Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Mengatasi Tantangan Organisasi  Kemahasiswaan Saat Ini

Rahma Alia Nurhidayah, Editor: Sholahuddin
Jumat, 28 Maret 2025 12:48 WIB
Mengatasi Tantangan Organisasi  Kemahasiswaan Saat Ini
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Rahma Alia Nurhidayah (Dok.pribadi).

Dulu, mahasiswa berlomba-lomba bergabung dengan organisasi untuk mencari pengalaman dan relasi. Dari organisasi, kita akan mempelajari banyak hal seperti leadership, problem solving, innovation dan banyak hal positif lainnya. Organisasi cukup baik untuk mengasah soft skill dan kompetensi kita mahasiswa, juga menjadi wadah mendapatkan relasi sebagai bekal untuk kehidupan setelah kuliah.

Namun, berbeda dengan dulu, saat ini, minat mahasiswa untuk bergabung dengan organisasi menurun. Organisasi mahasiswa dianggap tidak relevan dengan kehidupan pasca-kuliah dan dunia kerja sekarang. Tak sedikit juga yang beranggapan bahwa pengalaman organisasi itu kurang penting, menyita waktu, dan lebih memilih mengalokasikan waktu dan energinya untuk kegiatan-kegiatan yang dianggap memberikan manfaat lebih langsung bagi pengembangan karir mereka seperti magang dan program sukarelawan karena beranggapan bahwa hal-hal tersebut lebih relevan dengan keadaan sekarang.

Selain itu, beberapa organisasi yang dilihat mahasiswa memang menerapkan sistem yang kaku dan kuno, kebanyakan peraturan dan kewajibannya memberatkan mahasiswa, sitem internal yang kurang baik dan kurang ramah, sehingga membuat mahasiswa enggan dan kapok untuk bergabung organisasi.

Sebagian lainnya mengejar lulus dengan tepat waktu dan IPK yang tinggi, sehingga perlu untuk lebih focus pada akademis di kampus. Sekali lagi, dengan tujuan pekerjaan atau karir setelah lulus kuliah. Karena bagi kebanyakan perusahaan sekarang, IPK tinggi adalah syarat terpenting bagi pelamar untuk melamar pekerjaan. Padahal, perusahaan tidak hanya mencari IQ, tapi juga EQ yang salah satu cara melihat EQ seseorang adalah dengan pengalaman organisasinya. Pengalaman organisasi menjadi salah satu hal penting dalam pembentukan emotional quotient. Mahasiswa dapat mengenal empati dan simpati dari bergabung dalam organisasi.

Menurut saya, magang memang penting untuk persiapan kehidupan setelah lulus dan secara langsung berhubungan dengan dunia pekerjaan, tapi, organisasi tidak kalah pentingnya dalam kehidupan, terutama kehidupan after graduate. Pengalaman berupa cara memecahkan masalah yang tidak didapatkan orang-orang yang tidak bergabung dengan organisasi, pengalaman berupa kepemimpinan yang tidak didapatkan semua orang, dan banyak soft skill lainnya yang didapatkan dari berorganisasi. Koneksi dan relasi yang didapat dari berorganisasi juga akan memudahkan kita kelak dalam dunia pekerjaan. Hal ini justru sangat relevan bukan, dengan dunia kerja saat ini?

Meskipun beberapa manfaat dari organisasi dapat didapatkan dari selain bergabung dengan organisasi mengingat zaman sekarang yang mudah sekali mengakses sesuatu untuk mengembangkan potensi diri, tetapi, pengalaman organisasi tetap menjadi nilai plus seseorang. Kata Yanuar, seorang talent management-human resources dari suatu perusahaan, nilai jual pelamar dilihat salah satunya dari keaktifan berorganisasinya. Karakter seseorang akan sangat terbentuk dalam suatu organisasi, tempaan yang kita dapatkan akan menjadi modal dalam memasuki dunia kerja. Pengalaman ini juga akan meningkatkan nilai tambah CV seseorang yang ingin melamar kerja, karena seperti yang saya katakana tadi, pengalaman organisasi akan menjadi nilai plus seseorang.

“Tapi ada teman saya yang aktif berorganisasi, dia tetap kesulitan mencari pekerjaan.” Pendapat ini tidak dapat saya bantah, tetapi, inilah pentingnya kita untuk memilih organisasi yang berkualitas untuk kita ikuti, yang dengan bergabung kedalamnya, akademis kita tidak terganggu dan bahkan meningkat, tidak hanya mengembangkat soft skill, tapi hard skill kita juga. Agar dapat mematahkan pendapat ‘buang-buang waktu mengikuti organisasi’. Karena percuma jika mengikuti banyak organisasi, tapi tidak mendapatkan apa-apa justru malah merusak nilai akademis selama di kampus karena tidak bisa membagi waktu sehingga tidak aktif di semua organisasi yang diikuti. Karena untuk benar-benar mengembangkan potensi diri, tidak ditentukan dari seberapa banyak organisasi yang kamu ikuti, tapi seberapa berkualitas organisasi-organisasi tersebut.

Beberapa hal dari organisasi mahasiswa juga harus diperbaiki agar sesuai dengan kebutuhan mahasiswa zaman sekarang, untuk kembali menarik minat mahasiswa untuk bergabung. Seperti tidak hanya memberikan pengembangan soft skill mahasiswa tapi juga hard skill. Sistem internalnya juga harus dibenahi, karena selain faktor di atas penyebab mahasiswa kurang minat lagi bergabung masuk organisasi adalah karena sistem internalnya yang kurang. Seperti rapat yang hanya rapat tapi nihil hasilnya, atau sistem kepengurusannya yang kurang ramah pada mahasiswa baru.

IMM, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah salah satunya. Organisasi mahasiswa yang di dalamnya, menurut saya, banyak kegiatan yang secara langsung berhubungan dengan dunia kerja. Soft skill di sini dikembangkan dengan membahas dan menghadapi isu-isu terkini dengan cara berpikir kritis. IMM juga menawarkan beberapa manfaat lain berupa kegiatan-kegiatan pengembangan lainnya berupa pelatihan, workshop dan seminar yang dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan mahasiswa. Selain itu, program-program yang diberikan dalam organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ini benar-benar dapat mengasah empati dan simpati karena terdapat program (salah satunya) volunteer yang dapat diikuti oleh umum di luar anggota IMM (pada cabang IMM yang saya ikuti). Dengan ini kita terjun dan terlibat langsung dengan kehidupan sosial Masyarakat luas.

Diharapkan ke depannya IMM terus memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat, dan mampu memenuhi kebutuhan mahasiswa yang terus berubah dan berkembang sesuai zaman. Menghadirkan pelatihan dan kelas hard skill yang menunjang perkembangan karir dan pekerjaan mahasiswa setelah lulus kuliah dan mematahkan pendapat serta tanggapan-tanggapan negatif mengenai organisasi, bahwa dengan berorganisasi tidak menghalangi prestasi akademis kita di kampus dan jalan karir kita setelah lulus kuliah.

Penulis adalah peserta Lomba Menulis Opini Milad ke-61 IMM yang diselenggarakan oleh IMM Sukoharjo

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...