Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Meneguhkan IMM dalam Arus Modernitas: Tantangan dan Reaktualisasi Gerakan

Muhammad Zein, Editor: Sholahuddin
Jumat, 28 Maret 2025 10:30 WIB
Meneguhkan IMM dalam Arus Modernitas: Tantangan dan Reaktualisasi Gerakan
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Muhammad Zein (Dok. pribadi).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah salah satu organisasi otonom dalam Muhammadiyah yang memiliki sejarah panjang dalam lanskap perjuangan Persyarikatan. Sebagai gerakan intelektual profetik, IMM lahir dengan misi mencetak kader-kader mahasiswa yang tidak hanya unggul dalam aspek spiritual, tetapi juga intelektual dan moral yang semuanya tergambar pada Tri Kompetensi Dasar (Trikoda) IMM.

IMM lahir dari dorongan internal Muhammadiyah untuk memperkuat pemahaman dan perjuangan Islam berkemajuan, serta tantangan eksternal berupa dinamika sosial-politik dan kondisi umat Islam saat itu. Pada masa itu, praktik keagamaan masih dipenuhi takhayul, bid’ah, dan khurafat.

Selain itu, situasi politik dan sosial di Indonesia pada masa itu turut berperan dalam membentuk kesadaran mahasiswa Muhammadiyah untuk berkontribusi dalam perubahan. Seperti yang kita tahu bahwa pada masa itu adalah masa Indonesia berada pada dua persimpangan ideologi besar yaitu marhaenisme dengan komunisme yang menuntut Muhammadiyah menghadirkan respons. Respons yang dilakukan Muhammadiyah adalah dengan cara menjawab tantangan intelektual dan moral yang dihadapi mahasiswa pada masa itu dengan mendirikan wadah perjuangan dalam ranah intelektual mahasiswa.          

IMM hadir sebagai jawaban terhadap tantangan intelektual dan moral mahasiswa pada masa itu. Sebagai organisasi kader, IMM tidak hanya bertugas mengembangkan gerakan intelektual di kampus, tetapi juga memastikan ideologi Muhammadiyah tetap lestari dan relevan dalam menghadapi perkembangan zaman atau biasa kita sebut dengan al-islam sholihul likulli zaman wal makan yang tujuannya adalah untuk menciptakan masyarakat Islam yang berkemajuan dalam berbagai bidang keilmuan.

Setiap organisasi selalu mengalami dinamika dalam perjalanannya, begitu pula dengan Ikatan IMM. Sejak berdiri, IMM telah melewati berbagai gelombang tantangan, mulai dari era Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi. Namun, organisasi ini tetap mampu mempertahankan idealisme dan eksistensinya sebagai laboratorium intelektual mahasiswa.

Kini, di era Revolusi Industri 4.0, IMM dihadapkan pada tantangan yang berbeda. Arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pola pikir dan karakter mahasiswa. Teknologi yang semakin kompleks menuntut kader IMM, sebagai anak panah Muhammadiyah, untuk mampu beradaptasi agar tetap relevan dan berdaya saing di tengah perubahan zaman.

Digitalisasi telah membuka akses informasi yang luas dan tanpa batas. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan serius yang tidak bisa diabaikan. Krisis identitas kader, degradasi moral, serta pergeseran nilai perjuangan menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan IMM sebagai gerakan intelektual dan dakwah mahasiswa. Jika tidak disikapi dengan bijak, IMM bisa kehilangan jati dirinya sebagai organisasi yang berperan dalam membentuk karakter kader yang berilmu, berintegritas, dan berkomitmen pada nilai-nilai Islam berkemajuan.

Menghadapi era ini, IMM harus mampu menjawab tantangan dengan strategi yang inovatif dan berbasis pada nilai-nilai keislaman serta kemuhammadiyahan. Penguatan ideologi, literasi digital, serta pembinaan kader yang adaptif dan progresif menjadi kebutuhan mendesak. IMM tidak boleh hanya menjadi penonton dalam arus perubahan, tetapi harus berperan aktif dalam menciptakan perubahan yang membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa.

