Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Resensi Buku

Resensi Buku: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Hanif Syairafi Wiratama, Editor: Alan Aliarcham
Rabu, 23 Juli 2025 23:44 WIB
Resensi Buku: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Setiap orang pasti pernah merasa lelah dengan kehidupan: soal mimpi yang tak sampai, cinta yang kandas, atau hidup yang terasa biasa-biasa saja. Namun, pernahkah kita bertanya: “Kalau besok mati, apa yang ingin aku lakukan hari ini?”

Itulah premis mendalam dari buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, sebuah karya yang ringan dibaca tapi berat makna. Melalui kisah sederhana dan penuh refleksi, Brian Khrisna mengajak pembaca untuk berpikir ulang tentang hidup, kehilangan, dan makna kebahagiaan yang tampak sepele tapi ternyata krusial.

SINOPSIS SINGKAT

Buku ini mengisahkan seorang pria muda tanpa nama yang menjalani rutinitas kosong: bangun, kerja, tidur, dan ulangi. Ia lelah, tetapi juga tidak tahu harus ke mana. Hingga suatu hari, ia mendapat kabar mengejutkan hidupnya tinggal sebentar lagi. Dalam putus asa itu, ia memutuskan melakukan satu hal terakhir sebelum mati: makan mie ayam favoritnya di sebuah warung kecil yang penuh kenangan.

Namun, perjalanan menuju semangkuk mie ayam itu bukan sekadar jalan kaki biasa. Sepanjang perjalanannya, tokoh utama bertemu berbagai orang, memikirkan ulang keputusan hidup, hingga merefleksikan arti hidup dari hal-hal paling remeh dari senyuman tukang parkir hingga anak kecil yang tertawa di pinggir jalan. Semua itu perlahan mengubah caranya memaknai waktu, kehilangan, dan hidup itu sendiri.

ULASAN & ANALISIS

✦ Gaya Bahasa & Narasi

Brian Khrisna menulis dengan gaya khasnya: naratif personal, penuh kalimat pendek, puitis, dan kadang menyindir kehidupan modern. Ia tidak menawarkan solusi atas rasa hampa, tapi menampilkannya dengan jujur. Bahasanya sederhana, tapi penuh filosofi tersembunyi. Cocok untuk generasi muda yang lelah hidup tapi masih ingin mencari makna.

Contohnya dalam kutipan:

“Terkadang, untuk merasa hidup, kita hanya butuh satu hal yang sangat biasa. Sepiring makanan kesukaan. Sebuah pelukan. Sebuah alasan untuk bangun pagi.”

Kalimat seperti itu tampak ringan, tapi menyimpan renungan mendalam. Seperti dalam karya-karyanya terdahulu, Brian berhasil mengajak pembaca masuk ke dalam ruang batin tokohnya melihat luka, bertemu kekosongan, lalu merangkulnya dengan keikhlasan.

✦ Tema dan Nilai Filosofis

Meski judulnya ringan, buku ini tidak sekadar membahas mie ayam. Ia membicarakan tema yang sangat eksistensial:

Apa arti hidup ketika tahu waktu kita tinggal sebentar lagi?

Apa hal kecil yang membuat kita bahagia, namun sering terlewatkan?

Mengapa manusia sibuk mengejar hal besar tapi lupa menikmati hidup?

Buku ini mengingatkan kita pada gagasan “memento mori” (ingat kematian), bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk mendorong kita hidup lebih jujur, lebih sadar, lebih utuh. Dalam perjalanan mencari mie ayam, tokoh utama sebenarnya sedang mencari dirinya sendiri.

✦ Kelebihan Buku

1.Relatable

Cerita ini sangat dekat dengan kehidupan pembaca masa kini yang rentan burn out dan krisis eksistensi.

2.Ringan tapi Bermakna

Bisa dibaca cepat, namun butuh waktu merenung setelahnya. Bukan bacaan berat, tapi mendalam.

3.Visual dan Sinematik

Banyak deskripsi yang seperti adegan film indie. Tidak heran jika gaya penulisannya kerap disukai sineas dan pegiat seni.

4.Penuh Kutipan Reflektif

Sangat cocok untuk dibagikan ulang sebagai bahan konten, jurnal pribadi, atau renungan malam.

✦ Kekurangan Buku

Alur yang cenderung lambat dan repetitif di beberapa bagian bisa membuat pembaca yang menyukai plot dinamis merasa jenuh.

Tidak semua konflik terselesaikan. Tapi mungkin itu justru menjadi nilai filosofisnya karena hidup pun tak selalu tuntas.

“Kadang, kita tidak butuh jawaban. Kita hanya butuh tahu bahwa kita tidak sendiri dalam kebingungan.”

“Mungkin hidup memang hanya tentang sesederhana itu: makan makanan favorit, dengerin lagu kesukaan, dan pulang ke orang yang kita cinta.”

“Lucu ya, baru merasa hidup ketika tahu akan mati.”

