Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

IMM dan Paradoks Zaman

Maulana Mukhtar Al Muhajir, Editor: Sholahuddin
Kamis, 27 Maret 2025 11:08 WIB
IMM dan Paradoks Zaman
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Maulana Mukhtar Al Muhajir (Dok. pribadi).

Orang Jawa percaya bahwa hidup ini adalah paradoks. Lahir adalah sekaligus menuju mati. Bahagia mengandung derita. Bertahan adalah soal seberapa mampu kita melebur. Dalam kemelekatan terhadap identitas, kita juga diuji untuk tetap cair. Ini adalah filsafat keseimbangan, yang dalam terminologi Jawa disebut sebagai “manunggaling kawula Gusti” bersatu dalam keberbedaan, menyatu dalam keunikan.

Kalau kita bicara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), ia juga tidak bisa dilepaskan dari paradoks yang sama. IMM adalah anak kandung dari sejarah, tapi juga ibu dari masa depan. Lahir dari rahim Muhammadiyah yang kental dengan gerakan purifikasi, tapi juga harus siap menghadapi dunia yang semakin beragam. Dalam posisi ini, IMM tidak hanya punya tugas untuk menjaga idealisme, tapi juga harus berani menggugat kemapanan termasuk kemapanannya sendiri. Lalu, apa peran IMM di masa depan? Apa harapan yang bisa kita titipkan kepada organisasi ini? Apakah ia akan sekadar menjadi penjaga warisan, atau justru melahirkan narasi baru?

Salah satu paradoks terbesar yang dihadapi IMM adalah ketegangan antara menjaga nilai lama dan menciptakan sesuatu yang baru. Sebagai organisasi yang berakar dari Muhammadiyah, IMM tentu harus menjaga nilai-nilai Islam berkemajuan. Tapi, di saat yang sama, dunia yang berubah menuntut IMM untuk tidak kaku dalam berpikir.

Kita sering terjebak dalam kebiasaan lama: mengulang apa yang sudah ada tanpa berani mengajukan pertanyaan baru. IMM sebagai organisasi mahasiswa tidak boleh hanya menjadi tempat melanjutkan tradisi, tetapi harus menjadi arena pergulatan pemikiran. Harus ada keberanian untuk mempertanyakan: apa masih relevan cara kita beragama hari ini? Apa benar dakwah kita sudah menyentuh realitas zaman? Bagaimana seharusnya kita memaknai Islam dalam konteks globalisasi dan digitalisasi?

Orang Jawa punya pepatah “alon-alon asal kelakon”, yang berarti ‘pelan-pelan asal tercapai’. Tapi kita juga punya ajaran “sak dermo ing pandum”, yang mengingatkan bahwa setiap langkah harus punya makna. IMM harus mampu menemukan ritme sendiri dalam bergerak—tidak terburu-buru dalam merespons zaman, tapi juga tidak hanya sibuk dengan ritual tanpa substansi.

Dari Teks ke Konteks

Ada paradoks lain dalam dunia Islam hari ini: antara teks dan konteks. Di satu sisi, kita punya kitab suci dan ajaran ulama yang sudah mapan. Tapi di sisi lain, realitas terus berubah. Dakwah yang dulu cukup dilakukan di mimbar, sekarang harus beradaptasi dengan media sosial. Kajian yang dulu cukup dengan diskusi, sekarang harus berbentuk podcast, infografis, atau bahkan film pendek.

IMM harus berani menjembatani teks dan konteks. Jangan sampai kita hanya sibuk membahas hukum fikih tanpa memahami dinamika sosial yang lebih luas. IMM harus menjadi lokomotif dalam menjawab isu-isu kontemporer: dari ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, hingga problematika teknologi dan kecerdasan buatan.  Islam harus menjadi solusi bagi zaman, bukan sekadar nostalgia terhadap masa lalu. IMM sebagai bagian dari gerakan Islam harus mampu menawarkan wacana yang segar, kritis, dan relevan. Kalau tidak, IMM hanya akan menjadi komunitas yang sibuk dengan dirinya sendiri—berdakwah di antara orang yang sudah sepemikiran, tapi gagal menembus lapisan masyarakat yang lebih luas.

