Judul buku : Dompet Ayah Sepatu Ibu
Penulis : J.S. Khairen
Penerbit : Grasindo
Genre : Fiksi
Tahun : Cetakan keenam, Januari 2024
Halaman : 216 Hal. (13,5 x 20 cm)
ISBN : 978-602-05-3022-2
Novel karya J.S. Khairen ini mengangkat kehidupan tokohnya yang sejak kecil hidup penuh keterbatasan ekonomi. Namun, keterbatasan itu yang selalu membuatnya bergerak dan menggerakkan sekitarnya. Ini adalah kisah tentang ayah dan ibu yang pantang menyerah sejak kecil. Kisah yang apik tentang dompet ayah serta sepatu ibu yang mengiringi letih dan perih mereka menjalani kehidupan menuju keadaan yang lebih baik.
Hidup memang penuh perjuangan. Bagi Zenna, anak keenam dari sebelas bersaudara, perjuangan hidup yang ia rasakan cukup berat. Gadis dari pinggang Gunung Singgalang itu sudah terbiasa sekolah dengan berjualan jagung rebus dengan ditenteng di kepala. Tak ada urat malu baginya. Yang ada ia dan adik-adiknya harus bisa meringankan beban Abak Umaknya. Sepatu sekolah yang menjadi saksi bisu perjuangan Zenna. Sepatu rombeng warisan kelima kakaknya. Zenna yang menyimpan janji ayahnya akan membelikan sepatu baru untuk kuliah. Namun, kepergian ayahnya saat ujian kelulusan SMA membuat janji itu tak akan pernah terwujud bahkan menambah berat hidupnya dan keluarga.
Di lereng Gunung Marapi tinggalah Asrul bersama Umi dan adiknya, Irsal dan Laeli. Kehidupannya pun setali tiga uang dengan Zenna. Bapak Asrul sebenarnya adalah pedagang kayu manis yang kalau usai berdagang dompetnya penuh dengan uang. Hanya saja bapaknya punya tiga istri sehingga Umi Asrul sebagai istri tua tinggal terpisah dan tidak mendapat cukup nafkah. Mereka hidup dalam kemiskinan.
Baik Zenna maupun Asrul belum saling kenal. Namun kehidupan mereka sejak kecil penuh dengan keringat dan air mata. Zenna dan Asrul sama-sama memiliki mimpi untuk sekolah tinggi agar masa depan mereka dan keluarga lebih baik. Lagi-lagi mereka terbentur biaya pendidikan yang mahal. Itu pun tak menyurutkan langkah mereka. Terlebih Zenna yang sejak kecil meski anak tengah namun ia selalu peduli pada keluarga terutama adik-adiknya. Zenna bagai batang bambu yang kokoh dan mengokohkan sekitarnya.
Pantang Menyerah
Ujian demi ujian hidup mereka hadapi. Sepeninggal ayahnya, Zenna dihadapkan pada pilihan untuk melanjutkan mimpinya sekolah tinggi atau keputusan keluarga besar untuk menikahkannya agar hidupnya segera ditanggung oleh suami. Guru Zenna yang sudah seperti ibu kedua baginya terus mendorong dan membantunya agar tetap daftar Sipenmaru (sistem penerimaan mahasiswa baru), apalagi Zenna adalah murid yang pandai. Di tengah semua proses pernikahan, Zenna sakit dan tidak dapat berbicara. Akhirnya, lamaran itu pun dibatalkan. Zenna semakin kokoh menatap hidupnya yang keras. Ia pun akhirnya ikut adik ayahnya bekerja memahat emas meski itu sebenarnya pekerjaan kasar dan untuk laki-laki. Akan tetapi begitulah Zenna, sama sekali ia tak peduli dan terus bekerja pantang menyerah sampai bisa dan dapat mengumpulkan uang.
Asrul juga selalu berpikir untuk bisa mendapatkan uang agar bisa kuliah dan kelak bisa mengajak Umi naik haji seperti Uwais Al Qarni, cerita umi saat Asrul dan Irsal masih kecil. Asrul yang pandai menulis puisi dan surat itu pun menjadi makelar surat cinta untuk teman-temannya. Dari situ ia mendapatkan uang. Sampai akhirnya Asrul bisa kuliah di IKIP Padang. Satu almamater dengan Zenna. Meski demikian mereka belum pernah bertemu lagi.
Doa Ibu
“Doa orang tua di kala sujud. Tak ada yang bisa menghambatnya untuk menggetarkan dinding singgasana Sang Maha Pasti.” (halaman 136)
Dari kerja keras, Zenna akhirnya bisa membeli sepatu, itu pun dengan diskon yang sangat tinggi karena bukan model terbaru. Selama menjadi mahasiswa, ia bekerja di akhir pekan di toko sepatu Juwita dan menjajakan kue buatannya di kampus. Resepnya di dapat dari menyalin resep koran Harian Semangat. Di kantor koran inilah Asrul tinggal, belajar, dan ikut bekerja. Kamar petak belakang tempat produksi yang sempit. Dari sinilah mimpi Asrul dirajut hingga menjadi wartawan hebat. Dari Harian Semangat inilah Zenna dan Asrul bertemu hingga akhirnya mereka menikah.
