Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Resensi Buku

Gugatan terhadap Pendidikan yang Dianggap Tak Pernah Salah

Hanif Syairafi Wiratama, Editor: Sholahuddin
Senin, 3 Agustus 2026 14:04 WIB
Gugatan terhadap Pendidikan yang Dianggap Tak Pernah Salah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Cover buku "Sekolah itu Candu".

Identitas Buku

Judul: Sekolah itu Candu
Penulis: Roem Topatimasang
Penerbit: INSISTPress
Tahun Terbit Pertama: 1998
Edisi Terbaru: Cetakan revisi INSISTPress (2020)
Tebal: 162 halaman
ISBN: 978-602-0857-96-1

Sekolah yang Mengajar, atau Sekolah yang Menjinakkan?

Bayangkan seseorang berkata, “Sekolah adalah candu.” Kalimat itu mungkin terdengar provokatif, bahkan mengundang kemarahan. Bukankah sekolah adalah tempat manusia belajar, bertumbuh, dan mengejar masa depan? Namun, justru di situlah letak keberanian Roem Topatimasang. Ia tidak sedang membenci sekolah, melainkan mempertanyakan mengapa lembaga yang seharusnya membebaskan justru sering kali berubah menjadi institusi yang membatasi daya pikir manusia.

Melalui Sekolah Itu Candu, Roem mengajak pembaca menggugat sesuatu yang selama ini dianggap suci dan tidak boleh dipersoalkan. Ia mengingatkan bahwa pendidikan tidak selalu identik dengan sekolah. Lebih jauh lagi, sekolah bukan satu-satunya jalan menuju kecerdasan. Buku ini bukan sekadar kritik terhadap sistem pendidikan Indonesia, tetapi juga kritik terhadap cara berpikir masyarakat yang menganggap sekolah sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan hidup. Sejak pertama kali terbit pada 1998, buku ini terus dicetak ulang dan tetap relevan karena kritik-kritiknya masih menemukan gaung dalam realitas pendidikan Indonesia hari ini.

Sinopsis Isi Buku

Berbeda dengan buku pendidikan yang lazim dipenuhi teori pedagogik, Sekolah itu Candu disusun dalam bentuk kumpulan esai yang tajam, satiris, dan reflektif. Roem membuka pembahasan dengan sebuah kisah fiksi berlatar masa depan, lalu mengajak pembaca memasuki kritik yang lebih serius terhadap dunia pendidikan.

Istilah candu digunakan sebagai metafora. Menurut Roem, masyarakat telah begitu bergantung pada sekolah sehingga lupa bahwa hakikat pendidikan jauh lebih luas daripada sekadar ruang kelas, seragam, nilai rapor, dan ijazah. Sekolah kemudian diposisikan sebagai institusi yang seolah selalu benar. Ketika siswa gagal, yang disalahkan adalah siswanya; ketika lulusan menganggur, yang dipersoalkan adalah individunya; sementara sistem sekolah sendiri jarang sekali menjadi objek kritik.

Roem juga mengkritik bagaimana sekolah modern sering kali lebih sibuk mencetak manusia yang patuh dibandingkan manusia yang merdeka berpikir. Kreativitas dikalahkan oleh kepatuhan, rasa ingin tahu dikalahkan oleh hafalan, dan keberanian bertanya sering dianggap sebagai bentuk pembangkangan. Akibatnya, sekolah lebih banyak menghasilkan lulusan yang piawai mengerjakan soal, tetapi gagap menghadapi persoalan nyata di masyarakat.

Ulasan dan Analisis

Kekuatan terbesar buku ini terletak pada keberaniannya mengguncang cara pandang yang sudah mengakar selama puluhan tahun. Roem tidak sedang menawarkan solusi teknis mengenai kurikulum atau metode pembelajaran. Ia justru mengajak pembaca memeriksa fondasi berpikir tentang pendidikan itu sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya sederhana, tetapi mengganggu: apakah sekolah benar-benar mencerdaskan, atau sekadar melatih manusia agar menjadi roda dalam mesin birokrasi dan industri?

