Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Menikmati Sepak Bola dan Perhelatan Politik

Hendro Susilo, Editor: Sholahuddin
Selasa, 6 Februari 2024 16:12 WIB
Menikmati Sepak Bola dan Perhelatan Politik
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Hendro Susilo. [dok.pribadi]

Ketika saya menulis judul esai ini, ingatan saya tertuju pada masa remaja yang menyukai semua hal terkait sepak bola. Untuk mewujudkan kesukaan tersebut, saya rela menyisihkan uang jajan perminggu hanya untuk berlangganan tabloid Bola agar tidak ketinggalan informasi. Tontonan liga Italia, begitu familier saya tonton, pun termasuk nama besar para pemain bolanya seperti Del Piero, Filipho Inzaghi, Roberto Mancini dkk menjadi idola pada masanya.

Saya pun menonton permainan sepak bola di televisi dan menikmatinya. Ada satu hal yang saya tidak lewatkan, yakni ulasan komentator. Saya menikmati ulasan komentator sebelum pertandingan. Ulasan kekuatan dan kelemahan dari setiap tim yang akan berlaga dikupas. Bahkan sampai prediksi kemenangan dan kekalahan pun menyertai setiap pertandingan. Saat pertandingan berlangsung, saya sebagai penonton pun terkadang ikut mengomentari bila ada pemain yang melakukan kesalahan seolah saya lebih jago.

Tentu saja saya sebagai penonton sangat berharap tim favorit yang saya senangi akan memenangkan pertandingan. Jujur saja, ketika tim favorit saya kalah maka raut wajah kesedihan akan tampak. Apalagi jika kalahnya menurut saya akibat wasit tidak adil dalam mengatur pertandingan. Wuih, dongkolnya menjadi-jadi. Liga Italia yang pada masanya itu menjadi liga terbaik dunia menyuguhkan hiburan akhir pekan yang tak ternilai dalam benak saya.

Hingga suatu saat petaka muncul. Skandal pengaturan skor terungkap. Tim hebat terdegradasi akibat skandal ini. Maka, bermunculanlah isu-isu mafia bola, pejabat petinggi bola terlibat. Perjudian, dan hal terkait kejahatan dalam dunia bola terungkap. Sekejap, runtuhlah kedigdayaan liga Italia yang tercoreng skandal. Semenjak itu, saya jarang menonton liga itu lagi.

Kemiripan

Sepak bola adalah permainan yang ada kemiripan dengan perhelatan politik. Dalam sepak bola pengurus/pengelola (organisasi seperti PSSI), ada tim yang bertanding (kontestasi), ada wasit yang mengatur pertandingan, ada penonton dan ada juga pengamat. Keberadaan unsur-unsur tersebut yang menjadikan sepak bola berkualitas yang akan menghadirkan tontonan menghibur dan membuat kita bahagia. Tetapi bisa juga sebaliknya, bila PSSI tidak adil, atau wasit memihak, atau pemain tim bermain kasar, penonton memprovokasi keributan maka kericuhan dalam sepak bola gampang terjadi.

Demikian pula dalam perhelatan politik. Politik sesungguhnya sebuah pesta rakyat yang akan menjadi sarana membahagiakan rakyat. Mengapa? Karena pemilu adalah cara/ikhtiar untuk mengubah nasib menjadi lebih baik. Perubahan dan peningkatan program-program kesejahteraan tentu yang diinginkan rakyat agar bisa hidup tersenyum bahagia seperti layaknya menonton sepak bola.

Bisa dibayangkan manakala perhelatan politik diwarnai skandal atau ketidakadilan, maka rakyat akan mudah tersulut amarah. Wasit yang mengatur perhelatan pemilu seperti KPU, Bawaslu harus bertindak adil dan tidak memihak agar kontestasi pemilu berjalan berkualitas. Begitu juga tim pemain, dalam hal ini partai politik, harus menaati aturan main agar kontestasi berkualitas. Jangan sekali-sekali melanggar aturan main yang menyebabkan kompetisi kotor.

Simpatisan partai politik atau calon presiden dan calon wakil presiden, yang dalam sepak bola diibaratkan penonton, jangan sekali-kali membuat provokasi yang akan membuat kisruh suasana pertandingan. Olok-olok, caci maki, hingga menghina/menjelekkan tim lain akan berakibat pertandingan kisruh. Jangan sampai penonton masuk arena lapangan pasti mengerikan seperti yang terjadi di Kanjuruhan, Jatim. Jangan sampai rakyat yang jadi korban. Begitu pula di politik, aksi simpatisan harus empatik dan simpatik. Itu yang rakyat inginkan.

Tidak lupa juga, pemerintah yang memiliki kewajiban melindungi segenap warga negara harus menjalankan perannya. PSSI dalam sepak bola bila menciptakan iklim kompetisi yang baik, maka Insya Allah pertandingan sepak bola akan berkualitas. Bila PSSI bermain politik dan skandal, ingat peristiwa Liga Italia. Nah, pemerintah yang dimotori oleh Presiden RI, harus menjaga iklim kontestasi pemilu dengan adil. Jangan sampai isu “cawe-cawe” merusak suasana dan menambah runyam permasalahan. Cerdaslah dalam menjaga iklim persatuan dan kesatuan agar rakyat bahagia menghadapi pemilu 2024.

Jadi, sepak bola memberikan pelajaran penting membangun kedewasaan dalam dunia politik…

Penulis adalah jurnalis Majalah Langkah Baru

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...