
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Surat An-Naba mengandung pesan penting yang membahas tiga inti pokok, yakni konsekuensi bagi orang kafir yang mengingkari hari kiamat, kehebatan penciptaan alam semesta, serta gambaran kengerian neraka dan kenikmatan surga.
Ketiga inti tersebut disampaikan oleh Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Ainur Rha’in. “Surat ini juga dikenal dengan beberapa nama lain seperti Surat ‘Amma, At-Tasaul, dan Al-Mukhsirat,” kata Ainur dalam mengawali pembahasan, Jumat, (16/5/2025).
Ainur menyampaikan turunnya surat ini dilatarbelakangi oleh perdebatan dan pertanyaan kaum kafir Quraisy tentang kebenaran hari kiamat. Mereka berselisih dan mempertanyakan kebangkitan setelah kematian karena tidak mempercayai risalah Nabi Muhammad dan wahyu yang dibawanya.
Dalam hal ini, Al-Qur’an menegaskan bahwa perdebatan tanpa dasar ilmu hanya akan menimbulkan kebencian. Ia mengutip pendapat beberapa ulama tafsir, seperti Imam Mujahid yang menyebut bahwa “An-Naba’ Al-‘Adzim” (berita besar) adalah Al-Qur’an itu sendiri.
Sementara menurut Qatadah, yang dimaksud adalah hari kiamat. Maka, Allah menegur orang-orang kafir dengan ungkapan “Kalla saya’lamun”, artinya mereka kelak akan mengetahui kebenaran itu dengan mata kepala mereka sendiri.
Analogi Ilmiah
Masuk ke ayat-ayat selanjutnya, Ainur mengulas bagaimana Allah memberikan analogi ilmiah untuk menyadarkan kaum kafir. “Coba perhatikan bumi. Bukankah Aku telah menjadikannya hamparan?” Ayat ini menggunakan kata kerja “naja‘ala” yang menunjukkan proses bertahap menjadikan bumi layak dihuni selama miliaran tahun, bukan sekadar menciptakan secara instan.
Lebih lanjut, ia mengupas makna kata ‘mihada’, yang berarti tempat tidur atau tempat tinggal yang nyaman. Hal ini memperlihatkan bahwa bumi dirancang dengan sempurna untuk menunjang kehidupan manusia, termasuk dengan diciptakannya gunung sebagai pasak bumi dan penyeimbang ekosistem.
Dalam perspektif sains, dijelaskan bahwa gunung memiliki peran vital sebagai penyedia air, ventilasi bumi untuk keluarnya magma, serta tempat tinggal bagi flora dan fauna. “Hanya Al-Qur’an satu-satunya kitab suci yang berani berbicara secara ilmiah dan mampu dibuktikan melalui ilmu pengetahuan modern,” tegasnya.
Dosen UMS itu juga menyampaikan bahwa Allah menciptakan makhluk hidup secara berpasang-pasangan, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Ia menekankan bahwa keberpasangan ini juga menjadi argumen teologis sekaligus kritik terhadap penyimpangan seksual seperti LGBT. “Kita wajib menghormati manusia, tetapi bukan berarti membenarkan penyimpangan,” ujarnya.
Selanjutnya, Ia menjelaskan makna tidur dan malam dalam Al-Qur’an sebagai bentuk istirahat dan perlindungan. Malam digambarkan seperti pakaian (libas), yang menyelimuti, menenangkan, dan melindungi tubuh serta saraf dari kelelahan. “Tidur pada malam hari adalah waktu terbaik untuk metabolisme dan pembuangan racun,” ujarnya mengutip Tafsir Ibn ‘Ashur.

Siang hari, lanjut Ainur, merupakan waktu yang Allah ciptakan untuk mencari kehidupan (ma‘asha). Hal ini selaras dengan fitrah manusia dan makhluk hidup lainnya yang secara naluriah bekerja dan beraktivitas di siang hari, tanpa perlu diajarkan secara formal.
Lebih lanjut, Ia membahas penciptaan langit yang kokoh sebanyak tujuh lapis. Ini menunjukkan kekuasaan Allah yang menciptakan struktur langit seperti bangunan yang kuat dan tinggi. Meskipun belum ada teknologi manusia yang dapat menembus lapisan langit pertama, Rasulullah SAW telah mengalaminya dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.
Penjelasan terakhir berkaitan dengan matahari sebagai pelita (sirajan wahhaja). Ia menerangkan kata ‘wahhaja’ menggambarkan pijaran panas yang sangat hebat, sesuai dengan karakteristik matahari yang memiliki suhu sekitar 15 juta derajat Celcius. Hal ini membuktikan bahwa deskripsi Al-Qur’an sangat presisi secara ilmiah.