Dengan mengokohkan kembali semangat intelektualitas dan gerakan sosialnya, IMM dapat menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0 tanpa kehilangan identitasnya. IMM harus terus menjadi wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah untuk berproses, berpikir kritis, dan berkontribusi nyata bagi masyarakat. Inilah tantangan sekaligus peluang bagi IMM untuk membuktikan bahwa ia tetap relevan dan berdaya saing di era yang serba digital ini.

Krisis Identitas Kader

Muhammadiyah sebagai organisasi modern dengan gerakan tajdid-nya telah mampu melahirkan banyak kader yang bergelut di berbagai bidang. Akan tetapi, di tengah perubahan sosial, politik dan globalisasi yang tidak terbendung hari ini, Muhammadiyah dihadapkan dengan fenomena krisis identitas kader terutama dikalangan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM). Krisis ini muncul karena lemahnya pemahaman, pemaknaan dan penghayatan ideologi Muhammadiyah dalam kehidupan angkatan mudanya. Bahkan, banyak kader yang masih minim pemahaman mengenai Muhammadiyah itu sendiri.

Kerap kali angkatan muda Muhammadiyah terdistraksi dengan fenomena teknologi yang pada akhirnya membuat mereka lupa akan tanggung jawab mereka sebagai kader yaitu menjaga eksistensi dan keberlanjutan Persyarikatan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh M. Djazman Al-Kindi dalam bukunya Ilmu Amaliah, Amal Ilmiah, kader adalah orang yang memiliki esensi, fungsi, dan tugas pokok untuk mempertahankan eksistensi organisasi, menjaga kemurnian ideologi, serta menghindari distorsi terhadap maksud dan tujuan Muhammadiyah. Oleh karena itu, keberadaan kader yang berkualitas bukan hanya kebutuhan, tetapi sebuah keniscayaan.

Akan tetapi, banyak kader saat ini yang mulai kehilangan arah. Mereka tidak lagi menjadikan nilai-nilai Muhammadiyah sebagai pedoman utama dalam berpikir dan bertindak. Sebagian justru lebih terpengaruh oleh tren dan pola pikir pragmatis yang menjauhkan mereka dari semangat perjuangan Persyarikatan. Jika fenomena ini dibiarkan, maka bukan tidak mungkin Muhammadiyah akan mengalami stagnasi atau yang lebih buruk lagi kemunduran dalam hal regenerasi dan keberlanjutan gerakan.

Oleh karena itu, diperlukan upaya serius untuk mengatasi krisis identitas ini. Penguatan ideologi, pembinaan yang lebih sistematis, serta penyesuaian strategi dakwah dengan tantangan zaman menjadi hal yang mendesak. Muhammadiyah harus mampu menawarkan gagasan yang relevan bagi anak muda tanpa kehilangan jati dirinya sebagai gerakan Islam yang berkemajuan.

Regenerasi yang kuat hanya bisa terwujud jika para kader memiliki pemahaman mendalam tentang Muhammadiyah, bukan sekadar sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan dakwah yang menuntut komitmen dan pengabdian. Dengan begitu, Angkatan Muda Muhammadiyah tidak hanya menjadi penerus, tetapi juga penggerak yang mampu menjawab tantangan zaman dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam yang berkemajuan.

Menilik dari tulisan di atas dapat kita simpulkan bahwa kedapannya IMM akan melalui jalan yang begitu terjal. Sangat perlu rasanya kita memperhatikan setiap jalan terjal tersebut agar pergerakan ini tetap berdiri kokoh dan tidak terjatuh pada jurang modernitas.

Maka, suatu keniscayaan bagi IMM untuk menjadi gerakan yang adaptif dan solutif terhadap realitas hari ini. Adaptif dalam arti bahwa IMM harus terus memperbarui cara berpikir, strategi perjuangan, serta metode dakwah dan advokasi agar tetap relevan dengan perubahan. Sementara solutif berarti bahwa IMM tidak boleh sekadar menjadi reaktif terhadap isu-isu yang muncul, tetapi harus menjadi garda terdepan dalam menawarkan solusi berbasis nilai-nilai Islam yang berkemajuan.

