Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah salah satu organisasi otonom dalam Muhammadiyah yang memiliki sejarah panjang dalam lanskap perjuangan Persyarikatan. Sebagai gerakan intelektual profetik, IMM lahir dengan misi mencetak kader-kader mahasiswa yang tidak hanya unggul dalam aspek spiritual, tetapi juga intelektual dan moral yang semuanya tergambar pada Tri Kompetensi Dasar (Trikoda) IMM.
IMM lahir dari dorongan internal Muhammadiyah untuk memperkuat pemahaman dan perjuangan Islam berkemajuan, serta tantangan eksternal berupa dinamika sosial-politik dan kondisi umat Islam saat itu. Pada masa itu, praktik keagamaan masih dipenuhi takhayul, bid’ah, dan khurafat.
Selain itu, situasi politik dan sosial di Indonesia pada masa itu turut berperan dalam membentuk kesadaran mahasiswa Muhammadiyah untuk berkontribusi dalam perubahan. Seperti yang kita tahu bahwa pada masa itu adalah masa Indonesia berada pada dua persimpangan ideologi besar yaitu marhaenisme dengan komunisme yang menuntut Muhammadiyah menghadirkan respons. Respons yang dilakukan Muhammadiyah adalah dengan cara menjawab tantangan intelektual dan moral yang dihadapi mahasiswa pada masa itu dengan mendirikan wadah perjuangan dalam ranah intelektual mahasiswa.
IMM hadir sebagai jawaban terhadap tantangan intelektual dan moral mahasiswa pada masa itu. Sebagai organisasi kader, IMM tidak hanya bertugas mengembangkan gerakan intelektual di kampus, tetapi juga memastikan ideologi Muhammadiyah tetap lestari dan relevan dalam menghadapi perkembangan zaman atau biasa kita sebut dengan al-islam sholihul likulli zaman wal makan yang tujuannya adalah untuk menciptakan masyarakat Islam yang berkemajuan dalam berbagai bidang keilmuan.
Setiap organisasi selalu mengalami dinamika dalam perjalanannya, begitu pula dengan Ikatan IMM. Sejak berdiri, IMM telah melewati berbagai gelombang tantangan, mulai dari era Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi. Namun, organisasi ini tetap mampu mempertahankan idealisme dan eksistensinya sebagai laboratorium intelektual mahasiswa.
Kini, di era Revolusi Industri 4.0, IMM dihadapkan pada tantangan yang berbeda. Arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pola pikir dan karakter mahasiswa. Teknologi yang semakin kompleks menuntut kader IMM, sebagai anak panah Muhammadiyah, untuk mampu beradaptasi agar tetap relevan dan berdaya saing di tengah perubahan zaman.
Digitalisasi telah membuka akses informasi yang luas dan tanpa batas. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan serius yang tidak bisa diabaikan. Krisis identitas kader, degradasi moral, serta pergeseran nilai perjuangan menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan IMM sebagai gerakan intelektual dan dakwah mahasiswa. Jika tidak disikapi dengan bijak, IMM bisa kehilangan jati dirinya sebagai organisasi yang berperan dalam membentuk karakter kader yang berilmu, berintegritas, dan berkomitmen pada nilai-nilai Islam berkemajuan.
Menghadapi era ini, IMM harus mampu menjawab tantangan dengan strategi yang inovatif dan berbasis pada nilai-nilai keislaman serta kemuhammadiyahan. Penguatan ideologi, literasi digital, serta pembinaan kader yang adaptif dan progresif menjadi kebutuhan mendesak. IMM tidak boleh hanya menjadi penonton dalam arus perubahan, tetapi harus berperan aktif dalam menciptakan perubahan yang membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa.
Dengan mengokohkan kembali semangat intelektualitas dan gerakan sosialnya, IMM dapat menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0 tanpa kehilangan identitasnya. IMM harus terus menjadi wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah untuk berproses, berpikir kritis, dan berkontribusi nyata bagi masyarakat. Inilah tantangan sekaligus peluang bagi IMM untuk membuktikan bahwa ia tetap relevan dan berdaya saing di era yang serba digital ini.
Krisis Identitas Kader
Muhammadiyah sebagai organisasi modern dengan gerakan tajdid-nya telah mampu melahirkan banyak kader yang bergelut di berbagai bidang. Akan tetapi, di tengah perubahan sosial, politik dan globalisasi yang tidak terbendung hari ini, Muhammadiyah dihadapkan dengan fenomena krisis identitas kader terutama dikalangan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM). Krisis ini muncul karena lemahnya pemahaman, pemaknaan dan penghayatan ideologi Muhammadiyah dalam kehidupan angkatan mudanya. Bahkan, banyak kader yang masih minim pemahaman mengenai Muhammadiyah itu sendiri.
Kerap kali angkatan muda Muhammadiyah terdistraksi dengan fenomena teknologi yang pada akhirnya membuat mereka lupa akan tanggung jawab mereka sebagai kader yaitu menjaga eksistensi dan keberlanjutan Persyarikatan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh M. Djazman Al-Kindi dalam bukunya Ilmu Amaliah, Amal Ilmiah, kader adalah orang yang memiliki esensi, fungsi, dan tugas pokok untuk mempertahankan eksistensi organisasi, menjaga kemurnian ideologi, serta menghindari distorsi terhadap maksud dan tujuan Muhammadiyah. Oleh karena itu, keberadaan kader yang berkualitas bukan hanya kebutuhan, tetapi sebuah keniscayaan.