Gaya penulisan Roem terasa hidup karena dipenuhi ironi, humor, dan sindiran yang cerdas. Ia tidak berbicara dengan bahasa akademik yang kaku, tetapi menggunakan narasi yang mengalir sehingga pembaca diajak berdialog, bukan digurui. Di beberapa bagian, pembaca bahkan akan tersenyum karena satire yang disampaikan begitu halus, sebelum akhirnya menyadari bahwa kritik tersebut sebenarnya ditujukan kepada pengalaman mereka sendiri selama bersekolah.

Salah satu gagasan yang paling menggugah adalah pemisahan antara belajar dan bersekolah. Dalam pandangan Roem, belajar adalah aktivitas alami manusia yang dapat berlangsung di mana saja: di rumah, di pasar, di sawah, di perpustakaan, bahkan di jalanan. Sebaliknya, sekolah hanyalah salah satu institusi yang memfasilitasi proses belajar. Ketika masyarakat mulai menyamakan keduanya, di situlah sekolah berubah menjadi “candu” yang membuat orang kehilangan imajinasi mengenai bentuk pendidikan yang lebih membebaskan.

Membaca buku ini pada masa sekarang terasa seperti becermin. Meskipun telah berlalu lebih dari dua dekade sejak pertama kali diterbitkan, kritik Roem masih menemukan relevansinya. Fenomena berburu nilai, perlombaan memperoleh ijazah, budaya belajar demi ujian, hingga kecenderungan mengukur kecerdasan hanya melalui angka akademik masih menjadi wajah pendidikan Indonesia. Bahkan di era digital ketika akses belajar semakin terbuka, paradigma lama tersebut belum sepenuhnya berubah.

Namun, pembaca juga perlu menyadari bahwa buku ini memang sengaja ditulis sebagai provokasi intelektual. Karena itu, sebagian argumennya cenderung menonjolkan sisi gelap sekolah tanpa mengulas secara seimbang berbagai kemajuan yang juga telah dicapai dunia pendidikan. Di sinilah pembaca dituntut untuk tetap kritis dan tidak menerima seluruh gagasan secara mentah. Buku ini lebih tepat dipahami sebagai pemantik diskusi daripada sebagai kesimpulan akhir mengenai pendidikan.

Kelebihan dan Kekurangan

Keunggulan utama Sekolah itu Candu terletak pada keberanian penulis membongkar mitos yang selama ini dianggap tidak boleh disentuh. Roem Topatimasang menghadirkan kritik pendidikan dengan argumentasi yang tajam, logis, sekaligus mudah dipahami oleh pembaca dari berbagai latar belakang. Bahasa yang komunikatif membuat isu-isu pendidikan yang kompleks terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari. Selain itu, buku ini berhasil mendorong pembaca untuk mempertanyakan kembali tujuan pendidikan, makna belajar, dan peran sekolah dalam membentuk manusia yang merdeka. Tidak berlebihan jika buku ini disebut sebagai salah satu karya klasik dalam wacana kritik pendidikan Indonesia karena daya gugatnya tetap terasa hingga kini.

Di sisi lain, buku ini juga memiliki beberapa keterbatasan. Karena ditulis dalam semangat kritik, beberapa pembahasan terasa sangat idealistis dan lebih banyak menyoroti kelemahan institusi sekolah dibandingkan menghadirkan alternatif yang operasional. Pembaca yang mengharapkan solusi praktis mengenai reformasi pendidikan mungkin akan merasa buku ini meninggalkan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Selain itu, gaya satiris yang digunakan Roem berpotensi disalahpahami oleh pembaca yang membaca judulnya secara harfiah, seolah-olah penulis menolak keberadaan sekolah, padahal yang dikritik adalah sistem dan paradigma yang melingkupinya.

Penutup

Sekolah itu Candu bukanlah buku yang nyaman dibaca jika seseorang hanya ingin mencari pembenaran terhadap sistem pendidikan yang ada. Buku ini justru mengusik, menggugat, bahkan memprovokasi pembaca untuk keluar dari cara berpikir yang mapan. Roem Topatimasang mengingatkan bahwa pendidikan sejati bukanlah proses mengisi kepala manusia dengan informasi, melainkan proses membebaskan manusia agar mampu berpikir, mempertanyakan, dan mengubah kehidupannya.