Seperti yang pernah disampaikan oleh Kuntowijoyo, umat Islam harus menjadi subjek sejarah, bukan sekadar objek dari perubahan. IMM, dengan segala potensinya, harus terus memperkuat gerakan intelektualnya agar mampu menjadi agen perubahan yang progresif, inovatif, dan visioner di tengah tantangan zaman. Maka, kalimat Al Islam sholihul likulli zaman wal makan bukan lah sebuah narasi akan tetapi terwujud pada bentuk aksi.

Trikoda IMM bukan sekadar slogan, tetapi merupakan ideologi dan identitas gerakan yang harus terus diperbarui makna dan implementasinya sesuai dengan tantangan zaman. Dalam konteks Revolusi Industri 4.0 dan era digital, IMM harus mampu menghadirkan interpretasi baru atas Trikoda agar tetap berkontribusi secara nyata bagi umat dan bangsa.

Dalam segi religiositas misalnya, dalam hal ini IMM harus menempatkan religiositas sebagai fondasi utama dalam perjuangannya. Namun, religiositas dalam konteks IMM bukanlah pemahaman yang dogmatis dan eksklusif, melainkan Islam yang berkemajuan. Sebagai contoh adalah memaksimalkan pemanfaatan masjid sebagai pusat sentral dakwah dan pergerakan.

Dengan menjadikan masjid sebagai pusat dakwah dan pergerakan, IMM dapat mengimplementasikan Islam yang berkemajuan dalam kehidupan nyata. Masjid tidak hanya menjadi tempat salat, tetapi juga ruang edukasi, pemberdayaan sosial, dan penggerak perubahan. IMM sebagai bagian dari kader umat dan bangsa harus terus mengoptimalkan peran masjid untuk membangun peradaban Islam yang lebih maju, berlandaskan nilai-nilai keilmuan, sosial, dan spiritual.

Maka poin ini harus menjadi fokus utama bagi seorang kader IMM, karena religiositas adalah fondasi awal untuk menciptakan satu kesatuan dari humanitas dan intelektualitas. Dengan terbentuknya fondasi awal tersebut maka akan muncul humanitas kader.

Dalam hal ini, seperti munculnya rasa simpati dan empati pada realitas dengan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan sosial dan kemanusiaan. Begitu pun dengan poin intelektualitas, bagian yang tidak kalah pentingnya dalam diri kader IMM. Kader IMM harus memiliki pemikiran yang kritis, progresif, dan solutif, sehingga mampu menjawab berbagai tantangan zaman. Dalam konteks teknologi industri 4.0, seperti Meningkatkan budaya literasi dan diskusi ilmiah yang mengintegrasikan Islam dengan sains dan teknologi.

Maka, reaktualisasi Trikoda IMM harus menjadi fokus utama bagi setiap kader. Religiositas sebagai fondasi awal akan menciptakan kesatuan yang harmonis antara humanitas dan intelektualitas. Dengan religiositas, IMM akan memiliki nilai-nilai spiritual dan moral yang kuat. Dengan humanitas, IMM akan berperan aktif dalam gerakan sosial yang membawa manfaat bagi masyarakat. Dengan intelektualitas, IMM akan mampu menghadirkan solusi inovatif bagi tantangan zaman.

Trikoda IMM bukan hanya sekadar semboyan, tetapi jalan perjuangan yang harus terus dihidupkan dalam setiap gerakan dan langkah kadernya.

Penulis adalah peserta Lomba Menulis Opini Milad ke-61 IMM yang diselenggarakan oleh IMM Sukoharjo.

Berita Terbaru

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar Isi Behavioral Addiction dalam Psikologi Modern Otak yang Terlatih pada Stimulus Instan Kesehatan Mental dan Relasi yang Terganggu Al-Qur’an dan Penjagaan Kesadaran Kecanduan sebagai...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan

Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...

Leave a comment