Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Orientasi Pengembangan Sekolah Muhammadiyah

Dr. Mohamad Ali, Editor: Sholahuddin
Senin, 8 Juli 2024 08:16 WIB
Orientasi Pengembangan Sekolah Muhammadiyah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Mohamad Ali

Pada tahun 2006 kami mendapati SD Muhammadiyah Malangjiwan, Colomadu, Karanganyar dalam kondisi sekarat, menjelang ajal menjemput. Dalam setiap rombongan belajar (rombel) jumlah siswa kurang dari lima orang. Bahkan jumlah siswa baru (baca: kelas 1) tahun ajaran 2006/2007 hanya satu orang. Guru-guru sebagian besar wiyata bakti (honorer) yang digaji sangat kecil, dalam kisaran Rp100 ribuan. Ini bisa dipahami karena sekolah swasta gaji guru berasal dari iuran siswa, sedangkan jumlah siswa sedikit apalagi gratisan. Gaji guru praktis dari donasi jemaah pengajian yang dipimpin Mbah Suleman, seorang aktivis Muhammadiyah yang terus berupaya menjaga “nyawa” SD Muhammadiyah Malangjiwan agar terus bisa bernafas.

Dalam waktu yang cukup lama, Kepala Sekolahnya adalah seorang PNS. Mereka mengola sekolah Muhammadiyah layaknya sekolah negeri. Orientasi pengembangan sekolah berkiblat dan menggunakan template atau copy-paste sekolah negeri. Ciri pengembangan sekolah negeri adalah birokratis, top down berdasarkan juklak dan juknis dari atas, monoton, dan cara berfikir jangka pendek. Di sinilah titik kisar yang menentukan, mengapa banyak sekolah Muhammadiyah (juga sekolah swasta lain) mengalami kebangkrutan, ditinggalkan oleh masyarakat.

Orientasi pengembangan sekolah Muhammadiyah sangat berbeda dengan, untuk tidak mengatakan vis a vis dengan sekolah negeri. Sekolah negeri dibiayai oleh pemerintah, sekolah Muhammadiyah dibiayai masyarakat sehingga orientasi pengembangan bukan top down, tetapi bottom up, bukan birokratis tetapi kreativitas, bukan feodalisme tetapi eagaliter, bukan jangka pendeka tetapi jangka panjang. Oleh karena itu, orientasi pengembangan sekolah Muhammadiyah adalah bagaimana memperkuat akar di hati masyarakat, bukan mencari muka ke atasan (pejabat, pimpinan). Langkah untuk itu tidak bisa dengan jalan pintas, melainkan dengan jalan licin dan mendaki yang dilakukan dengan penuh dedikasi, totalitas, dan kesabaran.

Penulis dan para guru di SD Muhammadiyah Plus Malangjiwan, Colomadu (Istimewa).

Orientasi pengembangan sekolah Muhammadiyah idealnya, untuk meminjam istilah Prof. Moch. Sholeh YAI step by step ongoing process, melangkah tahap demi tahap secara berkelanjutan.  David C. Korten menyebut dengan kalimat “pendekatan proses belajar setapak demi setapak” dalam rangka mengembangkan “sekolah menjadi semakin efektif, efesien, dan produktif”.

Pengembangan dari Bawah

Pengelola sekolah Muhammadiyah (kepala sekolah dan guru-guru) maupun penyelenggaranya (Majelis Pendidikan) perlu memahami benar orientasi pengembangan sekolah dari bawah, maju setapak demi setapak dalam rangka mewujudkan sekolah Muhammadiyah yang semakin lama menjadi semakin efektif, lebih efisien dan lebih produktif. Pimpinan Majelis Pendidikan dan pimpinan sekolah Muhammadiyah yang masih berorientasi top down-birokratis harus segera bertobat dan segera bertransformasi diri sesuai dengan orientasi pengembangan sekolah Muhammadiyah bottom up-egaliter.

Baca juga : Saatnya sekolah Muhammadiyah berbenah

Dari kerangka uraian di atas dapat ditarik benang merah bahwa, modal utama memajukan sekolah bukan pada ketersediaan uang yang melimpah. Modal utama perubahan ataupun inovasi sekolah terletak pada perubahan cara pandang, perubahan orientasi berpikir dari para pengelola dan penyelenggara.

Secara empirik hal itu sudah terbukti, SD Muhammadiyah Malangjiwan kemudian bertransformasi menjadi menjadi SD Muhammadiyah Plus menjadi salah satu sekolah yang diperhitungkan masyakarat, dinilai sebagai sekolah berprestasi yang memberikan layanan prima kepada masyarakat. Salah satu prestasi yang membanggakan adalah rangking pertama Ujian Nasional (UN) tahun 2016 se-Kabupaten Karanganyar. Pada akhirnya terpulang pada diri kita masing-masing, sudikah mengubah orientasi pengembangan sekolah dari top down-feodalis-birokratis menjadi bottom up-egaliter-kreatif.

Penulis adalah Ketua Majelis Pendidikan PDM Kota Surakarta

Berita Terbaru

Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan

Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....

Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah

Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...

Peta Mutu Pendidikan Kota Solo

Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....

Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing

Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...

Politeisme Politik Indonesia

Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...

Renungan Tahun Baru 1448 Hijriah: Saatnya Pulang kepada Allah

Bismillahirrahmanirrahim. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Hari demi hari kita lewati dengan berbagai cerita. Ada tawa yang pernah menghiasi hidup,...

Belajar Bernapas di Tengah Sesak

Indonesia tidak sedang perang. Mal-mal masih ramai. Konser musik tetap dipenuhi lautan manusia. Kafe-kafe baru terus bermunculan. Linimasa media sosial dipenuhi video liburan, diskon besar-besaran,...

TKA dan Ancaman Marjinalisasi Ismuba

Kebijakan asesmen pendidikan Indonesia kembali memantik kegelisahan pada relung pembelajaran di Muhammadiyah, khususnya bagi pendidikan Ismuba (Al Islam, Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab). Tes Kemampuan Akademik...

Sang Pencari Makna

“Aku tahu kehidupan ini tiada arti, namun aku masih percaya bahwa ada suatu makna yang paling berarti, yakni aku (manusia).” Albert Camus – Krisis Kebebasan...

Menolak Politeisme Politik

Salah satu persoalan dakwah Islam di Indonesia saat ini adalah kecenderungannya yang lebih banyak berkonsentrasi pada pembangunan kesalehan individu. Mimbar-mimbar dakwah dipenuhi pembahasan tentang ibadah...

Krisis Peran Perempuan: Refleksi Ketiadaan IMMawati dalam Calon Formatur Musycab XLIV IMM Surakarta

Muhammadiyah dalam sejarahnya sukses melahirkan tokoh-tokoh bangsa dengan berbagai pengaruhnya, termasuk tokoh perempuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya organisasi otonom (ortom) khusus perempuan yakni ‘Aisyiah...

Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku

“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...