Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
HistoriMU

Dari Kampung Sewu ke Dunia Pergerakan: Parikrangkoengan, SATV, dan Gerakan Sosial Islam di Surakarta (Bagian I)

Nasta Mahardi, Editor: Sholahuddin
Minggu, 14 Juni 2026 11:52 WIB
Dari Kampung Sewu ke Dunia Pergerakan: Parikrangkoengan, SATV, dan Gerakan Sosial Islam di Surakarta (Bagian I)
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Nasta Mahardi [Dok. pribadi]

Pendahuluan

Surakarta pada medio 1910-an hingga 1930-an adalah penggalan epos sejarah yang selalu menarik untuk dikaji ulang. Periode itu oleh para sejarawan lazim disebut sebagai masa pergerakan nasional. Kiprah kota ini dalam gelanggang pergerakan telah terekam dengan baik, antara lain dalam karya-karya seperti George D. Larson (1990) dan Takashi Shiraishi (1997). Di tengah bara perjuangan itu, muncul sebuah entitas baru yang kemudian mewarnai Kota Bengawan hingga hari ini: Muhammadiyah Surakarta.

Saya pribadi tertarik dengan gerakan Muhammadiyah di Surakarta, terkhusus pada masa periode pergerakan nasional. Penelusuran saya terhadap sejarah Muhammadiyah Surakarta bermula dari buku-buku karya Dr. Mohamad Ali. Dari sana, nama-nama seperti Sontohartono, Harsolumakso, Moechtar Boechari, hingga H. Misbach mengemuka sebagai tokoh-tokoh di balik berdirinya organisasi ini. Namun,  dari sana pula muncul rasa penasaran sekaligus kecurigaan, bahwa narasi yang selama ini berkembang tentang kemunculan Muhammadiyah di Surakarta belumlah lengkap.

Salah satu yang saya temukan adalah kealpaan terhadap sosok bernama R. Ng. Parikrangkoengan. Namanya sesekali muncul dalam berbagai bacaan, namun tidak satu pun tulisan yang mengulasnya secara utuh. Padahal, Parikrangkoengan adalah salah satu figur penting yang bergerak di Surakarta sepanjang dekade 1910-an hingga 1930-an. Ia bergerak di tiga ranah sekaligus: pers, agama, dan advokasi sosial. Ia juga menjadi dedengkot dari Muhammadiyah Surakarta yang berandil besar dalam perkembangan organisasi.

Oleh karenanya, tulisan ini adalah upaya kecil yang saya lakukan untuk mencoba merekonstruksi jejak Parikrangkoengan dari serpihan-serpihan sumber yang berhasil saya temukan. Harapannya, dari sana sosok Parikrangkoengan tidak lagi sekadar nama yang terselip di catatan kaki, melainkan hadir sebagai satu narasi utuh yang ikut melengkapi fragmen sejarah Muhammadiyah Surakarta yang masih menyimpan kekosongan.

Tulisan ini dibagi ke dalam tiga bagian utama untuk memudahkan pembacaan sekaligus menelusuri perjalanan hidup Parikrangkoengan secara lebih utuh. Bagian pertama membahas keterlibatan Parikrangkoengan dalam gerakan Islam di Surakarta, terutama hubungannya dengan Sarekat Islam, SATV, serta aktivitas sosial-keagamaan yang menjadi embrio perkembangan Muhammadiyah di kota tersebut. Bagian kedua mengulas kiprahnya dalam dunia pers Bumiputra, mulai dari keterlibatannya di Darmo Kondho, Al-Islam, Bintang Islam, hingga pendirian mingguan berbahasa Jawa Tresna. Adapun bagian terakhir membahas peran Parikrangkoengan dalam Muhammadiyah serta jejak keterlibatannya dalam dunia pergerakan nasional, termasuk hubungannya dengan Boedi Oetomo, Parindra, dan berbagai gagasan sosial-politik yang berkembang di Surakarta pada masa itu.