KESIMPULAN

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati adalah buku yang sederhana secara bentuk, tapi kompleks dalam pesan. Dengan gaya khas Brian Khrisna, buku ini menawarkan pelarian dari kebisingan dunia dan mengajak pembaca duduk sejenak, melihat hidup, dan menikmati seporsi mie ayam yang mungkin selama ini hanya dianggap pengganjal lapar padahal menyimpan kenangan, makna, dan kehangatan.

Cocok dibaca oleh:

Pembaca yang sedang jenuh dan mencari makna hidup

Penggemar sastra populer Indonesia

Remaja dan dewasa muda yang menyukai refleksi eksistensial

Siapa pun yang ingin diingatkan bahwa hal-hal kecil bisa jadi alasan untuk bertahan

“Kadang, yang kita cari bukan hidup yang besar, tapi alasan kecil untuk tetap hidup.”

Itulah yang ditawarkan Brian Khrisna lewat semangkuk mie ayam. Dan mungkin, setelah membaca buku ini, kamu juga ingin makan seporsinya bukan karena lapar, tapi karena ingin hidup.

IDENTITAS BUKU

  • Judul: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
  • Penulis: Brian Khrisna
  • Penerbit: GagasMedia
  • Tahun Terbit: 2023
  • Jumlah Halaman: 202 halaman
  • ISBN: 978-979-780-999-2
  • Genre: Fiksi Reflektif, Sastra Populer, Filosofis
Share:

Berita Terbaru

Resensi Cerpen Pangeran yang Selalu Bahagia Karya Orcar Wilde

“Tuhan tidak melihat rupa dan harta melainkan hati; hati yang luas tak bertepi, cinta yang dalam tak terajuk” Buku Pangeran yag Selalu Bahagia dan cerita-cerita...

Pulang yang Tidak Pernah Benar-Benar Sampai

Ada rindu yang tak pernah menemukan alamatnya sendiri Ia kemudian tumbuh, menua, dan tetap tertahan oleh sejarah Apalah kemudian arti dari kata pulang, jika sebuah...

Resensi Buku Negara Paripurna, Membedah Lunturnya Nilai Pancasila

Daftar IsiIsi dan Pokok Pemikiran BukuHistorisitas PancasilaRasionalitas PancasilaAktualitas PancasilaKeunggulan BukuKelemahan BukuPenilaian dan RelevansiBuku ini merupakan karya monumental Yudi Latif yang membedah Pancasila secara komprehensif, baik...

Resensi Buku Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Menceritakan sebuah keluarga miskin yang hidup tanpa punggung keluarga sejak Tania (sekitaran 8 tahun) dan Dede (umur 3 tahun) masih kecil, mereka hidup dalam...

Resensi Buku Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut

Daftar IsiSinopsis SingkatEkofeminisme dalam Konteks NusantaraKelebihan NovelKekurangan NovelPesan MoralRekomendasi & PenutupResensi BukuSOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Penulisan novel ini terinspirasi langsung dari realitas pahit di Pulau Sangihe, sebuah wilayah...

Rsesensi Buku 9 dari Nadira: Cermin Keberanian Leila S. Chudori

Leila S. Chudori (lahir 12 Desember 1962) adalah wartawan dan penulis produktif Indonesia. Sejak masa remaja, karya-karyanya dimuat di majalah anak-anak, dan ia juga bekerja...

Makna Cinta: Menjadi Autentik dengan Mencintai Tanpa Syarat Ala Søren Kierkegaard

Apa yang sebenarnya kita maksud ketika berkata, “Aku mencintaimu”? Apakah cinta hanyalah perasaan manis yang membuat jantung berdebar? Atau sekadar ketertarikan yang menyala dan padam...

Muhammadiyah, Best Practise Kewirausahaan Sosial di Indonesia

Judul Buku       : Bangkitnya Kewirausahaan Sosial Indonesia: Kisah Muhammadiyah Penulis             : M. Arsjad Rasjid P.M. Penerbit            : Pustaka KSP Kreatif dan Kadin Indonesia Edisi                 :...

Merekam Jejak Pemikiran Pakar Pendidikan Muslim Modernis

Judul   : Diskursus Pedagogi Kritis Kaum Muslim Modernis Penulis : Dr. Mohamad Ali Halaman: 152 halaman ISBN: 978-602-361-638-1 Cetakan: 1, Mei 2024 Penerbit: Muhammadiyah University...

Kemiskinan Tak Menghalangi Gapai Masa Depan

Judul buku     : Dompet Ayah Sepatu Ibu Penulis           : J.S. Khairen Penerbit          : Grasindo Genre              : Fiksi Tahun             : Cetakan keenam, Januari 2024 Baca Juga...

Seruan Sang Muazin Bangsa

Judul                : Islam Berkemajuan untuk Generasi Milenial Penulis             : Hasnan Bachtiar Tahun terbit     : 2023 Ketebalan        : xlvi + 386 Ukuran             : 14 x 21 cm Penerbit           : Xpresi Books,...