinggal yang nyaman. Hal ini memperlihatkan bahwa bumi dirancang dengan sempurna untuk menunjang kehidupan manusia, termasuk dengan diciptakannya gunung sebagai pasak bumi dan penyeimbang ekosistem.

Dalam perspektif sains, dijelaskan bahwa gunung memiliki peran vital sebagai penyedia air, ventilasi bumi untuk keluarnya magma, serta tempat tinggal bagi flora dan fauna. “Hanya Al-Qur’an satu-satunya kitab suci yang berani berbicara secara ilmiah dan mampu dibuktikan melalui ilmu pengetahuan modern,” tegasnya.

Dosen UMS itu juga menyampaikan bahwa Allah menciptakan makhluk hidup secara berpasang-pasangan, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Ia menekankan bahwa keberpasangan ini juga menjadi argumen teologis sekaligus kritik terhadap penyimpangan seksual seperti LGBT. “Kita wajib menghormati manusia, tetapi bukan berarti membenarkan penyimpangan,” ujarnya.

Selanjutnya, Ia menjelaskan makna tidur dan malam dalam Al-Qur’an sebagai bentuk istirahat dan perlindungan. Malam digambarkan seperti pakaian (libas), yang menyelimuti, menenangkan, dan melindungi tubuh serta saraf dari kelelahan. “Tidur pada malam hari adalah waktu terbaik untuk metabolisme dan pembuangan racun,” ujarnya mengutip Tafsir Ibn ‘Ashur.

Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Ainur Rha’in.
Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Ainur Rha’in. (Humas)

Siang hari, lanjut Ainur, merupakan waktu yang Allah ciptakan untuk mencari kehidupan (ma‘asha). Hal ini selaras dengan fitrah manusia dan makhluk hidup lainnya yang secara naluriah bekerja dan beraktivitas di siang hari, tanpa perlu diajarkan secara formal.

Lebih lanjut, Ia membahas penciptaan langit yang kokoh sebanyak tujuh lapis. Ini menunjukkan kekuasaan Allah yang menciptakan struktur langit seperti bangunan yang kuat dan tinggi. Meskipun belum ada teknologi manusia yang dapat menembus lapisan langit pertama, Rasulullah SAW telah mengalaminya dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.

Penjelasan terakhir berkaitan dengan matahari sebagai pelita (sirajan wahhaja). Ia menerangkan kata ‘wahhaja’ menggambarkan pijaran panas yang sangat hebat, sesuai dengan karakteristik matahari yang memiliki suhu sekitar 15 juta derajat Celcius. Hal ini membuktikan bahwa deskripsi Al-Qur’an sangat presisi secara ilmiah.

Sebagai penutup, Ainur menjelaskan tentang hujan yang berasal dari awan (mukhsirat), yaitu jenis awan yang mengandung gumpalan air. Dari hujan itulah tumbuh berbagai tanaman dan kebun yang rindang.

“Ini adalah ayat-ayat kauniyah yang menunjukkan bahwa alam adalah laboratorium keimanan,” pungkas Ainur saat menjadi Pembicara di Kajian Tafsir Al-Qur’an UMS yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting. Kajian yang telah berlangsung pada Kamis, (15/5/2025) itu diinisiasi Biro Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) UMS.

Berita Terbaru

Pengajian di Masjid Darul Hayat Solo, Mubaligh Muhammadiyah: Bersyukur Itu Ibadah 24 Jam

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Cabang Solo Utara, Dwi Jatmiko, menyampaikan pengajian bertema “Charging Power Ketakwaan” di Masjid Darul Hayat Banyuanyar RT...

Bukan Sekadar Harta, Ini Warisan Terbaik Orang Tua Menurut Tafsir Al-Kahfi Ayat 82

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Orang tua kerap bersusah payah demi kebaikan hidup anaknya, rela bekerja keras pagi hingga malam demi menyiapkan kenyamanan hidup anak. Namun dalam...

Mendidik Anak dengan Kesabaran dalam Perspektif Al-Qur’an

Pendidikan  kesabaran  (ṣabr)  sebagai  salah  satu  nilai  fundamental  dalam  Al-Qur’an  sangat penting   untuk   pengembangan   karakter   manusia,   terutama   dalam   konteks   pendidikan. Pendidikan  karakter  sebaiknya  diterapkan  sejak ...

Berkomunikasi di Era Digital: Masihkah Kita Menjaga Etika Al-Qur’an?

Kondisi masyarakat Indonesia yang semakin modern menyebabkan berkembangnya pula teknologi digital. Bersamaan dengan itu teknologi kini bukan hanya menghasilkan sebuah kecanggihan informasi namun menjadi sarana...

Relevansi Tafsir Al-Qur’an dalam Menjawab Krisis Moral Generasi Z

Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, khususnya bagi Generasi Z yang lahir dan tumbuh di tengah kemajuan tersebut....

Ketika Masalah Datang Bertubi-Tubi: Belajar Sabar dari Al-Qur’an

Setiap orang pasti pernah berada pada titik di mana masalah datang silih berganti. Terkadang satu masalah saja sudah cukup membuat seseorang merasa lelah, apalagi jika...

Memahami Al-Qur’an di Era Modern: Pentingnya Pendekatan Kontekstual dalam Kehidupan Kontemporer

Al-Qur’an merupakan hidup bagi umat Islam sepanjang zaman. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak mengatur hubungan manusia dengan tuhan-Nya, tetapi juga mengatur hubungan manusia dalam...

Mengupas Bahasa Langit Secara Membumi: Sebuah Artikel tentang Ilmu Tafsir Al-Qur’an

Daftar Isi Apa Itu Ilmu Tafsir? Sejarah Singkat: Dari Lisan Nabi hingga Era Digital Ragam Pendekatan Tafsir Tafsir di Era Kita: Relevansi di Tengah Laju...

Relevansi Tafsir Kontemporer dalam Isu Kesetaraan Gender

Perkembangan wacana keislaman di era modern menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk memahami Al-Qur’an secara lebih kontekstual. Hal ini terutama terlihat dalam pembahasan isu gender dan...

Membaca Tafsir Al-Qur’an di Era Teknologi: Adaptasi dan Relevansi

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam cara memahami ajaran agama. Salah satu perubahan yang paling signifikan terlihat...

Ketentuan Fidyah dan Qadha Puasa dalam Islam

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Ibadah puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Namun, dalam kondisi tertentu seperti sakit, perjalanan jauh, atau usia lanjut, Islam...

Orang Bertakwa Pasti Meyakini Kebenaran Al-Qur’an

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Puasa Ramadan target utamanya adalah membentuk insan bertakwa. Hal itu disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko...