Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Krisis Empati di Era Media Sosial: Ketika Jempol Lebih Cepat daripada Hati

Sintya, Editor: Sholahuddin
Selasa, 23 Juni 2026 13:10 WIB
Krisis Empati di Era Media Sosial: Ketika Jempol Lebih Cepat daripada Hati
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ilustrasi media sosial [Meta AI].

Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Berbagai platform seperti Instagram, TikTok, X, dan Facebook memungkinkan seseorang berinteraksi dengan orang lain tanpa batas ruang dan waktu. Melalui media sosial, informasi dapat tersebar dalam hitungan detik dan berbagai peristiwa dapat diketahui secara cepat. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena yang semakin mengkhawatirkan, yaitu krisis empati di ruang digital. Fenomena ini terlihat dari maraknya komentar kasar, perundungan siber (cyberbullying), ujaran kebencian, hingga kecenderungan menghakimi seseorang tanpa memahami kondisi yang sebenarnya. Tidak jarang pengguna media sosial lebih mudah memberikan penilaian negatif dibandingkan menunjukkan kepedulian dan pengertian terhadap orang lain. Kondisi ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu diikuti oleh perkembangan kemampuan sosial dan emosional penggunanya.

Empati merupakan kemampuan seseorang untuk memahami, merasakan, dan menempatkan diri pada posisi orang lain. Dalam kehidupan sosial, empati menjadi dasar terbentuknya hubungan yang sehat, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama. Ketika empati menurun, individu menjadi lebih mudah bersikap tak acuh, agresif, dan tidak peduli terhadap dampak perilakunya terhadap orang lain (Myers & Twenge, 2022). Salah satu penyebab krisis empati di media sosial adalah berkurangnya interaksi tatap muka. Dalam komunikasi langsung, seseorang dapat melihat ekspresi wajah, nada suara, dan bahasa tubuh lawan bicara sehingga lebih mudah memahami kondisi emosional orang lain. Sebaliknya, komunikasi digital sering kali hanya berbentuk tulisan atau gambar yang membuat aspek emosional menjadi kurang terlihat. Akibatnya, pengguna media sosial lebih mudah memberikan komentar yang menyakitkan tanpa menyadari dampaknya terhadap orang lain (Turkle, 2015).

Penelitian Meydiningrum, dkk. (2024) menemukan bahwa intensitas penggunaan media sosial, moral disengagement, dan deindividuasi memiliki hubungan positif yang signifikan dengan perilaku cyberbullying pada remaja. Ketiga faktor tersebut bahkan memberikan kontribusi sebesar 51,5% terhadap perilaku cyberbullying. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi keterlibatan seseorang di media sosial tanpa kontrol moral yang baik, semakin besar kemungkinan muncul perilaku yang mengabaikan perasaan orang lain. Krisis empati juga tampak pada meningkatnya perilaku cyberbullying. Di ruang digital, seseorang dapat dengan mudah memberikan komentar negatif, menyebarkan ejekan, atau mempermalukan orang lain tanpa harus berhadapan langsung dengan korbannya. Rendahnya empati membuat pelaku kurang mampu membayangkan dampak emosional yang dirasakan oleh korban. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa cyberbullying dapat menyebabkan stres, kecemasan, rendahnya harga diri, hingga depresi pada korbannya (World Health Organization, 2022).

Selain itu, penelitian Aini dan Rahardjo (2024) menunjukkan bahwa rendahnya empati berhubungan dengan meningkatnya perilaku cyberbullying pada remaja pengguna media sosial. Individu yang kurang mampu memahami perasaan orang lain cenderung lebih mudah melakukan tindakan agresif di ruang digital karena tidak menyadari dampak psikologis yang dialami korban. Fenomena lain yang menarik adalah munculnya komodifikasi empati di media sosial. Penelitian Cakrawala dkk. (2024) mengenai fenomena “ngemis online” dan “nyawer online” di TikTok menunjukkan bahwa rasa iba dan kepedulian masyarakat dapat dimanfaatkan sebagai sumber keuntungan ekonomi melalui platform digital. Fenomena ini memperlihatkan bahwa empati tidak lagi selalu muncul sebagai bentuk kepedulian sosial yang tulus, tetapi juga dapat menjadi komoditas yang diperjualbelikan dalam ekosistem media sosial.

Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh budaya viral yang berkembang di media sosial. Banyak pengguna lebih tertarik pada konten yang sensasional, kontroversial, dan memancing emosi dibandingkan konten yang membangun kepedulian sosial. Akibatnya, pengguna sering kali lebih cepat bereaksi daripada memahami situasi secara utuh. Jempol menjadi lebih cepat bergerak dibandingkan hati yang mencoba memahami kondisi orang lain. Penelitian terbaru oleh Tidore, dkk. (2026) memperkenalkan konsep digital empathy gap, yaitu kesenjangan antara kemampuan menggunakan teknologi digital dan kemampuan memahami emosi orang lain dalam interaksi daring. Penelitian tersebut menemukan bahwa tingginya literasi digital tidak otomatis membuat seseorang memiliki empati yang tinggi. Oleh karena itu, literasi digital perlu mencakup aspek etika, kesadaran moral, regulasi emosi, dan tanggung jawab sosial, bukan hanya kemampuan teknis menggunakan teknologi.

Dalam perspektif psikologi, kondisi ini menjadi pengingat bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang membutuhkan hubungan interpersonal yang hangat dan bermakna. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperkuat hubungan antarmanusia, bukan justru menjauhkan manusia dari nilai-nilai kemanusiaan. Ketika media sosial digunakan tanpa kesadaran dan kontrol diri, ruang digital dapat berubah menjadi tempat yang penuh konflik, penghakiman, dan kurangnya kepedulian terhadap sesama.

Merawat Empati sebagai Tanggung Jawab Keislaman

Dalam perspektif Islam, empati bukan sekadar kemampuan psikologis, tetapi juga bagian dari nilai keimanan dan akhlak seorang Muslim. Al-Qur’an dan hadis mengajarkan pentingnya kepedulian terhadap sesama, saling menghormati, serta menjaga perasaan orang lain dalam setiap bentuk interaksi. Nilai-nilai tersebut tetap berlaku, baik dalam kehidupan nyata maupun di ruang digital.

Allah Swt. berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok…”(Q.S. Al-Hujurat [49]: 11).

Ayat tersebut mengingatkan bahwa merendahkan, mengejek, atau mempermalukan orang lain merupakan perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sayangnya, perilaku seperti ini justru sering ditemukan di media sosial melalui komentar kasar, perundungan siber, maupun penyebaran konten yang bertujuan mempermalukan individu atau kelompok tertentu.

Selain itu, Allah juga berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Q.S. Al-Isra’ [17]: 36).

Ayat ini sangat relevan dengan fenomena media sosial saat ini. Banyak pengguna media sosial dengan mudah menyebarkan informasi, memberikan komentar, atau menghakimi seseorang tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya. Islam mengajarkan pentingnya tabayun atau melakukan klarifikasi sebelum mengambil kesimpulan dan bertindak.

Rasulullah Saw. juga bersabda:

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak cukup hanya menjalankan ibadah ritual, tetapi juga harus memiliki kepedulian terhadap kondisi orang lain. Kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain merupakan inti dari empati yang saat ini mulai terkikis dalam interaksi digital.

Sebagai umat Islam, media sosial seharusnya menjadi sarana untuk menyebarkan kebaikan, mempererat silaturahmi, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Prinsip Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah juga menekankan bahwa kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan kemajuan akhlak dan kemanusiaan. Kemampuan menggunakan teknologi secara canggih tidak akan bermakna apabila tidak dibarengi dengan sikap bijaksana, rasa hormat, dan kepedulian terhadap sesama manusia. Di tengah derasnya arus informasi, tantangan terbesar umat Islam bukan hanya bagaimana mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga bagaimana menjaga hati agar tetap peka terhadap penderitaan, perasaan, dan kebutuhan orang lain. Ketika banyak orang berlomba menjadi yang paling cepat berkomentar, seorang Muslim justru dituntut menjadi pribadi yang lebih berhati-hati dalam berbicara, lebih bijak dalam menilai, dan lebih berempati dalam bersikap. Dengan demikian, media sosial tidak hanya menjadi ruang berbagi informasi, tetapi juga menjadi sarana mewujudkan nilai rahmatan lil ‘alamin dalam kehidupan sehari-hari.