Sebagai penutup, Ainur menjelaskan tentang hujan yang berasal dari awan (mukhsirat), yaitu jenis awan yang mengandung gumpalan air. Dari hujan itulah tumbuh berbagai tanaman dan kebun yang rindang.
“Ini adalah ayat-ayat kauniyah yang menunjukkan bahwa alam adalah laboratorium keimanan,” pungkas Ainur saat menjadi Pembicara di Kajian Tafsir Al-Qur’an UMS yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting. Kajian yang telah berlangsung pada Kamis, (15/5/2025) itu diinisiasi Biro Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) UMS.
Orang Bertakwa Pasti Meyakini Kebenaran Al-Qur’an
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Puasa Ramadan target utamanya adalah membentuk insan bertakwa. Hal itu disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko...
Mengapa Aku Berpuasa: Refeleksi Ramadan 1447 H
Puasa merupakan salah satu praktik spiritual paling tua dalam sejarah peradaban manusia. Hampir semua tradisi agama mengenal bentuk pengendalian diri melalui pembatasan makan, minum, atau...
Tablig Akbar UMS Soroti Peran Masjid dalam Membangun Kehidupan Warga
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar tablig akbar di Masjid Sudalmiyah Rais, Senin (9/3/2026) sebagai rangkaian dari Gema Kampus Ramadan 1447 H. Kegiatan tersebut menghadirkan...
Masjid Baiturrahman Nusukan Gelar Peringatan Nuzulul Qur’an
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Memasuki pertengahan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Masjid Baiturrahman, Cangakan, Nusukan Banjarsari, menggelar Pengajian Nuzulul Qur’an pada Sabtu (7/3/2026). Kegiatan Nuzulul Quran...
Belajar Metode Pendidikan Islam Ala Luqman Al-Hakim dalam Surat Luqman Ayat 13
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Dalam sejarah Islam terdapat sosok pendidik karakter inspiratif. Luqman Al-Hakim namanya, ceritanya dijelaskan secara komprehensif dalam Al-Qur’an pada surat Luqman. Dosen Ilmu Qur’an dan...
Puasa : Regulasi Diri dan Etika Digital
Puasa Ramadan merupakan ibadah wajib bagi umat Islam yang tidak hanya berdimensi ritual, tetapi juga memiliki makna psikologis dan sosial yang mendalam. Di sisi lain,...
Di Meja Berbuka, Kita Menyulam Cinta dan Takwa
Ramadan di Indonesia selalu menghadirkan wajah yang khas. Ia bukan hanya bulan ibadah individual seperti puasa, tarawih, dan tilawah, tetapi juga ruang sosial yang hidup....
Meneropong Sejarah Perubahan Kiblat dan Konsep Umat Wasathan
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Sejarah perubahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah dijelaskan dalam QS Al-Baqarah. Dosen Ilmu Quran dan Tafsir (IQT) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah...
Ramadan Berdaya, Kuliah Subuh Desa Demangan Bangkitkan Spirit Kepedulian
BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Suasana Subuh di Masjid Desa Demangan Sambi Boyolali terasa lebih hidup dan khidmat. Ratusan jamaah memadati saf untuk mengikuti Kuliah Subuh bertema “Ramadhan Berdaya,...
Tarhib Ramadan Masjid Al-Jannah Tegalgiri, Wayang Golek Pitutur Kupas Keutamaan Bulan Suci
BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Masjid Al-Jannah Dukuh Kajar, Tegalgiri, Nogosari menggelar kegiatan Tarhib Ramadan yang dikemas melalui pagelaran Wayang Golek Pitutur, Sabtu (14/2/2026) malam. Kegiatan dalam rangka menyambut...
Menyambut Ramadan 1447 H: Saatnya Kembali Menata Hati
Setiap kali bulan Ramadan mendekat, ada getaran batin yang berbeda dalam diri seorang Muslim. Seolah-olah jiwa ini dipanggil untuk pulang kepada kesadaran terdalam sebagai hamba...
Mencerahkan, Kajian AIK di PCM Grogol Kupas Thaharah dari Dimensi Akidah
SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sukoharjo menyelenggarakan Kajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang bertempat di MCC LKSA Muhammadiyah Cabang Grogol, Sukoharjo, Sabtu (31/1/2026). Kegiatan ini...





