
Ada rindu yang tak pernah menemukan alamatnya sendiri
Ia kemudian tumbuh, menua, dan tetap tertahan oleh sejarah
Apalah kemudian arti dari kata pulang, jika sebuah negara bahkan menolak kehadiran warganya itu sendiri.?
Di dalam kata pulang, rindu itu takkan pernah selesai. Ia hanya akan diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Ia pergi sekadar untuk memenuhi tugasnya sebagai seorang pemuda yang haus akan ilmu. Tapi, hingga nyawanya telah ditarik secara paripurna, ia bahkan tidak sempat merasakan hangatnya tanah tempat kelahirannya. Anak istri yang ia tinggalkan, kini hanya bisa berusaha menyelesaikan janji sang ayah sekaligus seorang suami, yang ingin kembali ke pangkuan ibu pertiwi, sekalipun nyawa tak lagi di sini. Hanya karena satu dendam masa lalu, ia bahkan tak lagi dianggap sebagai warga negara yang budiman, karena stigma yang mengunci beningnya rasa memaafkan.
——————————–
Identitas Novel
Judul: Pulang
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Terbit perdana: 2o12
——————————–
Pulang bukan pula hanya tentang kembalinya fisik seseorang ke bangunan yang ia anggap rumah, tetapi lebih daripada itu. Ini tentang sebuah pengakuan, sebuah penerimaan, dan juga sebuah hak yang disebut sebagai seorang warga negara. Mereka yang dianggap mengkhianati bangsa karena kritis dalam mengusut bobroknya pemerintahan Orde Lama, rela dicabut paspornya, direbut secara paksa identitas kewarganegaraannya. Hilangnya nama mereka di negeri orang, bahkan sampai di titik mereka kehilangan kesempatan untuk dapat menjelaskan siapa mereka, dari mana mereka, dan apa tujuan mereka. Di sinilah kemudian bagaimana kejamnya seseorang yang merasa berkuasa, menghancurkan hidup seseorang yang seharusnya ia anggap sebagai warga negara dan justru ia jadikan orang yang membelakangi kekuasaannya itu sebagai orang asing di negeri antah berantah.
Kita ketahui bahwasanya tragedi lubang buaya dan pembantaian simpatisan PKI pada tahun 1965 merupakan sebuah sejarah kelam yang pernah tersimpan di file sejarah bangsa Indonesia. Bagaimana kemudian pemerintah era Soeharto yang ketika itu menjabat sebagai Pangkostrad mengambil alih mandat kepemimpinan Men/Pangad untuk melibas habis PKI beserta simpatisannya. Tapi, hingga kini justru kata PKI kini digunakan oleh orang-orang yang berkuasa agar dapat menyingkirkan musuh mereka. Bahkan, mereka membabat habis para petani yang bergabung ke Barisan Tani Indonesia. Padahal para petani itu hanya di janjikan lahan yang luas dari pihak PKI jika mereka mau bergabung bersama mereka.
Stigma yang diwariskan dari generasi ke generasi yang lain juga tak kalah mencengangkan. Mereka akan dipantau dan tak diperbolehkan bekerja sebagaimana layaknya orang biasa, sampai tanda pengenal yang mereka miliki dibubuhi huruf ET atau eks-tahanan politik (tapol) untuk memudahkan penguasa memantau semua kegiatan mereka. Leila S. Chudori dalam novel karyanya, yaitu Pulang, berusaha memberitahukan kepada pembaca kalau pulang itu bukanlah sekadar tentang kembalinya seseorang dari sebuah perjalanan panjang ke tempat lainnya, tapi bagaimana seseorang itu dapat menerima luka masa lalu yang pernah ia tinggalkan dan kini dengan lantang dan tegas ia berusaha untuk dapat memeluk semua rasa sakit, pedih dan kelam itu dalam sebuah pelukan penerimaan.
Novel ini juga tidak menceritakan kejadian itu dengan berteriak, tapi ia bercerita dengan luka yang tertahan. Luka seorang pemuda yang harus berpindah pindah negara karena tanda pengenal dan semua atribut kenegaraannya dicabut secara paksa oleh negara, luka seorang wanita yang hanya bisa mendengarkan suaminya bercerita tentang negara asalnya tanpa bisa memberikan solusi, dan luka seorang anak yang ketika ia bertanya tentang negara sang ayah, justru hanya di balas dengan tatapan kerinduan seorang ayah yang pernah menjadi anak di sebuah negara berkembang dan kini dia tak diterima di negara itu sendiri.
