Orang Jawa percaya bahwa hidup ini adalah paradoks. Lahir adalah sekaligus menuju mati. Bahagia mengandung derita. Bertahan adalah soal seberapa mampu kita melebur. Dalam kemelekatan terhadap identitas, kita juga diuji untuk tetap cair. Ini adalah filsafat keseimbangan, yang dalam terminologi Jawa disebut sebagai “manunggaling kawula Gusti” bersatu dalam keberbedaan, menyatu dalam keunikan.
Kalau kita bicara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), ia juga tidak bisa dilepaskan dari paradoks yang sama. IMM adalah anak kandung dari sejarah, tapi juga ibu dari masa depan. Lahir dari rahim Muhammadiyah yang kental dengan gerakan purifikasi, tapi juga harus siap menghadapi dunia yang semakin beragam. Dalam posisi ini, IMM tidak hanya punya tugas untuk menjaga idealisme, tapi juga harus berani menggugat kemapanan termasuk kemapanannya sendiri. Lalu, apa peran IMM di masa depan? Apa harapan yang bisa kita titipkan kepada organisasi ini? Apakah ia akan sekadar menjadi penjaga warisan, atau justru melahirkan narasi baru?
Salah satu paradoks terbesar yang dihadapi IMM adalah ketegangan antara menjaga nilai lama dan menciptakan sesuatu yang baru. Sebagai organisasi yang berakar dari Muhammadiyah, IMM tentu harus menjaga nilai-nilai Islam berkemajuan. Tapi, di saat yang sama, dunia yang berubah menuntut IMM untuk tidak kaku dalam berpikir.
Kita sering terjebak dalam kebiasaan lama: mengulang apa yang sudah ada tanpa berani mengajukan pertanyaan baru. IMM sebagai organisasi mahasiswa tidak boleh hanya menjadi tempat melanjutkan tradisi, tetapi harus menjadi arena pergulatan pemikiran. Harus ada keberanian untuk mempertanyakan: apa masih relevan cara kita beragama hari ini? Apa benar dakwah kita sudah menyentuh realitas zaman? Bagaimana seharusnya kita memaknai Islam dalam konteks globalisasi dan digitalisasi?
Orang Jawa punya pepatah “alon-alon asal kelakon”, yang berarti ‘pelan-pelan asal tercapai’. Tapi kita juga punya ajaran “sak dermo ing pandum”, yang mengingatkan bahwa setiap langkah harus punya makna. IMM harus mampu menemukan ritme sendiri dalam bergerak—tidak terburu-buru dalam merespons zaman, tapi juga tidak hanya sibuk dengan ritual tanpa substansi.
Dari Teks ke Konteks
Ada paradoks lain dalam dunia Islam hari ini: antara teks dan konteks. Di satu sisi, kita punya kitab suci dan ajaran ulama yang sudah mapan. Tapi di sisi lain, realitas terus berubah. Dakwah yang dulu cukup dilakukan di mimbar, sekarang harus beradaptasi dengan media sosial. Kajian yang dulu cukup dengan diskusi, sekarang harus berbentuk podcast, infografis, atau bahkan film pendek.
IMM harus berani menjembatani teks dan konteks. Jangan sampai kita hanya sibuk membahas hukum fikih tanpa memahami dinamika sosial yang lebih luas. IMM harus menjadi lokomotif dalam menjawab isu-isu kontemporer: dari ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, hingga problematika teknologi dan kecerdasan buatan. Islam harus menjadi solusi bagi zaman, bukan sekadar nostalgia terhadap masa lalu. IMM sebagai bagian dari gerakan Islam harus mampu menawarkan wacana yang segar, kritis, dan relevan. Kalau tidak, IMM hanya akan menjadi komunitas yang sibuk dengan dirinya sendiri—berdakwah di antara orang yang sudah sepemikiran, tapi gagal menembus lapisan masyarakat yang lebih luas.
Orang Jawa seringkali bermain dalam politik simbol. Kita punya ratu adil, yang katanya akan datang membawa kesejahteraan. Kita juga mengenal konsep sabdo palon, penasihat spiritual yang mengingatkan penguasa agar tetap di jalan yang benar. Nah, dalam konteks ini, IMM juga berada di persimpangan: apakah ia akan masuk ke dalam politik praktis, atau tetap menjadi penjaga moralitas?
IMM tidak boleh naif dalam melihat politik. Jika ingin berkontribusi bagi bangsa, IMM harus paham bagaimana sistem bekerja. Tapi jangan sampai keterlibatan dalam politik justru membuat IMM kehilangan idealismenya. Ada banyak organisasi mahasiswa yang dulunya lantang mengkritik, tapi ketika kadernya masuk dalam lingkaran kekuasaan, mereka justru kehilangan daya kritisnya. IMM harus bisa menjaga keseimbangan antara idealisme dan realitas politik. Jangan hanya sibuk mengutuk keadaan tanpa ikut serta dalam perubahan. Tapi juga jangan sampai terbawa arus pragmatisme yang hanya mengejar jabatan dan kekuasaan. Jika IMM ingin menjadi penjaga moralitas bangsa, maka ia harus tetap independen, kritis, dan berani menegur siapapun—termasuk kadernya sendiri.
Ada satu lagi paradoks yang harus dijaga: antara keislaman dan keindonesiaan. Islam datang dengan ajaran yang universal, tapi di saat yang sama, kita hidup dalam budaya yang unik. IMM harus bisa memadukan keduanya. Islam yang dibawa IMM harus tetap membumi. Jangan sampai kita sibuk berdebat soal istilah Arab, tapi lupa bagaimana Islam bisa diterima di masyarakat yang beragam. Jangan sampai kita terjebak dalam eksklusivitas, sementara di luar sana banyak orang yang butuh sentuhan Islam yang ramah dan inklusif. Di sinilah peran IMM menjadi penting. Ia harus bisa menjembatani Islam yang tekstual dengan realitas sosial yang plural. IMM tidak boleh terjebak dalam dikotomi antara agama dan budaya, tapi justru harus mencari titik temu di antaranya.
Orang Jawa percaya bahwa hidup itu seperti air; ia harus mengalir, tapi juga tahu kapan harus berhenti. IMM harus terus bergerak, tapi juga harus paham kapan harus reflektif. Di masa depan, peran IMM akan ditentukan oleh seberapa berani ia menghadapi paradoks: antara menjaga dan mengubah, antara teks dan konteks, antara idealisme dan realitas politik, antara Islam dan keindonesiaan. Jika IMM hanya sibuk mengulang apa yang sudah ada, ia akan kehilangan daya hidupnya. Tapi jika IMM berani menantang dirinya sendiri, berani keluar dari zona nyaman, maka ia bisa menjadi kekuatan besar dalam membangun bangsa. Maka, pertanyaannya bukan lagi “apa peran IMM di masa depan?” Tapi berani kah IMM menjadi organisasi yang benar-benar berani berpikir dan bertindak di luar kebiasaannya? Karena pada akhirnya, seperti yang dikatakan dalam filosofi Jawa: “urip iku mung mampir ngombe”. Hidup ini cuma singgah untuk minum. Pertanyaannya, setelah ini kita mau ke mana?
Penulis adalah peserta Lomba Menulis Opini Milad ke-61 IMM yang diselenggarakan oleh IMM Sukoharjo.
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...
Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?
Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...
Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?
Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...






