
PONTIANAK, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) mulai memengaruhi cara kerja berbagai profesi, termasuk di lingkungan peradilan. Teknologi tersebut dapat membantu hakim mencari informasi hingga menyusun bahan putusan, tetapi penggunaannya tetap membutuhkan kendali manusia, terutama dalam aspek etika dan integritas.
Hal itu disampaikan Guru Besar Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Aidul Fitriciada Azhari, saat menjadi narasumber Pelatihan/Workshop Manajemen Penanganan Perkara di Pengadilan dalam Perspektif Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim (KEPPH) kerja sama KAS-JSLG-KY di Pontianak, 2-4 September 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Aidul membawakan materi “Penalaran Hukum dan Pertimbangan Hakim dalam Mengadili Perkara”. Peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman teoritis, tetapi juga mengikuti simulasi penyusunan putusan untuk mempraktikkan proses penalaran, penyusunan argumentasi hukum, dan perumusan pertimbangan hakim.
“Intinya sebenarnya membuat putusan berdasarkan penalaran hukum atau argumentasi hukum dan membuat pertimbangan dalam putusan yang baik,” ujarnya, Jumat (11/9/2026).
Dalam proses tersebut, Aidul turut menyoroti pemanfaatan AI yang semakin berkembang. Menurutnya, teknologi dapat mempercepat pekerjaan hakim, terutama dalam mengakses informasi dan mengolah bahan yang dibutuhkan untuk menyusun putusan. Bahkan, melalui simulasi pelatihan, putusan dapat disusun dalam waktu singkat ketika data yang diperlukan telah tersedia.
Namun, ia menegaskan AI tidak boleh mengambil alih kewenangan hakim. “AI itu hanya berfungsi membantu, bukan membuat putusan,” tegasnya. Menurut Aidul, tantangan terbesar penggunaan AI dalam peradilan bukan hanya berkaitan dengan kemampuan teknologinya. Persoalan etika, moralitas, serta tanggung jawab hukum dan sosial justru menjadi hal yang perlu mendapat perhatian.
Setiap putusan tetap menjadi tanggung jawab hakim. AI tidak memiliki nurani, etika, maupun kapasitas untuk mempertanggungjawabkan keputusan yang dihasilkan. “Putusan itu bukan cuma benar secara hukum, tetapi juga harus didasarkan pada integritas. Integritas itu diputuskan dengan landasan etika yang tinggi,” ujarnya.
Aidul juga melihat adanya perbedaan kemampuan adaptasi teknologi antargenerasi di lingkungan peradilan. Hakim dari generasi milenial dan generasi Z dinilai cenderung lebih mudah beradaptasi dengan teknologi karena telah terbiasa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Guru Besar Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Aidul Fitriciada Azhari, saat menjadi narasumber Pelatihan/Workshop Manajemen Penanganan Perkara di Pengadilan dalam Perspektif Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim (KEPPH) kerja sama KAS-JSLG-KY di Pontianak, 2-4 September 2026. (Humas)
Meski demikian, kemampuan tersebut perlu berjalan bersama pemahaman etika. Kecepatan memperoleh informasi dan menyusun dokumen tidak boleh menghilangkan dimensi kemanusiaan dalam proses mengadili perkara. “Secara teknis AI bisa menghasilkan putusan yang cepat dan mungkin akurat, tetapi kelemahannya AI tidak punya nurani,” katanya.
Menurut Aidul, tidak seluruh aspek dalam pertimbangan hakim dapat diselesaikan melalui analisis hukum yang bersifat teknis. Persoalan kepatutan, rasa kemanusiaan, hingga perlindungan terhadap kelompok rentan seperti perempuan, anak, dan masyarakat miskin membutuhkan pertimbangan yang lebih luas untuk mewujudkan keadilan substantif.
Karena itu, penguatan integritas hakim tidak dapat dilakukan hanya melalui pelatihan sesaat. Menurut Aidul, pembentukan kualitas etik perlu dimulai sejak proses rekrutmen, dilanjutkan dengan penciptaan lingkungan peradilan yang sehat, serta pembinaan secara berkelanjutan.
“Pentingnya itu mulai dari rekrutmen, harus baik. Kemudian kedua, lingkungan. Dan ketiga tentu saja pembinaan secara terus-menerus berkaitan dengan etika,” ungkapnya.
Lingkungan peradilan, lanjutnya, ikut menentukan terjaganya integritas seorang hakim. Profesionalitas dan kemampuan intelektual yang tinggi tetap membutuhkan ekosistem yang mendukung penerapan etika dalam menjalankan tugas.
