Perkembangan teknologi digital memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan gadget tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga digunakan untuk bekerja, mencari informasi, hiburan, hingga berinteraksi melalui media sosial. Namun, penggunaan gadget yang berlebihan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kualitas hubungan interpersonal apalagi dalam lingkungan keluarga. Salah satu fenomena yang semakin sering terjadi adalah phubbing (phone snubbing) yaitu perilaku seseorang yang lebih memusatkan perhatian pada gadget daripada orang yang sedang berada di hadapannya. Phubbing dalam lingkungan keluarga penting untuk dibahas karena fenomena ini semakin sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada orang tua yang menghabiskan banyak waktu menggunakan smartphone saat bersama anak. Kondisi tersebut menyebabkan interaksi antara orang tua dan anak menjadi berkurang, sehingga anak merasa kurang diperhatikan, kurang didengarkan, dan tidak mendapatkan kedekatan emosional yang seharusnya diperoleh dari keluarga. Selain itu,anak akan cenderung mengikuti perilaku orang tuanya yang fokus menggunakan HP. Terlalu fokus menggunakan HP ini dapat menurunkan kemampuan anak ketika dewasa nanti untuk merespon menjadi lambat dan kurang tepat dalam menanggapi suatu permasalahan. Kemampuan anak dalam merefleksikan diri juga menjadi rendah.
Perilaku orang tua yang lebih fokus pada gadget dapat menimbulkan berbagai dampak psikologis. Anak dapat merasa diabaikan, kesepian, kurang dihargai, bahkan mengalami penurunan kualitas hubungan dengan orang tua. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berpotensi memengaruhi perkembangan emosional, komunikasi keluarga, serta pembentukan kelekatan (attachment) antara orang tua dan anak. Padahal, keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak dalam memperoleh kasih sayang, perhatian, serta dukungan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Fenomena ini kami rasa sangat penting untuk diperhatikan karena penggunaan gadget telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Banyak orang tua yang tanpa sadar melakukan phubbing saat menemani anak, misalnya, ketika makan bersama, bermain, atau saat sedang mengobrol. Akibatnya, kualitas waktu kebersamaan keluarga jadi berkurang meskipun secara fisik berada di tempat yang sama. Seiring berjalannya waktu, berkurangnya kebersamaan dalam keluarga dalam menciptakan hubungan keluarga yang renggang dan tidak harmonis. Orang tua menjadi kurang peduli dengan anaknya maupun lingkungan sekitarnya. Sementara anak akan mengikuti perilaku tersebut yang berdampak buruk dalam relasi sosialnya.
Oleh karena itu, permasalahan phubbing dalam keluarga menjadi menarik untuk dibahas karena isu ini semakin banyak terjadi dan memiliki dampak yang signifikan terhadap hubungan orang tua dan anak. Melalui pembahasan mengenai fenomena ini, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran orang tua tentang pentingnya membangun interaksi yang berkualitas dengan anak serta menciptakan lingkungan keluarga yang lebih hangat, dekat, dan mendukung perkembangan psikologis anak.
Perilaku Mengabaikan Orang Lain
Fenomena phubbing (phone snubbing), yaitu perilaku mengabaikan orang lain karena lebih fokus pada penggunaan gadget, semakin sering ditemukan dalam lingkungan keluarga. Perkembangan teknologi digital yang pesat menyebabkan penggunaan smartphone menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, termasuk saat orang tua berinteraksi dengan anak. Kondisi ini berpotensi mengurangi kualitas komunikasi dan kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Penelitian yang dilakukan oleh Maghfiroh et al., (2024) menunjukkan bahwa perilaku phubbing dapat memberikan dampak negatif terhadap ketahanan keluarga. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan di Kabupaten Ponorogo, ditemukan bahwa rendahnya pemahaman masyarakat mengenai dampak phubbing berpotensi menimbulkan konflik dalam keluarga, menurunkan kualitas komunikasi, serta mengurangi keharmonisan hubungan antar anggota keluarga. Oleh karena itu, peningkatan pemahaman mengenai bahaya phubbing dianggap penting sebagai salah satu upaya untuk memperkuat ketahanan keluarga dan mencegah berbagai permasalahan keluarga yang lebih serius (Maghfiroh et al., 2024).