Akan tetapi, banyak kader saat ini yang mulai kehilangan arah. Mereka tidak lagi menjadikan nilai-nilai Muhammadiyah sebagai pedoman utama dalam berpikir dan bertindak. Sebagian justru lebih terpengaruh oleh tren dan pola pikir pragmatis yang menjauhkan mereka dari semangat perjuangan Persyarikatan. Jika fenomena ini dibiarkan, maka bukan tidak mungkin Muhammadiyah akan mengalami stagnasi atau yang lebih buruk lagi kemunduran dalam hal regenerasi dan keberlanjutan gerakan.
Oleh karena itu, diperlukan upaya serius untuk mengatasi krisis identitas ini. Penguatan ideologi, pembinaan yang lebih sistematis, serta penyesuaian strategi dakwah dengan tantangan zaman menjadi hal yang mendesak. Muhammadiyah harus mampu menawarkan gagasan yang relevan bagi anak muda tanpa kehilangan jati dirinya sebagai gerakan Islam yang berkemajuan.
Regenerasi yang kuat hanya bisa terwujud jika para kader memiliki pemahaman mendalam tentang Muhammadiyah, bukan sekadar sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan dakwah yang menuntut komitmen dan pengabdian. Dengan begitu, Angkatan Muda Muhammadiyah tidak hanya menjadi penerus, tetapi juga penggerak yang mampu menjawab tantangan zaman dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam yang berkemajuan.
Menilik dari tulisan di atas dapat kita simpulkan bahwa kedapannya IMM akan melalui jalan yang begitu terjal. Sangat perlu rasanya kita memperhatikan setiap jalan terjal tersebut agar pergerakan ini tetap berdiri kokoh dan tidak terjatuh pada jurang modernitas.
Maka, suatu keniscayaan bagi IMM untuk menjadi gerakan yang adaptif dan solutif terhadap realitas hari ini. Adaptif dalam arti bahwa IMM harus terus memperbarui cara berpikir, strategi perjuangan, serta metode dakwah dan advokasi agar tetap relevan dengan perubahan. Sementara solutif berarti bahwa IMM tidak boleh sekadar menjadi reaktif terhadap isu-isu yang muncul, tetapi harus menjadi garda terdepan dalam menawarkan solusi berbasis nilai-nilai Islam yang berkemajuan.
Seperti yang pernah disampaikan oleh Kuntowijoyo, umat Islam harus menjadi subjek sejarah, bukan sekadar objek dari perubahan. IMM, dengan segala potensinya, harus terus memperkuat gerakan intelektualnya agar mampu menjadi agen perubahan yang progresif, inovatif, dan visioner di tengah tantangan zaman. Maka, kalimat Al Islam sholihul likulli zaman wal makan bukan lah sebuah narasi akan tetapi terwujud pada bentuk aksi.
Trikoda IMM bukan sekadar slogan, tetapi merupakan ideologi dan identitas gerakan yang harus terus diperbarui makna dan implementasinya sesuai dengan tantangan zaman. Dalam konteks Revolusi Industri 4.0 dan era digital, IMM harus mampu menghadirkan interpretasi baru atas Trikoda agar tetap berkontribusi secara nyata bagi umat dan bangsa.
Dalam segi religiositas misalnya, dalam hal ini IMM harus menempatkan religiositas sebagai fondasi utama dalam perjuangannya. Namun, religiositas dalam konteks IMM bukanlah pemahaman yang dogmatis dan eksklusif, melainkan Islam yang berkemajuan. Sebagai contoh adalah memaksimalkan pemanfaatan masjid sebagai pusat sentral dakwah dan pergerakan.
Dengan menjadikan masjid sebagai pusat dakwah dan pergerakan, IMM dapat mengimplementasikan Islam yang berkemajuan dalam kehidupan nyata. Masjid tidak hanya menjadi tempat salat, tetapi juga ruang edukasi, pemberdayaan sosial, dan penggerak perubahan. IMM sebagai bagian dari kader umat dan bangsa harus terus mengoptimalkan peran masjid untuk membangun peradaban Islam yang lebih maju, berlandaskan nilai-nilai keilmuan, sosial, dan spiritual.
Maka poin ini harus menjadi fokus utama bagi seorang kader IMM, karena religiositas adalah fondasi awal untuk menciptakan satu kesatuan dari humanitas dan intelektualitas. Dengan terbentuknya fondasi awal tersebut maka akan muncul humanitas kader.
Dalam hal ini, seperti munculnya rasa simpati dan empati pada realitas dengan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan sosial dan kemanusiaan. Begitu pun dengan poin intelektualitas, bagian yang tidak kalah pentingnya dalam diri kader IMM. Kader IMM harus memiliki pemikiran yang kritis, progresif, dan solutif, sehingga mampu menjawab berbagai tantangan zaman. Dalam konteks teknologi industri 4.0, seperti Meningkatkan budaya literasi dan diskusi ilmiah yang mengintegrasikan Islam dengan sains dan teknologi.
Maka, reaktualisasi Trikoda IMM harus menjadi fokus utama bagi setiap kader. Religiositas sebagai fondasi awal akan menciptakan kesatuan yang harmonis antara humanitas dan intelektualitas. Dengan religiositas, IMM akan memiliki nilai-nilai spiritual dan moral yang kuat. Dengan humanitas, IMM akan berperan aktif dalam gerakan sosial yang membawa manfaat bagi masyarakat. Dengan intelektualitas, IMM akan mampu menghadirkan solusi inovatif bagi tantangan zaman.
Trikoda IMM bukan hanya sekadar semboyan, tetapi jalan perjuangan yang harus terus dihidupkan dalam setiap gerakan dan langkah kadernya.
Penulis adalah peserta Lomba Menulis Opini Milad ke-61 IMM yang diselenggarakan oleh IMM Sukoharjo.
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...
Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?
Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...
Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?
Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...






