Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Kesehatan

Waspada Abu Vulkanik Kembali Terhirup, Dosen UMS Ingatkan Cara Bersih-bersih yang Tepat

Fika Annisa Sholikhah, Editor: Alan Aliarcham
Senin, 14 September 2026 15:54 WIB
Waspada Abu Vulkanik Kembali Terhirup, Dosen UMS Ingatkan Cara Bersih-bersih yang Tepat
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ilustrasi piranti warga terkena abu vulkanik karena erupsi.

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Hujan abu vulkanik setelah erupsi gunung api bukan berarti risiko kesehatan telah berakhir. Abu yang mengendap di jalan, rumah, sekolah, hingga tempat kerja dapat kembali beterbangan akibat angin, kendaraan, aktivitas manusia, maupun proses pembersihan yang kurang tepat.

Dosen Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dwi Astuti, mengatakan fase pascahujan abu justru menjadi waktu penting untuk mengendalikan paparan. Partikel yang telah mengendap dapat kembali masuk ke udara dan terhirup masyarakat.

“Abu yang menutup atap, halaman, jalan, ruang kelas, dan lahan pertanian bisa terangkat kembali oleh angin, kendaraan, langkah kaki, atau sapu yang digerakkan terlalu keras,” jelasnya, Senin (14/9/2026).

Menurut Dwi, abu vulkanik memiliki karakter berbeda dari abu hasil pembakaran. Material tersebut terdiri atas fragmen batuan, mineral, dan kaca vulkanik dengan ukuran kurang dari dua milimeter. Sebagian partikelnya dapat terhirup hingga masuk ke saluran pernapasan, bahkan partikel yang lebih halus berpotensi mencapai bagian paru-paru yang lebih dalam.

Selain berdampak pada pernapasan, sifat permukaan abu yang abrasif juga dapat memicu iritasi mata dan kulit. Namun, tingkat risikonya tidak dapat ditentukan hanya dari ketebalan endapan yang terlihat.

“Bahayanya tidak dapat dinilai hanya dari tebal-tipis endapan yang terlihat. Tingkat bahayanya ditentukan oleh ukuran dan komposisi abu, banyaknya partikel yang terhirup, lama paparan, dan kerentanan orang yang terpapar,” ujarnya.

Paparan abu vulkanik dapat menimbulkan keluhan seperti batuk, tenggorokan perih, dahak, mengi, sesak, mata merah atau berair, serta kulit gatal. Pada orang yang sehat, gejala tersebut umumnya dapat bersifat ringan dan sementara.

Kelompok Rentan Makin Berisiko

Risiko yang lebih besar dapat dialami kelompok rentan, terutama penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis, penyakit jantung, dan gangguan mata. Paparan abu dapat memicu kekambuhan maupun memperburuk kondisi yang sudah ada.

Dwi juga memasukkan anak-anak, lansia, ibu hamil, penyandang penyakit kronis, petugas kebersihan, serta pekerja luar ruang sebagai kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih. Faktor lingkungan seperti kondisi rumah, ketersediaan air bersih, dan akses terhadap layanan kesehatan juga dapat memengaruhi tingkat risiko.

Dampak erupsi, lanjutnya, tidak hanya menyentuh kesehatan fisik. Pengungsian, kehilangan penghasilan, serta kecemasan menghadapi kemungkinan erupsi susulan dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat.

Karena itu, kondisi lingkungan yang terlihat bersih tidak selalu berarti paparan abu telah terkendali. Jalan atau halaman yang sudah disapu masih mungkin menyisakan partikulat halus di udara. “Jalan disapu, halaman tampak bersih, lalu keadaan dianggap terkendali. Padahal, mata manusia tidak dapat menilai berapa banyak partikel halus yang masih terhirup,” katanya.

Dwi menyarankan pembersihan dilakukan dengan cara yang meminimalkan abu kembali beterbangan. Abu dapat dilembapkan secukupnya sebelum dikumpulkan. Penyapuan dalam kondisi kering maupun penggunaan blower sebaiknya dihindari.

Penggunaan air juga perlu diperhitungkan. Air yang berlebihan dapat menambah beban pada atap, menghasilkan lumpur yang berat, dan berpotensi menyumbat saluran drainase.

Bagi masyarakat yang harus bekerja di luar ruangan atau terlibat dalam pembersihan, perlindungan pernapasan menjadi salah satu langkah penting. Respirator partikulat seperti N95 dapat membantu mengurangi partikel yang terhirup jika digunakan dengan pemasangan yang rapat. “Pelindung diri tetap penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya jawaban ketika sumber paparan sebenarnya masih dapat dikendalikan,” tegas Dwi.

Dosen Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dwi Astuti.

Dosen Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dwi Astuti.

Ia juga mengingatkan pentingnya penyampaian informasi yang proporsional kepada masyarakat. Informasi mengenai abu vulkanik sebaiknya tidak meremehkan risiko, tetapi juga tidak menimbulkan kepanikan. “Yang kita perlukan bukan kalimat paling keras, melainkan informasi yang paling jernih, jenis abu berbeda, tingkat paparan berbeda, dan kondisi setiap warga juga berbeda,” ungkapnya.

Informasi mengenai langkah perlindungan perlu disampaikan secara sederhana, berulang, dan mudah diterapkan. Puskesmas, sekolah, tempat ibadah, kelompok masyarakat, radio lokal, serta kanal digital resmi dapat menjadi saluran komunikasi risiko kepada warga.