Orang Jawa seringkali bermain dalam politik simbol. Kita punya ratu adil, yang katanya akan datang membawa kesejahteraan. Kita juga mengenal konsep sabdo palon, penasihat spiritual yang mengingatkan penguasa agar tetap di jalan yang benar. Nah, dalam konteks ini, IMM juga berada di persimpangan: apakah ia akan masuk ke dalam politik praktis, atau tetap menjadi penjaga moralitas?

IMM tidak boleh naif dalam melihat politik. Jika ingin berkontribusi bagi bangsa, IMM harus paham bagaimana sistem bekerja. Tapi jangan sampai keterlibatan dalam politik justru membuat IMM kehilangan idealismenya. Ada banyak organisasi mahasiswa yang dulunya lantang mengkritik, tapi ketika kadernya masuk dalam lingkaran kekuasaan, mereka justru kehilangan daya kritisnya.  IMM harus bisa menjaga keseimbangan antara idealisme dan realitas politik. Jangan hanya sibuk mengutuk keadaan tanpa ikut serta dalam perubahan. Tapi juga jangan sampai terbawa arus pragmatisme yang hanya mengejar jabatan dan kekuasaan. Jika IMM ingin menjadi penjaga moralitas bangsa, maka ia harus tetap independen, kritis, dan berani menegur siapapun—termasuk kadernya sendiri.

Ada satu lagi paradoks yang harus dijaga: antara keislaman dan keindonesiaan. Islam datang dengan ajaran yang universal, tapi di saat yang sama, kita hidup dalam budaya yang unik. IMM harus bisa memadukan keduanya. Islam yang dibawa IMM harus tetap membumi. Jangan sampai kita sibuk berdebat soal istilah Arab, tapi lupa bagaimana Islam bisa diterima di masyarakat yang beragam. Jangan sampai kita terjebak dalam eksklusivitas, sementara di luar sana banyak orang yang butuh sentuhan Islam yang ramah dan inklusif.  Di sinilah peran IMM menjadi penting. Ia harus bisa menjembatani Islam yang tekstual dengan realitas sosial yang plural. IMM tidak boleh terjebak dalam dikotomi antara agama dan budaya, tapi justru harus mencari titik temu di antaranya.

Orang Jawa percaya bahwa hidup itu seperti air; ia harus mengalir, tapi juga tahu kapan harus berhenti. IMM harus terus bergerak, tapi juga harus paham kapan harus reflektif. Di masa depan, peran IMM akan ditentukan oleh seberapa berani ia menghadapi paradoks: antara menjaga dan mengubah, antara teks dan konteks, antara idealisme dan realitas politik, antara Islam dan keindonesiaan. Jika IMM hanya sibuk mengulang apa yang sudah ada, ia akan kehilangan daya hidupnya. Tapi jika IMM berani menantang dirinya sendiri, berani keluar dari zona nyaman, maka ia bisa menjadi kekuatan besar dalam membangun bangsa. Maka, pertanyaannya bukan lagi “apa peran IMM di masa depan?” Tapi berani kah IMM menjadi organisasi yang benar-benar berani berpikir dan bertindak di luar kebiasaannya? Karena pada akhirnya, seperti yang dikatakan dalam filosofi Jawa: “urip iku mung mampir ngombe”. Hidup ini cuma singgah untuk minum. Pertanyaannya, setelah ini kita mau ke mana?

Penulis adalah peserta Lomba Menulis Opini Milad ke-61 IMM yang diselenggarakan oleh IMM Sukoharjo.

Berita Terbaru

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar Isi Behavioral Addiction dalam Psikologi Modern Otak yang Terlatih pada Stimulus Instan Kesehatan Mental dan Relasi yang Terganggu Al-Qur’an dan Penjagaan Kesadaran Kecanduan sebagai...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan

Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...

Leave a comment