Artikel mengenai kesehatan keluarga yang diterbitkan oleh Hello Sehat menjelaskan bahwa penggunaan ponsel saat mengasuh anak dapat mengganggu proses interaksi antara orang tua dan anak. Berdasarkan survei Common Sense terhadap lebih dari 1.700 orang tua yang memiliki anak usia 8–18 tahun: Orang tua menghabiskan rata-rata 9 jam per hari di depan layar dan hanya 90 menit digunakan untuk pekerjaan sisanya bermain media sosial. Penelitian Brandon T. McDaniel terhadap 170 keluarga juga menemukan bahwa 48% orang tua mengaku teknologi mengalihkan perhatian mereka dari anak setidaknya 3 kali sehari, 24% orang tua merasa ponsel mengganggu interaksi dengan anak hingga 2 kali sehari, 17% orang tua menyatakan gadget mengganggu waktu keluarga, dan hanya 11% orang tua yang bersedia menjauhkan diri dari gadget ketika menghabiskan waktu bersama anak. Ketika perhatian orang tua lebih banyak tertuju pada layar gadget, anak dapat merasa diabaikan, kurang mendapatkan respons terhadap kebutuhan emosionalnya, dan kehilangan kesempatan untuk membangun hubungan yang hangat dengan orang tua. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mempengaruhi perkembangan sosial dan emosional anak, termasuk menurunkan rasa aman, kedekatan, dan kualitas komunikasi dalam keluarga (Hello Sehat, 2024).
Fenomena phubbing dalam keluarga perlu mendapat perhatian serius karena dapat mengganggu kualitas hubungan antara orang tua dan anak. Ketika orang tua lebih fokus pada gadget dibandingkan interaksi langsung dengan anak, komunikasi dan kedekatan emosional dalam keluarga dapat berkurang. Kondisi ini dapat membuat anak merasa kurang diperhatikan, kurang dihargai, dan berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan psikologis. Penelitian Maghfiroh et al. (2024) menunjukkan bahwa perilaku phubbing dapat menurunkan kualitas komunikasi dan keharmonisan keluarga serta berpotensi melemahkan ketahanan keluarga. Selain itu, penelitian Hamami (2025) menemukan bahwa parental phubbing berhubungan dengan meningkatnya perasaan kesepian (loneliness) pada remaja karena kurangnya perhatian dan keterlibatan emosional dari orang tua. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai dampak phubbing agar hubungan antar-anggota keluarga tetap hangat, harmonis, dan mendukung perkembangan psikologis anak secara optimal.
Peneliti menemukan bahwa remaja sering melakukan phubbing karena merasa tidak nyaman jika tidak melihat HP serta takut jika tertinggal informasi karena tidak melihat HP. Ketidaknyamanan ini memicu dorongan untuk menggunakan HP saat menghadiri sebuah acara atau sekadar berada di ruang publik. Dorongan ini dapat berupa keinginan untuk mengikuti berita terbaru yang terjadi di media sosial atau sekadar ingin mencari hiburan berupa video maupun foto yang lucu bahkan permainan online. Upaya untuk mengatasi perilaku phubbing pada remaja ketika di dalam keluarga adalah dengan melibatkan semua anggota keluarga dalam diskusi, menjaga komunikasi yang terbuka ketika kumpul bersama keluarga, menjauhkan HP dengan memberikan waktu khusus tanpa adanya HP di sekitar kita (zona bebas gadget), serta membangun kebiasaan penggunaan media sosial yang lebih sehat dan mengarahkan perhatian pada interaksi maupun kegiatan bersama keluarga. Dengan demikian, anggota keluarga dapat lebih fokus pada hubungan interpersonal yang nyata, meningkatkan kualitas komunikasi, serta mengurangi kecenderungan mengabaikan orang lain karena penggunaan gadget yang berlebihan (Putri et al., 2023).
Selain itu, penelitian-penelitian terbaru menunjukkan bahwa upaya pencegahan phubbing tidak cukup hanya dengan membatasi penggunaan gawai, tetapi juga perlu memperkuat kualitas hubungan antara orang tua dan remaja. Hubungan yang hangat, penuh kepercayaan, dan didukung komunikasi yang baik terbukti dapat menurunkan kecenderungan remaja untuk melakukan phubbing dalam interaksi keluarga. Remaja yang memiliki keterikatan (attachment) yang baik dengan orang tuanya cenderung lebih nyaman terlibat dalam percakapan tatap muka dan tidak terlalu bergantung pada smartphone saat berada bersama keluarga. Sebaliknya, hubungan keluarga yang kurang dekat dapat meningkatkan penggunaan gawai sebagai bentuk pelarian atau sumber hiburan utama sehingga perilaku phubbing menjadi lebih sering terjadi.
Upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan digital parenting yang positif. Digital parenting tidak hanya berfokus pada pengawasan penggunaan gadget, tetapi juga pada pemberian contoh yang baik oleh orang tua. Orang tua perlu menunjukkan perilaku penggunaan smartphone yang sehat, seperti tidak bermain ponsel saat makan bersama, saat berbicara dengan anak, maupun ketika melakukan aktivitas keluarga. Perilaku phubbing yang dilakukan orang tua dapat menjadi model bagi anak dan remaja untuk meniru kebiasaan yang sama. Oleh karena itu, perubahan perilaku perlu dilakukan oleh seluruh anggota keluarga agar tercipta lingkungan yang mendukung interaksi langsung dan komunikasi yang berkualitas. Penelitian menunjukkan bahwa phubbing orang tua dapat mengganggu hubungan orang tua dan anak serta meningkatkan berbagai masalah psikologis dan ketergantungan gawai pada remaja.
