Judul : Diskursus Pedagogi Kritis Kaum Muslim Modernis
Penulis : Dr. Mohamad Ali
Halaman: 152 halaman
ISBN: 978-602-361-638-1
Cetakan: 1, Mei 2024
Penerbit: Muhammadiyah University Press, UMS
Buku ini mengangkat kajian mendalam tentang pemikiran pendidikan dari tokoh-tokoh muslim modernis yang bermazhab pedagogi kritis. Tujuan utama buku ini adalah merekam jejak pemikiran dan kontribusi intelektual para ahli pendidikan muslim. Mereka telah berdedikasi untuk menyelesaikan masalah-masalah pendidikan dengan menggabungkan pandangan dasar Islam dengan teori-teori pendidikan modern Barat.
Pola kajian ini bertujuan menemukan dan mengembangkan konsepsi pendidikan Islam secara menyeluruh, mencerminkan usaha keras dalam menjelaskan, memahami, dan memecahkan isu-isu aktual dalam pendidikan Islam. Buku ini berfokus pada sepuluh tokoh penting dalam dunia pendidikan muslim modernis, yaitu Mohammad Natsir, Abdul Mukti Ali, M. Djazman Al-Kandi, Abdul Malik Fadjar, Shodiq A. Kuntoro, Musa Asy’arie, M. Sholeh Yai, Baidhowi, Moeslim Abdurrahman, dan Ahmad Syafii Maarif.
Setiap tokoh berkontribusi dengan cara yang unik, baik melalui tulisan, pemikiran, maupun keterlibatan langsung dalam pengembangan lembaga pendidikan. Mereka adalah akademisi yang juga pernah menjabat sebagai menteri atau rektor. Hal ini menunjukkan pemikiran dan praktik mereka berdampak luas dalam dunia pendidikan. Misalnya, Ahmad Syafi’i Ma’arif dan Shodiq A. Kuntoro berperan dalam pembimbingan akademis, sedangkan A. Malik Fadjar terlibat dalam ujian disertasi penulis.
Buku ini juga mengungkapkan pengalaman penulis dalam berinteraksi langsung dengan beberapa tokoh, yang memberikan inspirasi baik dari segi kecerdasan intelektual maupun nilai-nilai keteladanan hidup. Penulis menjelaskan bagaimana para tokoh ini tidak hanya mencurahkan energi intelektual mereka tetapi juga hidup dengan sederhana dan menggunakan kekayaan materi mereka untuk membantu orang lain. Hal ini menekankan, kebahagiaan sejati terletak pada kekayaan intelektual dan spiritual, bukan pada kekayaan materi.
Dialog Intelektual
Dengan memperlihatkan dialog intelektual yang intens dan nilai-nilai kehidupan para tokoh, buku ini menawarkan pandangan yang mendalam tentang pemikiran pendidikan kritis dan peran pentingnya dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Buku ini juga menyadari bahwa masih banyak tokoh dan pemikiran lain yang perlu diperhatikan dan dikaji lebih lanjut untuk memperluas diskursus pedagogi kritis.
Konsep pedagogi kritis-transformatif seringkali dikaitkan dengan istilah-istilah lain seperti pedagogi transformatif, pedagogi pemerdekaan, dan pedagogi pembebasan. Istilah-istilah ini menekankan pentingnya pendidikan sebagai kekuatan yang dapat mengubah dan membebaskan individu, menjadikannya pribadi yang merdeka dan bertanggung jawab, serta berkontribusi dalam transformasi sosial menuju struktur yang adil dan demokratis.
Sejak dekade 1980-an, pemikiran pedagogi kritis-transformatif mulai berkembang di Indonesia, terutama di kalangan intelektual dan tokoh LSM. Meski kurang populer di mata pemerintah, konsep ini terus dibahas sebagai alternatif model pendidikan yang lebih manusiawi dan inklusif. Tokoh-tokoh seperti Paulo Freire dan Peter L. Berger menjadi ikon penting dalam pengenalan ide-ide ini di Indonesia. Buku-buku mereka diterjemahkan dan dibahas secara intensif di kalangan intelektual yang mencari arah baru dalam pembangunan dan pendidikan.
Pedagogi kritis awalnya diperkenalkan oleh aktivis LSM dan agamawan Katolik, yang kemudian berkembang bersamaan dengan wacana teologi pembebasan. Pada perkembangannya, muslim modernis di Indonesia, meskipun awalnya minim terlibat, mulai mendialogkan pedagogi kritis dengan masalah pendidikan Islam. Tokoh-tokoh muslim modernis seperti Ahmad Syafi’i Ma’arif dan Abdul Malik Fadjar mulai memanfaatkan pedagogi kritis sebagai alat analisis dalam pendidikan Islam dan pendidikan nasional.