Selayang Pandang: Parikrangkoengan

Parikrangkoengan sejauh ini dikenal sebagai salah satu motor penggerak Muhammadiyah di Surakarta pada masa awal berdirinya. Yang menarik, kiprahnnya tidak hanya sebatas pada gerakan Islam semata. Ia juga bergerak di ranah pers dan advokasi sosial, sebuah kombinasi yang langka untuk ukuran zamannya.

Dalam konteks gerakan Islam, Parikrangkoengan mulanya tergabung dalam SATV (Sidiq, Amanah, Tabligh, Fathonah), sebuah kelompok pra-Muhammadiyah yang berdiri dan bergerak satu gerbong dengan Muhammadiyah di Yogyakarta. Bersama aktivis SATV lainnya seperti Moechtar Boechari, Harsoloemekso, dan Sontohartono, dari perkumpulan inilah bayi merah Muhammadiyah Surakarta lahir (Ali, 2023: 43–44)

Mereka yang bergerak di SATV memiliki latar belakang yang hampir sama. Ada yang seorang pedagang, pegawai keraton, keturunan ningrat, dan sebagainya. Parikrangkoengan sendiri berasal dari Kampung Sewu, tempat di mana cikal-bakal SATV berdiri, yakni Sarekat Islam (S.I.) kring Kampung Sewu (Ali & Arifin, 2014: 42–43). Ia juga seorang pegawai keraton (abdi dalem) dengan menyandang gelar ‘Raden Ngabehi’ yang kemudian ketika naik pangkat gelarnya berubah menjadi Raden Tumenggung Prawironingrat (Samsujin, 2015: 74–75).

Jabatan keraton dan gelar tinggi tidak membuatnya berhenti dan menikmati kemewahan itu. Berbeda dari abdi dalem kebanyakan, Parikrangkoengan dikenal sebagai sosok yang kritis dan progesif. Kepribadian itu terbentuk mungkin saja karena ia tergabung dalam dua organisasi massa yang berbeda latar belakang namun bertujuan sama, yakni Sarekat Islam (S.I.) yang kental nuansa keislaman dan Boedi Oetomo (B.O.) yang berangkat dari kalangan priyayi terpelajar. Keduanya sama-sama mengusung kemajuan dalam pendidikan, kebudayaan, dan pemenuhan hak-hak rakyat (Agazumi, 1989: 146).

Kita juga dapat menduga bahwa sosok Parikrangkoengan adalah manusia Jawa yang memiliki intelektual tinggi, seperti halnya rekan sejawatnya seperti Soedarjo Tjokrosisworo maupun Soerono Wirohardjono, yang sama-sama memiliki latar belakang sebagai ningrat, mendapat pendidikan yang mempuni, dan dibekali kemampuan dalam membaca dan menulis yang unggul.

Dari persilangan dunia itulah Parikrangkoengan dibentuk. Seperti halnya rekan sejawatnya seperti Soedarjo Tjokrosisworo atau Soerono Wirohardjono, ia adalah tipikal intelektual Jawa yang memadukan latar ningrat, pendidikan yang mempuni, dan kemampuan menulis yang tajam. Dari modal-modal inilah ia bergerak.

Sarekat Islam, SATV, dan Gerakan Sosial

Ketika tergabung dalam SI, Parikrangkoengan terlibat dalam sebuah kursus Islam yang didirikan oleh SI Cabang Kampung Sewu pada 1913. Seperti yang sudah disinggung, dari sinilah embrio SATV lahir. Singkat cerita, pengajian itu digemari oleh kalangan luas disebabkan pada saat itu perkumpulan ngaji ini berhasil mendatangkan kiai-kiai kondang seperti Haji Misbach dan Kiai Moh. Adnan. Misbach kemudian menyarankan untuk mendatangkan Kiai H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, untuk mengisi pengajian. Menindaklanjuti usulan itu, pada tahun 1916 dibentuklah suatu panitia tabligh umum. Parikrangkoengan saat itu ditunjuk sebagai Sekretaris II, berduet dengan Harsoloemakso (Ali & Arifin, 2015: 41–42).