Selanjutnya, keluarga dapat membuat aturan penggunaan gadget yang disepakati bersama. Aturan tersebut dapat berupa pembatasan penggunaan smartphone pada waktu-waktu tertentu, misalnya saat makan, beribadah, belajar, atau ketika sedang melakukan kegiatan keluarga. Pembuatan aturan secara bersama-sama penting agar remaja merasa dilibatkan dan tidak menganggap aturan tersebut sebagai bentuk kontrol yang berlebihan. Pendekatan kolaboratif antara orang tua dan remaja terbukti lebih efektif dalam mengelola penggunaan teknologi dibandingkan pendekatan yang hanya berfokus pada larangan atau hukuman.
Di samping itu, berbagai penelitian merekomendasikan pemberian psikoedukasi mengenai dampak phubbing terhadap hubungan sosial dan kesehatan psikologis. Psikoedukasi dapat membantu remaja memahami bahwa penggunaan smartphone yang berlebihan tidak hanya mengurangi kualitas komunikasi, tetapi juga dapat menimbulkan perasaan diabaikan, menurunkan empati, serta mengganggu kedekatan emosional dalam keluarga. Ketika remaja memahami konsekuensi dari perilaku tersebut, mereka akan lebih mampu mengontrol kebiasaan penggunaan gadget dan meningkatkan kesadaran dalam berinteraksi secara langsung dengan orang lain.
Pendekatan berbasis mindfulness juga mulai banyak direkomendasikan sebagai strategi mengurangi phubbing. Mindfulness membantu individu meningkatkan kesadaran terhadap kondisi diri dan lingkungan sekitar sehingga lebih mampu memusatkan perhatian pada percakapan yang sedang berlangsung. Dengan meningkatnya kesadaran tersebut, individu dapat mengurangi kebiasaan memeriksa notifikasi atau media sosial secara terus-menerus. Selain mindfulness, intervensi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy/CBT) dan pelatihan pengendalian diri juga dilaporkan efektif untuk mengurangi ketergantungan terhadap smartphone yang menjadi salah satu faktor utama munculnya phubbing.
Dengan demikian, penanganan phubbing pada remaja dalam lingkungan keluarga memerlukan pendekatan yang komprehensif, meliputi peningkatan kualitas komunikasi keluarga, penguatan hubungan orang tua dan anak, penerapan digital parenting yang positif, pembentukan aturan penggunaan gadget yang disepakati bersama, pemberian psikoedukasi, serta pengembangan kemampuan pengendalian diri. Melalui berbagai upaya tersebut, keluarga dapat menciptakan lingkungan yang lebih suportif sehingga interaksi tatap muka menjadi lebih bermakna, hubungan emosional antaranggota keluarga semakin kuat, dan risiko munculnya perilaku phubbing pada remaja dapat diminimalkan.
Penulis adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta
Krisis Empati di Era Media Sosial: Ketika Jempol Lebih Cepat daripada Hati
Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Berbagai platform seperti Instagram, TikTok, X, dan Facebook memungkinkan seseorang berinteraksi dengan orang...
SAGU SAMU, Gerakan Bersama Menjemput Masa Depan Sekolah
Sekolah swasta hidup dan berkembang karena kepercayaan masyarakat. Kepercayaan itu diwujudkan dalam bentuk hadirnya peserta didik yang memilih sekolah kita sebagai tempat belajar dan bertumbuh....
Mendesain Pelepasan dan Mendesain Cari Murid
Membuat acara pelepasan siswa yang meriah memang penting. Menata panggung, menyusun susunan acara, mengundang tamu, hingga mendokumentasikan kegiatan bisa dilakukan dalam hitungan hari atau minggu....
Pendidikan, Kepemimpinan, dan Masa Depan Bangsa: Refleksi dari Indonesia dan Iran
Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, melainkan fondasi kualitas sumber daya manusia dan kepemimpinan suatu bangsa. Jika ingin melihat masa depan sebuah negara, lihatlah bagaimana negara...
Hardiknas 2026: Sekolah Makin Banyak, Tapi Kenapa Masa Depan Anak Muda Terasa Makin Gelap?
Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Anak-anak memakai seragam terbaik, guru berdiri di lapangan sekolah, pidato tentang masa depan bangsa kembali...
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...