Hubungan yang terjalin antara anak yang lahir jauh dari tempat kelahiran sang ayah, dan ayah yang berusaha untuk memahami semua adat, kebiasaan dan hal penting yang harus diperhatikan dalam pertumbuhan anak di negeri antah berantah, kadang-kadang memiliki permasalahan yang tidak sesederhana pertengkaran ayah dan anak tentang waktu dan batas keluar di malam hari. Justru permasalahan yang muncul di antara mereka adalah tentang anak yang ingin mengetahui asal usul sang ayah, siapa itu rahwana, siapa itu arjuna, siapa itu pandawa yang selalu ayahnya ceritakan di malam ketika mereka menonton film di sebuah lapangan luas di Prancis.
Sang ayah, Dimas Suryo, membawa serta ingatan lamanya tentang semua yang terjadi di Indonesia. Ingatan tentang perginya ia ke sebuah konferensi jurnalis di Santiago dan Peking atas perintah atasan sekaligus kakak tingkatnya, yaitu Hananto Prawiro, untuk membahas hal hal terkait situasi terkini dunia. Namun, kepergiannya untuk menggantikan Hananto justru membuat Hananto tertangkap oleh aparat, dan membawanya kepada akhir dari perjuangan seorang pemuda sekaligus kepala keluarga di ranah politik indonesia.
Sang anak, Lintang Utara, gadis hasil peranakan Indonesia-Prancis itu membawa begitu banyak pertanyaan. Apa itu Indonesia? Apakah Indonesia adalah sebuah negara besar? Apakah Indonesia yang diceritakan sang ayah persis seperti rasa masakan yang beragam bentuk, wangi dan cita rasanya? Siapa itu Rahwana, Arjuna, Pandawa dan semua tokoh yang diceritakan ayahnya?
Dan di antara mereka berdua, ada sebuah jarak yang sulit untuk dijelaskan. Sejarah bangsa yang kemudian melekat dan menelisik masuk ke dalam ruang keluarga membuat sang anak bertanya tanya, apa yang membuat ayah begitu ingin untuk kembali ke negara asalnya, yaitu Indonesia? Bukankah ia sudah ditetapkan sebagai seorang simpatisan PKI? Semua hak negaranya dicabut, bahkan untuk sekadar menyambangi keluarga yang ditinggalkan, negara tetap tak menerimanya? Untuk apa kemudian semua bumbu-bumbu masakan, rempah-rempah yang dibeli pamannya untuk sang ayah dipajang di ruang depan apartemen mereka? Sejauh itu kah ayahnya dengan Indonesia?
Restoran Tanah Air
Dimas Suryo, jika kita lihat lagi bentuk usahanya dalam bertahan hidup di negeri orang, ia dan teman teman sejawatnya yang juga dicabut hak kewarganegaraannya kemudian mendirikan sebuah Restoran Tanah Air guna untuk mempromosikan dan memperkenalkan Indonesia kepada khalayak dunia. Mereka melakukan apa saja untuk tetap bertahan hidup, dan pemerintah Prancis memudahkan segala urusan mereka dalam mengupayakan kesejahteraan orang orang yang diusir dari negaranya sendiri. Sekalipun begitu, mereka tetap merindukan Indonesia, meski di negeri orang mereka sudah sukses bertahan baik secara mental mapun finansial.
Pulang tidak selalu menjadi akhir yang bahagia bagi mereka, tapi pulang bisa menjadi harapan terakhir bagi mereka dalam bentuk perlawanan yang dapat mereka lakukan, sekalipun hanya hal itulah yang tersisa. Mereka berharap agar dapat kembali pulang, demi tetap mewaraskan pikiran mereka yang selalu di isi dengan penolakan dari pihak pihak yang tidak menyukai semua hal tentang Dimas Suryo dan teman sejawatnya. Pulang juga kemudian menjadi opsi lain bagi mereka agar tak dapat dilupakan oleh sejarah, agar kelak semua kisah masa lampau yang mereka simpan dan akan mereka ceritakan ke anak cucunya dapat dijadikan sebagai pelajaran dalam menyikapi kehidupan kedepannya.
