Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Visioning Perguruan Muhammadiyah

Dr. Mohamad Ali, Editor: Sholahuddin
Sabtu, 5 April 2025 15:59 WIB
Visioning Perguruan Muhammadiyah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Dr. Mohamad Ali (dok.pribadi).

Ada tradisi unik yang terus dipelihara Perguruan Muhammadiyah Kottabarat, Solo, hingga saat ini, yaitu mengadakan sarasehan yang dilanjutkan berbuka puasa bersama. Acara itu diadakan pada setiap akhir Ramadan, hari terakhir masuk sekolah sebelum libur Idulfitri. Ketua Komite sekolah/perguruan, Marpuji Ali, selalu bertindak sebagai narasumber tunggal. Peserta adalah seluruh pendidik dan tenaga kependidikan Perguruan Muhammadiyah Kottabarat. Pada Ramadan tahun ini, sarasehan diselenggarakan pada Senin (24/3/2025), dengan peserta mencapai 135 orang.

 Acara buka puasa bersama tentu hal yang lumrah dan banyak sekolah yang menyelenggarakan. Tetapi, sarasahan yang menghadirkan narasumber yang sama dan sudah berjalan dua dekade lebih, tentu mengandung sesuatu yang layak digali lebih jauh. Nilai-nilai apa yang memancar dari situ sehingga mampu mengangkat prestasi Perguruan Muhammadiyah Kottabarat pada level yang kompetitif baik di tingkat regional maupun nasional?

Esai ini ditulis berdasarkan refleksi pengalaman panjang penulis berpartisipasi dalam sarasehan dari awal Perguruan Muhammadiyah di Kottabarat, sejak tahun 2003 sampai 2025. Sebelum melangkah lebih jauh perlu dijelaskan di awal bahwa Perguruan Muhammadiyah Kottabarat adalah nama yang memayungi TK ‘Aisyiyah, SD-SMP-SMA Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat yang dikelola satu atap. Jenjang SD berdiri tahun 2000, SMP berdiri tahun 2010, pengembangan TK konvensional menjadi TK ‘Aisyiyah PK pada tahun 2011, dan berdirinya SMA pada tahun 2016.

Membangun Visioning Berkelanjutan   

Secara sederhana visioning dapat dipahami sebagai seni menatap masa depan yang dilakukan secara imajinatif, kreatif, inventif dan inovatif dengan membuka pikiran dan segenap indera pada saat proses belajar sehingga mampu melahirkan gagasan-gagasan besar yang mampu menerobos kebekuan tradisi maupun kepengapan birokrasi. Dengan cara demikian maka visioning merupakan proses melahirkan visi, akan memunculkan visi perguruan/sekolah yang benar-benar autentik dan menjadi karya bersama.

Tradisi sarasehan tahunan Perguruan Muhammadiyah Kottabarat ini dapat dilihat dari sudut pandang membangun visioning perguruan. Meski Ketua Komite selalu berpesan pada pimpinan perguruan untuk bisa menggaji pendidik dan tenaga kependidikan secara layak, tapi dalam pesan sarasehan jarang dibicarakan dan ketika disinggung selalui diletakkan dalam konteks memotivasi, “Perguruan belum bisa menggaji besar, karena masih dalam proses perintisan, tetapi alhamdulilah banyak prestasi dapat diraih. Ini menunjukkan bahwa semangat dan dedikasi pendidik dan tenaga kependidikan dalam mendidik anak-anak dilakukan dengan penuh dedikasi dan totalitas,” pesan Marpuji Ali.

 “Bergabung dan menjadi bagian perguruan Muhammadiyah Kottabarat harus diniati ibadah. Ibadah bukan hanya terbatas pada ritualitas salat, puasa dan rukun Islam yang lain, lebih dari itu ketika kita menjadi guru, menjadi pendidik dilakukan dengan keikhlasan dan penuh kesungguhan, totalitas dan dedikasi, juga merupakan manifestas ibadah.” Demikianlah, kalimat demikian selalu diulang-ulang saat sarasehan. Pengulangan seperti ini untuk menunjukkan bahwa perluasan makna ibadah sangat penting dan menjadi tiang penyangga kemajuan perguruan.

Konsep religius yang selalu diulang-ulang adalah makna ikhsan. Dalam pandangan Marpuji Ali, ikhsan bukan hanya dipahami sebagai berbuat baik/bagus, kebaikan/kebagusan dalam makna akhlak pribadi. Konsep ikhsan ditransformasikan dalam kehidupan sosial, yaitu berpartisipasi penuh dalam mewujudkan dan membuat bagus perguruan Muhammadiyah yang unggul dan berkemajuan.

Dalam perpektif ikhsan ini lah kemudian beliau mencoba menafsirkan pesan Kiai Ahmad Dahlan, “Hidup-hidupi Muhammadiyah, jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah”. Pesan ini bukan berarti orang yang bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) tidak boleh menerima gaji. Mereka tetap boleh menerima gaji. Bahkan bila mampu AUM memberi gaji yang layak kepada pengelola AUM. Contoh ikhsan di sini: “ketika kita sebagai pendidik digaji Rp2.000.000 (dua juta) sebagai pengelola harus bekerja keras seperti digaji Rp4.000.000 (empat juta). Kelebihannya merupakan sumbangan/sedekah kita untuk pengembangan Muhammadiyah.