Nama Parikrangkoengan bahkan sempat disebut-sebut sebagai calon pimpinan SATV. Dalam Rapat SATV Cabang Uteran, Madiun pada 8 Agustus 1920 yang dipimpin oleh Sastro Oetomo, sebagai Sekretaris Cabang, menyampaikan bahwa yang mesti memimpin SATV adalah Moechtar Boechari sebagai Ketua, Parikrangkoengan Wakilnya, dan Haroenrasjid sebagai Propagandis (Islam Bergerak, 10 September 1920). Menurut pandangan saya, barangkali nama Parikrangkoengan direkomendasikan karena pengaruh dan kinerjanya yang mencolok di SATV sekaligus kiprahnya di luar SATV yang menjadi pertimbangan para pengurus SATV saat itu. Pendapat di atas dapat terlihat di beberapa kesempatan, di mana Parikrangkoengan terlibat penuh dalam kemajuan masyarakat tertindas.

Sebelum terjun ke BO, Parikrangkoengan tercatat menjadi Dewan Pengurus, lebih tepatnya sebagai Sekretaris II, salah satu lembaga semacam beasiswa untuk masyarakat bernama Fonds Sama-Rasa. Perkumpulan ini dibentuk atas dasar rasa kemanusiaan. Bahwasanya kehidupan manusia, baik senang atau sedih, mau itu rakyat kecil atau raja sekalipun, mereka mesti mendapat perlakukan yang sama. Oleh karena itu perkumpulan ini diberi nama Sama Rasa. Lembaga ini menyokong kebutuhan masyarakat melalui uang yang berhasil dikumpulan kepada mereka yang merasa tertindas oleh kebijakan pemerintah (Islam Bergerak, 20 Agustus & 26 November 1918).

Kepekaannya akan nasib masyarakat tertindas juga tercermin dalam sebuah rapat Weltvaart-Comite di Surakarta pada tahun 1919. Dalam sebuah notulensi rapat, dikatakan bahwa perkumpulan ini telah memiliki ‘rumah miskin’, yakni rumah yang dihuni oleh orang-orang tidak mampu. Kemudian rencananya rumah itu akan dilakukan upgrade menjadi verbeterdgesticht, yakni tempat untuk memperbaiki kaum masyarakat melarat. Di sini Parikrangkoengan terpilih menjadi anggota dari Komisi Pengawasan verbeterdgesticht (Djawa Tengah, 5 Februari 1919).  (Bersambung)

Penulis adalah sarjana pendidikan sejarah UNS

Berita Terbaru

Soerono Wirohardjono: Kuli Tinta Jagoan Muhammadiyah Solo

Di lorong-lorong waktu Kota Bengawan, nama Soerono Wirohardjono pernah bergaung lirih namun mantap. Ia bukan sekadar penulis berita. Ia adalah penenun kata yang dari ujung...

Mengenang 97 Tahun Kongres ke-18 Muhammadiyah di Surakarta (30 Januari 1929−30 Januari 2026)

Riwayat awal Muhammadiyah Cabang Surakarta (MCS) sejatinya sudah well-documented atau terdokumentasi dengan baik. Nama-nama tokohnya kerap disebut, dinamika organisasinya sering dikisahkan. Jejak gerakannya tak sukar...

Menyulam Iman di Kota Raja: Sontohartono dan Lahirnya Muhammadiyah Solo

Riwayat awal hidup Sontohartono memang masih diselimuti kabut tipis sejarah. Hingga kini, tak satu pun sumber menyebutkan secara pasti kapan ia dilahirkan. Namun, terdapat petunjuk...

HistorywalkMu Telusuri Kampung Kauman Bareng Mahasiswa Psikologi UMS

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Puluhan mahasiswa beralmamater tampak berkumpul di halaman Masjid Agung Solo, Senin (8/7/2024) pagi. Mahasiswa tersebut berasal dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang...