Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Memajukan Sejarah, Memajukan Peradaban…

Sholahuddin, Pengurus MPI PDM Kota Solo, Editor: Sholahuddin
Jumat, 20 Oktober 2023 14:20 WIB
Memajukan Sejarah, Memajukan Peradaban…
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Screenshot Buletin Tajdid Pendidikan MPI PDM Kota Solo

Saya tertarik program historical walking yang diinisiasi Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Muhammadiyah Solo yang diawali pada Sabtu (30/09/2023) lalu. Program ini berupa jalan-jalan menyusuri tempat-tempat penting bersejarah bagi perkembangan persyarikatan, khususnya di Solo.  Program ini sebagai ikhtiar serius mengembalikan lagi kepedulian warga persyarikatan kepada sejarah.

Pada debut perdana, peserta diajak mengeksplorasi kawasan Keprabon, seputar Balai Muhammadiyah, di Jl. Teuku Umar No.5, Solo. Sekitar 20 orang warga persyarikatan ambil bagian. Fauzi Ichwani dari MPI PDM Sragen memandu acara jalan-jalan tersebut. Bicara jejak Sang Surya di Kota Solo, kata Fauzi, setidaknya ada tiga kawasan yang wajib diamati, meliputi Keprabon, Kauman, dan Kampung Sewu, atau 3K. Teman di pengurus MPI PDM Kota Solo, Zaki Setiawan, menambahkan sebenarnya bukan 3K tapi 4K, ditambah “Kartopuran”. Oke lah, nanti akan kita kaji bersama-sama.

Keprabon menjadi lokasi benih-benih berdirinya Muhammadiyah di Kota Solo sekaligus pusat gerakan persyarikatan hingga kini. Pengajian-pengajian yang diselenggarakan aktivis kring Sarekat Islam sekitar tahun 1913 kali pertama di rumah Harsoloemekso, di Keprabon. Haji Misbach, salah satu pendiri kelompok pengajian, berinisiatif mengundang pendiri Muhammadiyah K.H. Ahmad Dahlan untuk menyampaikan pemikiran Islam progresif.  Pengajian yang digagas Haji Misbach mendapatkan sambutan luas. Bukan hanya bapak-bapak, peminatnya juga dari kalangan ibu-ibu. Kelompok ibu-ibu ini, menurut Fauzi yang menjadi cikal berdirinya ‘Aisyiyah.

Dulu, Keprabon menjadi pusat kegiatan SATV (sidiq, amanah, tabligh, vathonah), tepatnya di rumah Sontohartono, saudagar kaya saat itu. Rumah itu sekarang bernama Sontohartanan, di Jl. Ahmad Dahlah, Keprabon, Solo. Sontohartanan menjadi pusat kegiatan persyarikatan Solo setelah SATV bertranformasi menjadi Muhammadiyah Cabang Solo pada 1917. Di Sontohartanan pula menjadi tempat Kongres Muhammadiyah di Solo pertama tahun 1929.  Jadi, kompleks Keprabon memang menjadi “titik api” gerakan Islam berkemajuan yang dibawa Ahmad Dahlan menyebar di Kota Bengawan.

Saya mengapresiasi antusiasme peserta historical walking ini. Banyak ide menarik selama jalan santai sejarah berlangsung. Peserta meminta agar historical walking tidak hanya mengobservasi Keprabon, melainkan tempat lain yang berada di kawasan 3K atau 4K tersebut. Bahkan bukan hanya dengan berjalan kaki, tapi bisa dengan gowes (naik sepeda) bersama sambil berimajinasi situasi satu abad silam. Ada usul membuat kelompok diskusi untuk membahas tema-tema sejarah persyarikatan. Ada usulan menggandeng majelis lain di PDM Solo untuk merealisasikan ide-ide besar ini. Apalagi sudah ada museum di Balai Muhammadiyah yang bisa menjadi tempat mengeksplorasi sejarah Sang Surya.  Dari berbagai usulan itu, saya menangkap ada kerinduan peserta untuk terlibat pada isu-isu sejarah yang masih menjadi isu pinggiran di Muhammadiyah. Masih kalah populer dengan terminologi “amal usaha” di kalangan warga persyarikatan.

Situasi Psikologis

Sesungguhnya mulai muncul kesadaran mendokumentasikan sejarah Muhammadiyah di Kota Solo. Setidaknya ada beberapa buku yang menunjukkan kajian histori Muhammadiyah mulai bergairah. Pertama, Matahari Terbit di Kota Bengawan yang ditulis Mohamad Ali dan Syifaul Arifin. Kedua, Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan) yang ditulis Mohamad Ali. Syifaul Arifin juga menulis Muhammadiyah Kiri, Haji Misbach yang terlupakan dan Tersingkirkan terbitan UAD Press.  Buku yang menganalisis gaya komunikasi Haji Misbach dari sudut pandang ilmu komunikasi. Buku ini melengkapi kajian sejarah Muhammadiyah di Solo.

Kita menangkap situasi psikologis yang kurang enak saat membahas sepak terjang Haji Misbach. Misbach kadung dikategorisasikan sebagai orang “kiri” karena pemikiran dan gerakannya yang revolusioner melawan kolonialisme dan kapitalisme. Misbach berseberangan dengan Kiai Dahlan dan pengurus SATV lainya tentang bagaimana membawa gerakan Muhammadiyah saat itu. Karena perbedaan pandangan itu pula Misbach tidak masuk menjadi pengurus Muhammadiyah Solo periode pertama karena lebih dulu keluar dari SATV. Dia menempuh jalan lain dalam memperjuangkan idealismenya.

Saya melihat program historical walking menjadi bagian menetralkan situasi psikologis itu. Bukan untuk menghidupkan kembali imaji kita tentang gaya revolusionernya Misbach. Tapi sebagai apaya mencintai sejarah sepenuh hati sekaligus menempatkan sejarah pada posisi yang proporsional.  Sejarah adalah fakta. Siapa pun tidak bisa menyangkal. Yang lebih penting bagaimana menempatkan sejarah itu dalam konteks yang tepat dengan pendekatan keilmuwan yang bisa kita pertanggungjawabkan. Saya yakin akan banyak kearifan sejarah yang bisa kita peroleh. Mencintai sejarah merupakan implementasi paradigma Islam berkemajuan. Saya sepakat dengan Fauzi, historical walking adalah ikhtiar mengembalikan Muhammadiyah sebagai gerakan kultural.

Ingat, memajukan sejarah juga akan memajukan peradaban. Insya Allah….

Sumber : Buletin Tajdid Pendidikan MPI PDM Kota Solo, edisi 11/2023

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...