Kata kunci terakhir yang selalu disampaikan adalah jamaah. Mengapa salat berjamaah nilainya jauh lebih tinggi (27 derajat) daripada salat sendiri? Tentu ketika berjamaah mengandung banyak hikmah dan kebaikan. Kegairahan salat secara berjamaah juga harus ditransformasikan dalam kehidupan sosial, dalam kehidupan profesional yang dalam hal ini adalah dalam pengembangan perguruan.

Salat berjamaah harus menjadi inspirasi kehidupan sosial dalam berjamaah mengelola perguruan. Bila imam (pimpinan) sekolah melakukan kekeliruan, warga sekolah sebagai jamaah wajib mengingatkan agar perjalanan sekolah ke arah kiblat yang ditentukan. Konsep jamaah dipahami sebagai nilai-nilai kolektivitas-sinergitas perguruan dalam meraik prestasi. Ketika prestasi dapat diraih kepala sekolah sebagai imam tidak boleh menepuk dada bahwa seolah-olah itu merupakan prestasi individual. Prestasi sekolah/perguruan merupakan hasil dari sinergitas-kolektifitas jamaah perguruan Muhammadiyah.

Visioning Membuahkan Prestasi

Dari alur uraian di atas dapat diidentifikasi kata-kata kunci yang menjadi visioning Perguruan Muhammadiyah Kottabarat, yaitu nilai-nilai ibadah, ikhsan, dan berjamaah. Bekerja menjadi pendidik dan tenaga kependidikan merupakan lahan “ibadah” untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik sekaligus mencerdaskan anak-anak bangsa (makhluk); bekerja mengedepankan sikap ikhsan berbuat baik sekaligus menciptakan perguruan/sekolah yang baik-unggul, kondusif pengembangan prestasi anak sesuai minat dan bakatnya masing-masing. Dan yang terakhir, bekerja dilakukan secara berjamaah, membangun nilai-nilai kebersamaan kolektivitas-sinergitas sebagai kekuatan penggerak utama kemajuan dan prestasi sekolah.

Tiga tata nilai inilah menjadi visi para pendidik dan tenaga kependidikan di Perguruan Muhammadiyah Kottabarat. Mereka bekerja bukan sekadar mencari uang, mereka bekerja bukan hanya untuk kepentingan sesaat, mereka bekerja bukan sekadar untuk dirinya sendiri, bahkan mereka bekerja bukan hanya untuk kebaikan di dunia ini. Nilai-nilai ibadah, ikhsan, dan berjamaah membingkai dan memberi arah kepada seluruh warga perguruan dalam bekerja untuk menciptakan masa depan yang jauh lebih baik.

Visioning yang kuat membuahkan prestasi perguruan yang mengesankan dan membanggakan. Beberapa prestasi layak disampaikan di sini: pada UTBK tahun 2022 SMA Muhammadiyah PK Kottabarat meraik nilai tertinggi di Kota Solo dan masuk rangking ke-78 nasional. Sebelum UN dihapus, SD dan SMP Muhammadiyah PK Kottabarat secara berturut menduduki peringkat pertama nilai UN se-Kota Solo. Di luar itu tentu masih banyak prestasi lain baik dalam lomba-lomba akademis maupun non-akademis. Prestasi sekolah pasti dicatat oleh masyarakat dan dijadikan referensi dalam memilih sekolah terbaik untuk anak-anak sehingga arus siswa untuk memasuki sekolah-sekolah yang dipayungi Perguruan Muhammadiyah Kottabarat semakin bertambah.

Demikian sedikit catatan reflektif dalam mengelola dan mendampingi Perguruan Muhammadiyah Kottabarat. Seiring kemajuan yang diraih, banyak sekolah dan pimpinan Muhammadiyah dari luar daerah, bahkan dari luar Jawa melakukan studi tiru. Dalam melakukan studi tiru mereka seringkali lebih terkesima dengan bangunan fisik atau keadaan saat ini, tidak sampai melihat dimensi dalam, roh yang menggerakkan dan proses-proses historis panjang yang telah dilalui. Esai ini telah berupaya menggali nilai-nilai apa yang menggerakkan kemajuan perguruan.

Penulis adalah anggota Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah, Direktur Perguruan Muhammadiyah Kottabarat Solo

Berita Terbaru

MBG, Syirik dan Tauhid

Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...

Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka

Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....

Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka

Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...

Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih

Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...

Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”

Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...

Muhammadiyah dan Rokok…

Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...

Tauhid yang Tertinggal di Puncak Gunung: Logika Mistika Tan Malaka

“Jangan bicara kotor di gunung. Jangan buang sampah sembarangan. Jangan sombong, nanti celaka.” Nasihat-nasihat itu begitu akrab di telinga para pendaki. Setiap langkah menuju puncak...

Kita Bukan Kekurangan Pahlawan, Tapi Kelebihan Penonton

Setiap 10 November, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada satu kata yang berat tapi kian terasa ringan diucapkan: pahlawan. Di sekolah-sekolah, anak-anak menyanyikan lagu “Gugur Bunga”...

Ketika Mimbar Jadi Panggung Lawak: Fenomena Gus-gusan yang Lupa Akhlak dan Rendahkan Ilmu

Daftar Isi Dakwah yang Kehilangan Akhlak Kenapa Fenomena Ini Diberi Panggung? Candaan Boleh, Tapi Jangan Berlebihan Krisis Ilmu di Tengah Budaya Viral Dari Popularitas ke...

MBG dan Ilusi Presiden Seumur Hidup

Pada Minggu (19/10/2025), bakda Magrib hingga Isyak, saya mengikuti pengajian rutin di masjid dekat kompleks perumahaan saya, di Colomadu, Karanganyar. Masjid ini tidak jauh dari...

Leave a comment