Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Menguatkan Kembali IMM di Usia 61 Tahun 

Riyan Herdianto, Editor: Sholahuddin
Minggu, 6 April 2025 17:12 WIB
Menguatkan Kembali IMM di Usia 61 Tahun 
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Riyan Herdianto (Dok. pribadi).

Sebagai kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), apa yang saya rasakan perlu untuk mengangkat beberapa isu penting yang sedang dihadapi oleh organisasi kita dan bagaimana kita bisa berkontribusi dalam menyelesaikan permasalahan tersebut ke depannya. IMM sebagai organisasi mahasiswa yang memiliki tujuan mulia dalam mencetak generasi pemimpin yang berkarakter dan berkompeten, tentu tidak bisa hanya berdiam diri. Dalam hal ini, kita sebagai kader IMM juga harus memiliki rasa tanggung jawab untuk terus berkembang, baik dalam hal keilmuan, kepemimpinan, maupun dalam memberi kontribusi terhadap perubahan sosial di masyarakat.

Salah satu hal yang menjadi keresahan saya sebagai kader IMM adalah bagaimana kita sebagai mahasiswa dan kader organisasi bisa meningkatkan kompetensi diri secara maksimal. Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, dengan teknologi yang semakin maju dan tuntutan dunia kerja yang semakin kompetitif, menjadi kader yang hanya berbekal pengetahuan dasar tanpa keterampilan yang memadai akan sangat membatasi potensi kita.

IMM sebagai organisasi yang memiliki cita-cita untuk mencetak pemimpin yang unggul di berbagai sektor kehidupan, seharusnya juga memberikan perhatian lebih pada penguatan kompetensi anggotanya. Kader IMM perlu memiliki keahlian yang beragam, baik dalam bidang akademis, kewirausahaan, teknologi, hingga soft skills seperti komunikasi dan kepemimpinan. Oleh karena itu, selain memperdalam pengetahuan agama dan kemahasiswaan, IMM juga harus membuka ruang bagi anggotanya untuk mengembangkan keterampilan praktis yang dapat menunjang karier dan kehidupan sosial mereka.

Dalam hal ini, salah satu langkah yang dapat diambil oleh IMM adalah melalui peningkatan program pelatihan, seminar, dan workshop yang bertujuan untuk mempersiapkan kader-kadernya menghadapi dunia luar. Program-program ini perlu mencakup berbagai topik yang relevan dengan kebutuhan zaman, seperti kewirausahaan, teknologi digital, manajemen waktu, dan pengembangan diri. IMM bisa bekerja sama dengan berbagai pihak, baik itu perguruan tinggi, lembaga pemerintah, maupun sektor swasta untuk menghadirkan pelatihan yang dapat meningkatkan kompetensi kader secara maksimal.

Namun, tidak hanya itu, penguatan kompetensi diri sebagai kader IMM juga harus dibarengi dengan penguatan karakter. IMM harus tetap menjadi tempat bagi mahasiswa yang tidak hanya cerdas dalam hal akademis, tetapi juga memiliki integritas, kedewasaan, dan rasa tanggung jawab terhadap masyarakat. Keseimbangan antara kompetensi akademis dan karakter pribadi ini yang akan membentuk kader IMM yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Isu-isu Kontemporer

Selain kompetensi diri, salah satu tantangan besar yang dihadapi oleh kader IMM adalah bagaimana kita dapat berkontribusi lebih terhadap isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat. IMM sebagai organisasi mahasiswa seharusnya tidak hanya menjadi tempat untuk pengembangan diri secara individu, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam mengkaji dan memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat.

Isu-isu kontemporer seperti perubahan iklim, kemiskinan, ketimpangan sosial, hingga perkembangan teknologi yang pesat, membutuhkan perhatian serius dari kita sebagai kader IMM. Salah satu cara untuk memberikan kontribusi nyata terhadap isu-isu ini adalah dengan menguatkan budaya penelitian di kalangan kader IMM. Penelitian tidak hanya menjadi bagian dari dunia akademis, tetapi juga sebagai sarana untuk menemukan solusi-solusi kreatif dan aplikatif terhadap permasalahan yang ada.