Dalam konteks pendidikan Indonesia, pedagogi kritis-transformatif dipahami dan diterapkan oleh kalangan Muslim modernis untuk memecahkan masalah pendidikan. Pengaruh ide-ide John Dewey tentang pendidikan progresif dan Paulo Freire tentang pendidikan pembebasan diadaptasi untuk menciptakan pendidikan yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Penelitian ini berupaya mengidentifikasi bagaimana ide-ide ini dipahami dan diterapkan oleh kalangan Muslim modernis di Indonesia.
Dua buku penting tentang pedagogi kritis terbit dalam bahasa Indonesia, masing-masing karya H.A.R. Tilaar dan Rakhmat Hidayat. Tilaar mengkaji pelopor pedagogi kritis di Indonesia, sementara Hidayat menelusuri akar pemikiran globalnya, khususnya John Dewey dan Paulo Freire. Hidayat menekankan bahwa meskipun Freire sering dianggap sebagai satu-satunya pelopor pedagogi kritis, John Dewey juga memiliki peran penting.
Pedagogi kritis menggabungkan ide-ide dari Dewey dan Freire, keduanya menekankan bahwa teori dan praktik harus Bersatu. Pendidikan harus berdasarkan realitas sosial, dan mengutamakan pendekatan dialogis. Dewey fokus pada rekonstruksi pengalaman berkelanjutan, sedangkan Freire pada perubahan kesadaran dari mitis ke kritis. Perbedaan utama adalah pendekatan terhadap kekuasaan: Dewey lebih lembut dan tidak konfrontatif, sementara Freire lebih politis. Gus Dur (Abdurrahman Wahid), seorang tokoh Indonesia, mengkritik pendekatan politis Freire dan mengusulkan pendekatan kultural yang lebih sesuai dengan masyarakat Indonesia.
Pendidikan progresif Dewey bertujuan merekonstruksi pengalaman untuk memecahkan masalah sosial, sedangkan pendidikan pembebasan Freire bertujuan membangun kesadaran kritis untuk memperbaiki kehidupan sosial. Kedua konsep ini mengarahkan pendidikan untuk menjadi daya ubah menuju kehidupan yang lebih baik dan berkemajuan.
Di Indonesia, pedagogi kritis sering dikaitkan dengan pendidikan Islam, terutama di dunia pesantren yang menjadi ikon pedagogi kritis pada 1980-an. Meskipun banyak pesantren berafiliasi kepada NU, ada juga yang tidak. Berbagai individu dari latar belakang berbeda terlibat dalam pengembangan pedagogi kritis. Pada pertengahan 1990-an, wacana pedagogi kritis berkembang dan meluas, mencakup isu-isu yang lebih luas dari sekadar dunia pesantren. Kaum muslim modernis semakin intensif membahas pedagogi kritis, menjadikannya lebih dinamis dan luas dalam cakupan temanya.
Untuk mengidentifikasi pedagog Muslim modernis-kritis, digunakan tiga kriteria: menjadi aktivis Muhammadiyah, menulis tentang pendidikan kritis, dan menunjukkan dukungan terhadap pendidikan kritis. Dari kriteria ini, teridentifikasi sepuluh tokoh, delapan dari Yogyakarta dan dua dari Jakarta. Dominasi Yogyakarta disebabkan oleh iklim intelektual dan adanya perguruan tinggi ternama. Seiring perkembangan, wacana pedagogi kritis meluas ke luar Yogyakarta dan Jakarta. Tema-tema pendidikan kritis yang diangkat sangat beragam, mencakup multikulturalisme, demokrasi, transformasi pendidikan Islam, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan nalar kritis dalam pendidikan Islam. Abdul Malik Fadjar menekuni pengembangan pendidikan Islam dari pesantren hingga perguruan tinggi. Said Tuhuleley dan Moeslim Abdurrahman fokus pada pendidikan untuk pengentasan kemiskinan dan transformasi sosial.
Multikulturalisme
Wacana demokrasi dan multikulturalisme menjadi perhatian utama para pedagog modernis, yang berupaya menjadikan pendidikan Islam sebagai wahana persemaian nilai-nilai ini. Pendidikan Islam juga diharapkan mampu mentransformasikan masyarakat menuju kehidupan yang lebih demokratis, egaliter, dan berkeadilan sosial.
Baca juga: Kepala Sekolah, Lokomotif Kemajuan Sekolah
Sesungguhnya pedagogi kritis di Indonesia berakar pada pendidikan progresif Dewey dan pendidikan kritis Freire. Perluasan basis sosiologis mendukung pedagogi kritis, melibatkan LSM dan dosen perguruan tinggi. Perbincangan pedagogi kritis mencakup pranata pendidikan Islam secara luas. Kajian lebih mendalam diperlukan terhadap pemikiran masing-masing tokoh dan praktik pendidikan kritis di lembaga-lembaga pendidikan Islam.
