Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Resensi Buku

Muhammadiyah, Best Practise Kewirausahaan Sosial di Indonesia

Sholahuddin, Editor: Sholahuddin
Senin, 25 November 2024 16:27 WIB
Muhammadiyah, Best Practise Kewirausahaan Sosial di Indonesia
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Buku Bangkitnya Kewirausahaan Sosial di Indonesia: Kisah Muhammadiyah.

Judul Buku       : Bangkitnya Kewirausahaan Sosial Indonesia: Kisah Muhammadiyah

Penulis             : M. Arsjad Rasjid P.M.

Penerbit            : Pustaka KSP Kreatif dan Kadin Indonesia

Edisi                 : Januari 2024

Tebal                : 142 Hal

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam pengantar buku ini, mengatakan pada usianya 111 tahun [112 tahun pada 18 November], persyarikatan terus berkembang dan menebar manfaat bagi umat bangsa, seperti dirintis para pendahulunya. Puluhan ribu amal usaha didirikan dan telah memberikan manfaat kepada siapapun. Meski selama ini dikenal sebagai gerakan dengan amal usahanya di bidang pendidikan dan kesehatan, Muhammadiyah juga mengelola amal usaha di bidang sosial, seperti panti asuhan, rumah lansia hingga penanganan kebencanaan, maupun lingkungan yang kesemuannya untuk menebar manfaat bagi masyarakat.

Muhammadiyah juga melakukan aktivitas perekonomian sebagai implementasi firman-Nya untuk kebermanfaatan seluas-luasnya untuk umat. Muhammadiyah tengah membangun usaha bisnis yang berorientasi profit yang tergabung dalam Badan Usaha Milik Muhammadiyah (BUMM) yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Menurut Haedar, kesemua gerak amal di Muhammadiyah ini diperuntukkan bagi kemasalahatan seluas-luasnya bagi masyarakat. Keuntungan yang diperoleh Muhammadiyah tidak mengalir ke kantong-kantong pribadi maupun pengurus. Kesemuanya diperuntukkan menggerakkan roda organisasi, membiayai program dan membiayai amal usaha yang jumlahnya ribuan tersebut.

Ya, inilah hakikat sociopreneurship atau kewirausahaan sosial Muhammadiyah. Kewirausahan sosial adalah sebuah model bisnis yang tujuannya menyelesaikan masalah-masalah sosial dengan menggunakan instrumen bisnis. Jadi model kewirausahaan sosial tidak hanya mencari keuntungan tapi juga berorientasi kepada dampak sosial dan menginvestasikan kembali sebagian besar keuntungannya untuk misi sosial tersebut. Model ini dikenal dengan triple bottom line, yaitu people, planet dan profit (hal.14). Muhammadiyah, dengan semua gerakan dan amal usahanya, memenuhi kriteria sebagai gerakan kewirausahaan sosial. Bahkan, menurut Haedar Nashir, bukan sekadar sociopreneurship, persyarikatan adalah socio-religiopreneurship yaitu sebuah konsepsi kewirausahaan (sociopreneurship) yang berlandaskan nilai-nilai agama dan berorientasi semata hanya mendapatkan rida Allah SWT.

Nah, buku karya tokoh Kadin M. Arsjad Rasjid P.M. ini mengulas tren-tren baru dalam perkembangan kewirausahaan sosial baik di Indonesia maupun di dunia. Bisnis yang berbasis pada kewirausahaan sekarang menjadi kecenderungan baru di dunia bisnis. Mereka hadir bukan hanya mengejar profit, melainkan ikut terlibat dalam penyelesaian masalah-masalah sosial ekonomi masyarakat. Kewirusahaan tidak sekadar gerakan CSR atau corprorate social responsibility atau tanggungjawab sosial perusahaan. Prinsis CSR adalah memanfaatkan sebagian profit perusahaan untuk kebermanfaatan sosial bagi stakeholders di sekelilingnya. Sedangkan kewirausahaan memang sejak awal didesain untuk menyelesaikan persoalan sosial dengan instrumen bisnis. Tentu, dalam buku ini, Muhammadiyah menjadi praktik baik dalam pembahasan karena keberhasilannya membangun ribuan usaha baik di dalam negeri maupun luar negeri. Kesemua amal usaha dan program profit lainnya untuk menyelesaikan masalah sosial dan kemanusiaan di muka bumi. Selain itu, buku ini juga mengulas berbagai keberhasilan gerakan kewirausahan sosial yang berhasil di berbagai penjuru dunia berikut model-modelnya. Muhammadiyah tetap menjadi fokus utama bahasan. Muhammadiyah yang kini diperkirakan beraset Rp320 triliun ini merupakan hasil pergumulan panjang yang dirintis sejak Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Awalnya persyarikatan ini digerakkan para saudagar batik. Merekalah yang menghidupi Muhammadiyah dan menyebarkan gerakan ini dari Jogja tempat kelahirannya, ke berbagai daerah lain di Indonesia. Para saudagar batik ini yang membiayai Muhammadiyah. Pada periode awal, Muhammadiyah memang disokong dari iuran anggota. Setelah era saudagar mulai redup karena berbagai faktor, pengurus Muhammadiyah mulai berpikir keras membangun kemandirian organisasi melalui gerakan kewirausahaan sosial.  Banyak sektor produktif dibangun para aktivis persyarikatan.