Saya percaya bahwa IMM dapat mendorong anggotanya untuk lebih aktif dalam melakukan penelitian yang relevan dengan kondisi sosial dan budaya di Indonesia. Penelitian ini tidak hanya akan memperkaya pengetahuan kita, tetapi juga membuka jalan bagi kita untuk memberikan solusi yang berdampak langsung pada masyarakat. IMM harus mendorong kadernya untuk meneliti berbagai permasalahan sosial dan memberikan solusi konkret, baik itu dalam bentuk kebijakan publik, program sosial, atau bahkan usaha-usaha kewirausahaan yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, penguatan kolaborasi antarberbagai pihak juga sangat penting untuk menanggapi dan menyelesaikan isu-isu kontemporer tersebut. IMM sebagai organisasi mahasiswa harus mampu menjalin kerja sama yang erat dengan berbagai organisasi sosial, lembaga penelitian, dan bahkan pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah besar ini. Kolaborasi ini penting agar kita tidak hanya bekerja secara individu, tetapi juga memiliki kekuatan kolektif untuk menghasilkan perubahan yang lebih besar.

Selain itu, satu hal yang sering kali saya rasakan perlu mendapat perhatian lebih adalah pentingnya budaya kritis di kalangan kader IMM. Budaya kritis adalah salah satu nilai yang harus selalu dijaga dan diperkuat dalam IMM. Tanpa budaya kritis, kita sebagai kader IMM hanya akan menjadi bagian dari arus utama tanpa memberikan perubahan yang berarti. Budaya kritis tidak sekadar mempertanyakan atau mengkritik, tetapi juga berani mencari solusi yang lebih baik.

IMM seharusnya menjadi tempat melatih kadernya untuk berpikir secara analitis dan kritis terhadap segala hal yang terjadi di sekitar kita, baik dalam konteks kehidupan kampus, masyarakat, maupun politik. Dengan membangun budaya kritis ini, IMM dapat menghasilkan kader-kader yang tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga berani berinovasi dan memberikan kontribusi nyata dalam perbaikan sosial. Kader IMM harus diajarkan untuk tidak hanya menerima informasi begitu saja, tetapi juga untuk memahami konteks dan dampak dari setiap kebijakan atau isu yang muncul.

Di sinilah peran IMM dalam membentuk mahasiswa menjadi agen perubahan yang tidak hanya berfokus pada diri sendiri, tetapi juga peduli terhadap kondisi sosial di sekitar mereka. Kritis terhadap kebijakan, budaya, dan perkembangan sosial yang ada adalah hal yang harus ditanamkan kepada setiap kader IMM, agar kita bisa menjadi kekuatan yang mendorong perubahan positif dalam masyarakat.

Sebagai kader IMM, kita tidak hanya harus menjadi pribadi yang cerdas, tetapi juga harus memiliki kompetensi yang luas dan kemampuan untuk berkolaborasi serta berpikir kritis. Melalui penguatan kompetensi diri, penelitian, dan budaya kritis, IMM dapat mencetak kader-kader yang tidak hanya siap menghadapi tantangan dunia luar, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata terhadap perubahan sosial yang lebih baik. Saya percaya bahwa dengan langkah-langkah ini, IMM dapat terus berkembang dan berperan aktif dalam membentuk masa depan yang lebih baik bagi bangsa dan negara kita.

Penulis adalah peserta Lomba Menulis Opini Milad ke-61 IMM yang diselenggarakan oleh IMM Sukoharjo.

Berita Terbaru

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar Isi Behavioral Addiction dalam Psikologi Modern Otak yang Terlatih pada Stimulus Instan Kesehatan Mental dan Relasi yang Terganggu Al-Qur’an dan Penjagaan Kesadaran Kecanduan sebagai...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan

Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...

Leave a comment