Akhirnya, dapat kita pahami bahwa Pulang berusaha mengajak kita untuk dapat meninjau kembali sejarah yang sudah terjadi, bukan untuk membangkitkan dendam itu kembali, melainkan untuk mengakui kalau kejadian yang kini menjadi sebuah luka itu pernah ada. Membaca Pulang berarti belajar bahwasanya bangsa yang besar itu bukan hanya pemenang yang berhak menuliskan sejarah, tetapi yang berani mendengarkan mereka yang pernah disingkirkan.
Peresensi adalah kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pondok Shabran UMS.
Resensi Cerpen Pangeran yang Selalu Bahagia Karya Orcar Wilde
“Tuhan tidak melihat rupa dan harta melainkan hati; hati yang luas tak bertepi, cinta yang dalam tak terajuk” Buku Pangeran yag Selalu Bahagia dan cerita-cerita...
Resensi Buku Negara Paripurna, Membedah Lunturnya Nilai Pancasila
Daftar IsiIsi dan Pokok Pemikiran BukuHistorisitas PancasilaRasionalitas PancasilaAktualitas PancasilaKeunggulan BukuKelemahan BukuPenilaian dan RelevansiBuku ini merupakan karya monumental Yudi Latif yang membedah Pancasila secara komprehensif, baik...
Resensi Buku Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Menceritakan sebuah keluarga miskin yang hidup tanpa punggung keluarga sejak Tania (sekitaran 8 tahun) dan Dede (umur 3 tahun) masih kecil, mereka hidup dalam...
Resensi Buku: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Setiap orang pasti pernah merasa lelah dengan kehidupan: soal mimpi yang tak sampai, cinta yang kandas, atau hidup yang terasa biasa-biasa saja. Namun, pernahkah kita...
Resensi Buku Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut
Daftar IsiSinopsis SingkatEkofeminisme dalam Konteks NusantaraKelebihan NovelKekurangan NovelPesan MoralRekomendasi & PenutupResensi BukuSOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Penulisan novel ini terinspirasi langsung dari realitas pahit di Pulau Sangihe, sebuah wilayah...
Rsesensi Buku 9 dari Nadira: Cermin Keberanian Leila S. Chudori
Leila S. Chudori (lahir 12 Desember 1962) adalah wartawan dan penulis produktif Indonesia. Sejak masa remaja, karya-karyanya dimuat di majalah anak-anak, dan ia juga bekerja...
Makna Cinta: Menjadi Autentik dengan Mencintai Tanpa Syarat Ala Søren Kierkegaard
Apa yang sebenarnya kita maksud ketika berkata, “Aku mencintaimu”? Apakah cinta hanyalah perasaan manis yang membuat jantung berdebar? Atau sekadar ketertarikan yang menyala dan padam...
Muhammadiyah, Best Practise Kewirausahaan Sosial di Indonesia
Judul Buku : Bangkitnya Kewirausahaan Sosial Indonesia: Kisah Muhammadiyah Penulis : M. Arsjad Rasjid P.M. Penerbit : Pustaka KSP Kreatif dan Kadin Indonesia Edisi :...
Merekam Jejak Pemikiran Pakar Pendidikan Muslim Modernis
Judul : Diskursus Pedagogi Kritis Kaum Muslim Modernis Penulis : Dr. Mohamad Ali Halaman: 152 halaman ISBN: 978-602-361-638-1 Cetakan: 1, Mei 2024 Penerbit: Muhammadiyah University...
Kemiskinan Tak Menghalangi Gapai Masa Depan
Judul buku : Dompet Ayah Sepatu Ibu Penulis : J.S. Khairen Penerbit : Grasindo Genre : Fiksi Tahun : Cetakan keenam, Januari 2024 Baca Juga...
Seruan Sang Muazin Bangsa
Judul : Islam Berkemajuan untuk Generasi Milenial Penulis : Hasnan Bachtiar Tahun terbit : 2023 Ketebalan : xlvi + 386 Ukuran : 14 x 21 cm Penerbit : Xpresi Books,...