Kehidupan mereka tak serta merta membaik, ujian datang silih berganti. Namun, dalam keterbatasan tinggal di kontrakan mereka memboyong Umi, Umak dan adik-adik. Kepedulian Zenna pada keluarganya tak pernah hilang sejak dulu. Dari doa kedua ibu dan semangat serta kerja keras Asrul Zenna lambat laun keadaan mereka meningkat hingga mereka memiliki anak-anak yang sukses di kemudian hari. Asrul pun akhirnya bisa membuat Uminya naik haji bersama Bapak.
Penuh Hikmah
Novel ini diperuntukkan bagi pembaca mulai usia 13 tahun ke atas. Sangat bagus penanaman akhlak dan karakternya sehingga patut menjadi teladan generasi muda. Kepedulian dan kasih sayang keluarga selalu diutamakan. Segala yang ditanam di masa muda baik oleh diri sendiri maupun orang tua di kemudian hari dapat dituai setimpal dengan kebaikan itu. Tentu saja novel ini penuh kisah haru yang membuat menitikkan air mata. Sebuah karya yang indah dan penuh hikmah. Bintang lima untuk novel ini. Bacalah dan temukan hikmah indahnya. Selamat membaca.
Penulis adalah guru SD Muhammadiyah 2 Kauman, Solo. Penulis buku Tas Rajut Kasih Sayang dan Klandestin.
Sumber: Majalah Langkah Baru, edisi Maret-Juni 2024.
Pulang yang Tidak Pernah Benar-Benar Sampai
Ada rindu yang tak pernah menemukan alamatnya sendiri Ia kemudian tumbuh, menua, dan tetap tertahan oleh sejarah Apalah kemudian arti dari kata pulang, jika sebuah...
Resensi Buku Negara Paripurna, Membedah Lunturnya Nilai Pancasila
Daftar IsiIsi dan Pokok Pemikiran BukuHistorisitas PancasilaRasionalitas PancasilaAktualitas PancasilaKeunggulan BukuKelemahan BukuPenilaian dan RelevansiBuku ini merupakan karya monumental Yudi Latif yang membedah Pancasila secara komprehensif, baik...
Resensi Buku Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Menceritakan sebuah keluarga miskin yang hidup tanpa punggung keluarga sejak Tania (sekitaran 8 tahun) dan Dede (umur 3 tahun) masih kecil, mereka hidup dalam...
Resensi Buku: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Setiap orang pasti pernah merasa lelah dengan kehidupan: soal mimpi yang tak sampai, cinta yang kandas, atau hidup yang terasa biasa-biasa saja. Namun, pernahkah kita...
Resensi Buku Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut
Daftar IsiSinopsis SingkatEkofeminisme dalam Konteks NusantaraKelebihan NovelKekurangan NovelPesan MoralRekomendasi & PenutupResensi BukuSOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Penulisan novel ini terinspirasi langsung dari realitas pahit di Pulau Sangihe, sebuah wilayah...
Rsesensi Buku 9 dari Nadira: Cermin Keberanian Leila S. Chudori
Leila S. Chudori (lahir 12 Desember 1962) adalah wartawan dan penulis produktif Indonesia. Sejak masa remaja, karya-karyanya dimuat di majalah anak-anak, dan ia juga bekerja...
Makna Cinta: Menjadi Autentik dengan Mencintai Tanpa Syarat Ala Søren Kierkegaard
Apa yang sebenarnya kita maksud ketika berkata, “Aku mencintaimu”? Apakah cinta hanyalah perasaan manis yang membuat jantung berdebar? Atau sekadar ketertarikan yang menyala dan padam...
Muhammadiyah, Best Practise Kewirausahaan Sosial di Indonesia
Judul Buku : Bangkitnya Kewirausahaan Sosial Indonesia: Kisah Muhammadiyah Penulis : M. Arsjad Rasjid P.M. Penerbit : Pustaka KSP Kreatif dan Kadin Indonesia Edisi :...
Merekam Jejak Pemikiran Pakar Pendidikan Muslim Modernis
Judul : Diskursus Pedagogi Kritis Kaum Muslim Modernis Penulis : Dr. Mohamad Ali Halaman: 152 halaman ISBN: 978-602-361-638-1 Cetakan: 1, Mei 2024 Penerbit: Muhammadiyah University...
Seruan Sang Muazin Bangsa
Judul : Islam Berkemajuan untuk Generasi Milenial Penulis : Hasnan Bachtiar Tahun terbit : 2023 Ketebalan : xlvi + 386 Ukuran : 14 x 21 cm Penerbit : Xpresi Books,...