Buku ini juga menyoroti sepuluh tokoh penting dalam pedagogi Muslim modernis-kritis, dengan fokus pada kontribusi mereka terhadap pendidikan kritis. Buku ini memiliki gaya bahasa yang sangat mudah dipahami dan dimengerti, khususnya untuk pembaca pemula. Penyampaian materi dilakukan dengan cara yang padat dan langsung pada pokok permasalahan, tanpa bertele-tele. Hal ini memudahkan pembaca untuk memahami konsep-konsep yang dibahas tanpa harus terjebak dalam penjelasan yang panjang lebar. Struktur buku yang jelas dan fokus membantu pembaca mendapatkan informasi yang diperlukan dengan efisien.
Namun, buku ini juga memiliki beberapa kekurangan. Beberapa istilah yang digunakan dalam buku, seperti “kosmopolitan,” mungkin sulit dipahami oleh pembaca yang belum familiar dengan terminologi tersebut. Selain itu, terdapat beberapa kesalahan pengetikan, seperti penggunaan kata “tuhuan” yang seharusnya “tujuan.” Kesalahan-kesalahan ini dapat mengganggu pengalaman membaca dan mengurangi kualitas buku secara keseluruhan.
Penulis resensi adalah Ketua Bidang Pengembangan Intelektual dan Keislaman HMP PAI FAI UMS Periode 2024
Resensi Cerpen Pangeran yang Selalu Bahagia Karya Orcar Wilde
“Tuhan tidak melihat rupa dan harta melainkan hati; hati yang luas tak bertepi, cinta yang dalam tak terajuk” Buku Pangeran yag Selalu Bahagia dan cerita-cerita...
Pulang yang Tidak Pernah Benar-Benar Sampai
Ada rindu yang tak pernah menemukan alamatnya sendiri Ia kemudian tumbuh, menua, dan tetap tertahan oleh sejarah Apalah kemudian arti dari kata pulang, jika sebuah...
Resensi Buku Negara Paripurna, Membedah Lunturnya Nilai Pancasila
Daftar IsiIsi dan Pokok Pemikiran BukuHistorisitas PancasilaRasionalitas PancasilaAktualitas PancasilaKeunggulan BukuKelemahan BukuPenilaian dan RelevansiBuku ini merupakan karya monumental Yudi Latif yang membedah Pancasila secara komprehensif, baik...
Resensi Buku Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Menceritakan sebuah keluarga miskin yang hidup tanpa punggung keluarga sejak Tania (sekitaran 8 tahun) dan Dede (umur 3 tahun) masih kecil, mereka hidup dalam...
Resensi Buku: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Setiap orang pasti pernah merasa lelah dengan kehidupan: soal mimpi yang tak sampai, cinta yang kandas, atau hidup yang terasa biasa-biasa saja. Namun, pernahkah kita...
Resensi Buku Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut
Daftar IsiSinopsis SingkatEkofeminisme dalam Konteks NusantaraKelebihan NovelKekurangan NovelPesan MoralRekomendasi & PenutupResensi BukuSOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Penulisan novel ini terinspirasi langsung dari realitas pahit di Pulau Sangihe, sebuah wilayah...
Rsesensi Buku 9 dari Nadira: Cermin Keberanian Leila S. Chudori
Leila S. Chudori (lahir 12 Desember 1962) adalah wartawan dan penulis produktif Indonesia. Sejak masa remaja, karya-karyanya dimuat di majalah anak-anak, dan ia juga bekerja...
Makna Cinta: Menjadi Autentik dengan Mencintai Tanpa Syarat Ala Søren Kierkegaard
Apa yang sebenarnya kita maksud ketika berkata, “Aku mencintaimu”? Apakah cinta hanyalah perasaan manis yang membuat jantung berdebar? Atau sekadar ketertarikan yang menyala dan padam...
Muhammadiyah, Best Practise Kewirausahaan Sosial di Indonesia
Judul Buku : Bangkitnya Kewirausahaan Sosial Indonesia: Kisah Muhammadiyah Penulis : M. Arsjad Rasjid P.M. Penerbit : Pustaka KSP Kreatif dan Kadin Indonesia Edisi :...
Kemiskinan Tak Menghalangi Gapai Masa Depan
Judul buku : Dompet Ayah Sepatu Ibu Penulis : J.S. Khairen Penerbit : Grasindo Genre : Fiksi Tahun : Cetakan keenam, Januari 2024 Baca Juga...
Seruan Sang Muazin Bangsa
Judul : Islam Berkemajuan untuk Generasi Milenial Penulis : Hasnan Bachtiar Tahun terbit : 2023 Ketebalan : xlvi + 386 Ukuran : 14 x 21 cm Penerbit : Xpresi Books,...