Penutup

Media sosial bukanlah penyebab utama hilangnya empati. Teknologi hanyalah alat yang dampaknya bergantung pada cara manusia menggunakannya. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang tidak disertai kesadaran moral dan kemampuan memahami orang lain dapat berkontribusi pada menurunnya empati, meningkatnya cyberbullying, dan munculnya berbagai konflik sosial di ruang digital. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama untuk menumbuhkan kembali budaya empati melalui pendidikan karakter, literasi digital yang humanis, serta penguatan nilai-nilai agama. Sebagai manusia dan sebagai umat Islam, kita memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kebaikan di ruang digital. Kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat manusia kehilangan nurani, melainkan menjadi sarana untuk memperluas manfaat dan kepedulian terhadap sesama. Ketika empati tetap hidup di tengah dunia digital, teknologi akan menjadi alat yang memperkuat kemanusiaan, bukan sebaliknya.

Penulis adalah Universitas Muhammadiyah Surakarta

Daftar Pustaka

Aini, S., & Rahardjo, W. (2024). Perilaku Cyberbullying pada Remaja Ditinjau dari Empati dan Regulasi Emosi. Jurnal Ilmu Perilaku, 7(2), 121–139. https://doi.org/10.25077/jip.7.2.121-139.2023

Cakrawala, et al. (2024). Komodifikasi Empati: Eksplorasi Fenomena “Ngemis dan Nyawer” Online di Media Sosial TikTok. Jurnal IPTEKKOM, 26(1), 1–14. https://doi.org/10.17933/iptekkom.26.1.2024.1-14

Meydiningrum, et al. (2024). Kontribusi Intensitas Penggunaan Media Sosial, Moral Disengagement, dan Deindividuasi terhadap Perilaku Cyberbullying pada Remaja. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling, 9(2), 915–930. https://doi.org/10.31316/g-couns.v9i2.6708

Myers, D. G., & Twenge, J. M. (2022). Social Psychology (14th ed.). McGraw-Hill Education.

Suler, J. (2004). The Online Disinhibition Effect. Cyber Psychology & Behavior, 7(3), 321–326.

Tidore, et al. (2026). Literasi digital dan digital Empathy Gap: Analisis Kemampuan Empatik Pengguna Media Sosial di Kalangan Generasi Z. Jurnal Multidisiplin West Science, 5(1), 74–89. https://doi.org/10.58812/jmws.v5i01.3110

Turkle, S. (2015). Reclaiming Conversation: The power of Talk in a Digital Age. Penguin Books.

Berita Terbaru

SAGU SAMU, Gerakan Bersama Menjemput Masa Depan Sekolah

Sekolah swasta hidup dan berkembang karena kepercayaan masyarakat. Kepercayaan itu diwujudkan dalam bentuk hadirnya peserta didik yang memilih sekolah kita sebagai tempat belajar dan bertumbuh....

Mendesain Pelepasan dan Mendesain Cari Murid

Membuat acara pelepasan siswa yang meriah memang penting. Menata panggung, menyusun susunan acara, mengundang tamu, hingga mendokumentasikan kegiatan bisa dilakukan dalam hitungan hari atau minggu....

Pendidikan, Kepemimpinan, dan Masa Depan Bangsa: Refleksi dari Indonesia dan Iran

Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, melainkan fondasi kualitas sumber daya manusia dan kepemimpinan suatu bangsa. Jika ingin melihat masa depan sebuah negara, lihatlah bagaimana negara...

Hardiknas 2026: Sekolah Makin Banyak, Tapi Kenapa Masa Depan Anak Muda Terasa Makin Gelap?

Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Anak-anak memakai seragam terbaik, guru berdiri di lapangan sekolah, pidato tentang masa depan bangsa kembali...

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....