Masyarakat juga dianjurkan mengikuti informasi resmi mengenai aktivitas erupsi dan kualitas udara, mengurangi aktivitas luar ruang ketika abu kembali beterbangan, menutup pintu dan jendela, serta menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai ketika harus keluar rumah. Sumber air dan makanan juga perlu dilindungi dari kontaminasi abu.

Apabila muncul gejala serius seperti sesak berat, nyeri dada, bibir kebiruan, penurunan kesadaran, atau gangguan penglihatan, masyarakat perlu segera mendapatkan pertolongan medis.

Menurut Dwi, perguruan tinggi juga dapat berperan dalam penanganan dampak erupsi. Kampus dapat berkontribusi melalui karakterisasi abu, pemantauan kualitas udara, surveilans kesehatan, pengujian efektivitas komunikasi kesehatan, hingga evaluasi kebijakan pengendalian paparan.

“Peran yang paling penting adalah menerjemahkan pengetahuan laboratorium menjadi pilihan yang dipahami masyarakat. Pengalaman warga juga layak diperlakukan sebagai sumber pengetahuan, bukan sekadar cerita pelengkap dalam laporan penelitian,” tuturnya.

Evaluasi penanganan pascaerupsi pun dinilai perlu dilakukan secara lebih menyeluruh. Keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah abu yang telah dibersihkan atau masker yang dibagikan, tetapi juga dari penurunan partikulat di udara, kepatuhan penggunaan alat pelindung, serta pemahaman masyarakat mengenai cara perlindungan dan tanda bahaya.

“Abu yang mengendap bukan otomatis racun mematikan, tetapi juga bukan debu biasa yang boleh diabaikan,” ujar Dwi.

Berita Terbaru

UMS Perkuat Pendampingan 1.000 HPK untuk Percepat Penurunan Stunting di Sukoharjo

SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Unit Kegiatan Mahasiswa Pengembangan Prestasi dan Riset Mahasiswa (UKM PRISMA) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Sukoharjo mengembangkan program pencegahan...

Finalis Putra Putri Solo 2026 Kunjungi RS PKU Muhammadiyah Surakarta, Dukung Health Tourism

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – RS PKU Muhammadiyah Surakarta menerima kunjungan Finalis Putra Putri Solo 2026 dalam rangkaian Pemilihan Duta Wisata Putra Putri Solo 2026 di Aula...

Kanker Usus Besar Jadi Ancaman Serius, RS PKU Muhammadiyah Surakarta Dorong Deteksi Dini

SURAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Kanker usus besar (kolorektal) menjadi salah satu ancaman kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius. Penyakit ini menempati peringkat ketiga sebagai penyebab kematian...

Anak Bukan Mesin Prestasi: Dilema Parenting Modern dan Krisis Kesehatan Mental

Suatu sore,  di sebuah klinik tumbuh kembang, seorang ibu muda menunduk dengan mata berkaca-kaca. Di sampingnya, anak laki-laki berusia tujuh tahun tampak diam, sesekali menggigit...

Kaji Tren AI dalam Perawatan Ibu Hamil, Dosen UMS Sabet Penghargaan Nasional

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Adam Fauzi Akbar meraih penghargaan Best E-Poster kategori Systematic Review/Original Article dalam ajang The...

Mengapa Serangan Jantung Sering Meningkat Setelah Iduladha?

Asap sate mulai mengepul sejak Rabu (27/5/2026) pagi. Aroma gulai dan tongseng memenuhi sudut-sudut kampung. Di banyak rumah, Iduladha selalu identik dengan pesta makan bersama...

RS PKU Muhammadiyah Surakarta Tebar Daging Kurban untuk Warga hingga PKL

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — RS PKU Muhammadiyah Surakarta melaksanakan penyembelihan hewan kurban Iduladha 1447 Hijriah di Taman Parkir Karyawan RS PKU Muhammadiyah Surakarta, Kamis (28/5/2026). Kegiatan...

Tiga Kali Beruntun Raih Platinum, RS PKU Muhammadiyah Surakarta Jadi Role Model P2HIV/AIDS Nasional

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — RS PKU Muhammadiyah Surakarta meraih penghargaan kategori Platinum dari Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia dalam Program Pencegahan dan Penanggulangan HIV-AIDS (P2HIV/AIDS) di tempat...

Teliti Risiko Jatuh Pasien Diabetes, Dosen UMS Raih Penghargaan di IPTRS Bangkok

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Dosen Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dwi Rosella Komala Sari, meraih penghargaan Outstanding Oral Presentation dalam International Physiotherapy Research Symposium...

Startup Karya Alumni UMS Ini Ingin Ubah Cara Ahli Gizi Indonesia Bekerja

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – NutriAI Pro, platform berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang khusus untuk profesi ahli gizi, resmi diluncurkan melalui webinar bertajuk “Resolusi Gizi Berbasis...

MDMC dan Aisyiyah Joyotakan Bersinergi, Bawa Layanan Kesehatan ke Permukiman Pascabanjir

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Sepekan setelah banjir melanda wilayah Solo dan sekitarnya pada 15/4/2026, sejumlah lembaga Muhammadiyah bersinergi memberikan pelayanan kesehatan bagi warga terdampak. Pemeriksaan kesehatan...

Hari Kartini, RS PKU Muhammadiyah Surakarta Edukasi Ibu soal Perawatan Bayi

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – RS PKU Muhammadiyah Surakarta menggelar edukasi kesehatan interaktif “Smart Mom: Panduan Aman Perawatan Bayi 0–1 Tahun” bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, Sabtu...