Seorang hakim, menurut Aidul, tidak cukup hanya memiliki kemampuan memahami dan menerapkan hukum. Kompetensi tersebut harus berjalan beriringan dengan integritas agar putusan tidak berhenti pada pemenuhan aspek formal, tetapi juga mencerminkan keadilan substantif.
Ia memperkirakan persoalan etika penggunaan AI akan semakin penting seiring bertambahnya hakim dari generasi yang tumbuh bersama teknologi digital. Dunia peradilan perlu memastikan pemanfaatan AI tetap berada dalam koridor etika dan tanggung jawab profesi.
Di sisi lain, Aidul menilai pengaturan pemanfaatan AI di Indonesia masih menghadapi tantangan. Perkembangan teknologinya berlangsung cepat, sementara kerangka regulasi belum sepenuhnya mengikuti perkembangan tersebut. Dalam kondisi itu, prinsip etika dan tanggung jawab profesional menjadi semakin penting sebagai pegangan.
Bagi Aidul, AI dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan efisiensi kerja hakim. Namun, keputusan akhir harus tetap lahir dari proses penalaran manusia yang mempertimbangkan hukum, integritas, nurani, serta tanggung jawab terhadap keadilan.
Antisipasi Blackout Total, Mahasiswa UMS Rancang Protokol Kesiapsiagaan Layanan Kota
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Lima mahasiswa Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengembangkan gagasan Blackout Protocol, sebuah konsep protokol kontingensi kota untuk menghadapi pemadaman...
Masta PMB UMS 2026 Kenalkan Bahasa Isyarat kepada Ribuan Mahasiswa Baru
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Sekitar 8.195 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mendapat pengalaman berbeda dalam rangkaian Masa Ta’aruf Penyambutan Mahasiswa Baru (Masta PMB) dan Ekspo Unit...
Ribuan Mahasiswa Baru Meriahkan Ekspo UKM UMS 2026, Kenali Minat dan Bakat
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Ribuan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memadati Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan dalam Ekspo Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) 2026. Kegiatan tersebut menjadi...
725 Mahasiswa Baru FKIP UMS Ikuti Masta IMM, Didorong Jadi Akademisi Humanis
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Sebanyak 725 mahasiswa baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengikuti Masa Ta’aruf Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (Masta IMM) sebagai...
Dari Karya ke Etalase Digital, UMS Dampingi Guru SLB Kembangkan Wirausaha Siswa
KARANGANYAR, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperkuat keberlanjutan program Difabel Berwirausaha melalui pelatihan bagi guru SLB Anugerah...
Awardee Beasiswa BAZNAS di UMS Dibekali Bahasa Asing untuk Hadapi Dunia Global
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Kemampuan bahasa asing menjadi salah satu bekal yang diperkuat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bagi mahasiswa penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS (BCB). Melalui mentoring yang...
Pondok Shabran UMS Perkuat Literasi untuk Cetak Kader Ulama Adaptif
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Sebanyak 186 mahasantri Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengawali perkuliahan Semester Gasal Tahun Akademik 2026/2027 melalui Stadium General di Aula...
Seboto Smart Farming UMS Masuk Tahap Monev, Teknologi IoT Pertanian Ditinjau
BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Informatika (HMP PTI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjalani Monitoring dan...
Bukan Sekadar Ziarah, Ini yang Dipetik Mahasiswa UMS dari Jejak Prof. R. Soeharso
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Informatika (HMP PTI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) turut mengikuti upacara...
UMS Dampingi Pekerja Migran di Korsel Kelola Keuangan dan Persiapkan Masa Depan
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Korea Selatan mendapat pembekalan mengenai pengelolaan keuangan dan kesehatan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Internasional (PkM-KI) Universitas...
IMM UMS Sambut Mahasiswa Baru, Tegaskan Peran Mahasiswa sebagai Pejuang Perubahan
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Ketua Koordinator Komisariat (Korkom) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Rizki Damarjati Wicaksono, mengajak mahasiswa baru menjadikan masa kuliah sebagai awal...
Bukan Sekadar Penyambut, Duta Masta UMS Dampingi Mahasiswa Baru hingga Lulus Masta
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Kemeriahan Masa Ta’aruf Penerimaan Mahasiswa Baru (Masta PMB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan, Kamis (3/9/2026), tidak lepas dari...






