Ketika saya menulis judul esai ini, ingatan saya tertuju pada masa remaja yang menyukai semua hal terkait sepak bola. Untuk mewujudkan kesukaan tersebut, saya rela menyisihkan uang jajan perminggu hanya untuk berlangganan tabloid Bola agar tidak ketinggalan informasi. Tontonan liga Italia, begitu familier saya tonton, pun termasuk nama besar para pemain bolanya seperti Del Piero, Filipho Inzaghi, Roberto Mancini dkk menjadi idola pada masanya.
Saya pun menonton permainan sepak bola di televisi dan menikmatinya. Ada satu hal yang saya tidak lewatkan, yakni ulasan komentator. Saya menikmati ulasan komentator sebelum pertandingan. Ulasan kekuatan dan kelemahan dari setiap tim yang akan berlaga dikupas. Bahkan sampai prediksi kemenangan dan kekalahan pun menyertai setiap pertandingan. Saat pertandingan berlangsung, saya sebagai penonton pun terkadang ikut mengomentari bila ada pemain yang melakukan kesalahan seolah saya lebih jago.
Tentu saja saya sebagai penonton sangat berharap tim favorit yang saya senangi akan memenangkan pertandingan. Jujur saja, ketika tim favorit saya kalah maka raut wajah kesedihan akan tampak. Apalagi jika kalahnya menurut saya akibat wasit tidak adil dalam mengatur pertandingan. Wuih, dongkolnya menjadi-jadi. Liga Italia yang pada masanya itu menjadi liga terbaik dunia menyuguhkan hiburan akhir pekan yang tak ternilai dalam benak saya.
Hingga suatu saat petaka muncul. Skandal pengaturan skor terungkap. Tim hebat terdegradasi akibat skandal ini. Maka, bermunculanlah isu-isu mafia bola, pejabat petinggi bola terlibat. Perjudian, dan hal terkait kejahatan dalam dunia bola terungkap. Sekejap, runtuhlah kedigdayaan liga Italia yang tercoreng skandal. Semenjak itu, saya jarang menonton liga itu lagi.
Kemiripan
Sepak bola adalah permainan yang ada kemiripan dengan perhelatan politik. Dalam sepak bola pengurus/pengelola (organisasi seperti PSSI), ada tim yang bertanding (kontestasi), ada wasit yang mengatur pertandingan, ada penonton dan ada juga pengamat. Keberadaan unsur-unsur tersebut yang menjadikan sepak bola berkualitas yang akan menghadirkan tontonan menghibur dan membuat kita bahagia. Tetapi bisa juga sebaliknya, bila PSSI tidak adil, atau wasit memihak, atau pemain tim bermain kasar, penonton memprovokasi keributan maka kericuhan dalam sepak bola gampang terjadi.
Demikian pula dalam perhelatan politik. Politik sesungguhnya sebuah pesta rakyat yang akan menjadi sarana membahagiakan rakyat. Mengapa? Karena pemilu adalah cara/ikhtiar untuk mengubah nasib menjadi lebih baik. Perubahan dan peningkatan program-program kesejahteraan tentu yang diinginkan rakyat agar bisa hidup tersenyum bahagia seperti layaknya menonton sepak bola.
Bisa dibayangkan manakala perhelatan politik diwarnai skandal atau ketidakadilan, maka rakyat akan mudah tersulut amarah. Wasit yang mengatur perhelatan pemilu seperti KPU, Bawaslu harus bertindak adil dan tidak memihak agar kontestasi pemilu berjalan berkualitas. Begitu juga tim pemain, dalam hal ini partai politik, harus menaati aturan main agar kontestasi berkualitas. Jangan sekali-sekali melanggar aturan main yang menyebabkan kompetisi kotor.
Simpatisan partai politik atau calon presiden dan calon wakil presiden, yang dalam sepak bola diibaratkan penonton, jangan sekali-kali membuat provokasi yang akan membuat kisruh suasana pertandingan. Olok-olok, caci maki, hingga menghina/menjelekkan tim lain akan berakibat pertandingan kisruh. Jangan sampai penonton masuk arena lapangan pasti mengerikan seperti yang terjadi di Kanjuruhan, Jatim. Jangan sampai rakyat yang jadi korban. Begitu pula di politik, aksi simpatisan harus empatik dan simpatik. Itu yang rakyat inginkan.
Tidak lupa juga, pemerintah yang memiliki kewajiban melindungi segenap warga negara harus menjalankan perannya. PSSI dalam sepak bola bila menciptakan iklim kompetisi yang baik, maka Insya Allah pertandingan sepak bola akan berkualitas. Bila PSSI bermain politik dan skandal, ingat peristiwa Liga Italia. Nah, pemerintah yang dimotori oleh Presiden RI, harus menjaga iklim kontestasi pemilu dengan adil. Jangan sampai isu “cawe-cawe” merusak suasana dan menambah runyam permasalahan. Cerdaslah dalam menjaga iklim persatuan dan kesatuan agar rakyat bahagia menghadapi pemilu 2024.
Jadi, sepak bola memberikan pelajaran penting membangun kedewasaan dalam dunia politik…
Penulis adalah jurnalis Majalah Langkah Baru
TKA Bukan Momok
Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...
Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan
Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam
Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...
Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA
Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...
Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan
Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...
Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali
Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...
Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser
Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...
Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial
Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...
Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia
Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...
Indonesia Darurat Kesehatan Mental
Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...
Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan
Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...