Lebih dari dua puluh tahun setelah diterbitkan, buku ini tetap layak dibaca oleh guru, mahasiswa, dosen, pemerhati pendidikan, hingga para pembuat kebijakan. Sebab kritik yang baik bukanlah kritik yang menjatuhkan, melainkan kritik yang menghidupkan harapan akan perubahan. Dan Sekolah Itu Candu adalah salah satu karya yang berhasil melakukan itu mengajak kita bertanya kembali: apakah kita benar-benar sedang mendidik manusia, atau sekadar mengajarinya bertahan dalam sebuah sistem?

Penulis adalah kader muda Muhammadiyah

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Menjadi Muslim yang Bijak di Tengah Banjir Informasi

Judul: Saring Sebelum Sharing Penulis: Nadirsyah Hosen Penerbit: Mizan Genre: Keislaman, Literasi Digital, Sosial Tebal: 232 halaman Di era ketika satu sentuhan jari mampu menyebarkan informasi ke ribuan bahkan jutaan...

Resensi Cerpen Pangeran yang Selalu Bahagia Karya Orcar Wilde

“Tuhan tidak melihat rupa dan harta melainkan hati; hati yang luas tak bertepi, cinta yang dalam tak terajuk” Buku Pangeran yag Selalu Bahagia dan cerita-cerita...

Pulang yang Tidak Pernah Benar-Benar Sampai

Ada rindu yang tak pernah menemukan alamatnya sendiri Ia kemudian tumbuh, menua, dan tetap tertahan oleh sejarah Apalah kemudian arti dari kata pulang, jika sebuah...

Resensi Buku Negara Paripurna, Membedah Lunturnya Nilai Pancasila

Daftar IsiIsi dan Pokok Pemikiran BukuHistorisitas PancasilaRasionalitas PancasilaAktualitas PancasilaKeunggulan BukuKelemahan BukuPenilaian dan RelevansiBuku ini merupakan karya monumental Yudi Latif yang membedah Pancasila secara komprehensif, baik...

Resensi Buku Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Menceritakan sebuah keluarga miskin yang hidup tanpa punggung keluarga sejak Tania (sekitaran 8 tahun) dan Dede (umur 3 tahun) masih kecil, mereka hidup dalam...

Resensi Buku: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Setiap orang pasti pernah merasa lelah dengan kehidupan: soal mimpi yang tak sampai, cinta yang kandas, atau hidup yang terasa biasa-biasa saja. Namun, pernahkah kita...

Resensi Buku Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut

Daftar IsiSinopsis SingkatEkofeminisme dalam Konteks NusantaraKelebihan NovelKekurangan NovelPesan MoralRekomendasi & PenutupResensi BukuSOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Penulisan novel ini terinspirasi langsung dari realitas pahit di Pulau Sangihe, sebuah wilayah...

Rsesensi Buku 9 dari Nadira: Cermin Keberanian Leila S. Chudori

Leila S. Chudori (lahir 12 Desember 1962) adalah wartawan dan penulis produktif Indonesia. Sejak masa remaja, karya-karyanya dimuat di majalah anak-anak, dan ia juga bekerja...

Makna Cinta: Menjadi Autentik dengan Mencintai Tanpa Syarat Ala Søren Kierkegaard

Apa yang sebenarnya kita maksud ketika berkata, “Aku mencintaimu”? Apakah cinta hanyalah perasaan manis yang membuat jantung berdebar? Atau sekadar ketertarikan yang menyala dan padam...

Muhammadiyah, Best Practise Kewirausahaan Sosial di Indonesia

Judul Buku       : Bangkitnya Kewirausahaan Sosial Indonesia: Kisah Muhammadiyah Penulis             : M. Arsjad Rasjid P.M. Penerbit            : Pustaka KSP Kreatif dan Kadin Indonesia Edisi                 :...

Merekam Jejak Pemikiran Pakar Pendidikan Muslim Modernis

Judul   : Diskursus Pedagogi Kritis Kaum Muslim Modernis Penulis : Dr. Mohamad Ali Halaman: 152 halaman ISBN: 978-602-361-638-1 Cetakan: 1, Mei 2024 Penerbit: Muhammadiyah University...

Kemiskinan Tak Menghalangi Gapai Masa Depan

Judul buku     : Dompet Ayah Sepatu Ibu Penulis           : J.S. Khairen Penerbit          : Grasindo Genre              : Fiksi Tahun             : Cetakan keenam, Januari 2024 Baca Juga...