Sukarelawan Persyarikatan

Melalui proses panjang, kerja keras para sukarelawan persyarikatan yang bekerja dengan ikhlas, Muhammadiyah (dan ‘Aisyiyah tentunya) berhasil membangun ribuan amal usahanya. Di bidang pendidikan saja, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah memiliki 28.262 sekolah sejak dari tingkat TK hingga SMA, perguruan tinggi, formal, informal, maupun non-formal di Indonesia maupun di luar negeri. Rumah sakit bagi Muhammadiyah merupakan entitas penyelenggara amal usaha, program dan kegiatan pokok di bidang kesehatan. Persyarikatan memiliki 107 rumah sakit, dan 228 klinik di bawah naungan Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Muhammadiyah, yang telah melayani 12,5 juta pasien setahun. Muhammadiyah juga mengelola Baitul Tamwil Muhammadiyah (BTM), lembaga keuangan syariah yang menyediakan alternatif dalam mengakses produk dan layanan keuangan syariah secara inklusif serta menjadi garda depan misi sosial Muhammadiyah. Aset BTM ini mencapai ratusan miliar rupiah dengan ratusan ribu orang sebagai penerima manfaat. (hal. 64-65).

Dalam gerakan sektor produktif, Muhammadiyah menyasar untuk penguatan UMKM yang menjadi penopang perekonomian nasional. Sektor UMKM ini menyumbang 61,1 persen PDB (produk domistik bruto) nasional. Sisanya 38, 9 persen disumbang usaha besar yang jumlahnya hanya 5.550 atau 0,01 persen dari jumlah total pelaku usaha di Indonesia. Muhammadiyah melalui holding company PT Syarikat Cahaya Media, penerbit Suara Muhammadiyah, membangun jaringan ritel Logmart, BulogMu, termasuk perhotelan (SM Tower), wisata, biro umroh dan haji, dan sebagainya. Masih banyak usaha lain di persyarikatan yang diulas di buku ini, seperti Rumah Mocaf Indonesia dengan produk tepung MocafMu, Ecoprint ‘Aisyiyah.

Gerakan kerelawanan yang mewujud dalam kewirausahaan sosial ini telah mengantarkan Muhammadiyah menjadi organisasi non-pemerintah yang meraksasa, tak hanya di Indonesia, tapi juga dunia. Semua berangkat dari roh Muhammadiyah yang diangkat dari teologi Al Maun sebagai spirit pemberdayaan umat.

Buku ini sangat pas dibaca bagi para penggerak Muhammadiyah, ‘Aisyiyah maupun organisasi otonom (ortom) lainnya, para pengelola amal usaha Muhammadiyah (AUM). Bahwa Muhammadiyah hadir untuk ikut menyelesaikan problem sosial, kemanusiaan dan ekonomi umat. Semoga….

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Resensi Cerpen Pangeran yang Selalu Bahagia Karya Orcar Wilde

“Tuhan tidak melihat rupa dan harta melainkan hati; hati yang luas tak bertepi, cinta yang dalam tak terajuk” Buku Pangeran yag Selalu Bahagia dan cerita-cerita...

Pulang yang Tidak Pernah Benar-Benar Sampai

Ada rindu yang tak pernah menemukan alamatnya sendiri Ia kemudian tumbuh, menua, dan tetap tertahan oleh sejarah Apalah kemudian arti dari kata pulang, jika sebuah...

Resensi Buku Negara Paripurna, Membedah Lunturnya Nilai Pancasila

Daftar IsiIsi dan Pokok Pemikiran BukuHistorisitas PancasilaRasionalitas PancasilaAktualitas PancasilaKeunggulan BukuKelemahan BukuPenilaian dan RelevansiBuku ini merupakan karya monumental Yudi Latif yang membedah Pancasila secara komprehensif, baik...

Resensi Buku Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Menceritakan sebuah keluarga miskin yang hidup tanpa punggung keluarga sejak Tania (sekitaran 8 tahun) dan Dede (umur 3 tahun) masih kecil, mereka hidup dalam...

Resensi Buku: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Setiap orang pasti pernah merasa lelah dengan kehidupan: soal mimpi yang tak sampai, cinta yang kandas, atau hidup yang terasa biasa-biasa saja. Namun, pernahkah kita...

Resensi Buku Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut

Daftar IsiSinopsis SingkatEkofeminisme dalam Konteks NusantaraKelebihan NovelKekurangan NovelPesan MoralRekomendasi & PenutupResensi BukuSOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Penulisan novel ini terinspirasi langsung dari realitas pahit di Pulau Sangihe, sebuah wilayah...

Rsesensi Buku 9 dari Nadira: Cermin Keberanian Leila S. Chudori

Leila S. Chudori (lahir 12 Desember 1962) adalah wartawan dan penulis produktif Indonesia. Sejak masa remaja, karya-karyanya dimuat di majalah anak-anak, dan ia juga bekerja...

Makna Cinta: Menjadi Autentik dengan Mencintai Tanpa Syarat Ala Søren Kierkegaard

Apa yang sebenarnya kita maksud ketika berkata, “Aku mencintaimu”? Apakah cinta hanyalah perasaan manis yang membuat jantung berdebar? Atau sekadar ketertarikan yang menyala dan padam...

Merekam Jejak Pemikiran Pakar Pendidikan Muslim Modernis

Judul   : Diskursus Pedagogi Kritis Kaum Muslim Modernis Penulis : Dr. Mohamad Ali Halaman: 152 halaman ISBN: 978-602-361-638-1 Cetakan: 1, Mei 2024 Penerbit: Muhammadiyah University...

Kemiskinan Tak Menghalangi Gapai Masa Depan

Judul buku     : Dompet Ayah Sepatu Ibu Penulis           : J.S. Khairen Penerbit          : Grasindo Genre              : Fiksi Tahun             : Cetakan keenam, Januari 2024 Baca Juga...

Seruan Sang Muazin Bangsa

Judul                : Islam Berkemajuan untuk Generasi Milenial Penulis             : Hasnan Bachtiar Tahun terbit     : 2023 Ketebalan        : xlvi + 386 Ukuran             : 14 x 21 cm Penerbit           : Xpresi Books,...

Leave a comment